![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Hujan deras masih membasahi wilayah Istana Seribu Pedang, bahkan hingga hari berikutnya. Xiao Shuxiang dan Bocah Pengemis Gila sudah mengalahkan para musuh mereka meski sebenarnya Xiao Shuxiang-lah yang lebih banyak bergerak.
Di sisi lain, Wang Zhao dan Liu Wei Lin pun juga sudah berhasil mengalahkan anggota Sekte Lembah Iblis yang tersisa. Dan Hu Li yang fokus dalam menolong para murid Istana Seribu Pedang ikut membantu Zhi Shu yang dalam kesusahan.
Tidak ada yang merasa bangga dengan kemenangan itu. Satu-satunya yang tersisa adalah kesedihan bahwa ada banyak korban berjatuhan.
Energi spiritual para tetua dan para murid Istana Seribu Pedang baru bisa kembali keesokan harinya. Kejadian ini tentu saja mengejutkan sebab hal tersebut berarti bahwa senjata suci milik Yan Qi Lou bisa bertahan seharian penuh. Waktu yang lebih dari cukup untuk pembantaian massal.
"Temukan senjata suci itu. Kita harus memusnahkannya segera," Tetua Murong Xun yang sudah membaik langsung memberi perintah pada para muridnya.
Tetua Xia Longhua dan Tetua Chen Duan Shan pun ikut memerintahkan hal yang sama. Mereka bahkan menahan Zhi Shu, Yi Wen, dan Ling Qing Zhu agar ketiga gadis itu ikut membantu.
Xiao Shuxiang yang saat ini sedang duduk dan bersandar di bawah pohon nampak menggeleng melihat ketiga temannya itu dicegat. Dia bisa melihat mereka memberinya tatapan seakan ingin meminta tolong.
Xiao Shuxiang lantas mengarahkan pandangan pada Wang Zhao dan juga Liu Wei Lin yang duduk di depannya. Dia pun menghela napas dan mulai buka suara, "Jadi ... Aku mendengar ini dari Hu Li. Kalian berdua ini sebenarnya adalah pemimpin Sekte Lembah Iblis dan Sekte Lembah Hantu?"
Lan Guan Zhi, Bocah Pengemis Gila dan Mo Huai yang juga duduk bersama Xiao Shuxiang nampak tersentak mendengar penuturan pemuda itu. Mereka langsung mengarahkan pandangan kepada Liu Wei Lin dan Wang Zhao.
"Jadi kalian otak dari keributan yang terjadi?" Bocah Pengemis Gila langsung angkat bicara dan membuat Wang Zhao kaget.
"Bukan begitu, aku benar-benar tidak tahu tentang semuanya. Su-sungguh," Wang Zhao berusaha melakukan pembelaan.
"Bocah Pengemis Gila, kau diamlah." Xiao Shuxiang kembali menatap Wang Zhao dan Liu Wei Lin sebelum buka suara, "Identitas Wang Zhao sudah tidak mengejutkan lagi bagiku. Tapi Liu Wei Lin, kenapa kau menyembunyikannya?"
Liu Wei Lin membuka kipas miliknya dan dengan tenang berkata, "Aku juga tidak menyembunyikan apa pun. Tidak ada yang bertanya tentang diriku, jadi aku juga tidak mengatakan apa-apa."
Liu Wei Lin melambaikan kipas miliknya dan berkata, "Aku ini 'Tuan Baik Liu'. Tidak pernah sombong, apalagi membangga-banggakan diri. Jujur saja, aku ini benar-benar orang yang baik."
Hu Li dan Mo Huai menggeleng. Mereka memikirkan hal yang sama dan Bocah Pengemis Gila langsung mengutarakan apa yang mereka pikirkan.
"Kurasa tidak ada orang baik yang akan menyebut diri sendiri baik. Kau jelas sangat mencurigakan,"
Liu Wei Lin menatap Bocah Pengemis Gila dan berkata, "Manusia bisa dibohongi. Lisan bisa berbohong, tapi langit tahu kebenarannya."
