![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Tetua Besar Istana Seribu Pedang yang mengembalikan token emas milik Xiao Shuxiang bernama Chen Duan Shan. Pria tua itu juga ikut tertawa sebelum pada akhirnya mengenalkan Xiao Shuxiang kepada semua orang.
Chen Duan Shan maju selangkah dan lalu berkata, "Anak Muda yang bisa membuat Tetua Puncak Xuyang tersenyum serta membuat suasana konferensi ini makin meriah bernama Shuxiang dari keluarga 'Xiao'. Pemuda yang dipercaya oleh sahabatku untuk mewakilinya sebagai Tetua Besar Sekte Lautan Awan."
Banyak di antara kultivator yang terkejut karena telah salah paham. Mereka pikir sosok tampan itu adalah Dao Fang An dan menganggap bahwa praktik rendah dari pemuda tersebut hanya manipulasi.
Namun tidak sedikit dari para kultivator ini yang meragukan ucapan Chen Duan Shan. Mereka berspekulasi bahwa Tetua Dao Fang An sudah berhasil mencapai praktik tertinggi dari kultivasi hingga membuatnya menjadi muda kembali, sementara 'Xiao Shuxiang' hanyalah nama yang dipilih agar semua orang percaya bahwa sosok itu bukanlah Dao Fang An.
Spekulasi ini memang memungkinkan ada. Sebab, mustahil seorang pemuda yang praktiknya berada di Forging Qi tingkat 7 dan dengan tulang berusia 21 Tahun mampu menjadi wakil Tetua Besar sebuah sekte. Apalagi, ada beberapa kultivator yang mendengar kabar bahwa Tetua Besar Sekte Lautan Awan sangatlah tampan ketika masih muda.
Xiao Shuxiang sendiri nampak tidak peduli dengan anggapan orang lain tentangnya, dia sekarang ini sedang fokus pada Kucing Putihnya.
"..............."
Ling Qing Zhu menyadari tatapan Wali Pelindungnya, namun tetap tidak mau menoleh. Dia fokus mendengarkan Tetua Chen Duan Shan berbicara, bahkan sampai mereka mulai diminta duduk dan dijamu dengan berbagai hidangan pun----dia tetap tidak menoleh ke arah pemuda mempesona ini.
Para peserta Konferensi dan juga para penonton yang hadir ikut dijamu. Lan Guan Zhi, Wang Zhao dan Mo Huai diberikan tempat duduk masing-masing.
Para murid Tetua Puncak dari Sekte Lautan Awan yang terdiri dari Zhang Xiao Lian, Yan Tianhen, Yun Qiao Yue, Liu Wei Lin, Yu Zhuanshi dan Wen Gao Chong juga diberikan tempat duduk.
Satu-satunya murid sekte Lautan Awan yang berpakaian putih dan tidak sama dengan teman-temannya yang lain adalah Zhang Xiao Lian.
Untuk tetua juga hanya Meng Hao Niang, Ling Qing Zhu dan Xiao Shuxiang yang berpakaian putih, sementara tetua lainnya memakai pakaian khas Sekte Lautan Awan.
"Kucing Putih, kenapa kau lakukan itu padaku..? Karenamu, aku jadi sangat malu..." pipi Xiao Shuxiang bergelembung, dia duduk di samping Ling Qing Zhu dan sedang meminta pertanggung--jawaban dari Kucing Putihnya ini.
"Salahmu," Ling Qing Zhu berujar singkat. Di sisi kanannya duduk Tetua Besar Sekte Bunga Surga, wanita cantik bernama Huan Gui Fei.
"Kenapa jadi salahku?" Xiao Shuxiang seakan tidak peduli pembicaraan para tetua di sampingnya. Dia bahkan tidak melirik pada penampilan para penari yang sengaja disiapkan untuk menjadi hiburan penyambut bagi para penonton.
"..............." Ling Qing Zhu tidak bicara dan hanya memandang ke bawah, tempat di mana para penari memperlihatkan bakat mereka.
"Kucing Putih, kau jangan menyebalkan begini. Kenapa bisa aku yang salah?" suara Xiao Shuxiang membuat tersentak Chen Duan Shan yang duduk di dekatnya.
