KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
359 - Sekte Pedang Langit (2)


__ADS_3

Lan Guan Zhi baru saja selesai menulis surat permintaan maaf kepada Tetua Jing Yufeng yang berada di Alam Kultivasi Atas. Dia pun mengirimkan surat itu menggunakan seekor burung merpati.


Ini adalah hari kelima di mana dia tidak keluar dari kamarnya dan Xiao Shuxiang pun juga tidak datang. Bahkan meski sering melihat ke jendela, tidak ada seorang pun yang dengan ceroboh masuk melalui tempat itu.


"A-Yuan, ini aku."


Lan Guan Zhi menoleh saat mendengar suara pintu yang diketuk. Dia pun melihat GrandElder Sekte Pedang Langit dan kemudian segera menyatukan tangan sambil memberi hormat.


Tetua Chun Bai Dao menjawab hormat Lan Guan Zhi dan meminta pemuda itu untuk duduk. Suaranya tenang saat berkata, "Aku kemari untuk melihat kondisimu. Kau baik-baik saja, kan?"


"Mn, saya tidak apa-apa. Bagaimana keadaan Tetua sendiri?"


"Haaih... Nak," Chun Bai Dao menghela napas dan memperhatikan pemuda di hadapannya. Dia pun berujar, "Aku mendengar kau dan Xiao Shuxiang bertengkar. Apa yang terjadi di antara kalian sebenarnya?"


Lan Guan Zhi tidak menyangka berita itu akan langsung tersebar hingga menjadi masalah, bahkan GrandElder Sekte Pedang Langit pun kemari untuk membuktikan kebenaranya.


Chu Bai Dao berujar pelan, "Nak. Apa kau tahu sesuatu yang lebih berharga dari emas, sulit dicari, tapi mudah hilang?"


Lan Guan Zhi menatap Chun Bai Dao. Dia tidak mengatakan apa-apa sebelum pandangan matanya menurun seolah memikirkan jawaban dari ucapan GrandElder-nya ini.


Tetua Chu Bai Dao menjawab, "Itu adalah Teman."


"................" Lan Guan Zhi cukup lama terdiam sebelum akhirnya buka suara. "Teman lebih berharga dari emas. Teman yang baik sulit dicari dan akan menghilang bila tidak diperlakukan dengan baik,"


"Mn, kau sangat pintar dan mudah menangkap apa yang ingin kusampaikan. Masalah apa pun di antara kau dan Xiao Shuxiang, cepatlah untuk berbaikan dengannya."


"Tetua ... Tapi bagaimana aku melakukannya?" Lan Guan Zhi menatap Chun Bai Dao dan lalu berkata, "Rasanya semakin berat untuk terus menaruh kepercayaannya padanya."


"Nak, ceritakanlah. Kegelisahanmu tidak akan berakhir jika terus menyimpannya sendirian,"


"Tetua ..."


Di hari itu Lan Guan Zhi mulai bisa terbuka. Dia menceritakan apa yang sudah terjadi di Alam Kultivasi Atas dan tentang Xiao Shuxiang yang membuat banyak kultivator tewas hanya karena Kitab Pembunuh Matahari.


Lan Guan Zhi berpikir bahwa Xiao Shuxiang tidak akan bertindak kejam lagi setelah melalui banyak pelajaran di bawah naungan Tetua Chen Duan Shan. Dia pikir bahwa setelah sekian lama kekuatannya tersegel, Xiao Shuxiang akhirnya bisa memakai kekuatan itu ke jalan yang lebih baik. Sayang ini hanya pandangannya yang bias.


Tetua Chun Bai Dao memejamkan mata dan bernapas pelan, "Dia terlihat seperti kuncup teratai di antara danau berlumpur. Kupikir kebaikan itu ada disela-sela bunganya, namun tidak kusangka ... Teratai itu menyembunyikan racun yang tersembunyi di dalam kelopaknya."


Tetua Chun Bai Dao pun merasa kecewa setelah mendengarkan cerita Lan Guan Zhi. Dia menggeleng pelan, "Lantas apa yang akan kau lakukan setelah ini?"


Lan Guan Zhi menatap ke arah jendela dan lalu berujar tanpa nada, "Dia tidak datang. Kupikir, dia juga kecewa ... Karena aku justru tidak mendengarkannya."


"A-Yuan ..."


"Pada akhirnya seperti yang Tetua katakan, teman itu berharga, sulit dicari dan mudah hilang. Aku ... Tidak akan melepaskannya,"


!!


Tetua Chun Bai Dao tersentak, dia menatap Lan Guan Zhi dan seakan tidak menyangka dengan ucapan pemuda ini.


Lan Guan Zhi bernapas pelan, "Pada akhirnya aku tidak bisa mengabaikannya terlalu lama. Dia adalah teman pertama dan sosok yang berharga bagiku."