Wang Zhao berkedip, ucapan aneh dari Liu Wei Lin yang menyebalkan itu keluar lagi. Dia merasa bahwa otak pemuda ini sedikit bergeser, mungkin terbentur di suatu tempat.
Xiao Shuxiang menarik napas pelan sebelum memiringkan kepalanya. Dia bersandar di lengan Lan Guan Zhi yang duduk di sampingnya dan kembali bicara dengan Liu Wei Lin.
__ADS_1
"Aku dan teman baikku ini pernah terlibat masalah dengan anggota Sekte Lembah Hantu, bahkan beberapa kali. Apa ini tidak ada hubungannya denganmu?"
Bocah Pengemis Gila menyenggol Hu Li serta Mo Huai yang duduk di dekatnya. Dia memberi isyarat pada kedua orang itu untuk melihat tingkah Xiao Shuxiang dan tindakan Lan Guan Zhi yang sama sekali tidak mempermasalahkan teman baiknya.
Liu Wei Lin berkedip dan kemudian berdeham. Dia pun berkata, "Aku tentu saja tidak terlibat. Bagaimana mungkin aku membuat masalah dengan orang yang sudah kuanggap sebagai belahan jiwa?"
Liu Wei Lin melambaikan kipasnya dan menjelaskan. "Aku tidak seperti Wang Zhao yang dibuang karena tak berguna. Sampai sekarang aku masih pemimpin dari Sekte Lembah Hantu,"
Liu Wei Lin berkata, "Aku menulis surat untuk para anggota sekte itu yang mengatakan bahwa aku akan pergi mencari belahan jiwaku. Perintahku adalah agar mereka tidak keluar lembah, tapi sepertinya ada anggota yang memakai kesempatan ini untuk berbuat sesuka hati mereka."
Wang Zhao menatap Liu Wei Lin dan bertanya, "Kau sungguh-sungguh tidak mengetahuinya?"
"Sama sekali tidak. Sudah kubilang aku ini orang yang baik," Liu Wei Lin berkata, "Aku sudah lama meninggalkan lembah dan bahkan telah menjadi salah satu murid terbaik di Sekte Lautan Awan. Aku benar-benar tidak berhubungan lagi dengan tempat itu, sungguh."
"Apa Tetua Besar Sekte Lautan Awan tahu identitasmu?" Lan Guan Zhi buka suara dan dijawab anggukan oleh Liu Wei Lin.
"Tua Bangka itu tahu. Hanya dia dan Wang Zhao yang mengetahuinya. Aku dan Tua Bangka itu berhubungan baik, tapi memang dialah yang meminta agar aku memperlakukannya seperti pelayan dan menjadi musuh anak muda ini."
Wang Zhao tersentak ketika Liu Wei Lin menatap ke arahnya. "Ke-kenapa Shizun melakukan itu? Aku-"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Aku sepertinya bertemu dengan orang yang tidak biasa. Satunya adalah calon pemimpin dari Sekte Lembah Iblis dan satunya lagi adalah pemimpin Sekte Lembah hantu."
Xiao Shuxiang menatap Bocah Pengemis Gila dan berkata, "Kemudian ada lagi orang yang tidak waras di sini. Aku benar-benar terlibat dalam banyak hal,"
Xiao Shuxiang menatap Mo Huai dan lalu berujar, "Sekarang aku jadi iri pada hidup normal dan biasamu itu."
"Aku?" Mo Huai tersentak dan menunjuk diri sendiri. Ucapan Xiao Shuxiang ini membuatnya langsung menjadi pusat perhatian.
Liu Wei Lin mengerutkan kening dan berkata, "Kau ini dari mana saja? Aku tidak melihatmu saat Istana Seribu Pedang diserang."
Mo Huai menelan ludah dan dengan gugup berkata, "Aku ... Aku bersama dengan tetua Meng Hao Niang. Aku mengikutinya ke kota dan saat kembali, kondisi Istana Seribu Pedang sudah ... Sudah kacau seperti ini."
"Ah ... Aku juga baru sadar bahwa tetua Meng tidak ikut bertarung," Wang Zhao buka suara yang dianggukkan oleh Liu Wei Lin.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan memperhatikan para murid Istana Seribu Pedang yang bersama-sama mengumpulkan mayat saudara mereka.
