KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
349 - Alur Akhir Perang


__ADS_3

Xiao Shuxiang jelas saja terkejut. Entah siapa yang sudah bosan hidup hingga membocorkan tentang Kitab Pembunuh Matahari yang sekarang ini berada di tangannya.


"Aku melihat Xiao Shuxiang memakai Kitab Pembunuh Matahari dan kemudian mengendalikan para mayat itu untuk melawan naga. Dia orangnya!"


Xiao Shuxiang menatap salah seorang kultivator yang mempunyai mulut tidak bisa diam itu. Sejenak, dirinya baru akan memperhatikan baik-baik orang ini ketika mendengar suara penuh keterkejutan dari para kultivator di sekitarnya.


"Xiao Shuxiang ...?"


"Nak, apa benar yang dia katakan?!"


"Kitab Pembunuh Matahari yang lengkap!"


!!


Xiao Shuxiang mengedarkan pandangan. Ada banyak wajah asing yang dia lihat dan mereka semua memberinya tatapan mata yang berbeda-beda.


Aliansi para kultivator yang saat ini menyerang Sekte Lembah Iblis tidak semuanya berasal dari Aliran Putih, tetapi juga berasal dari Aliran Hitam. Mereka bekerja sama untuk bisa menggulingkan Sekte Lembah Iblis dan membalas semua perbuatan sekte itu sebagaimana mestinya.


Namun perlu diketahui bahwa tidak sedikit dari para kultivator tersebut yang kemari dan membahayakan diri demi Kitab Pembunuh Matahari yang selama ini diburu. Sekarang mendengar bahwa kitab itu telah lengkap dan berada di tangan seseorang, tentu saja ini adalah berita yang luar biasa.


"Nak, apa kau benar memiliki Kitab Pembunuh Matahari itu?!"


"Nak, kitab itu sangat berbahaya. Kau jangan menggunakannya-"


"Tidak perlu basa-basi. Nak! Serahkan kitab itu sebelum kau terpengaruh aura Iblisnya."


"Tetua Cheng! Berani sekali kau ingin memonopoli Kitab Pembunuh Matahari. Apa hak Sekte Gunung Tengkorak, hah?!"


"Lalu apa kau ingin kitab itu jatuh ke tanganmu? Si Rubah Botak Licik sepertimu?"


!!!


"Dia lari ..!!"


"Hei ..!!"


Xiao Shuxiang yang tiba-tiba melesat pergi begitu saja membuat semua kultivator terkejut dan langsung mengejarnya. Dia menapakkan kakinya di salah satu dahan pohon sebelum kembali melesat.


Perubahan suasana ini membuatnya sangat tidak nyaman. Dia bahkan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya hingga darah terlihat menetes di sela-sela jarinya.


"Tsk,"


"Nak, berhenti ..!!"


"Xiao Shuxiang, jangan lari ..!!"


"Xiao Shuxiang! Aku memperingatkanmu, cepat berhenti ..!"


Sebuah ingatan tiba-tiba terlintas di kepala Xiao Shuxiang. Rasanya dia kini kembali ke waktu yang sama dengan kejadian serupa seperti hari ini.


Xiao Shuxiang pergi ke kota paling timur di Sekte Lembah Iblis dan kemudian menapak di tanah, tepat di halaman sebuah bangunan yang sudah tidak berpenghuni karena para warga kota ini sebagian besar telah dibawa ke tempat yang aman.


Dia melihat satu persatu kultivator dari berbagai sekte dan aliran yang berbeda itu mulai menapakkan kaki mereka. Xiao Shuxiang tidak mengatakan apa pun, tapi dari tatapan matanya jelas dia tidak bisa percaya akan orang-orang ini.


"Xiao Shuxiang, kitab itu bukan mainan. Ini demi keselamatanmu sendiri, lebih baik kau serahkan saja benda itu."


"Xiao Shuxiang, Pedang Bintang Malam terlalu berbahaya untukmu. Serahkan benda itu. Ini demi keselamatanmu sendiri..!"


Xiao Shuxiang mengingat ucapan yang nyaris sama. Dia pun mendengus sambil tersenyum. Tindakannya membuat para kultivator yang ada menjadi tersentak.


"Ah ..." Xiao Shuxiang menurunkan pandangannya sejenak sebelum mulai mengedarkan pandangan dan kemudian mengembuskan napas. Dia tersenyum dan berkata, "Luar biasa. Aku sampai kehilangan kata-kata. Kitab Pembunuh Matahari ... Aku memang memilikinya,"


Pedang di tangan Xiao Shuxiang perlahan berubah menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang. Darah di tangannya yang terluka pun kini mulai berhenti mengalir dan karena kekuatannya sekarang, regenerasi tubuhnya pun telah kembali.


