![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Dengan cepat, tubuh Hei Lian berubah menjadi kabut dan langsung menerjang ke arah Wang Zhao, Tetua Xie Yanran dan Liu Wei Lin.
Serangan itu tidak bisa dihindari, namun Tetua Xie Yanran masih lebih cepat untuk menahan serangan itu dan membuat Liu Wei Lin serta Wang Zhao terlempar ke samping.
!!!
Itu merupakan tindakan yang sembrono, Tetua Xie Yanran membahayakan dirinya sendiri demi menyelamatkan dua orang pemuda ini. Di saat yang sama dia tahu benar bahwa dirinya bukanlah kultivator yang bisa menghadapi teknik terlarang seperti manipulasi wujud ini.
Terlintas di benak Tetua Xie Yanran bahwa dia tidak mungkin bisa selamat, namun saat kepastian itu benar-benar akan menggerogoti hatinya----aroma bunga wisteria langsung menyelimuti penciumannya.
?!
Siluet terlihat. Itu adalah lambaian halus rambut seindah awan putih dan kibaran pakaian yang terbuat dari sutra halus. Di saat bersamaan, suara keras terdengar.
Ada cahaya seperti mata air emas yang memancar dan membentuk penghalang, sebuah perisai dari energi spiritual telah terlihat di hadapan Tetua Xie Yanran.
Penghalang itu gemerlapan dengan warna yang berubah-ubah. Satu warna menghalangi satu elemen dan cukup mampu menghalau kabut asam tersebut.
Ling Qing Zhu berdiri di depan Tetua Xie Yanran, pakaian putih dengan corak bunga wisteria merah berkibar anggun. Tatapan matanya tajam dan dingin.
Satu tangan gadis bercadar tipis itu memegang pedang pusakanya, Baiyi. Sementara tangan lainnya berfungsi mengendalikan energi spiritual untuk penghalang buatannya.
"Kau ...." Tetua Xie Yanran sebenarnya tidak menyangka dengan kedatangan Ling Qing Zhu, apalagi kemampuan membuat penghalang semacam ini bukanlah teknik yang mudah dikuasai.
"..............." Ling Qing Zhu sendiri tidak mengatakan apa pun. Dia hanya melirik sedikit ke arah tangan kanan Tetua Xie Yanran dan melihat bahwa tangan sosok ini hanya tinggal tulang-belulang saja.
Tetua Xie Yanran baru akan bicara pada Ling Qing Zhu saat nada suaranya tiba-tiba menjadi perintah. Dia melihat kabut tebal di hadapannya kembali melesat dan mengarah ke tempat Wang Zhao berada.
Ling Qing Zhu spontan menggerakkan jari tangannya dan penghalang dari energi spiritualnya memerangkap kabut itu untuk tidak sampai ke tempat Wang Zhao.
Tetua Xie Yanran melihat kabut tebal itu berkumpul di satu titik dan kemudian mulai memadat. Hei Lian kembali pada bentuk tubuh manusianya.
Ling Qing Zhu berkedip. Tidak disangka musuh ternyata adalah seorang anak kecil, apalagi wajah sosok di hadapannya begitu polos dan seakan tidak mungkin melakukan sebuah tindak kejahatan.
"Rupanya ada orang yang cukup mampu menghadapiku," Hei Lian tersenyum dingin. "Tapi sepertinya kau masih terlalu pemula. Hmph, aku jadi penasaran berapa lama kau bisa bertahan!"
Hei Lian melesatkan serangan yang sangat besar dan tidak mampu untuk diterima oleh penghalang dari Ling Qing Zhu. Gadis bercadar tipis itu dan Tetua Xie Yanran melompat menghindari serangan kuat tersebut.
Apa pun diterjangnya, entah itu tanah, rumput, atau batang pohon----semuanya meleleh seakan-akan telah disiram oleh air beracun. Serangan yang besar itu sampai ke kandang kuda Sekte Lautan Awan dan bahkan menggores sedikit salah satu dinding dari gubuk bambu Xiao Shuxiang sebelum benar-benar berhenti.
__ADS_1
Karena kejadiannya begitu cepat, tidak ada orang yang mampu mengatasinya. Serangan ini bahkan mampu menyusul para murid yang sebelumnya berhasil menyelamatkan diri dengan bantuan Tetua Xie Yanran.