Di sisi lain, Zhi Shu dan Yi Wen terus mencari keberadaan pusaka suci milik Yan Qi Lou. Yi Wen bahkan membalik gumpalan daging busuk Yan Qi Lou dengan sebuah ranting kayu dan terus mencari pusaka itu.
__ADS_1
"Tidak ada di sini ..."
Zhi Shu mendengar gumaman pelan Yi Wen dan berkata, "Apa mungkin pusaka suci itu menghilang bersamaan dengan kekalahan pemiliknya?"
"Tidak mungkin," Yi Wen membantah. "Dari bekas serangan yang kulihat ini, lawan dibunuh tanpa perlawanan berarti. Dan kau pasti tahu benar semenakutkan apa pedang pusaka saudara Xiao. Sedikit goresan saja, kau akan langsung menjadi gumpalan daging."
Zhi Shu merinding, "Yīng xióng memang menakutkan. Tidak ada kata selain, 'kematian' bila membahas pedang itu. Jika tidak mati sebagai gumpalan daging, maka pasti akan mati sebagai tulang-belulang."
"Bukan Yīng xióng yang menakutkan, tapi saudara Xiao. Dialah yang menempa pedang itu. Bukankah ini berarti saudara Xiao bahkan bisa membuat senjata yang lebih menakutkan lagi? Coba saja kau macam-macam dengannya. Saudara Xiao pasti akan langsung mengirimmu ke alam baka,"
"Harusnya peringatan itu diberikan pada dirimu." Zhi Shu berkata, "Kau terlalu genit pada saudara Xiao. Jika saja aku adalah dia, maka kau pasti sudah jadi cincangan daging busuk saat ini."
"Hah, bermimpilah. Kau tidak akan bisa menjadi seperti saudara Xiao-ku,"
"............" Ling Qing Zhu yang sedang mencari pusaka suci milik Yan Qi Lou mendengar perdebatan kedua temannya itu. Dia pun menarik napas dan kembali mencari. Dirinya tidak ingin melibatkan diri dengan apa pun yang dibahas oleh Yi Wen dan Zhi Shu.
Ketika sedang berjalan, mata Ling Qing Zhu disilaukan oleh sesuatu. Dia mencari tahu asal benda itu dan tersentak melihat kilau keemasan dari salah satu puing bangunan.
Ling Qing Zhu menarik Baiyi dan dengan sekali ayunan tangan---pedangnya itu langsung membelah bangunan yang masih cukup besar di hadapannya. Dia menendang sebagian puing yang lain dan mulai bisa melihat jelas sumber dari kilau emas yang mengganggunya tadi.
Ada sebuah bunga teratai yang terbuat dari besi berlapis emas. Ling Qing Zhu mulai mengambilnya dan memanggil tetua Murong Xun. Yi Wen dan Zhi Shu yang mendengar suaranya itu juga ikut menoleh.
Tetua Murong Xun tersentak melihat benda di tangan Ling Qing Zhu. Dia menatap gadis berambut putih itu dan berkata, "Ini pusaka sucinya. Kau telah berhasil menemukannya,"
Yi Wen menatap Tetua Murong Xun dan berkata, "Apa yang akan Anda lakukan dengan pusaka itu?"
"Apa benar akan dihancurkan?" Zhi Shu buka suara dan membuat Ling Qing Zhu juga ikut menatap Tetua Murong Xun.
"Tentu saja akan dihancurkan. Pusaka ini sangat berbahaya. Akan kubawa ke tempat tetua Chen Duan Shan sekarang-"
"Tidak," Ling Qing Zhu menyela. Dia tidak mau menyerahkan bunga teratai emas di tangannya dan tindakan penolakan itu membuat Tetua Murong Xun, Yi Wen serta Zhi Shu terkejut.
Ling Qing Zhu dengan sopan berkata, "Maafkan aku. Tapi biarkan ini kubawa pada Shuxiang lebih dahulu,"
"Shuxiang?" Tetua Murong Xun berkedip. Dia keheranan termasuk juga Yi Wen dan Zhi Shu.
******
__ADS_1