![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Han ikut memikirkan hal yang sama, namun ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya. Dia sama sekali tidak yakin bahwa Tetua Besar Sekte Lautan Awan bisa menjadi muda kembali.
Xiao Han menahan napas, "Jika orang ini adalah benar Dao Fang An, maka itu berarti penampilannya yang sekarang pasti berhubungan dengan kitab itu. Sekte Lautan Awan memiliki satu bab yang lengkap dari Kitab Pembunuh Matahari."
"Kau ...." Li Huanshou menatap gugup ke arah Xiao Shuxiang, "Apa kau .... Tetua Besar Dao?"
"Mn? Apa aku terlihat seperti seorang Tetua Besar?" Xiao Shuxiang tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya. "Tidak sama sekali. Aku tidak ingin disamakan dengan tua bangka itu,"
Xiao Shuxiang dengan kasar membalik tubuh Jian Yang dan kemudian duduk di punggung pemuda itu. Dia menatap Li Huanshou dan melanjutkan ucapannya.
"Aku datang kemari mewakili orang tua yang sudah bau tanah itu, tapi aku juga tidak keberatan jika disebut 'Tetua Besar'. Aku justru senang mendengarnya,"
Jian Yang menggeram. Sakit pada jari-jari tangannya masih terasa dan kini sakitnya kembali menjadi saat tubuhnya diduduki oleh pemuda asing ini. Urat nampak di dahinya.
Jian Yang mengerang, "SIALAN! Ka-Kau hanya memakai nama tetua besar Dao saja! Kau hanya pecundang! A-aku pasti akan membuatmu menyesal..!"
Xiao Shuxiang tersentak dan lalu tertawa, dia memukul kasar bokong Jian Yang hingga membuat pemuda itu menjerit kaget. Li Huanshou dan para murid Istana Seribu Pedang bahkan sampai melotot saking terkejutnya melihat adegan itu.
"Ha ha ha, kau lucu sekali." Xiao Shuxiang menggeleng dan raut wajahnya pun kini berubah serius. "Kau menyebutku apa barusan? Pecundang?"
Aaakh..!
Xiao Shuxiang mencengkeram belakang leher Jian Yang. Dia agak merendahkan tubuhnya dan bicara tepat di samping telinga pemuda itu.
"Pecundang, hm? Tapi lihatlah dirimu sekarang, kau dikalahkan oleh orang yang kau sebut 'Pecundang' ini. Jadi, bagaimana rasanya?"
Xiao Shuxiang menyeringai, dia mendengus dan lantas tersenyum. "Kau tidak perlu membuatku menyesal karena akan kupastikan, kau tidak akan pernah berani memikirkan untuk membalasku."
Jian Yang merasakan seluruh tubuhnya merinding. Pemuda ini tidak bersuara dingin padanya, tetapi dia entah kenapa merasa tidak nyaman. Ada perasaan yang sama sekali tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Aku .... Apa aku takut?"
Xiao Shuxiang mengedarkan pandangan pada para murid berandalan Istana Seribu Pedang yang masih belum bisa menggerakkan kaki mereka. Tubuh para murid itu masih terasa lemas.
Dilihat oleh semua orang, Xiao Shuxiang menggigit pinggiran tangannya sendiri hingga berdarah. Dia kembali membuat para murid itu terkejut sampai gemetar. Xiao Han sendiri menahan napasnya dan berusaha menyembunyikan perasaan berdebar dalam hatinya.
Xiao Han sama sekali tidak takut, apalagi saat melihat senyum seringai pemuda mempesona di depannya----justru dia menjadi sangat bersemangat. Seringaian itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang menyukai darah sepertinya.
"Hebat .... Dia sama seperti kami. Aku jadi semakin penasaran dengan identitas pemuda ini,"
__ADS_1
Xiao Shuxiang menjilat darahnya sendiri dan tersenyum, "Kalian suka melihatnya? Ini belum seberapa,"
Li Huanshou seakan tidak lagi mampu mendengar debaran dari jantungnya. Dia menyaksikan bagaimana darah segar mengalir di telapak tangan pemuda di hadapannya.