"A-Yuan ... Tapi perbuatan Xiao Shuxiang ..."


"Itu hanyalah apa yang kulihat," Lan Guan Zhi berujar, "Tindakannya tidak dibenarkan dan sejujurnya aku sangat kecewa. Karena itulah aku mengabaikannya agar dia belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Aku ingin Shuxiang menyadari bahwa ada beberapa tindakan di mana dia bisa kehilangan orang yang selama ini mendukungnya,"

__ADS_1


Mengingat Xiao Shuxiang saat mengetuk pintu kamarnya dan mengakui kesalahannya membuat Lan Guan Zhi yakin bahwa teman baiknya itu takut kehilangan seseorang. Dia tahu Xiao Shuxiang selama ini takut ditinggal sendirian, meskipun dia yakin temannya itu pasti akan dengan keras kepala menolak mengakuinya.


Chun Bai Dao bernapas pelan dan berkata, "Bagaimana jika pesanmu tidak tersampaikan padanya dan membuat dia kembali menjadi penjahat?"


"Orang yang berani membahayakan dirinya sendiri demi melindungi orang lain bukanlah penjahat, Tetua." Lan Guan Zhi berujar, "Pesanku pasti akan tersampaikan. Jika tidak, Xiao Shuxiang mungkin sudah ada di sini. Dia ... Pasti juga sedang butuh waktu sendiri,"


Lan Guan Zhi bernapas pelan dan berkata, "Kami akan segera berbaikan. Tetua jangan khawatir,"


"Kau membuatku sangat cemas," Tetua Chun Bai Dao mengangguk pelan dan kemudian mengulurkan tangannya. Dia meraih tangan Lan Guan Zhi dan menepuknya pelan. Dia pun berujar, "Aku percaya pada kalian berdua. Kalian adalah kebanggaan bagi tempat ini,"


"Mn," Lan Guan Zhi mengangguk sebagai jawaban.


"Ngomong-ngomong, A-Yuan. Di mana pita dahimu? Aku tidak pernah melihatmu lupa memakainya,"


Lan Guan Zhi berkedip. Dia menatap kotak kayu kecil di atas mejanya dan kemudian mulai membuka kotak tersebut. Tetua Chun Bai Dao mengerutkan kening saat yang dia lihat justru pita merah yang terlipat rapi.


"................."


"A-Yuan, ini bukan pita dahimu. Di mana kau menyimpannya?" Tetua Chun Bai Dao mulai terlihat cemas. Ini adalah insiden pertama di mana seseorang seperti Lan Guan Zhi bahkan bisa melupakan benda seberharga itu.


"Aku ..."


"A-Yuan, kau memberikan pita dahimu pada siapa? Gadis mana yang mendapatkannya?"


"............ Shuxiang meminjamnya,"


"Apa?!" Chun Bai Dao syok. Dia menatap pemuda berusia 25 Tahun di hadapannya dan berkata, "Apa kau serius? Kau memberikannya pada Xiao Shuxiang?!"


"..................."


Kebungkaman Lan Guan Zhi membuat jantung Chu Bai Dao seakan dihantam batu besar. Dia memijat keningnya dan menelan ludah saat mulai berkata, "Ja-jangan bilang kau menukar pita dahimu dengan pita merah ini."


"..................."


"Astaga ... Ini pasti salah berandal itu. Dia pasti yang sudah mendesakmu," Chun Bai Dao bangun dan kemudian berkata, "Awas saja saat aku bertemu dengannya... Aku pasti---Haiih... Kenapa di saat seperti ini..."


Lan Guan Zhi memperhatikan saat Tetua Chun Bai Dao mondar-mandir di depannya sambil beberapa kali mengembuskan napas. Dia pun lantas menoleh ke arah Lan Guan Zhi dan lalu berujar pelan. "Apa kau sudah tahu kabar baru-baru ini?"


".............. Memang ada apa?"


Chun Bai Dao merasa tidak enak mengatakan ini, tetapi jika tidak sekarang---Lan Guan Zhi mungkin tidak akan pernah tahu. Dia pun berkata, "Ada lamaran pernikahan untukmu."


Binar mata Lan Guan Zhi sedikit berubah. Dia menatap dalam Tetua Chun Bai Dao dan tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti ini. Dia bahkan serius menatap GrandElder Sekte Pedang Langit seakan ingin memastikan apa yang baru saja dia dengar.


"Tetua ..."


*


*


"Tetua Xu Jian, kapan aku bertemu calon suamiku?" seorang gadis muda nampak berkacak pinggang dan menggelembungkan pipinya. Dia adalah gadis cantik yang bernama Rana Qisheng.