Salah satu tetua dari Istana Seribu Pedang yang bernama Jing Yufeng bahkan ikut tersentak, dia sedikit memajukan kepalanya untuk melihat Xiao Shuxiang yang sedang merutuk pada Ling Qing Zhu.
"Kucing Putih..." Xiao Shuxiang cemberut, "Jika kau tidak bicara... Bagaimana aku bisa tahu letak kesalahanku? Aku bukan cenayang yang bisa membaca ekspresi papan datarmu,"
".......... Kau mengabaikanku," Ling Qing Zhu akhirnya buka suara. Ucapannya membuat Xiao Shuxiang tersentak dan membuat terkejut para tetua yang ikut mendengarnya.
"Nak, kalian saling mengenal?" Tetua Chen Duan Shan bertanya.
Xiao Shuxiang menoleh dan mengangguk pelan, "Mn. Dia istriku,"
"Apa?!" Tetua Qin Yun yang berasal dari Sekte Bunga Surga terlihat tidak percaya. Seruannya cukup mengagetkan para tetua yang duduk di sekitarnya.
Tetua Qin Yun bertanya pada Ling Qing Zhu dan seakan meminta kebenaran dari gadis cantik tersebut. "Kalian benar-benar pasangan suami-istri? Kapan kalian menikah?"
Ling Qing Zhu hanya mengangguk pelan dan menggumam sebagai jawaban. Sementara Xiao Shuxiang memberi penjelasan sedikit lebih terperinci. Dia membuat Tetua Qin Yun berdecak kagum. Tidak disangka bahwa ada pasangan muda di antara mereka.
Jing Yufeng yang merupakan Tetua Istana Seribu Pedang nampak menghela napas, ucapannya sedikit mengeluh pada Chen Duan Shan.
__ADS_1
"Tetua Chen, untuk Konferensi Aliansi Abadi selanjutnya----baiknya tidak ada lagi pasangan suami-istri yang duduk di antara para tetua. Ini sangat menyiksa kaum bujangan sepertiku,"
"Aku setuju dengan pendapat Tetua Jing Yufeng. Sebaiknya tidak ada pasangan muda, ini membuat hatiku terluka." Tetua Qin Yun menggeleng pelan dan sangat menyayangkan nasibnya.
"Tetua Qin, harusnya kami yang belum menikah inilah yang bicara demikian. Kau kan sudah memiliki suami, lihat itu." Tetua Xia Long Hua yang merupakan salah satu Tetua Istana Seribu Pedang nampak menunjuk seseorang dengan memakai tatapan matanya.
Tetua Qin Yun dan beberapa tetua lain yang mendengar ucapan Tetua Xia Long Hua langsung mencari satu orang di antara para penonton. Tidak lama mereka melihat pria dengan pakaian berwarna biru-putih yang merangkul sebuah bambu penyangga bendera Sekte Bunga Surga.
Seluruh bendera dari masing-masing sekte sebenarnya mempunyai tempatnya sendiri. Pria itu jelas membawa bendera atas inisiatifnya, apalagi saat tahu Tetua Qin Yun menatapnya----pria itu pun langsung tersenyum sambil mengibar-ngibarkan bendera di tangannya.
Xiao Shuxiang berkedip ketika melihat ekspresi pria yang cukup tampan itu dan dari gerak bibir yang dia perhatikan----sosok tersebut jelas menyerukan kata 'Sayangku', 'Cintaku' atau ucapan sejenis itu.
"Dasar bodoh..." Tetua Qin Yun berujar pelan, "Entah kenapa aku bisa suka pada orang sepertinya,"
"Tetua Qin," Tetua Meng Hao Niang pada akhirnya bicara, kali ini penampilannya lebih rapi termasuk rambutnya. Dia pun tidak terlihat mabuk berat seperti yang biasanya.
Terima kasih pada Mo Huai. Entah bujukan apa yang digunakan pemuda itu hingga berhasil mengubah penampilan wanita seorang Tetua Puncak Jin Cheng.
