KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
383 - Xiao WeiWei (2)


__ADS_3

Xiao WeiWei memperhatikan pemuda yang duduk di hadapannya dengan saksama. Xiao Shuxiang yang dahulu masih berusia 7 Tahun kini benar-benar sudah tumbuh menjadi pemuda dewasa dan tampan.


"Waktu begitu cepat berlalu..." Xiao WeiWei buka suara dan membuat Xiao Shuxiang mengerutkan kening. Wanita itu berujar lembut, "Dahulu kita berada di tempat itu. Sekarang lihatlah bagaimana langit membuat kita berada di sini. Aku masih mengingatnya seolah itu baru saja terjadi kemarin,"


Xiao WeiWei menarik napas dan berkata, "Dulu kau masih anak-anak. Kau bersama dengan Jing Mi dan yang lainnya. Sekarang kalian semua sudah tumbuh besar, apalagi kini kau sudah menjadi orang yang berpengaruh di tempat ini. Namun..."


Pandangan Xiao WeiWei menurun saat melanjutkan, "Ibu memikirkannya dan menjadi sangat khawatir. Sejauh ini... Tidak ada yang tahu siapa kau sebenarnya. Ibu mencari tahu banyak hal tentang kehidupanmu di masa lalu dan sejujurnya tidak ada hal baik yang bisa Ibu temukan."


"Xiao'Er, maafkan Ibu. Tapi sejujurnya Ibu mencemaskan apa yang akan kau lakukan," Xiao WeiWei menatap putranya dan berkata, "Jika musuhmu sangat berbahaya... Tidakkah rasanya akan sulit untuk melawannya sendirian? Biarkan teman-temanmu tahu atau para murid di sekte ini. Mereka bisa membantumu,"


Xiao Shuxiang menggeleng pelan, "Tidak Ibu. Tidak bisa.."


Sambil mengembuskan napas pelan, Xiao Shuxiang berkata. "Aku tidak pernah menceritakan ini pada siapa pun sebelumnya, tapi apa Ibu tahu alasan Kota Awan Dingin ini menjadi lokasi berdirinya Sekte Kupu-Kupu?"


Xiao WeiWei berkedip, entah mengapa suasana terasa berbeda saat mendengar ucapan Xiao Shuxiang barusan. Dia pun bertanya, "Apa maksudmu?"


"Ini bukan hanya kebetulan. Dahulu aku menyelamatkan Mo Huai dan warga Kota Awan Dingin yang tersisa karena seluruh penduduknya dihabisi oleh anggota Scarlet Bayangan. Wanita bernama Bian Que itu... Dia membunuh banyak warga kota ini, menyisakan hanya beberapa kepala dan itu pun membiarkan mereka hidup dalam ketakutan."


Xiao Shuxiang berkata, "Kejadiannya sudah lama, tetapi aku masih mengingat setiap detailnya. Tempat ini seperti kota mati dan setelah mengalahkan Bian Que, kami membuat keputusan untuk memindahkan sekte kemari sekaligus mengajak warga Desa Tani untuk tinggal di sini. Ibu dan yang lainnya membuat kota ini hidup kembali, tetapi itu bukanlah kebetulan."


"Maafkan aku," Xiao Shuxiang menarik napas dan berkata, "Aku sebenarnya sudah membuat rencana sendiri untuk menjadikan kota ini sebagai umpan dan kalian semua... Termasuk ke dalamnya."


Xiao WeiWei tersentak dan rasa terkejutnya disadari oleh Xiao Shuxiang. Pemuda itu menunduk dan berkata, "Aku sebenarnya... Ingin memanfaatkan kalian."


"Awalnya..." Xiao Shuxiang merasa sesak untuk bicara, tetapi dia tetap harus menjelaskan. Dia pun berkata, "Aku ingin menjadikan kalian semua sebagai perisai daging. Musuhku... Akan mengincar kalian, tetapi itu tidak masalah karena aku tidak peduli jika kalian mati sekali pun. Tapi... Entah sejak kapan ini terjadi. Sesuatu rasanya berubah dan aku tidak ingin kalian semua terluka. Aku benar-benar minta maaf..."


"Ibu benar-benar terkejut," Xiao WeiWei berkata, "Apa kau juga ingin membunuh ayah dan ibumu?"


