![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
PERHATIAN
Episode mengandung adegan kekeraaan dan darah. Penulis berusaha untuk tidak dideskripsikan terlalu jauh. Harap bijaklah dalam membaca dan terima kasih karena sudah mengikuti perjalanan Xiao Shuxiang sampai sejauh ini.^^
*
*
*
Ling Qing Zhu terkejut, bahkan hal yang sama pun dialami oleh Xiao Shuxiang. Apa yang dijatuhkan itu adalah sepasang tangan anak kecil yang masih diselimuti kain dari lengan pakaiannya.
Bahkan Ling Qing Zhu pun ingat dengan jelas pemilik dari kain pakaian itu. Dia menengadah dan menatap tidak percaya ke arah pria yang dipanggil 'Ayah' oleh Wali Pelindungnya itu.
"Ini ... Ini ..." Xiao Shuxiang seperti telah kehilangan suaranya. Pemilik dari kain pakaian itu adalah anak perempuan yang sebelumnya sudah membantunya untuk mengubur seekor kelinci bersama.
Xiao Shuxiang kecil ingat bahwa kain pakaian itu merupakan milik seorang anak perempuan yang membawanya melihat-lihat kota, membelikan Tanghulu untuknya dan mempunyai harapan agar bisa tumbuh dewasa dan cantik. Seolah, pertemuan mereka baru saja terjadi kemarin.
"Apa kau menangis lagi?"
Suara dingin itu kembali, namun kali ini Xiao Shuxiang tidak bisa mendengarnya karena suara detakan jantungnya yang bahkan tidak dia ketahui itu berasal dari dadanya atau justru dari telinganya.
Xiao Shuxiang terjatuh, pandangannya kosong dan bahkan dia takut untuk menangis. Dia bahkan tidak sanggup untuk berkedip.
Apa yang salah darinya? Apa yang telah dia lakukan? Apa yang membuat dia kehilangan hal yang sama sekali belum sempat dirinya gapai?
Seekor kelinci yang pernah dia tolong dan mendapat kebaikan dari tangannya berakhir mati secara mengenaskan hanya karena saudara seperguruannya melihat dia memegang kelinci itu.
Warga kota yang melemparinya dengan buah dan sayur, memusuhinya dan juga merasa takut padanya hanya karena dia berasal dari Sekte Serigala Iblis pun juga ikut tiada dengan kematian tragis yang berbeda-beda.
Kemudian anak kecil yang menjadi lawannya dan dia bahkan belum bicara satu kata pun---kini anak itu terbaring tidak bernyawa dengan belati yang menusuknya. Sekarang.. Sekarang..!
Anak perempuan yang bahkan belum menjadi temannya juga ikut mengalami hal yang mengerikan. Sebenarnya apa yang salah darinya?! Kenapa dia bahkan tidak diizinkan untuk dekat dengan siapa pun. Apa yang salah?!
Pria itu memberi isyarat dan terdengar suara pintu gerbang dibuka. Suasana mendadak mencekam, apalagi sekarang ada suara geraman hewan buas.
Ling Qing Zhu menahan napas, melihat seekor serigala bertanduk perak yang mempunyai gigi-gigi tajam beraroma darah. Dia bahkan belum sempat berpikir apa yang akan terjadi saat hewan itu berlari ke arah Xiao Shuxiang.
Ling Qing Zhu terkejut bukan main, tapi yang paling mengejutkan adalah bahwa serigala bertanduk perak itu berhenti di hadapan mayat yang menjadi lawan Xiao Shuxiang dan kemudian mulai membuka mulutnya.
Ling Qing Zhu terbelalak menyaksikan serigala itu yang mulai memakan leher mayat anak perempuan tersebut. Dia menarik Baiyi, namun sebuah bola cahaya datang dari arah samping dan langsung menerjang Demonic Beast tersebut.
Ledakan tercipta dan pandangan Ling Qing Zhu langsung berubah. Dia menoleh melihat sosok Xiao Shuxiang kecil yang berdiri dengan air menggenang di pelupuk matanya.
Ada tiga bola cahaya berwarna biru yang melayang-layang di sekitar tubuh anak laki-laki itu. Bila diperhatikan dengan baik, inti dari bola cahaya itu terlihat seperti api kecil.
Tanpa bergerak dari tempatnya berdiri, api biru kecil itu melesat dan menyerang serigala bertanduk perak bahkan hanya beberapa tarikan napas----Demonic Beast itu pun terbakar hingga menjadi abu.
Xiao Shuxiang menengadah, menatap pria yang hanya memberinya pandangan tanpa ekspresi. Sosok itu mengibaskan tangan dan kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
"Hebat ..."
Itu adalah suara Jiang Chen. Anak laki-laki berusia 14 Tahun tersebut terlihat kagum dan menyerukan nama Xiao Shuxiang. Jiang Chen terpukau dengan kehebatan teman sekamar barunya.