Xiao Shuxiang sendiri justru berbalik dan lalu menarik kasar rambut Jian Yang. Dia mendongakkan pemuda itu dan tanpa ekspresi meletakkan tangannya di bibir Jian Yang. Dia menuangkan darah ke mulut pemuda tersebut.
Jian Yang terbelalak, matanya terbuka lebar dan dia terkejut bukan main. Dirinya berusaha memberontak, tetapi justru makin dipaksa menelan sesuatu yang seumur hidup tidak pernah ada dalam pikirannya untuk meminum benda semacam ini.
"Kau harusnya bersyukur karena sudah mendapat kehormatan yang tidak semua makhluk bisa mendapatkannya," Xiao Shuxiang bicara dengan nada suara yang rendah. "Jangan dimuntahkan, darah Yang Mulia ini sama sekali tidak kotor dan tidak akan langsung membunuhmu."
Xiao Shuxiang mulai melepaskan Jian Yang. Pemuda itu langsung muntah, tetapi tidak mampu mengeluarkan darah yang telah dituangkan ke perutnya. Raut wajah Jian Yang pucat dan semakin memburuk.
Xiao Shuxiang berdiri, dia menatap sosok Jian Yang yang menyedihkan. Tidak ada rasa bersalah yang terlihat di raut wajah Xiao Shuxiang, justru bibirnya tertarik membentuk senyuman.
"Hati, ginjal, paru-paru."
Setiap kali Xiao Shuxiang menamai satu tempat, rasa sakit yang amat luar biasa seketika dirasakan Jian Yang. Murid dari Istana Seribu Pedang itu merasakan gatal sekaligus nyeri pada organnya.
Jian Yang, yang baru saja mencoba bernapas pelan-pelan kembali membuka mata lebar ketika gelombang rasa sakit menusuknya. Rasanya seakan ada deretan gigi padat yang sedang mengigit dan menggerogoti organ-organnya.
Teriakan tragis dari Jian Yang semakin memperburuk keadaan Li Huanshou dan juga teman-temannya. Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan betapa inginnya mereka pergi dari tempat ini. Sekarang, hanya ada satu pemikiran di dalam benak para murid Istana Seribu Pedang itu.
Sosok di hadapan mereka adalah Iblis dengan kulit manusia! Monster buas yang menyembunyikan kebengisan dan menutupinya dengan wajah polos bak tanpa dosa.
Xiao Shuxiang menginjak punggung Jian Yang dengan pelan sebelum sedikit menekannya. Dia berkata, "Hanya kau yang kujadikan contoh untuk teman-temanmu. Jika setelah melihatmu yang menyedihkan ini dan kau serta teman-temanmu belum juga mengubah sikap, maka aku tidak akan sungkan lagi."
Xiao Shuxiang bersuara dingin, "Persetan dengan Istana Seribu Pedang. Aku akan mencabut satu per-satu tulang kalian dan menyembuhkannya, lalu mencabutnya sekali lagi."
Jian Yang mengerang kesakitan saat jari-jarinya yang sudah patah justru diinjak.
Xiao Shuxiang berkata, "Perbedaan antara kultivator biasa dengan kultivator yang mempelajari alkemis adalah .... Kami bisa melakukan penyiksaan berkali-kali lipat tanpa perlu takut lawan akan kehilangan nyawa. Kami mempunyai kemampuan untuk mengukur sejauh mana lawan bisa bertahan. Tapi jujur saja, bahkan saat napas terakhirmu pun. Aku masih bisa menyembuhkanmu dan melakukan siksaan berulang-ulang kali, sesuka hatiku."
Xiao Shuxiang tersenyum. "Jadi, apa kau tetap akan menjadi murid berandalan atau mulai mengubah pikiranmu, hm?"
