![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang tidak butuh waktu untuk mengganti pakaiannya yang basah. Dia hanya perlu memakai teknik pernapasan angin untuk mengeringkan pakaian serta tubuhnya. Dia saat ini berada di dalam kediaman Tetua Chen Duan Shan dan mengikuti pria tua tersebut.
"..............."
Tetua Chen Duan Shan membawa Xiao Shuxiang ke sebuah ruangan yang tidak lain adalah kamar miliknya. Salah satu bagian dinding kayu berlukiskan bunga haitang. Dia terlihat berjalan ke arah lukisan itu.
Kaki Tetua Chen Duan Shan menyentuh sebuah lantai kayu yang ternyata adalah kunci untuk membuka pintu rahasia. Dia membuat Xiao Shuxiang tersentak.
Dinding kayu yang terlihat hanya lukisan bunga haitang itu merupakan sebuah pintu menuju ruang bawah tanah milik Tetua Chen Duan Shan. Xiao Shuxiang bahkan menjadi agak waspada ketika dia mengikuti langkah pria di hadapannya.
"Tetua? Apa aku boleh bertanya ke mana kau akan membawaku?" Xiao Shuxiang akhirnya buka suara.
"Perpustakaan tua yang sangat jarang aku kunjungi,"
"Haah... Ya ampun. Itu pasti penuh debu," Xiao Shuxiang jadi berat melangkahkan kakinya. Dia sudah bisa membayangkan perpustakaan Tetua Chen Duan Shan akan seperti gudang yang berselimut debu tebal.
"..............."
Bayangan Xiao Shuxiang memang begitu, tetapi siapa sangka saat sampai di tempat tujuannya-----perpustakaan yang memiliki banyak lemari penuh buku itu justru terlihat sangat bersih.
"Tetua Chen," Xiao Shuxiang buka suara. "Kau bilang ini perpustakaan yang sangat jarang kau kunjungi, tapi bagaimana bisa tempatnya sangat bersih?"
"Aku hanya 15 kali dalam sebulan datang ke tempat ini untuk membersihkannya, tidak terlalu sering."
Xiao Shuxiang memberi pandangan aneh pada Tetua Chen Duan Shan. Dia pun lalu tersenyum getir, "Kau pikir ada berapa hari dalam sebulan? Haah.... Kau pikir aku ini bisa dibodohi olehmu?"
"Kenapa kau sangat kesal..? Apa yang kulakukan?"
"Kau menyebalkan, Tetua." Xiao Shuxiang merutuk saat melihat wajah polos tanpa dosa milik Tetua Chen Duan Shan.
Tetua Besar dari Istana Seribu Pedang itu mengulum senyum ketika melihat Xiao Shuxiang menyilangkan tangan sambil menggelembungkan pipinya. Dia pun lalu berjalan ke salah satu lemari yang penuh dengan buku-buku kuno.
"Apa kau pernah membaca semua buku ini..?" Xiao Shuxiang kembali bersikap seperti biasa, dia melihat-lihat koleksi buku Tetua Chen Duan Shan di rak yang lainnya.
Tetua Chen Duan Shan berkata, "Semua buku yang kau lihat itu adalah milik dari para murid Istana Seribu Pedang. Ada beberapa yang merupakan karya tulis mereka, namun tidak sedikit yang berasal dari--jangan lihat itu!"
Tetua Chen Duan Shan berseru, namun terlambat. Xiao Shuxiang sudah lebih dahulu membuka sebuah buku yang mempunyai sampul berlukis seekor naga. Di saat yang bersamaan, Tetua Chen Duan Shan bisa melihat pemuda mempesona tersebut nampak terkejut.
"..............." Xiao Shuxiang tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Dia bahkan tidak berkedip melihat apa yang tertulis di dalam buku kuno di tangannya.
"Tetua Chen ...."
"Aku bisa jelaskan, kau jangan salah paham dulu-"
"Kenapa kau mengoleksi buku semacam ini?"
"Tidak, tunggu. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku--jangan lihat itu!" Tetua Chen Duan Shan memejamkan mata, dia terlihat tidak sanggup menyaksikan Xiao Shuxiang yang membuka buku kuno miliknya yang lain.
"Luar biasa ..."
"Nak, biar aku jelaskan padamu-"
"Kenapa kau menyimpan hal semacam ini, Tetua?" Xiao Shuxiang menyela. Dia seakan tidak membiarkan Tetua Chen Duan Shan untuk membela diri.
__ADS_1
Xiao Shuxiang berkata, "Kau berasal dari Aliran Putih dan kulihat Istana Seribu Pedang diisi oleh murid-murid yang taat. Kalian seperti pendeta kuil di mataku, tapi apa yang kutemukan ini? Koleksi lukisan vulgar dengan deskripsi yang jelas?"
"Kau tidak perlu menerangkannya seperti itu..! Itu ... Itu ..."
"Haaah ...." Xiao Shuxiang menggeleng, "Pantas kau melajang sampai sekarang. Buku semacam ini membawa pengaruh buruk untukmu. Ya ampun ... Ada berapa buku yang kutemukan ..."