Di lain sisi, Xiao Shuxiang sama sekali tidak mendengar suara Jiang Chen. Dia hanya menatap ke tempat di mana ayahnya tadi berada.
Xiao Shuxiang tidak merasa bersalah sudah menghabisi seekor Demonic Beast, namun hatinya sakit oleh sesuatu yang lain. Fakta bahwa ayahnya pun juga ikut mengabaikannya sama seperti yang dilakukan oleh ibunya.
Ling Qing Zhu memperhatikan Xiao Shuxiang kecil sebelum pandangannya memundar. Suasana di sekelilingnya kembali gelap dan lokasi tempatnya berada pun berubah.
Ling Qing Zhu masih ada di arena, tapi lebih banyak suara dan ada banyak orang dengan berbagai seruan. Dia melihat ada sepuluh anak yang bertarung dan saling menyerang dengan niatan membunuh.
Ling Qing Zhu tersentak dengan perubahan situasi ini. Dia mengedarkan pandangan dan melihat sudah banyak mayat anak berbagai usia di lantai arena. Di sebuah sudut, Ling Qing Zhu melihat Xiao Shuxiang yang terlihat agak berbeda.
Dia berjalan menghampiri anak laki-laki itu dan mulai mengerti bahwa saat ini yang diperlihatkan padanya adalah Xiao Shuxiang berusia 7 Tahun.
Anak laki-laki itu memegang tangan Jiang Chen yang terbaring dengan luka parah. Ling Qing Zhu mendengar suara pelan Jiang Chen dan napas beratnya.
"Kau harus terus hidup untukku, Xiang'Er." Jiang Chen memuntahkan darah dan lalu berkata, "Aku pernah mendengar bahwa kematian itu ... Adalah kebebasan. Tapi yang kuinginkan hanyalah keluar dari tempat ini hidup-hidup. Aku ingin melihat seperti apa dunia di luar sana,"
"Kau akan baik-baik saja,"
"Usiaku 16 Tahun sekarang ... Ha ha ha, aku hanya selalu menghitung waktu di tempat ini." Jiang Chen terbatuk darah, dadanya terasa sakit namun dia masih mencoba untuk tersenyum.
"Sialan, kau tidak boleh mati Xiang'Er. Mati itu sangat menyakitkan," Jiang Chen berkata, "Bukankah ... Di usia 16 Tahun, aku sudah bisa menikah? Tapi sayang sekali ... Hanya kau yang terlihat enak dipandang di tempat ini."
"Saudara Chen,"
"Xiang'Er, dengarkan aku. Kau harus bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, lalu bakarkan aku uang kertas. Aku ingin menjadi kaya di alam baka sampai menunggu reinkarnasi. Jika suatu saat kita bertemu ... Aku ingin kau tidak melupakanku. Aku masih ingin ... Bicara,"
"Saudara Chen? Saudara Chen..!"
Ling Qing Zhu melihat Xiao Shuxiang yang nampak menepuk pelan pipi Jiang Chen sebelum mulai menengadah ke langit. Dia sekarang tahu bahwa Xiao Shuxiang sering menengadah untuk mencegah air matanya jatuh.
Di sisi lain, benturan pedang terus terdengar dan kini hanya tersisa empat orang anak yang salah satunya adalah Xiao Shuxiang.
Entah bagaimana keriuhan semakin menjadi-jadi di luar arena. Seakan-akan melihat anak-anak bertarung sampai mati merupakan tontonan yang bagus.
Ketika Xiao Shuxiang mulai memperbaiki posisi tangan Jiang Chen, sesuatu melesat dari arah belakang tubuhnya. Ling Qing Zhu berseru, namun suaranya tidak terdengar.
Xiao Shuxiang diserang dari belakang. Hampir saja kepalanya tertebas oleh senjata lawan, namun dirinya dengan cepat berhasil menahan serangan itu dan kembali bertarung seperti dua anak lainnya.
Ling Qing Zhu tidak tahu bagaimana, tapi gerakan bertarung Xiao Shuxiang tidak seperti sebelumnya. Itu adalah gerakan bertarung yang lebih kepada harus membunuh lawan tanpa peduli dengan diri sendiri.
Bahkan buruknya, tidak ada aturan di bagian mana tubuh lawan harus ditebas. Intinya lawan harus mati atau jika tidak, merekalah yang justru akan tiada.
Xiao Shuxiang mengait sebuah pedang dengan kakinya dan memakai dua senjata untuk menyerang lawan. Teknik dan gerakannya sudah terlatih, namun Ling Qing Zhu tidak nyaman melihatnya.
Satu lawannya tumbang hanya dengan beberapa tebasan. Di sisi lain, satu anak pun telah menyelesaikan pertarungan dan membunuh lawannya. Dia lantas mengarahkan aura pembunuhnya dan menerjang Xiao Shuxiang.