Xiao Shuxiang berujar tenang, "Kitab itu memang ada padaku. Tapi siapa yang harus menerimanya di antara kalian? Aku sama sekali tidak tahu,"


"Tsk, terlalu lama. Serahkan kitab itu sekarang juga!" Seorang kultivator dari salah satu Sekte Aliran Hitam langsung menerjang dengan aura pembunuh yang kuat.


Xiao Shuxiang secara spontan melompat untuk menghindari terjangan itu. Kakinya kini menapak di atap bangunan.

__ADS_1


Tidak hanya melompat, Xiao Shuxiang mengeluarkan sebuah gulungan yang saat ini melayang di udara dan membuat kultivator yang menyerangnya mendadak berhenti. Pandangan semua orang pun lantas tertuju pada benda yang melayang dengan diselimuti asap putih tersebut.


"Kitab Pembunuh Matahari ..."


"Kitab itu ..."


Xiao Shuxiang bisa melihat tatapan mata yang haus akan kekuatan dan juga ekspresi yang penuh keserakahan dari para kultivator ini. Dia mendengus saat melihat ada beberapa tetua yang dia kenali dan nampak memperlihatkan ekspresi wajah yang serupa.


Pemandangan ini mengingatkannya pada tragedi masa lalu. Rasanya seperti kejadian itu baru terjadi kemarin, bahkan detail ekspresi tetua waktu itu pun sama dengan yang dia lihat saat ini.


Kitab Pembunuh Matahari perlahan melayang turun menuju tangan Xiao Shuxiang yang terulur. Pandang semua orang mengikuti kitab itu. Xiao Shuxiang melihat mereka mempunyai senyuman yang begitu kelaparan akan kekuatan.


"Kalian menginginkan ini?" Xiao Shuxiang berujar tanpa nada. Dia tersenyum tipis, "Tapi aku hanya punya satu dan kalian terlalu banyak. Dan lagi, benda ini tidak pantas jatuh di tangan manusia seperti kalian."


Seseorang melesat dan hendak merampas gulungan di tangan Xiao Shuxiang. Namun gerakan pemuda mempesona itu lebih cepat. Hanya saja entah sengaja atau tidak, Xiao Shuxiang justru melempar gulungan di tangannya tepat di tengah-tengah kerumunan orang.


!!!


"Kitab Pembunuh Matahari ..! Ha ha ha, ini milikku!"


"Berikan kitab itu. Kau tidak pantas mendapatkannya!!"


"Tidak akan pernah kuberikan!"


Seseorang yang sebelumnya menerjang Xiao Shuxiang tanpa bicara berbalik arah dan langsung melesat menuju kultivator yang mendapat kitab tersebut. Dia tanpa ragu menebas punggung dan leher kultivator itu hingga kitab yang ada di tangan lawannya terlempar.


Xiao Shuxiang yang masih berada di atap melihat gulungannya kini ada di tangan kultivator lain, namun karena satu orang sudah memulai---para pendekar yang lainnya pun berusaha merampas benda itu bahkan tanpa ragu menghilangkan nyawa rekan sendiri.


"Kitab ini sekarang milikku-!!"


"Maaf, aku akan merebutkan darimu."


"Berikan itu padaku!"


Ada kultivator yang menusuk rekannya dari belakang dan merampas gulungan tersebut, namun tidak butuh waktu lama sampai kultivator lain menyerangnya dengan kekuatan yang besar.


Gulungan yang diperebutkan itu terjatuh dan sempat menggelinding di tanah. Ada kultivator yang hendak meraihnya, tetapi seseorang langsung menebas tangannya dan merampas gulungan tersebut.


"Pedang Bintang Malam sekarang milikku-akh!"


"Ini hanya untukku,"


Xiao Shuxiang tertawa, "Waah ... Alam Kultivasi Atas ternyata tidak jauh berbeda. Ini jadi terlihat menyenangkan,"


Xiao Shuxiang merubah posisinya menjadi duduk. Dia menyaksikan orang-orang ini saling bertarung dan membunuh dengan cara yang sama seperti yang ada di masa lalu.


Perbedaannya adalah, dahulu para kultivator di masa lalunya bertarung demi bisa memiliki Pedang Bintang Malam-nya. Pedang yang merupakan salah satu dari Pusaka Langit tersebut.


