![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Anggota tubuh Xiao Shuxiang terasa kaku dan tenggorokannya kering. Dia sangat ingat dengan kitab milik Sekte Kupu-Kupu saat pertama kali dirinya mengunjungi perguruan itu.
"Aduh ...." Xiao Shuxiang berekspresi pucat, dia berusaha menenangkan gerumuh yang ada di dalam dadanya. Dia pun menarik napas dan lalu menggeleng pelan sambil memijat-mijat keningnya. "Aku .... Aku ingin menangis,"
"Saudara Xiao, aku tahu kau sangat syok." Zhi Shu pun berekspresi buruk, "Saat aku mendengar tentang ini----aku juga sama kagetnya denganmu. Bahkan tidak hanya aku, tetapi juga saudara Jing, Hou Yong dan saudara kita yang lain ikut terkejut. Ro Wei sampai terjatuh lemas saking tidak percayanya."
"Kau tidak mengerti..." Xiao Shuxiang mengusap wajahnya dan mulai memberi penjelasan pada Zhi Shu. "Jika kitab itu seperti bayanganku, maka kemungkinan besar isi dari kitab tersebut tidak hanya berisi satu bab saja tapi mungkin itu Kitab Pembunuh Matahari yang lengkap."
Zhi Shu terlonjak kaget mendengarnya. Kali ini giliran dia yang terperangah, "Sa-Saudara Xiao... Ma-maksudmu adalah--"
"Apa kau tidak pernah memikirkannya?" Xiao Shuxiang mengusap wajahnya dan berdecak, "Aku benar-benar kesal. Entah siapa penjual kacang itu.... Haiih... Di saat semua orang mempertaruhkan nyawa demi mendapat selembar bagian kitab itu----dia justru dengan tanpa dosa telah menjadikan lembaran-lembaran kitab itu sebagai..."
Xiao Shuxiang menggeleng, dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. "Sungguh! Siapa pun orangnya, dia sangat keterlaluan! Tindakannya yang tidak tahu apa-apa tentang kitab itu seperti bayi yang diberi setumpuk emas. Dia sama sekali tidak mengerti harga dari benda yang dipegangnya,"
"Jangankan tidak mengerti, Saudaraku..." Zhi Shu menggaruk pelan kepalanya dan tersenyum pahit, "Paman itu bahkan tidak bisa membaca,"
Zhi Shu melihat Xiao Shuxiang terkejut sambil menepuk dahinya. Dia sudah memperkirakan reaksi saudaranya ini dan agak tidak enakan untuk membahas lebih jauh tentang penjual itu.
Xiao Shuxiang menarik napas dalam dan kemudian bertanya pada gadis cantik di sampingnya, "Boleh kulihat lembaran kitab yang ada padamu?"
"Te-tentu, sebentar..."
Xiao Shuxiang memperhatikan Zhi Shu dan membeku ketika gadis di dekatnya ini malah membuka sebelah sepatunya. Dia tergagap, "Zhi-Zhi Shu! Ja-jangan bilang kau menyimpannya di---Ya Tuhan! Kenapa aku punya saudara yang tidak waras begini?!"
"Saudara Xiao, kau jangan bilang begitu." Zhi Shu protes dan akhirnya berhasil mengeluarkan sebuah buku tipis yang terlipat dari dalam sepatunya.
Xiao Shuxiang begitu pucat, "Bagaimana kau bisa meletakkannya di sana? Kau kan dapat memakai Cincin Spasial atau menyimpannya di dalam lengan pakaianmu? Kenapa kau justu melakukan hal yang mengejutkan begini?!"
"Saudara Xiao, kau seperti tidak mengerti saja..." Zhi Shu menjelaskan, "Kultivator pada umumnya sering menggeledah tubuh lawan untuk mengambil barang berharga mereka. Tetapi mereka sering kali lupa memeriksa bagian kaki. Tentu saja aku tidak mengharapkan hal buruk datang menimpaku, tetapi ada baiknya jika mempersiapkan kemungkinan yang bisa saja terjadi."
"Dan kau memilih memakai sepatu sebagai tempat penyimpananmu?"