"Aku minta maaf..."


Xiao WeiWei melihat pemuda di hadapannya tertunduk. Di pun menarik napas dan berkata, "Ibu mencari tahu tentang ini, sekarang kau jawab. Dalam kehidupanmu sebelumnya... Apa kau benar-benar menghabisi ayah dan ibumu?"


Xiao Shuxiang tersentak. Dia menatap Xiao WeiWei dan tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia mengatakan tidak sengaja, itu bukan hal yang bagus. Dia jelas sadar dengan apa yang dilakukannya, tetapi saat itu dia sungguh tidak tahu bahwa tindakannya benar-benar menghilangkan nyawa orang tuanya.


"Ibu, aku--"


"Xiao'Er, jawabanmu."


"...................."


Tidak ada alasan apa pun yang bisa dibenarkan jika mengambil nyawa orang lain, apalagi itu adalah orang terdekat sendiri. Xiao Shuxiang sangat mengerti. Pembelaan diri justru semakin membuatnya terlihat buruk.


Entah disengaja atau tidak... Kebenarannya adalah bahwa orang tuanya tewas karena dirinya. Bukan. Mereka tiada di tangannya.


Xiao Shuxiang memejamkan mata sejenak sebelum menatap wanita di hadapannya dan kemudian mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia berujar, "Aku tidak akan berbohong padamu. Noda di masa lalu ... Tidak akan bisa kuhilangkan. Bahkan jika dengan puluhan reinkarnasi sekali pun,"


"Kau tahu aku sangat marah saat ini?" ekspresi wajah Xiao WeiWei masih sama, bahkan nada suaranya tidak berbeda. Tentu saja kemarahan tidak nampak pada wajahnya, tetapi Xiao Shuxiang tidak mengajukan keberatan.


Xiao WeiWei berkata, "Aku sangat marah. Berpikir bahwa kenapa sosok di hadapanku adalah Xiao Shuxiang. Saat kau kecil, aku pun menentang kakekmu yang memberikan nama ini karena mengingatkan kami dengan kejadian pahit di masa lalu. Hanya di mata kakekmu.. Xiao Shuxiang adalah nama penjahat yang sudah menyelamatkan nyawanya dan bahkan membuatnya bisa menyembunyikan identitas dirinya. Baginya... Xiao Shuxiang adalah pahlawan. Tetapi aku tidak setuju jika putraku diberi nama itu,"


"Saat kecil, kau sangat pemarah. Kau bahkan tidak pernah menghargai siapa pun, termasuk Ibu dan ayahmu. Kau juga tidak sopan pada kakekmu dan kau menindas kakakmu. Yang kau pikirkan selalu saja berlatih. Kenakalan yang kau lakukan kian hari semakin menjadi sampai hari itu tiba dan untuk pertama kalinya kau makan bersama kami."


!!!


Xiao Shuxiang seperti mendengar suara gemuruh. Dia menatap Xiao WeiWei dan terlihat jelas rasa terkejut di wajahnya. Detakan pada jantungnya bertambah cepat seolah dia memiliki firasat tentang apa yang akan dikatakan oleh wanita ini.


Xiao WeiWei melanjutkan, "Sebelumnya kau tidak mau makan bersama. Ayahmu selalu merasa bahwa putranya sedikit aneh. Tetapi saat kau ternyata mau makan bersamanya, dia begitu senang. Dia pun tidak memikirkan yang lain, tetapi aku berbeda. Rasanya... Putraku berubah, bahkan menjadi lebih penurut."


"Putra yang kukenali sebagai Xiao Shuxiang sangat ambisius meski usianya masih sangat muda. Xiao Lu bahkan pernah datang dan mengatakan bahwa dia takut berada di dekat adiknya. Gadis itu berkata bahwa adiknya jarang bicara dan selalu menatapnya seperti ingin memakannya hidup-hidup. Tetapi setelah hari itu... Keadaan benar-benar berubah."


Xiao Shuxiang memperhatikan Xiao WeiWei sebelum mulai berujar, "Usia 7 Tahun... Adalah usia di mana aku terbangun dan melihat Gadis Cerewet itu. Aku tidak tahu ingatan di usiaku yang sebelumnya, tetapi sekarang aku tahu. Hanya saja... Xiao Shuxiang yang kau ketahui dan aku yang sekarang bukan dua orang yang sama."