Patriarch Lan Xu Jian tersenyum tipis dan melambaikan kipas miliknya. Dia tidak tahu harus berkata apa pada gadis muda ini. Bisa dibilang, ini pun sudah yang kesekian kalinya dia dihadang saat sedang berjalan.


"Tetua Xu Jian, ini sudah hampir seminggu dan aku belum dipertemukan pada calon suamiku. Apa kau pikir aku kemari untuk bermain-main?"

__ADS_1


Seorang wanita yang merupakan pengasuh rana Qisheng nampak cemas dan dengan cepat berkata, "Nona Rana. Ja-jangan seperti itu, Nona sabar saja--"


"Berisik," Rana Qisheng menyela, "Berapa lama aku harus bersabar? Kau pikir aku tidak cukup bersabar selama ini, huh?"


"Ehm ... Nona Rana," Patriarch Lan Xu Jian buka suara. Dia berujar pelan, "Saat ini A-Yuan sedang tidak bisa diganggu. Tapi aku pasti akan langsung memperkenalkanmu dengannya saat A-Yuan sudah bisa dikunjungi,"


"Tapi berapa lama lagi?" Rana Qisheng tiba-tiba berjongkok dan membuat Patriarch Lan Xu Jian kaget. Bahkan dua pengasuhnya pun nampak terkejut dan berusaha membujuknya untuk berdiri kembali.


"Aku sangat lelah, Kakak Ipar ..." Rana Qisheng memanyunkan bibirnya, "Aku jauh-jauh datang kemari dengan lamaran pernikahan. Kau tidak tahu betapa sulitnya rintangan yang kuhadapi agar bisa sampai di sini? Aku hanya manusia biasa, rakyat kecil. Tolonglah, kumohon~"


Patriarch Lan Xu Jian mendapatkan kedipan mata yang aneh dari gadis ini dan lantas tersenyum pahit. Dia mengembuskan napas dan kemudian berkata, "Akan kuusahakan. Jadi tolong berdirilah,"


Rana Qisheng pun berdiri dan di saat itu juga Patriarch Lan Xu Jian membungkuk memberi hormat dan segera bergegas pergi. Tindakan itu membuat Rana Qisheng terperangah.


"Tetua Xu Jian pasti sangat malu," Rana Qisheng tersenyum, "Kakak Iparku sangat tampan, jadi calon suamiku pun pasti sangat tampan. Aku jadi tidak sabar menemuinya,"


"Nona Rana, tunggu..!"


"Nona..!"


Tindak-tanduk Rana Qisheng selama ini adalah salah satu dari subjek yang sering dibahas secara diam-diam oleh para murid Sekte Pedang Langit. Bahkan ada beberapa anak yang terus mengawasi Rana Qisheng dengan saksama dan salah satunya merupakan sosok remaja perempuan.


*


*


Remaja yang mempunyai penampilan seperti anak laki-laki tersebut tidak lain adalah Xiao Qing Yan. Dia merupakan sosok yang pernah diselamatkan oleh Xiao Shuxiang di masa lalu.


"Aku sudah memastikannya kali ini. Aku pun terus mengawasinya," Xiao Qing Yan nampak menyilangkan tangan dan bersandar pada batang pohon bambu.


Xiao Qing Yan berkata, "Gadis itu memang adalah orang yang akan menikah dengan Tuan Muda Lan--"


Sebuah belati melesat, membelah daun bambu yang berguguran sebelum menancap di salah satu batang pohon. Bukan Xiao Qing Yan yang melakukannya, tetapi anak kecil berpakaian putih yang nampak berusia 7 Tahun tersebut.


"Apa kau *selius, Qing Yan?" tatapan anak itu tajam. Pupil matanya terlihat berbeda dari pupil mata manusia pada umumnya.


^^^*Serius^^^


"Aku tidak berbohong. Semua orang juga tahu. Oh iya, Ayahmu sudah pulang. Apa kau tidak mau menemuinya?"


"Aku akan menemui nenek tua yang sudah *belani melihat ayahku lebih dahulu. **Bial kulihat apa dia pantas ***kubialkan hidup. **** O Chan, ayo!"


^^^*Berani, **Biar, ***Kubiarkan, ****O Zhan^^^


Pii..!!


Xiao Qing Yan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengikuti anak laki-laki di hadapannya. Rubah kecil bernama O Zhan pun ada di antara mereka.


Xiao Qing Yan mengembuskan napas dan dengan suara pelan memberi peringatan, "Kau jangan keterlaluan. Bagaimana jika kau dihukum?"


"Itu tidak akan *teljadi. **Kalena aku punya ***lencana. Kau diam dan ikut saja,"


^^^*terjadi, **Karena, ***Rencana^^^


******

__ADS_1


__ADS_2