Bahkan, para kultivator itu terus saja memperebutkannya tanpa tahu bahwa Pedang Bintang Malam hanya bisa dikeluarkan dari sarungnya oleh Xiao Shuxiang sendiri. Mereka bertarung mati-matian karena dibutakan oleh kekuatan luar biasa dari Pusaka Langit.


Xiao Shuxiang mungkin saat ini terlihat menikmati pemandangan yang sangat mengerikan ini, di mana para kultivator saling membunuh untuk memperebutkan sesuatu. Tetapi bila diperhatikan dengan baik, tawa Xiao Shuxiang terlihat jelas mengandung kesedihan.


Sebuah fakta besar bahwa dahulu, lebih dari seratus tahun yang lalu---di kehidupannya yang terkenal sebagai Sang Bintang Penghancur, bukan dia yang menghabisi ribuan nyawa kultivator dalam sebuah perang.


Dia memang sudah banyak membunuh. Ada banyak pemberontakan yang dia lakukan, tetapi melawan ratusan ribu orang bukan sesuatu yang bisa dia lakukan seorang diri, bahkan jika Pusaka Langit berada di tangannya.


Mereka semua mati dengan cara yang sama seperti hari ini. Xiao Shuxiang melempar Pedang Bintang Malam dan senjata itu pun langsung diperebutkan. Para kultivator yang ada saling menghabisi satu sama lain demi bisa mendapatkan pedang itu.


Tetapi kebenaran lainnya adalah bahwa Xiao Shuxiang memang menggunakan kultivator yang sudah tiada untuk dikorbankan dalam Jurus Kebangkitan Kembali miliknya. Dia tidak mencari pembenaran sebab biar bagaimanapun ... Tidak terhitung manusia yang mati karena ulahnya.


Akh!


Di antara orang-orang yang bertarung saat ini, hanya ada satu kultivator yang tidak ikut andil selain Xiao Shuxiang. Dia adalah sosok yang sebelumnya berseru tentang Kitab Pembunuh Matahari itu.


Xiao Shuxiang masih berada di atap. Dia bertemu pandang dengan orang itu dan seulas senyum terlihat di wajah pucat kultivator berpakaian putih tersebut sebelum tubuh kultivator itu tiba-tiba saja terjatuh.


!!


Xiao Shuxiang tersentak. Dia melihat ada asap hitam pekat yang keluar dari tubuh kultivator itu dan kemudian menghilang. Sekarang dia mengerti dari mana asal perasaan tidak nyaman yang dia rasakan.

__ADS_1


Dia baru saja berdiri ketika sebuah serangan nyasar datang padanya. Xiao Shuxiang dengan cepat menghindari serangan itu dan menapak di atap bangunan yang lain.


Di antara kultivator yang terlihat, mulai ada yang menggila. Dia menyerang secara membabi buta sambil menyerukan bahwa Kitab Pembunuh Matahari adalah miliknya. Hujan pun turun semakin deras dan genangan air mulai terlihat merah karena bercampur dengan darah.


*


*


Di tempat lain, para anggota Sekte Lembah Iblis dan Sekte Lembah Hantu yang cukup kuat masih bertarung sengit dengan tetua dari Kelima Sekte Besar.


Tetua Wang Jing Li dari Sekte Lautan Awan terlihat melawan dua pendekar kembar dari Sekte Lembah Hantu. Dia berada dalam situasi yang terdesak, apalagi kerja sama lawannya begitu baik dan saling menutupi celah satu sama lain.


Situasi yang tidak jauh berbeda pun ikut dirasakan oleh Tetua Huan Gui Fei dari Sekte Bunga Surga. Wanita itu saat ini tidak bisa fokus dalam menyerang karena kehadiran seseorang yang sama sekali tidak terduga.


Yi Wen, gadis yang merupakan murid Sekte Kupu-Kupu sekaligus saudara seperguruan Xiao Shuxiang itu nampak menghadapi lawannya dengan cara yang terbilang unik.


"Aku tidak mau bertarung denganmu. Bagaimana jika kita berteman~"


Seorang anggota dari Sekte Lembah Iblis menelan ludah. Dia merasa gugup karena harus bertarung dengan seorang gadis yang begitu luar biasa.


"Tuan, aku mengajakmu bicara. Kau ini melihat ke mana?"


Kultivator dari Sekte Lembah Iblis itu menggeleng. Dia menjadi kurang fokus karena menghadapi gadis yang memiliki sesuatu di tubuhnya yang tidak biasa. Bahkan saking gugupnya, dia sampai berkeringat dingin.