"Nak, jangan diobrak-abrik semua-"
"Apa ini? Sampulnya bertuliskan 'Pedang Keabadian', tapi isi di dalamnya adalah ukuran 'senjata' kaum penjantan. Apa yang harus kubayangkan dari ini, Tetua?"
"Aku tidak pernah membaca yang itu. Sungguh," Tetua Chen Duan Shan berujar dengan serius. Dia sampai bergegas ke tempat Xiao Shuxiang agar pemuda ini tidak asal mengambil buku di lemari lagi.
Tetua Chen Duan Shan merebut buku di tangan Xiao Shuxiang sebelum pemuda itu melihat semua isi dalam buku yang tak layak untuk dibaca. Dia pun memberi penjelasan, "Ini adalah milik dari salah seorang kultivator wanita yang pernah belajar di Istana Seribu Pedang. Ini merupakan senjata rahasia,"
"Apa?" Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, dia terlihat penasaran.
Tetua Chen Duan Shan terbatuk dan lalu berkata, "Tidak semua murid yang belajar di Istana Seribu Pedang mempunyai sikap semurni A-Yuan. Mereka selalu melanggar aturan dan bahkan diam-diam mengoleksi hal memalukan ini. Buruknya, ada yang sampai membuat karya tulis seperti yang kau lihat barusan."
Tetua Chen Duan Shan berkata, "Mereka merupakan murid yang lama belajar di tempat ini, namun sosok-sosok itu sekarang sudah mempunyai nama besar sendiri. Aku menyimpan ini agar suatu hari nanti saat mereka mulai terlihat menyebalkan, maka akan kugunakan benda ini untuk mengingatkan betapa tidak tahu malunya mereka dahulu."
"Maksudmu ... Ini untuk mengancam?"
"Tentu saja. Bahkan aku menyimpan noda dalam hidup para Tetua Sekte Lautan Awan. Ini merupakan koleksi paling berharga bagiku dan berbahaya bagi mereka,"
"Licik sekali ...." Xiao Shuxiang melihat Tetua Chen Duan Shan tersenyum sambil mengusap-usap dagunya. Dia pun lantas menggeleng pelan.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Apa kultivator Aliran Putih itu seperti ini..? Kenapa tidak terus terang saja?"
"Tetua Chen, kau juga termasuk. Kenapa kau tidak terus terang saja, huh? Tidak ada yang memalukan dari mempunyai hobi mengoleksi buku berbau 'dewasa'. Lagipula usiamu pun sudah sangat legal untuk itu. Yaah ... Meski di usia yang sekarang---harga dirimu akan sedikit turun jika orang lain tahu,"
"Hei, memang apa yang kusembunyikan? Buktinya kau menemukan buku-buku ini begitu saja, kan?"
"Aku masih meragukanmu ..."
"Kau ini, kemarilah." Tetua Chen Duan Shan berjalan dan menyuruh Xiao Shuxiang mendekat ke arahnya. Dia pun mengambil sebuah buku yang terlihat sangat tebal.
Tetua Chen Duan Shan berkata, "Ini merupakan karya tulis dari seorang kultivator Aliran Hitam. Cocok untukmu,"
"..............." Xiao Shuxiang menerima buku pemberian Tetua Chen Duan Shan. Dia memperhatikan sampul buku itu yang bersulam benang emas.
"Tanpa Tanding? Apa ini--!" Xiao Shuxiang baru saja akan bertanya saat dirinya tiba-tiba dikejutkan oleh cahaya yang keluar dari sulaman benang emas di buku yang dipegangnya.
"Tetua Chen ...."
"Kurasa pusaka itu sudah memilihmu," Tetua Chen Duan Shan berkata. "Kau bisa datang kemari kapan pun dan mempelajari buku yang lain, hanya saja rapikan dan simpan di tempatnya semula setelah kau selesai. Namun kau jangan sentuh buku-buku di lemari yang itu, mengerti?"
"........... Apa karena yang di sana adalah tempat buku-buku yang tidak pantas?"
"Mn, itu senjata rahasia."
"Baiklah," Xiao Shuxiang tidak mau terlibat dengan urusan pribadi Tetua Chen Duan Shan. Dia sekarang punya sesuatu untuk dikerjakan dan ini tentang buku di tangannya.
Xiao Shuxiang diberikan kamar pribadi oleh Tetua Chen Duan Shan dan selama tiga hari dia fokus mempelajari satu buku. Xiao Shuxiang menghabiskan waktu berlatih di tempat yang jauh dari hunian manusia.
__ADS_1
Dalam jangka waktu tiga hari itu, Hei Lian sudah membuat gerakan tanpa disadari oleh siapa pun. Dia memang tidak bisa menyerang Wang Zhao atau membuat keributan di Istana Seribu Pedang, namun lewat penglihatannya----dia bisa mengirim informasi kepada Qiao Nuan.
*
*
Di wilayah Aliran Hitam, tepatnya di Sekte Lembah Iblis----Qiao Nuan terlihat duduk di singgasana miliknya dan menatap ke arah seorang wanita cantik berpakaian merah.
