![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Dà Mèilì merupakan gerbang dengan energi spiritual. Gerbang tersebut bisa membuat siapa pun yang memasukinya dapat berpindah tempat ke lokasi yang jauh.
Dà Mèilì dibuat oleh 12 orang kultivator yang praktiknya berada di tingkatan Immortal. Sayangnya, gerbang itu tidak bisa dipindahkan dan bahkan hanya mampu menghubungkan dua titik lokasi.
Di hari keenam perjalanan Xiao Shuxiang dan teman-temannya, mereka sedikit mengalami kendala. Itu bukan karena Demonic Beast, melainkan akar hidup dari pepohonan di dalam hutan yang mereka lalui.
Liu Wei Lin sebenarnya ingin mengatasi akar-akar hidup itu sendirian, namun Xiao Shuxiang menghentikannya dan meminta Wang Zhao yang maju. Ini juga berguna untuk menambah pengalaman bertarung pemuda tersebut jika ingin menjadi kuat.
Butuh waktu yang cukup lama, apalagi Wang Zhao memang masih pemula dalam hal pertarungan. Namun meski menyulitkan, dia akhirnya berhasil dan bahkan tanpa bantuan siapa pun.
Tepat di hari ke-tujuh, kereta yang membawa Wang Zhao dan teman-temannya mulai memasuki Dà Mèilì walau pada awalnya mereka merasakan guncangan.
"Apa guncangan ini memang biasa terjadi?" Xiao Shuxiang memegang lengan Ling Qing Zhu seakan berpegang pada hidupnya. Dia bisa merasakan pundak dan kepalanya seperti disiram oleh energi spiritual yang hangat namun menyakitkan.
"Ini memang hal yang biasa. Saudara Xiao tidak perlu khawatir," Liu Wei Lin nampak tenang dan mengeluarkan sedikit energi spiritualnya untuk meminimalisir rasa sakit yang dialami Xiao Shuxiang dan teman-temannya.
Liu Wei Lin berkata, "Bagi orang yang pertama kali memasuki Dà Mèilì, rasa semacam ini wajar dialami. Namun saat sudah terbiasa, semua ini tidak akan ada apa-apanya."
Liu We Lin menutup kipas merahnya dan mengembuskan napas, "Hanya saja yang patut disayangkan adalah gerbang ini tidak bisa diberikan segel apa pun hingga bisa dimasuki oleh siapa saja, termasuk para Demonic Beast."
"Apa para penyusup yang datang waktu itu juga masuk lewat gerbang ini?" Mo Huai bertanya sambil sedikit meringis.
Liu Wei Lin, "Itu bisa saja terjadi. Tapi sebenarnya ada banyak cara bagi para penyusup itu datang, meski aku masih penasaran dengan bagaimana mereka bisa menembus segel penghalang sekte tanpa ketahuan."
"Apa mungkin ada orang dalam?" Ling Qing Zhu yang sejak tadi diam mulai ikut menanggapi. Dia membuat Liu Wei Lin dan yang lainnya tersentak.
Liu Wei Lin membuka kipasnya dan melambai-lambaikannya dengan lembut, dia memikirkan ucapan Ling Qing Zhu barusan. "Orang dalam...?"
Wang Zhao, "Kurasa itu tidak mungkin. Selama ini, meskipun banyak perguruan yang kurang senang dengan Sekte Lautan Awan----tapi tidak pernah sekali pun ada penyusup. Aku juga melihat para murid memiliki loyalitas yang tinggi, jadi mana mungkin mereka berkhianat."
"Kau ini terlalu polos, Zhao'Er..." Xiao Shuxiang berujar dan masih merangkul lengan Ling Qing Zhu. Dia berkata, "Hati manusia itu sulit ditebak, kawan. Loyalitas yang kau lihat bisa saja hanyalah kedok, kau tidak boleh memberikan kepercayaanmu sepenuh hati. Orang bilang, satu penjahat mati, maka akan menumbuhkan seribu penjahat lain. Sementara satu orang baik mati, maka akan sulit untuk menemukan penggantinya selama seribu kehidupan."
Ling Qing Zhu berkedip, dia menatap Xiao Shuxiang yang entah bagaimana berubah menjadi bijak sekarang. Dia baru akan bersuara saat mendengar ucapan Xiao Shuxiang lagi.
__ADS_1
Pemuda mempesona itu melanjutkan, namun kini dengan nada suara yang agak sedikit menjengkelkan. Xiao Shuxiang berkata dengan penuh gaya, "Yaaah... Tapi tentu saja kalian tidak akan bisa menemukan orang seperti Xiao Shuxiang ini meski menunggu selama ratusan ribu tahun. Karena aku luar biasa hingga tidak bisa digantikan, tsk... Aku selalu bangga pada betapa mengagumkannya diriku ini."
Ling Qing Zhu, "Memalukan."
Liu Wei Lin berkedip, "Aku bahkan sampai lupa arah pembicaraan kita tadi. Saudara Xiao, apa kau bisa sedikit mengurangi caramu yang selalu memuji diri sendiri itu?"
"Ho ho, tentu saja tidak. Aku suka memuji diriku karena aku luar biasa," senyuman Xiao Shuxiang merekah dan membuat Liu Wei Lin menggeleng pelan.
"Kau mengalahkanku dalam rasa percaya diri, Saudara Xiao." Liu Wei Lin tersenyum dan menunjuk Xiao Shuxiang dengan kipasnya, "Aku memang menemukan belahan jiwa yang tidak biasa,"
Wang Zhao mengembuskan napas, suasana di dalam kereta ini memang tidak ada matinya. Hanya saja saat dia menoleh ke samping---dirinya melihat wajah Mo Huai yang nampak ditekuk.