__ADS_1
Sorak-sorakan dari para penonton yang menyaksikan pertarungan ini semakin menggila. Ling Qing Zhu merasakan nyeri di kepalanya karena dia hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa.
Ledakan tercipta disertai dengan angin kejut yang membawa debu-debu tebal, menutupi seluruh panggung arena. Ling Qing Zhu menyaksikan bagaimana tubuh dari Xiao Shuxiang dan lawan dari anak laki-laki itu tertutupi angin debu.
Tidak butuh waktu lama, sesuatu mulai terlempar ke luar arena, tepat di mana para penonton berada. Ekspresi Ling Qing Zhu saat itu bahkan tidak pernah ada dalam bayangan sebelumnya.
Mulai ada di antara para penonton yang menjerit, kemudian di susul oleh jeritan lainnya. Pemandangan itu menjadi riuh, namun dengan nuansa yang mencekam dan sejujurnya ini sangat menakutkan.
Debu tebal perlahan memudar di atas panggung arena dan hanya menyisakan seorang anak laki-laki. Dia berdiri tanpa ekspresi dan dengan pakaian serta punggung tangan yang dipenuhi darah.
Ling Qing Zhu menahan napas, dia tidak tahu harus berkata apa sekarang. Dirinya bahkan kesulitan menelan ludah. Apa yang terlempar tadi merupakan bagian dari tubuh manusia.
Itu organ-organ dalam dan keriuhan di antara penonton adalah karena mereka dilempari organ dalam tersebut.
Pria tua yang pernah membopong Xiao Shuxiang mulai mendarat lembut di samping anak laki-laki itu. Dia menepuk bahu Xiao Shuxiang dan tersenyum.
Pria itu menyerukan pemenang dari pertempuran ini adalah Xiao Shuxiang. Dia pun berkata, "Kau berhasil Xiang'Er. Mulai sekarang kau bisa keluar dari tempat ini--"
Belum selesai pria itu bicara, sesuatu tiba-tiba saja terjadi. Mata pria tersebut terbelalak disertai darah di tubuhnya memuncrat keluar. Tidak berlangsung lama, tubuh pria itu terbelah dan dia langsung tewas di tempat.
Ling Qing Zhu sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi, namun dia menyaksikan bagaimana Xiao Shuxiang menginjak tubuh pria yang sudah tewas itu dan membuatnya membungkam semua orang.
Tanpa nada, Xiao Shuxiang berkata. "Mulai sekarang ... Siapa pun yang menyebut namaku akan berakhir seperti ini."
!!!
Suara itu tanpa memakai Qi untuk membuatnya mampu didengar oleh orang-orang. Tindakan Xiao Shuxiang yang mengejutkan sudah menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.
"Shuxiang ..." Ling Qing Zhu padahal baru saja melihat Wali Pelindungnya begitu mengasihi Jiang Chen, namun entah kenapa kini berbeda.
Rasanya seakan-akan dia diperlihatkan oleh sebuah tragedi yang telah membuat sosok Xiao Shuxiang menghitam hingga tumbuh menjadi seorang yang haus darah dan tanpa rasa belas kasih.
Ling Qing Zhu melangkah mengikuti Xiao Shuxiang kecil meninggalkan panggung arena. Raut wajah anak laki-laki ini mulai berubah, apalagi saat dia mulai masuk ke dalam ruangan yang gelap dan merupakan kamarnya sendiri.
Ling Qing Zhu terkejut mendapati bahwa Xiao Shuxiang langsung ambruk dan mulai terengah-engah. Ada tiga cahaya yang mulai terbentuk di udara dan dengan suara serak, Xiao Shuxiang memerintahkan mereka untuk mencari obat untuk luka-lukanya.
Ketiga api biru kecil itu pergi dan Ling Qing Zhu memperhatikan punggung Xiao Shuxiang tanpa mengatakan apa-apa. Ini adalah kesunyian yang membuat berat dan juga menyesakkan.
Ingin sekali dia meraih tangan kecil Xiao Shuxiang dan membawa anak laki-laki ini pergi, lalu menyembunyikannya.
Rasanya ingin sekali menepuk dan lalu mengusap pelan punggung kecil itu dan berkata bahwa Xiao Shuxiang tidak perlu sampai berubah atau harus menahan air matanya. Tidak perlu menyembunyikan rasa sakitnya dan bersikap seolah ini baik-baik saja.
"Tidak apa ... Kau bisa menangis," suara Ling Qing Zhu tenang namun tentu saja ini tidak bisa didengarkan orang lain.
Tidak apa-apa, kau bisa menangis.
Itu bukan berarti kau lemah. Tidak ada yang akan menyalahkanmu. Ini alami. Ini berarti kau mempunyai hati manusia.
******
__ADS_1