"Benar," Xiao WeiWei berkata, "Xiao'Er putra Ibu adalah anak yang akan langsung menarik belati kecilnya saat melihat kakeknya. Dia adalah anak yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama hewan ternak dan tidak pernah mengetuk pintu kamar Ibu. Sejujurnya Xiao'Er yang dulu lebih tidak sopan daripada kau yang sekarang."


Xiao WeiWei menarik napas dan berkata, "Ibu sebenarnya bertanya-tanya. Kau jelas jauh lebih menghargai orang lain daripada putraku sendiri. Jika saja kehadiranmu tidak ada... Semua hal pasti akan berubah. Ibu bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi,"


"..................."


Xiao WeiWei memegang tangan pemuda di hadapannya dan berkata, "Kau sebenarnya orang yang sangat baik. Ibu yakin... Mereka yang melihat tindakanmu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang jahat di masa lalu... Tidak mengetahui alasan sebenarnya dari yang kau lakukan itu. Dan Ibu pun bisa melihat, kau merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa."


"Xiao'Er..." Xiao WeiWei melihat ke langit sejenak sebelum kemudian berkata, "Demonic Beast yang disebut sebagai perusak dan juga ancaman bagi manusia, justru kebanyakan dari merekalah yang mengajarkan kemanusiaan. Di sisi lain ada manusia, namun hati mereka seperti bukan manusia. Jadi meskipun kau lahir dalam lingkungan yang buruk atau darahmu memiliki keterikatan dengan iblis sekali pun---selama kau mempunyai hati yang baik... Maka jangan pernah mempertanyakan identitasmu. Bagi Ibu... Tidak ada orang yang melakukan hal baik sebanyak dirimu. Kau bahkan tidak mengharapkan terima kasih atau apa pun dari orang lain."

__ADS_1


"..................."


Melihat pemuda di hadapannya terdiam membuat Xiao WeiWei mengembuskan napas. Dia pun mendekat dan kemudian memeluk Xiao Shuxiang. Tangannya terulur dan mengusap pelan kepala serta punggung pemuda tersebut.


"Putra Ibu yang malang ini... Kau sudah melalui begitu banyak hal. Tidak seharusnya kau menanggung semuanya sendiri... Ibu di sini, kau bisa membaginya dengan Ibu..."


"..................."


'Membaginya'


Selama ini tidak pernah ada orang yang mau mengajukan diri untuk membantu menanggung beban orang lain. Karena itulah banyak orang yang merasa tidak bisa menceritakan masalah yang dia hadapi, mereka sulit membaginya.


Tetapi ini adalah untuk pertama kalinya ada yang bersedia membantu memikul sebuah beban dan sejujurnya Xiao Shuxiang tidak menyangka orang tersebut adalah sosok yang sebenarnya paling canggung dia sebut sebagai 'Ibu'.


Xiao Shuxiang tidak pernah berinisiatif untuk memeluk apalagi dekat dengan ibunya selama ini. Dia merasa bahwa itu tidak pantas, apalagi mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.


Tangan Xiao Shuxiang terulur, tetapi terhenti di udara dan kembali turun. Sekarang pun dia masih sangat canggung untuk membalas pelukan dari wanita ini. Hanya saja dia tahu satu hal yang pasti... Dia merasa sangat beruntung bisa menjadi seorang putra dari wanita yang sangat baik dan tulus menyayangi dirinya.


Xiao WeiWei melepaskan pelan pelukannya dan mengusap lembut wajah pemuda di hadapannya, "Apa kau menangis?"


Xiao Shuxiang berkedip, "Tidak mungkin. Ini karena sinar mataharinya terlalu silau,"


Xiao WeiWei tersenyum, "Putra Ibu benar-benar tampan."


"Jangan memujiku, aku tahu Xiao Shuxiang ini sangat luar biasa." Xiao Shuxiang tersenyum dan memegang tangan Xiao WeiWei yang berada di pipinya. Dia baru akan bicara saat mendengar suara orang lain disertai dengan langkah kaki.