Kebanyakan dari para murid itu memiliki kemampuan lesatan yang hebat, jadi jika mereka pun masih kalah oleh lesatan dari serangan Hei Lian----maka tentu bisa dipastikan secepat apa serangan anak perempuan dari Sekte Lembah Iblis itu.
Xiao Shuxiang yang berada di dalam gubuk bambunya dan sedang berusaha menyempurnakan ramuan buatan Zhang Xiao Lian nampak terkejut. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba saja terdengar suara keras yang bagai petir melintas di belakang punggungnya.
Xiao Shuxiang membeku saat melihat sebagian ruangannya, mulai dari dinding, tumpukan kayu, dan atap menjadi keropos begitu saja. Dia baru berkedip setelah beberapa lama.
"Apa yang terjadi?" Xiao Shuxiang jelas kebingungan. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan memang tidak ada sesuatu yang bisa menjadi objek dari kejadian mengejutkan ini.
"Aku juga tidak mencampurkan bahan-bahan yang aneh ke dalam ramuan ini ... Jadi dari mana datangnya serangan yang tadi?" Xiao Shuxiang mengerutkan kening dan dia pun mulai berjalan mendekat.
Gubuk bambunya, andai tidak memiliki pilar yang kokoh mungkin sudah rubuh saat ini. Xiao Shuxiang bahkan mulai mendengar suara deritan yang agak membuat jantung berdebar-debar.
"..............." Xiao Shuxiang mengulurkan satu jarinya untuk menyentuh kayu yang tiba-tiba saja keropos. Namun sebelum jari telunjuknya menyentuh kayu itu, dia langsung meringis kesakitan.
Xiao Shuxiang spontan menarik kembali jarinya. Dia merasakan panas yang amat menusuk dan tersentak ketika melihat jari telunjuknya meneteskan darah. Dia juga meringis karena rasa ini lumayan perih.
"..............." mata Xiao Shuxiang membulat saat melihat kulit pada jari telunjuknya meleleh dan memperlihatkan tulangnya. Dia pun mengambil beberapa langkah mundur.
"Ini asam..." Xiao Shuxiang menahan napas dan kemudian berjalan ke arah pintu. Di saat dirinya membuka pintu kayu tersebut----di waktu yang sama juga Mo Huai berlari ke arah gubuknya.
"Tuan Muda Xiao--" Mo Huai baru akan berseru memanggil Xiao Shuxiang saat langkahnya mendadak terhenti.
"Mo Huai, apa yang kau lakukan di sini?" Xiao Shuxiang bertanya dan tiba-tiba menyadari sesuatu. Dia pun berkata, "Apa kau tahu dari mana asal serangan tadi?"
"Apa?" Mo Huai tersentak. Dia berkedip dan menyadari bahwa gubuk yang rusak parah di hadapannya ternyata bukan ulah Xiao Shuxiang. Dia pun mengembuskan napas dan berusaha menenangkan diri.
"Tuan Muda Xiao," Mo Huai berujar pelan. "Aku harus mengatakan sesuatu padamu dan ini sangat penting,"
Xiao Shuxiang mengerutkan kening. Dia memperhatikan raut wajah Mo Huai yang terlihat agak tegang. Dia pun bertanya, "Apa yang begitu penting sampai kau datang terburu-buru kemari? Apa ada serangan musuh?"
Mo Huai tersentak, tebakan pemuda ini benar sekali. Dia pun mengangguk dan lalu berkata, "Aku sebelumnya menemani tuan muda Wang Zhao berlatih di bawah bimbingan tetua Xie Yanran. Hanya saja secara tiba-tiba, ada kabut aneh yang mampu melelehkan kulit dan membunuh hanya dalam sekejap mata. Serangan itu berasal dari anggota Sekte Lembah Iblis,"
Xiao Shuxiang tersentak, namun ekspresi wajahnya tidak banyak berubah. Dia pun bernapas pelan dan menepuk bahu kiri Mo Huai.
Xiao Shuxiang berkata, "Pergi dan cari Bocah Pengemis Gila. Lalu laporkan ini pada tetua Dao Fang An, bantu dia untuk mengevakuasi para murid."
"Tuan Muda Xiao--!" Mo Huai terkejut saat Xiao Shuxiang tiba-tiba saja menghilang setelah mengatakan hal itu. Dia bahkan tidak bisa melihat lesatan dari pemuda tadi. Rasanya teman baik Lan Guan Zhi benar-benar hilang dari hadapannya.