Di samping wanita itu juga terlihat laki-laki yang mempunyai wajah putih pucat, namun sejak tadi terus menahan tawa meski tidak ada hal yang lucu di tempat ini.
Wang Hu Zhuan, pria yang mempunyai wajah tampan dengan tatapan mata yang dingin itu hanya berdiri tanpa bicara sepatah kata pun. Bahkan tidak mau terlibat dalam pembicaraan Qiao Nuan dengan kedua tamu mereka.
Wanita berambut panjang dengan pakaian merah itu dan pria yang berdiri di sampingnya merupakan perwakilan dari Sekte Lembah Hantu. Wanita cantik itu lebih dikenal sebagai Gui Hong Yi dan pria di sampingnya adalah Gui Xiao.
"Aku terkesan melihat keseriusan Sekte Lembah Hantu yang ingin bekerja sama dengan kami," Qiao Nuan tersenyum dan menyentuh luka di pipinya. Dia pun berkata. "Tentu saja, hubungan baik ini tidak pantas ditolak."
Gui Xiao cekikikan, tetapi berusaha untuk menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia sejak tadi terus tertawa entah karena apa. Bahkan Qiao Nuan terlihat berwajah masam sebab merasa sedang diledek.
"Maafkan aku, Nona-" Gui Xiao tidak bisa menahan diri, dia kembali cekikikan sebelum berkata. "Aku tidak bisa berhenti,"
"Dia adalah Hantu Tertawa, dia memang seperti itu." Gui Hong Yi menjelaskan dan kemudian berujar, "Dia selalu tertawa tanpa peduli tempat. Terkadang tawanya tidak terkendali dan ini bukan bermaksud meledekmu. Berharap Nona Qiao Nuan bisa mengerti kondisinya,"
"Tidak masalah. Aku suka jika dia terlihat bahagia..." Qiao Nuan tersenyum dan tiba-tiba saja tertawa keras yang seketika memancing Gui Xiao hingga ikut tertawa keras.
Wang Hu Zhuan yang sampai sekarang masih diam terlihat berwajah serius dan yakin bahwa rekan Qiao Nuan ini tidak jauh dari kata 'kurang waras'. Entah rencana apa lagi yang akan dilakukan oleh wanita ini.
Qiao Nuan tentu sudah menyiapkan rencana. Itu bisa dibaca dari ekspresi wajah dan senyumannya saat ini. Tidak ada yang akan berakhir baik jika wanita tidak waras itu bergerak, Qiao Nuan bisa melakukan apa saja.
"..............." Wang Hu Zhuan tetap berdiri di tempatnya hingga pembicaraan Qiao Nuan dengan perwakilan Sekte Lembah Hantu selesai. Dia pun baru buka suara saat kedua tamu mereka itu sudah pergi.
Dengan suara yang dingin, Wang Hu Zhuan berkata. "............ Kenapa butuh bantuan mereka? Bukankah kau bisa melakukannya sendiri?"
Qiao Nuan menatap pria di sampingnya dan kemudian mendengus pelan. Dia pun menyeringai dan berkata, "Jika kulakukan sendiri, maka itu akan langsung menjadi perang. Lagipula Istana Seribu Pedang masih terlalu kecil untuk membuatku harus turun tangan sendiri,"
"Jika demikian, biar aku saja yang pergi."
"Wang Hu Zhuan .... Mereka bukan lawan yang pantas untukmu. Kau tidak akan bisa dibandingkan dengan para semut itu. Mengirimmu ke sana .... Akan membuat semuanya selesai,"
Qiao Nuan berdiri. Dia menggaruk-garuk luka di pipinya dan terlihat berekspresi tajam. Dia bersuara dingin, "Tidak boleh Wang Hu Zhuan. Tidak akan kuizinkan. Targetku adalah Wang Zhao dan Kitab Pembunuh Matahari. Akan kudapatkan kitab itu sambil melihat Wang Zhao mati karena rasa bersalah,"
"..............."
"Benar," Qiao Nuan berkata. "Itu yang akan terjadi. Akan kubuat Wang Zhao melihat orang-orang di sekelilingnya menderita. Siapa pun yang mempunyai hubungan dengannya tidak akan hidup tenang. Akan kubuat mereka semua menyesal karena sudah menyelamatkan orang seharusnya tiada di tanganku!"
"..............." Wang Hu Zhuan melihat darah segar mengucur di sela-sela jari Qiao Nuan karena wanita itu terus menggaruk pipinya. Dia menyaksikan seringaian menakutkan wanita ini.
"Wang Zhao .... Xiao Shuxiang .... Akan kubuat mereka mati karena penyesalan." Qiao Nuan cekikikan dan seakan tidak peduli pada luka di pipinya.
Qiao Nuan tersenyum, "Akan kubuat mereka mati dengan berselimut keputus-asaan. Rasa putus asa .... Karena tidak bisa menyelamatkan orang terdekatnya. Pasti menyenangkan~ ini akan menjadi sangat menyenangkan~"
"..............." Wang Hu Zhuan menarik napas pelan dan dengan dingin berkata. "Berhati-hatilah. Keangkuhan yang terlalu tinggi akan membuatmu jatuh,"
******
__ADS_1