"Wei'Er?!"


Xiao Shuxiang dan Xiao WeiWei menoleh. Orang yang baru saja naik kemari tidak lain adalah Yang Hao. Pria itu berjalan mendekat dan tiba-tiba saja menarik tangan Xiao WeiWei hingga membuat Xiao Shuxiang tersentak.


"Xiao'Er..! Apa yang kau lakukan pada Ibumu?"


!?


Xiao Shuxiang mengerutkan kening, terlihat keheranan. Di sisi lain Xiao WeiWei pun sama herannya, wanita tersebut menoleh dan melihat ekspresi agak cemberut dari suaminya. Dia pun mendengus dan langsung menarik telinga pria di belakangnya ini.


"Kau apa-apaan? Apa begini caramu bicara pada putramu, huh?" nada suara Xiao WeiWei terdengar ketus. Bahkan Xiao Shuxiang sampai tercengang sebab sebelumnya ibunya tersebut bicara sangat lembut padanya.


"Aduh, Wei'Er. Sayang. Kau mengabaikan janjimu padaku dan justru ada di sini. Bagaimana mungkin aku tidak kesal. Apa kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu? Aduh,"


"Aduh, jangan ditarik. Kau menghilangkan wibawaku di depan putra kita," Yang Hao berhasil melepaskan tarikan di telinganya dan dia pun memeluk istrinya tersebut.


Xiao WeiWei berdecak, "Lepaskan aku. Apa kau mau mati?"


"Tentu saja tidak mau. Aku tidak akan pernah membiarkan sayangku ini menjadi janda,"


"Kau ini..." Xiao WeiWei baru saja akan menarik hidung Yang Hao saat tangannya justru dipegang dan pelipisnya justru mendapat kecupan.


Xiao WeiWei sampai membeku saking kagetnya. Warna cerah terlihat di pipinya dan dia menatap horor pria ini. Xiao WeiWei bersungut-sungut, "Bagaimana kau bisa seperti itu?! Dasar pria bau tanah menyebalkan! Kau membuatku sangat malu!"


"Wei'Er, kau ini galak sekali. Apa kau sungguh tidak menyukaiku lagi?" Yang Hao mengusap lengannya yang ditampar dengan keras.


Di sisi lain, Xiao Shuxiang benar-benar tercengang dengan apa yang dia lihat. Dia memperhatikan kedua orang di hadapannya ini dan yakin bahwa ayah serta ibunya mempunyai dunia pribadi mereka sendiri.


Nada suara Xiao WeiWei begitu dingin saat berkata, "Pria menyebalkan. Hari masih terang dan beraninya kau bersikap seperti itu. Lain kali tidak akan ada jatah malam untukmu,"


"Jangan seperti itu, Sayang-"


"Hok ohok!" Xiao Shuxiang terbatuk dan menyadarkan kedua orang terdekatnya ini. Dia pun langsung mendapat perhatikan ayah dan ibunya.


Xiao Shuxiang berkedip dan dengan canggung berkata, "Maaf. Anggap saja aku tidak ada. Kalian bisa lanjutkan,"


Yang Hao berkata, "Nak. Lebih baik kau pergi minum,"


"Ah.. Benar." Xiao Shuxiang tersenyum dan kemudian berdiri, "Sepertinya aku memang merasa tenggorokanku sedikit gatal. Kalau begitu aku pergi dulu,"


"Baiklah, hati-hati di jalan." Yang Hao kembali memeluk Xiao WeiWei dan membuat istrinya itu tersentak.


"Kau ini sebenarnya kenapa? Apa sedang dalam masa kawin, hah?"


"Aku hanya merindukanmu. Apa aku bahkan tidak boleh memeluk?"

__ADS_1


"Tidak boleh! Aduh, Hao'Er..."


Xiao Shuxiang yang berjalan menjauh masih bisa mendengar suara dari Xiao WeiWei dan Yang Hao. Dia pun mengembuskan napas dan menggeleng pelan.


"Wei'Er, aku tidak pernah memelukmu seharian ini. Aku harus selalu menjaga sikap dan itu benar-benar membuatku lelah. Kita bahkan tidak punya waktu bersama,"


"Kau bercanda? Kau pikir selama ini aku tidur dengan batang kayu, huh? Pinggangku bahkan masih sakit karena terus bekerja keras dan itu semua salahmu! Kau ini sudah tua, bagaimana bisa kau masih punya energi sebanyak itu?!"