Tetua Meng Hao Niang melanjutkan, "Jangan bicara begitu tentang suamimu. Semua orang tahu benar bagaimana perjuangannya untuk bisa memperistri satu dari banyaknya bunga cantik di sekte kalian,"
"Ah... Benar." Tetua Xia Long Hua yang duduk di samping Tetua Meng Hao Niang seakan mengangguk pelan, dia pun berdecak kagum. "Jika melihat masa lalu .... Suami Tetua Qin benar-benar pejuang yang tangguh. Aku bahkan sampai menangis melihat betapa keras usahanya untuk bisa diterima menjadi bagian dari keluarga sekte kalian."
Tetua Qin Yun menarik napas berat dan mengembuskannya perlahan, "Haaah... Itulah mengapa meski dia bertindak bodoh dan sangat memalukan, aku tetap tidak bisa membencinya. Tapi tingkahnya itu benar-benar menyebalkan,"
"Tenangkan dirimu," suara Tetua Meng Hao Niang masih seperti pemabuk berat, "Pria .... Jika hatinya sudah dimiliki seseorang----dia bisa kehilangan kewarasannya."
Wajah Tetua Qin Yun agak memburuk dan dia mengangguk pelan pertanda bahwa ucapan Tetua Meng Hao Niang ada benarnya. "Jika diingat, aku pernah memintanya terjun dari bukit dan dia benar-benar melakukannya,"
"Tetua Qin, anda sangat jahat." Tetua Xiao Long Hua bergidik ngeri, sementara tetua lain yang mendengarnya pun hanya bisa menggeleng dan berdecak pelan.
"Maksudmu terjun dari bukit?"
"Mn,"
"Aku lebih baik mendorongmu daripada menjatuhkan diriku,"
Ucapan Xiao Shuxiang begitu spontan. Dia seakan tidak berpikir dua kali untuk bicara demikian dan karena dirinya bukanlah orang yang pernah berbohong----maka Ling Qing Zhu tahu itu perkataan yang jujur dari hati Wali Pelindungnya.
"...... Kau tidak mau?" Ling Qing Zhu bertanya, suaranya yang pelan dan dingin itu hanya didengar oleh Wali Pelindungnya.
Xiao Shuxiang, "Kau bebas meminta yang lain, Kucing Putih. Tapi jangan memintaku untuk menyakiti diri sendiri, aku ini masih sangat waras."
"..............." Ling Qing Zhu sebenarnya ingin berkata bahwa dia juga tidak segila itu sampai ingin meminta Wali Pelindungnya untuk menjatuhkan diri dari tebing. Dia juga masih waras.
Tetua Jing Yufeng tidak mendengarkan pembicaraan antara Ling Qing Zhu dengan Xiao Shuxiang. Dia terlihat mengedarkan pandangan dan seperti mencari seseorang.
Sejak pembukaan Konferensi Aliansi Abadi dimulai, dia memang merasa ada sesuatu yang berbeda. Seakan ada yang hilang dan kini Tetua Jing Yufeng mulai menyadarinya, dia melihat ada beberapa bangku di barisan tetua yang kosong.
"Tetua Chen?" Jing Yufeng bertanya pada Chen Duan Shan, "Apa Anda tahu di mana tetua besar Lembah Cahaya Surgawi berada?"
Tetua Chen Duan Shan mengerutkan kening dan mulai memperhatikan setiap tetua yang hadir. Memang ada kursi yang kosong dan hal yang sama juga terjadi pada kursi para peserta.
__ADS_1
"Mereka memang suka datang terlambat, tapi tidak pernah selambat ini..." Tetua Chen Duan Shan mengisyaratkan salah satu murid yang menjadi pengawal untuk mendekat. Dia pun bertanya mengenai orang-orang dari sekte Lembah Cahaya Surgawi.
Xiao Shuxiang sendiri nampak tak peduli pada pembicaraan Tetua Chen Duan Shan yang duduk di sampingnya. Dia kini fokus pada hidangan daging ayam yang nampak polos, namun penuh rasa ketika sampai di lidah.
Kekaguman nampak di wajah Xiao Shuxiang, "Waah... Kupikir ini hanyalah daging ayam yang ditaburi garam dan dikukus begitu saja. Tapi tidak disangka rasanya begitu penuh rempah. Ini luar biasa,"
"..............."