"Shuxiang,"
Xiao Shuxiang tersentak dan langsung menoleh. Dia melepaskan injakannya pada tangan Jian Yang dan menatap seseorang yang baru saja menapak di tanah.
Li Huanshou dan teman-temannya ikut tersentak. Mereka mendengar suara pemuda yang sebenarnya tidak asing, hanya saja Li Huanshou sulit untuk menolehkan kepalanya.
__ADS_1
Aroma kayu cendana perlahan-lahan menyelimuti penciuman Li Huanshou dan yang lainnya. Rasa takut yang sedang mereka alami berangsur-angsur terganti dengan rasa aman dan hangat.
Beberapa murid Istana Seribu Pedang terkejut saat melihat wajah dari sosok tersebut. Pemuda yang berjalan tenang dengan pakaian putih berkibar di dekat mereka tidak lain adalah Lan Guan Zhi.
"Dia....."
"Lan Guan Zhi....?"
"Tuan Muda Lan....."
Lan Guan Zhi menatap Li Huanshou sejenak sebelum mulai melayang ringan dan menapak lembut di hadapan Xiao Shuxiang. Dia menghindari area di mana asap tipis menguar dan sekaligus pelaku utama yang menyebabkan para murid ini tidak mampu bergerak.
"Lan Zhi?" Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, "Untuk apa kau kemari?"
"Hentikan apa pun yang kau lakukan, ini sudah cukup." Lan Guan Zhi sama sekali tidak mengharapkan Jian Yang dan para murid Istana Seribu Pedang mengalami trauma karena tindakan teman baiknya.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Lan'Er. Aku bahkan belum menunjukkan keahlianku yang lain, masih banyak yang harus kuperlihatkan pada mereka---"
Xiao Shuxiang tersentak saat teman baiknya tiba-tiba menarik tangannya. "Lan Zhi...?! Tunggu dulu, Lan'Er...?!"
"Kau sudah memperlihatkan banyak hal,"
"Tapi--" Xiao Shuxiang tidak menolak saat ditarik oleh Lan Guan Zhi. Dia bahkan kini mengikuti langkah dari teman baiknya itu.
Xiao Shuxiang mengibaskan tangannya dan asap tipis yang menyelimuti Li Huanshou serta para saudaranya mulai menghilang. Dia pun memegang tangan Lan Guan Zhi dan membujuk pemuda itu untuk melepaskannya.
Butuh waktu setengah jam bagi para murid Istana Seribu Pedang, termasuk Li Huanshou untuk bisa menggerakkan kaki serta tubuh mereka kembali.
"Sa-Saudara Jian..." Li Huanshou dengan bersusah payah mencoba bangkit dan berjalan ke tempat Jian Yang. "Saudara Jian...!"
Jian Yang sudah tidak lagi merasakan nyeri di organ dalamnya ketika pemuda yang disebut 'Shuxiang' itu pergi. Hanya saja, napasnya masih tidak beraturan dan sakit pada jari-jari tangannya masih sangat terasa.
Li Huanshou menahan napas ketika melihat jari-jari pada tangan saudaranya yang begitu mengerikan. Dia merasakan sakit pada ulu hatinya dan perlahan mulai mengulurkan tangan.
Li Huanshou menyentuh lembut tangan saudaranya, "Kita .... Kita akan laporkan hal ini pada Shizun."
Jian Yang meringis, dia menggeleng pelan dan berusaha bicara, "Jangan... Jangan lakukan itu."
"Tapi, Saudaraku... Perbuatan orang itu bukan lagi perbuatan yang dilakukan manusia! Dia... Dia sudah..." Li Huanshou tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Jian Yang merupakan pendekar yang ahli menggunakan tangan kanannya untuk memainkan pedang. Tetapi pemuda yang ditarik oleh Lan Guan Zhi pergi itu sudah membuat tangannya cacat. Jian Yang jelas tidak akan bisa memakai pedang lagi.
******