"Karena rasa sayangku padamu tidak pernah berkurang. Istriku yang paling cantik ini~"


"Hao'Er, kau seperti anak kecil. Hentikan! Bagaimana jika ada yang melihat?"


"Mudah. Biar kucongkel mata mereka," Yang Hao baru saja akan mencium wajah istrinya saat tiba-tiba ingat sesuatu. Dia pun berseru dan memanggil Xiao Shuxiang hingga pemuda yang berjalan menuruni tangga itu tersentak.


"Xiao'Er!"


Xiao Shuxiang menoleh. Ekspresinya tenang saat menatap ke arah Yang Hao. Dia melihat Xiao WeiWei masih berada di pelukan ayahnya dan nampak berekspresi buruk.


Yang Hao berkata, "Kucing Putih-ah! Maksud Ayah, menantu... Dia sedang mencarimu. Kau tidak bertengkar dengannya, kan?"


Xiao Shuxiang berkedip, "Tidak. Aku tidak bertengkar. Apa Kucing Putih ada di sini?"


"Mn, Ayah baru bertemu dengannya tadi. Dia bersama Tuan Muda Lan dan temanmu yang satu lagi. Pergilah dan temui mereka,"


"Baiklah," Xiao Shuxiang berjalan turun beberapa langkah sebelum kembali lagi dan memanggil Yang Hao.


"Ayah! Boleh bertanya sesuatu?" Xiao Shuxiang buka suara dan membuat Yang Hao menatapnya.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Xiao Shuxiang memperhatikan Xiao WeiWei dan kemudian berkata, "Ibu terlihat tidak suka dengan perlakuanmu. Tetapi kenapa Ayah tetap saja memaksanya?"


Yang Hao menatap gadis yang tidak bisa lepas dari pelukannya ini dan kemudian mendengus pelan. Dia bertanya dengan wajah yang tanpa dosa, "Sayang? Apa kau tidak suka dipeluk olehku?"


Dengan nada ketus, Xiao WeiWei berkata. "Kau pikir selama ini aku menyukainya?"


"Kalau begitu aku akan terus memelukmu sampai kau suka,"


"Hao'Er, kau ini-"


Yang Hao tertawa dan menatap ke arah Xiao Shuxiang. Dia tersenyum dan berkata, "Jika Ibumu benar-benar tidak suka, dia sudah membunuhku sejak tadi. Kau jangan khawatir,"


Xiao WeiWei. "Hao'Er, ini masih siang. Kau ini benar-benar kekanakan. Ayo lepaskan aku,"


"Aku tidak bisa menunggu sampai malam. Lagipula aku hanya memelukmu, tidak lakukan apa pun."


Xiao Shuxiang menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal dan kemudian pamit. Dia bahkan masih bisa mendengar suara ayahnya yang terdengar seperti sengaja dibuat menggemaskan.


Yang Hao berkata, "Apa aku juga harus menyebutmu 'Kucing Putih'? Panggilan itu terdengar sangat manis."


"Kalau begitu kau adalah serigala. Serigala tua yang kekanakan,"


"Aku hanya kekanakan di depan istriku yang manis ini,"


"Hentikan, apa kau tidak malu?"


"Aku hanya menunjukkan cara pada putramu untuk mengatasi istri yang dingin,"


"Apa?"


"Dengan memeluknya erat seperti ini,"


"Ah! Hao'Er..!"


"Jika kau tidak suka, kau bisa membunuhku."


"Kau, dasar bau tanah--Uhm..."


!!


Xiao Shuxiang bahkan sudah menutup kedua telinganya saat menuruni tangga dan masih bisa mendengar suara orang tuanya itu. Dia sejujurnya sangat syok dengan tindakan Yang Hao. Padahal ayah yang dia kenal terlihat seperti penuh pengendalian diri, tetapi apa-apaan ini?!

__ADS_1


"Ya Tuhan. Jangan bilang di usia yang sudah menjadi paman ini... Aku akan punya adik lagi,"


******


__ADS_2