Ling Qing Zhu memperhatikan Wali Pelindungnya yang nampak sangat menikmati hidangan yang ada. Dia pun mengambil mangkuk berisi hidangan ayam miliknya dan meletakkannya di meja Xiao Shuxiang.
"Kucing Putih?" Xiao Shuxiang berkedip dan nampak keheranan dengan tingkah Ling Qing Zhu yang tiba-tiba ini.
"Makan pelan-pelan,"
"Kau perhatian sekali," Xiao Shuxiang tersenyum senang, "Kalau begitu aku tidak akan sungkan~ Aku benar-benar lapar. Sejak tadi aku selalu memikirkan makanan,"
"Mn," Ling Qing Zhu memperhatikan bagaimana Wali Pelindungnya bisa memperlihatkan senyuman bahagia nan menawan hanya karena hidangan sederhana yang dia berikan.
"........ Indah,"
"Mn? Kau bilang apa barusan?" Xiao Shuxiang seperti mendengar gumaman dari Kucing Putihnya.
"....... Kau cantik,"
"Apa?!"
"Ayamnya,"
"Ah..." Xiao Shuxiang mengangguk pelan, dia kembali makan sambil memandang ke arah penari yang kini telah berganti.
Di samping Xiao Shuxiang, Tetua Chen Duan Shan masih berbicara dengan muridnya. Ekspresi wajahnya nampak buruk, "Apa kau lupa mengabarkan tentang konferensi ini kepada tetua besar Lembah Cahaya Surgawi?"
"Tidak, Shizun. Aku pastikan surat undangan sampai di tangan tetua sekte masing-masing,"
Tetua Jing Yufeng, "Jika demikian. Maka bagaimana bisa Lembah Cahaya Surgawi tidak datang kemari?"
"Aku tahu bahwa perguruan mereka sering terlambat, tapi mereka tidak pernah selambat ini sebelumnya..." Tetua Chen Duan Shan menjadi agak cemas, "Aku merasa ada sesuatu yang menimpa rombongan mereka hingga belum juga tiba di tempat ini."
Murid Istana Seribu Pedang yang bicara dengan Tetua Chen Duan Shan nampak bernapas pelan sebelum akhirnya bicara, "Shizun. Sebenarnya aku belum bisa memastikan kabar ini benar atau tidak, tapi .... Ada informasi yang kudengar bahwa rombongan dari tetua besar Lembah Cahaya Surgawi yang menuju kemari mengalami kendala di jalan."
Murid itu menahan napas sebelum lanjut bicara, suaranya terdengar gugup dan amat pelan. "Kota yang mereka lewati .... Entah bagaimana seluruh penduduk kota itu tewas secara mengenaskan. Mereka seakan dibantai habis-habisan dalam waktu satu malam,"
Tetua Chen Duan Shan dan Tetua Jing Yufeng terbelalak saking terkejutnya. Sementara Xiao Shuxiang yang sedang minum arak juga kaget mendengarnya, dia sampai tersedak dan terbatuk hingga membuat Ling Qing Zhu tersentak.
"Kau tidak apa-apa?" Ling Qing Zhu mengusap-usap pelan punggung Wali Pelindungnya. Dia pun menuangkan air untuk Xiao Shuxiang dan memintanya minum.
Suara dari murid Istana Seribu Pedang itu hanya didengar oleh tiga orang dan Xiao Shuxiang adalah salah satunya. Tatapan mata dari teman baik Lan Guan Zhi itu berbeda dari yang biasanya.
"Dibantai?!" Tetua Chen Duan Shan meski kaget, namun dia masih bisa mengontrol suaranya. Dia pun bertanya dengan nada suara yang pelan, "Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Aku tidak tahu, Shizun. Infomasi yang kudapatkan hanya sampai di sini. Aku baru saja mengutus beberapa saudara untuk pergi dan memastikan mengenai kabar ini. Mereka belum kembali,"
__ADS_1
"..............." Xiao Shuxiang menahan napas saat mendengarnya. Dia sulit menelan ludah dan ekspresinya pun agak pucat. Rasa-rasanya Xiao Shuxiang mempunyai hubungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh murid Istana Seribu Pedang itu.
******