"Saudara Mo, kau kenapa?" Wang Zhao bertanya.
Mo Huai menggeleng pelan, "Tidak ada. Awalnya aku sempat kagum dengan kata bijak yang Tuan Muda Xiao ucapkan. Tapi baru saja berkedip, dia kembali menjadi seperti sedia kala."
Mo Huai sebenarnya ingin berkata 'menjadi tidak tahu malu', namun dia masih menahan ucapan tersebut karena sudah diwakili oleh Ling Qing Zhu.
Kereta yang ditumpangi Mo Huai dan yang lainnya telah berada di luar hutan. Mereka sudah melewati guncangan pada Dà Mèilì dan sekarang lokasi mereka berada di hutan Pulau Yín Jiàn.
Xiao Shuxiang mengangkat tirai dan melihat pemandangan di luar keretanya. "Pulau Yín Jiàn ini .... Pulau terapung, kan?"
Liu Wei Lin menjawab, "Benar. Mulai dari sini... Kita akan pergi ke pulau terapung terdekat yang merupakan Istana Seribu Pedang, tempat Konferensi Aliansi Abadi diadakan. Pulau Yín Jiàn ini juga adalah bagian dari Istana Seribu Pedang, kita berada di Kota Chenqing."
Wang Zhao mengerutkan kening, "Tapi kami ingin pergi ke Kota Xiliang---!!"
Baru saja akan bicara, guncangan di kereta tiba-tiba mengejutkan. Ini bukan guncangan yang biasa, apalagi Xiao Shuxiang, Ling Qing Zhu, Mo Huai dan Liu Wei Lin sampai kaget. Kuda-kuda yang menarik kereta mereka bahkan sampai memekik.
"A-apa yang terjadi?!" Mo Huai nampak panik, raut wajahnya memucat.
"Tenanglah," Ling Qing Zhu mengusap pelan punggung Mo Huai dan melihat Wali Pelindungnya serta Liu Wei Lin turun dari kereta.
Wang Zhao juga ikut turun, dia tersentak saat merasakan atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Bahkan terdapat kabut putih yang menyebar dengan kecepatan mengkhawatirkan.
__ADS_1
Wang Zhao menghampiri Xiao Shuxiang yang berdiri di samping Liu Wei Lin. Dia bertanya, "A-Ada apa ini?"
Ekspresi Liu Wei Lin begitu serius, Xiao Shuxiang pun demikian. Ini membuat dirinya merasa tegang dan debaran jantungnya mulai cepat.
Liu Wei Lin, "Aku tidak tahu kapan kita memasuki anomali. Ini gawat,"
Xiao Shuxiang menengadah dan menatap langit yang cukup gelap di atasnya. Dia berkata, "Saudara Liu? Kau bilang Alam Kultivasi Atas dekat dengan dunia roh, kan? Apa ini juga termasuk di dalamnya?"
Liu Wei Lin, "Benar. Sebenarnya ada hari-hari tertentu di mana akan muncul anomali. Saat itu, jalan menuju dunia roh dan jalanan biasa tidak dapat dibedakan. Masalahnya, perasaanku sangat tidak enak mengenai keadaan kita sekarang."
Hati Wang Zhao bergetar. Kabut putih yang dia lihat menebal dan menyelimuti seluruh area di sekitarnya. Dia bahkan tidak bisa melihat jari-jari tangannya.
Ling Qing Zhu dan Mo Huai turun dari kereta. Mereka tersentak dengan apa yang terjadi. Keduanya bahkan tidak bisa melihat jelas kondisi yang ada di sekitar.
Liu Wei Li menggerakkan kipasnya dan sedikit menyingkirkan kabut tersebut, namun hanya sekejap sebelum tertutup kabut lagi. Dia berdecak, "Tidak bisa. Kita harus mencari cara untuk keluar dari sini."
"Aah!!" jeritan Mo Huai terdengar dalam kabut tebal dan mengejutkan teman-temannya.
"Mo Huai?!" Xiao Shuxiang berbalik dan sama sekali tidak melihat apa-apa.
"Nona Ling, tolong---" sebelum selesai bicara, suara Mo Huai seketika terputus.
Ling Qing Zhu sebenarnya bergerak cepat saat mendengar jeritan Mo Huai. Dia mengulurkan tangan, namun tidak meraih apa pun.
"Mo Huai..!" Xiao Shuxiang melesat, dia masih bisa mencium bau Mo Huai. Dia berseru pada teman-temannya, "Kalian tetap di sini dan berusahalah agar tetap bersama. Saudara Liu..! Jaga Kucing Putihku dan Wang Zhao,"
"Tunggu dulu, Saudara Xiao..!" Liu Wei Lin kaget. Dia tidak tahu Xiao Shuxiang pergi ke arah mana karena kabut tebal ini.
Liu Wei Lin kembali mengayunkan kipasnya, namun yang nampak di hadapannya adalah kabut berbentuk wajah dengan mata merah. Saking kagetnya, dia spontan melompat ke belakang.
Ling Qing Zhu pun melihat wajah dengan dua mata merah itu dan spontan meraih tangan Wang Zhao. Dia menarik pedang pusakanya dan bersiap melakukan serangan.
Di sisi lain, Xiao Shuxiang kehilangan jejak bau Mo Huai. Dia sudah memanggil-manggil nama temannya itu dan tidak ada jawaban. Dia pun memutuskan untuk kembali pada teman-temannya sebelum dia kehilangan bau Ling Qing Zhu, Wang Zhao dan Liu Wei Lin.
__ADS_1
******