Zhi Shu mengatupkan bibirnya dan seakan malu-malu menjawab. Tindakan itu membuat Xiao Shuxiang kembali menggeleng dan akhirnya menghela napas pasrah.
"Saudara Xiao, kau mau melihatnya atau tidak? Ini," Zhi Shu menyerahkan buku tua yang dipegangnya dan mengerutkan kening saat melihat Xiao Shuxiang yang nampak ogah-ogahan mengambil benda di tangannya.
"Saudaraku," Zhi Shu menggelembungkan pipinya, "Kakiku sama sekali tidak bau. Aku orang yang pembersih, tahu. Kau ini menyebalkan sekali..."
"Apa aku bilang sesuatu, huh?"
"Kau ini pandai sekali bersilat lidah," Zhi Shu mengembuskan napas dan menggeleng pelan. Dia menyerah, tidak bisa lagi mendebat Saudara Xiao-nya.
Xiao Shuxiang sendiri mulai membuka buku yang diberikan Zhi Shu. Kitab berisi tiga lembar tulisan ini kembali membuat hatinya berdenyut sakit. Dia pun mulai memperhatikan dengan saksama setiap tulisan pada lembaran-lembaran kitab itu.
Zhi Shu memperhatikan saudaranya dan lalu berujar, "Meski sampul buku itu terlihat tua, namun tiap lembaran di dalamnya sama sekali tidak termakan usia. Kertas itu bahkan tidak akan apa-apa saat terkena air, apalagi itu juga tidak bisa dibakar di dalam api. Hebat, kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
__ADS_1
"Untuk menguji apakah benar buku itu adalah Kitab Pembunuh Matahari, aku dan para saudara yang lain berusaha memusnahkannya. Setelah menyerah, kami membawanya untuk diperiksa oleh para patriarch Sekte Pedang Langit. Karena itulah aku tahu---aduh!" Zhi Shu kaget sebab kepalanya dipukul buku oleh Saudara Xiao-nya. Meski tidak sakit, tapi dia spontan merintih.
"Saudara Xiao, kau ini kenapa?!" Zhi Shu cemberut.
"Kau yang kenapa?" Xiao Shuxiang bersungut-sungut, "Harusnya kalian lebih dulu membawa benda ini untuk diperiksa oleh para patriach, bukannya malah----Haah... Ya ampun."
Xiao Shuxiang menghela napas berat dan menggeleng pelan, dia pun menengadah ke langit. "Tidak bisakah aku mempunyai saudara seperguruan yang normal? Ada apa dengan anak-anak ini?! Haaah... Ya Tuhan. Aku benar-benar ingin membelah batu besar dan memasukkan mereka ke dalamnya."
"Kau tidak boleh begitu, Saudara Xiao..!" Zhi Shu spontan menarik tangan Xiao Shuxiang. Dia baru saja hendak meminta agar pemuda itu menarik kata-katanya, namun karena gerakan spontannya----hal yang tidak terduga terjadi.
Zhi Shu kaget ketika Xiao Shuxiang nyaris terjatuh, dia memegang kuat saudaranya dan justru berakhir berpelukan. Itu pun dia hampir kesulitan mengatur posisi duduknya.
"Zhi Shu, kau ini kelewatan sekali." Xiao Shuxiang melepaskan pelukannya yang tidak sengaja itu dan mengusap-usap lengan kanannya.
"Aku kan tidak sengaja..." Zhi Shu tidak mau disalahkan, "Lihat. Sepatuku bahkan jatuh karena menyelamatkanmu,"
"Kaulah yang lebih dulu menarikku," Xiao Shuxiang juga tidak ingin disalahkan. Dia tanpa aba-aba langsung memberikan buku di tangannya kepada Zhi Shu dan lalu melompat turun dari atap.
Zhi Shu yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya nampak cemberut dan menyusul Xiao Shuxiang turun. Dia pun mengambil kembali sepatunya yang sempat jatuh tadi dan memakainya. Buku di tangannya bahkan disimpan dengan cara yang sama seperti tadi.