__ADS_1
Untuk beberapa alasan, ekspresi wajah Mo Huai menjadi agak tajam. Pandangan matanya menggelap saat dia menepuk debu di bahu kirinya, tempat di mana Xiao Shuxiang menyentuhnya tadi.
Mo Huai bernapas pelan, "Aku sebaiknya perlu memberi tahu dia lain kali. Aku tidak suka ada yang menyentuhku sambil menyebut nama pria tidak waras itu."
Mo Huai merinding ngeri. Apa pun yang berhubungan dengan Bocah Pengemis Gila, sebisa mungkin dia tidak mau terlibat terlalu jauh dengannya.
Masalahnya sekarang, Xiao Shuxiang bahkan memintaya untuk menemui pria itu. Sosok yang paling anti dia temui. Mo Huai benar-benar berusaha menjaga jarak meski memang terkadang dia juga tidak bisa terus menghindari pria dengan tongkat bambu itu.
*
*
Di sisi lain, ada beberapa murid yang berhasil tiba dan mereka bergegas menemui para tetua di tempat istirahat masing-masing. Hanya saja memang, Tetua Chu Sheng Nan dan Tetua Jing Shang Yu berada di pulau terapungnya sendiri.
Untuk Tetua Xie Yanran, dia bersama dengan Ling Qing Zhu, Liu Wei Lin dan Wang Zhao memancing Hei Lian agar menjauh dari wilayah terdalam Sekte Lautan Awan.
Karena Tetua Xie Yanran bisa melesat dengan cepat, dia melayang dan menarik tangan Wang Zhao untuk keluar dari pulau tempat Sekte Lautan Awan berada. Tujuan mereka adalah pulau terapung terdekat, Shī shān.
"Tetua Xie..?" Wang Zhao melihat ke belakang dan sebenarnya cukup tersentuh karena Tetua Xie Yanran begitu mempedulikannya.
"Kita harus memancingnya ke tempat yang tidak dihuni siapa pun. Pulau Shī shān adalah tempat yang tepat, kita akan cari cara mengalahkan anak itu di sana."
Hei Lian hanya ingin membunuh Wang Zhao, jadi karena itulah dia mengikuti Tetua Xie Yanran yang membawa Wang Zhao bersamanya. Namun tidak butuh waktu lama sampai kabut itu berhenti bergerak dan membentuk tubuh seorang anak perempuan.
"Apa kalian pikir aku tidak mengetahui rencana kalian, huh?" Hei Lian terlihat mendengus. Dia tidak mengejar Tetua Xie Yanran dan Wang Zhao karena merasa sedang dipancing.
Ling Qing Zhu dan Liu Wei Lin berada di belakang. Mereka belum bisa untuk mengimbangi kecepatan Tetua Xie Yanran. Karena itulah saat melihat Hei Lian, keduanya berusaha untuk menjaga jarak dan bersembunyi.
Hei Lian berujar meski kini tidak lagi melihat Tetua Xie Yanran dan Wang Zhao karena posisi kedua orang itu sudah semakin menjauh.
Dia pun menyeringai dan lantas berseru, "Pergilah..! Pergi jika kalian tidak mau lagi melihat tempat ini. Orang-orang dari Sekte Lautan Awan ... Akan kubunuh mereka semua dan itu merupakan kesalahanmu!"
Hei Lian kembali menjadi kabut dan lalu melesat naik ke langit. Ling Qing Zhu melihat kabut itu terus menggumpal di langit dan mulai membentuk awan.
"Nona Ling ..." Liu Wei Lin bergumam, dia juga melihat bagaimana kabut itu dengan cepat membentuk awal yang tebal dan bahkan menutupi langit di wilayah sekte miliknya ini.
"Nona Ling, apa Anda melihatnya?" Liu Wei Lin kembali bertanya dan membuat Ling Qing Zhu hanya menggumam pelan sebagai balasan.
Liu Wei Lin berkata, "Entah bagaimana .... Tapi perasaanku menjadi tidak enak. Seakan sesuatu yang buruk akan terjadi,"
__ADS_1
Ling Qing Zhu memandang ke arah langit yang kini tertutupi oleh awan berwarna semerah darah. Dia pun menahan napas dan kemudian berujar, "......... Hal buruk sudah terjadi."
******