Yi Wen mempunyai bentuk tubuh yang bagus dan di saat hujan deras seperti ini justru membuat bagian atas dari tubuh gadis itu semakin tidak biasa. Bahkan anggota Sekte Lembah Iblis jujur saja ingin menutupi tubuh Yi Wen daripada mengayunkan pedang mereka.


"Ja-jangan mendekat!"


Yi Wen tersentak. Dia berkedip saat melihat pemuda di hadapannya tidak ingin didekati. Dia baru akan bicara ketika sosok itu tiba-tiba berlari menjauhinya begitu saja.


"Aku-"


"Apa kau tidak sadar dengan yang kau lakukan?" Tetua Huan Gui Fei segera membungkus tubuh Yi Wen dengan memakai jubah luarnya. Tindakannya itu membuat Yi Wen tersentak.


Tetua Huan Gui Fei berkata, "Sebaiknya kau pergi dan bantu saja warga lain seperti yang dilakukan oleh anak-anak itu. Kau tidak pantas turun ke medan perang dengan--aku bahkan tidak sanggup mengatakannya. Pergilah,"


"Ta-tapi ..."


"Sudah kubilang pergi..!"


Yi Wen tersentak. Dia berkedip beberapa kali karena mendadak dibentak oleh wanita ini. Dirinya pun dengan sangat ogah-ogahan mulai berjalan pergi sambil memikirkan apa yang sudah dia lakukan.


Sambil berjalan, Yi Wen mendengar suara keras yang bersahut-sahutan. Tidak butuh waktu lama sampai ledakan besar terdengar dan membuat tanah yang dipijaknya bergetar.


Tempat yang paling banyak kekacauan saat ini adalah di lingkungan Istana Teratai Hitam. Liu Wei Lin dan Lan Guan Zhi sekarang terlibat pertarungan yang tidak diketahui kapan akan berakhir.


Ada beberapa tetua sekte di tempat ini dan karena hal tersebut-lah hingga suara pertarungan kian menjadi. Apalagi lawan yang mereka hadapi pun tidak biasa, ada tetua yang bahkan memuntahkan darah karena terkena serangan yang fatal.


Hujan sama sekali tidak menyulutkan semangat juang bagi para kultivator dari kedua belah pihak. Salah satu anggota Sekte Lembah Iblis baru akan berseru ketika matanya tiba-tiba terbelalak.


!!!


Lan Guan Zhi baru saja membalas salah satu serangan lawan dan membuat musuhnya itu terpental ketika dia melihat wajah lawannya yang lain nampak sangat terkejut. Dia pun mengikuti arah pandang lawannya itu dan menyaksikan ada seseorang yang berdiri di atap bangunan sambil memperlihatkan sesuatu di tangannya.


"Berhenti semuanya!"


Seruan itu terdengar dan membuat Liu Wei Lin tersentak. Dia pun menengadah dan melihat bahwa orang yang berseru tadi adalah Wang Zhao. Hal mengejutkan ialah pemuda itu memperlihatkan sebuah kepala manusia yang membuat para anggota Sekte Lembah Iblis membeku di tempatnya masing-masing.


Salah satu tetua yang berada di halaman Istana Teratai Hitam tidak lain adalah Tetua Chen Duan Shang. Pria itu melawan enam anggota Sekte Lembah Iblis dan terkejut saat menyaksikan Wang Zhao menunjukkan kepala seorang pria yang sepertinya mengalami kematian paling mengejutkan.


!!


Suara pedang yang dijatuhkan dengan sengaja oleh pemiliknya membuat Tetua Chen Duan Shang dan Liu Wei Lin tersentak. Mereka pun menyaksikan para pendekar dari Sekte Lembah Iblis berlutut seolah menandakan bahwa tidak ada lagi alasan bagi mereka melanjutkan pertarungan ini.


Anggota Sekte Lembah Hantu yang ada juga ikut berlutut. Pandangan mereka tertunduk dan seakan sudah menyerah di bawah kaki Wang Zhao. Ini karena kepala yang diperlihatkan oleh pemuda itu tidak lain adalah kepala pemimpin sekte ini.


"Dia ... Berhasil?" Liu Wei Lin terlihat tidak menyangka dengan apa yang sekarang ini dia saksikan. Tidak disangka Wang Zhao berhasil membunuh Tetua Sekte Lembah Iblis, bahkan tanpa bantuan orang lain.


"Hebat ..." Liu Wei Lin menggeleng dan berdecak kagum. Dia baru akan bicara dengan Lan Guan Zhi ketika sadar bahwa pemuda berpita dahi itu sudah pergi entah ke mana.

__ADS_1


******


__ADS_2