Xiao Shuxiang memperhatikan Zhi Shu dan baru saja akan bicara saat tiba-tiba mendengar suara gemerisik. Dia spontan menoleh dan menatap tajam ke arah rimbunan pepohonan.
Zhi Shu juga mendengar. Dia berekspresi serius dan ikut melihat ke arah rimbunan pepohonan. Dirinya bahkan telah bersiap untuk melakukan serangan andai suara asing itu adalah musuh.
!?
Xiao Shuxiang berkedip. Wanita yang dia lihat bukan hanya pakaian putihnya yang berantakan, tetapi juga rambutnya. Raut wajah yang nampak seperti pemabuk berat itu bahkan tidak akan dia lupakan. Xiao Shuxiang jelas sangat mengenal sosok tersebut.
"Tetua Meng?"
"Mn?" Zhi Shu menoleh, "Saudara Xiao? Kau mengenalnya?"
"Dia salah satu tetua dari Sekte Lautan Awan," Xiao Shuxiang tanpa ragu mulai berjalan menghampiri wanita pemabuk itu yang diikuti oleh Zhi Shu.
"Tetua Meng? Apa yang kau lakukan di sini?" Xiao Shuxiang langsung bertanya tanpa memberi hormat terlebih dahulu. Dia sangat berbeda dengan Zhi Shu yang menyatukan kedua tangan dan kemudian membungkuk hormat.
Wanita pemabuk yang ada di depan Xiao Shuxiang ini tidak lain adalah Meng Hao Niang. Tetua Gunung Puncak Jin Cheng itu nampak menyipitkan mata dan begitu memperhatikan dengan saksama sosok yang bertanya padanya tanpa sopan-santun sama sekali.
"Siapa .... Kau ini?"
Xiao Shuxiang tersentak mendengar ucapan wanita di depannya. Dia pun mendengus dan lalu berkata, "Kau tidak mengenaliku? Kita ini pernah bertemu tahu,"
"Hmm... Apa..." Tetua Meng Hao Niang menunjuk-nunjuk sosok pemuda asing di depannya dan berkata, "Apa aku harus selalu mengingat nama siapa pun yang kutemui, huh? Memang kau orang sepenting apa hingga aku harus mengingatmu?! Minggir! Kau .... Menghalangi jalanku,"
Zhi Shu tertegun saat Tetua Meng Hao Niang hanya mendorong udara seperti telah mendorong orang untuk bergeser ke samping. Dia pun melihat wanita itu berjalan di tengah-tengah antara dirinya dengan Saudara Xiao-nya.
Tetua Meng Hao Niang tersandung lagi dan itu mengejutkan. Hanya saja Xiao Shuxiang bergerak tepat waktu meraih lengan wanita itu hingga Tetua Meng Hao Niang tidak terjatuh.
__ADS_1
"Ya ampun, ada apa denganmu?" Xiao Shuxiang sebenarnya kaget melihat tingkah Tetua Gunung Puncak Jin Cheng ini. "Kau sudah sangat mabuk. Sebaiknya kau pergi dan istirahat saja. Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan benar,"
"Singkirkan tanganmu," suara Tetua Meng Hao Niang seperti orang yang meracau, "Aku ingin pergi mengisi kendi arakku. Menjauhlah, kalian... Berdua. Kalian pergi dan bermesraan saja di tempat lain,"
"Bermesraan?" Zhi Shu berkedip, "Kami tidak melakukan hal semacam itu."
"Hmph, aku ini mabuk... Tapi tidak buta. Aku melihat kalian berpelukan di atas sana," Tetua Meng Hao Niang menepis tangan Xiao Shuxiang. Dia pun kemudian menggaruk kepalanya dan berkata, "Jika kalian ingin berkultivasi ganda, maka pergilah ke tempat lain. Kalian jangan melakukan itu di ruang terbuka. Haaih... Bocah zaman sekarang memang.... Tidak punya malu."
"Hei," Xiao Shuxiang terkejut dan lalu protes, "Siapa yang mau melakukan itu, hah? Aku ini sudah menikah dan dia adalah saudaraku. Zhi Shu sama sekali bukan istriku,"
"Itu benar. Kami ini saudara seperguruan, jadi mana mungkin melakukan hal tidak senonoh," Zhi Shu mengangguk setuju.
Tetua Meng Hao Niang menoleh dan menyipitkan matanya saat memandang Zhi Shu. Dia pun mengarahkan perhatian pada pemuda yang berada di dekatnya sebelum kembali bersuara.
Tetua Meng Hao Niang berujar, "Jadi... Kau selingkuh di belakang istrimu?"
Xiao Shuxiang tersentak, "Sembarangan! Aku sama sekali tidak melakukan itu."
"Siapa .... Namamu?" Tetua Meng Hao Niang bertanya dan membuat pemuda di depannya menghela napas.
"Namaku 'Shuxiang', margaku 'Xiao'."
"Berandalan Kecil," Tetua Meng Hao Niang melambaikan telunjuknya di depan Xiao Shuxiang dan berkata, "Jika kau sudah menikah... Kau perlu membuat batasan dengan gadis lainnya, entah itu temanmu atau saudara seperguruanmu."
Tetua Meng Hao Niang melanjutkan, "Tidak ada larangan untukmu dekat dengan perempuan, tapi kau juga harus sadari tanggung-jawabmu. Kau sekarang punya dua hati yang perlu dijaga, satu adalah milikmu sendiri dan satunya lagi adalah milik istrimu. Jangan sampai ada hati yang berpaling dan justru menyakiti hati yang lain,"
Zhi Shu tertegun saat Tetua Meng Hao Niang menunjuk-nunjuk dada Saudara Xiao-nya sebelum melangkah pergi. Dia lantas berkedip beberapa kali dan baru akan bicara ketika saudaranya lebih dulu bersuara.
"Aku terkesan," Xiao Shuxiang menatap lurus ke arah wanita pemabuk itu dan kemudian menoleh ke arah Zhi Shu. Dia dengan polos bertanya, "Apa kau tahu kapan aku membongkar perut Kucing Putih dan mengambil hatinya? Aku ingat tidak pernah melakukan itu,"
"Saudara Xiao..!" Zhi Shu menampar keras lengan saudaranya bahkan sampai mencubitnya gemas. "Kau ini jangan bercanda..! Maksud Tetua Meng tidak seperti itu! Ya ampun, kau ini sangat menyebalkan!"
Xiao Shuxiang tersenyum meskipun merasakan panas dan sakit di lengannya karena tamparan Zhi Shu. Dia berkata, "Tetua Meng membahas tentang 'hati' tadi, jadi apa yang bisa kulakukan selain mengingat organ dalam. Memang aku salah bicara?"
Zhi Shu kalah lagi. Pipinya kembali bergelembung karena merasa Saudara Xiao-nya tidak bisa didebat. Dirinya jadi ingin mengikat Xiao Shuxiang dan lalu menyembunyikannya di suatu tempat. Saudaranya ini meski membuat kesal, tapi senyumannya sangatlah memikat. Jantungnya benar-benar tidak kuat menahan pesona tersebut.
"Ngomong-ngomong, ke mana perginya Tetua Meng?" Xiao Shuxiang mengusap-usap dagunya. Dia peduli untuk beberapa saat saja sebelum kembali berujar, "Yaah... Terserahlah. Tetua Meng pergi tempat mana pun bukan urusanku,"
Ekspresi Zhi Shu nampak buruk, bibirnya berkedut dan dia pun mulai bersuara. "Saudara Xiao, aku sekarang jadi ingin membelah batu dan memasukkanmu ke dalamnya."
"Itu kan ucapanku tadi?" Xiao Shuxiang menatap Zhi Shu.
Mereka terdiam beberapa saat, mendengus sebelum akhirnya tertawa. Sama sekali tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya hubungan kedua orang itu, namun bila diperhatikan dengan baik----Xiao Shuxiang dan Zhi Shu benar-benar nampak seperti saudara.
"Saudara Xiao," Zhi Shu tiba-tiba bicara. "Apa kau mau pergi berkencan denganku?"
"Apa?" Xiao Shuxiang tersentak.
__ADS_1
******