![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
PERHATIAN..!
Episode mengandung adegan kekerasan dan berdarah yang tidak pantas ditiru. Diharapkan agar pembaca bijak dalam mengambil pelajaran dan terima kasih karena masih mau mampir.^^
*
*
Zhi Shu dan Ling Qing Zhu berada di lokasi yang berbeda dengan Xiao Shuxiang. Mereka awalnya terkejut karena tidak bisa menggunakan energi spiritual. Namun setelah salah seorang murid Istana Seribu Pedang menjelaskan apa yang terjadi, keduanya pun mulai mengerti.
Ling Qing Zhu membantu murid Istana Seribu Pedang dan membawa mereka ke tempat yang lebih aman. Di sisi lain, Zhi Shu pun melakukan hal yang sama.
Lan Guan Zhi sendiri saat ini bersama dengan Jian Yang dan Li Huanshou. Dia pun tidak bisa merasakan energi spiritual dan karena itulah dirinya kesulitan untuk menyusul teman baiknya saat ini.
Belum lagi, para murid Istana Seribu Pedang membutuhkan bantuannya. Dia tentu tidak mungkin mengabaikan mereka semua.
Lan Guan Zhi, Jian Yang dan Li Huanshou belum sampai ke tempat tetua Xia Longhua. Mereka bahkan tidak tahu bahwa keadaan masih genting dan nyawa patriarch Istana Seribu Pedang itu sedang terancam.
Mao Lin Lin sendiri tidak menyadari bahwa kedua rekannya sudah tiada. Dia berada pada posisi yang terlihat begitu menikmati penderitaan kedua patriarch Istana Seribu Pedang.
Tetua Murong Xun dan Tetua Xia Longhua terkena racun milik Mao Lin Lin dan itu membuat jantung mereka seperti ditusuk oleh ribuan jarum.
Mao Lin Lin tertawa, apalagi para murid Istana Seribu Pedang yang ada di sekitarnya juga mengalami nasib yang sama. Dia begitu senang melihat orang lain menderita.
"Hebat ..." Mao Lin Lin tersenyum puas, "Rasanya sangat tidak tertahankan. Aku benar-benar menyukai hal ini,"
Mao Lin Lin mengusap lehernya dan berkata, "Kalian semua terlihat sangat menyedihkan. Tapi aku senang karena bisa menikmati penderitaan kalian ini. Mm ... Apa mungkin ada di antara kalian yang tidak sanggup lagi? Aku ... Dengan senang hati akan membantunya."
Mao Lin Lin menyeringai sambil tangan kanannya mengambil sebuah belati. Dia pun memperhatikan bilah pada belati itu dan kemudian menjilatinya.
Mao Lin Lin berjalan ke salah seorang murid Istana Seribu Pedang dan berdiri di belakang pria yang meringkuk sambil berteriak kesakitan di tanah itu.
Dia pun membantu sosok tersebut untuk bangun dengan lutut yang menjadi penopang tubuh. Mao Lin Lin menarik pelan leher pria itu dan bertanya dengan suara yang lembut, "Apa kau sudah tidak sanggup? Aku bisa membantumu lepas dari masalah ini, hm? Bagaimana?"
Pria itu tidak merespon dan hanya terus mengerang kesakitan. Mata Mao Lin Lin berbinar dan tanpa ragu dia menusukkan belati di tangannya dengan perlahan, tepat di pertengahan leher pria tersebut.
"Kau merasakannya?" napas Mao Lin Lin memberat, dia pun berkata. "Aku bahkan bisa merasakan urat di lehermu. Ini ... Begitu menyenangkan."
"Apa di sini?" Mao Lin Lin tersenyum, dua jari di tangan kirinya mengeluarkan salah satu urat pria tersebut dan kemudian memotongnya di luar.
Tidak terbayang betapa sakit dan juga kerasnya pemberontakan yang dilakukan murid Istana Seribu Pedang itu. Bahkan pemandangan itu terlalu menakutkan untuk dilihat.
__ADS_1
Hujan deras yang turun sama sekali tidak bisa menyembunyikan kengerian yang dilakukan oleh Mao Lin Lin. Dia masih muda, tetapi sudah berani melakukan hal yang bahkan orang dewasa tidak akan mungkin melakukannya.
Tetua Murong Xun dan Tetua Xia Longhua tidak bisa menghentikan tindakan Mao Lin Lin. Mereka terlalu kesakitan dan sulit bahkan untuk bergerak saat ini. Beberapa murid yang tidak sanggup lagi bahkan dengan gila mengambil pedang dan menebas leher sendiri.
Mao Lin Lin tentu saja terkejut, tapi tidak berlangsung lama sampai dia tertawa seakan pemandangan itu lucu untuknya. Gilanya, anak perempuan itu sampai bertepuk tangan dengan semangat.
"Tetua Murong, kau juga harus lakukan hal yang sama dengan muridmu itu." Mao Lin Lin tertawa geli, "Mereka punya dedikasi. Sangat mengagumkan,"
Mao Lin Lin hendak membunuh seorang murid lagi ketika sebuah serangan tiba-tiba mengarah padanya. Dengan cepat, dia melentingkan tubuh dan menghindari serangan tersebut.
Tawa Mao Lin Lin dengan cepat memudar dan berganti dengan wajah serius serta tatapan mata yang tajam. Dia berbalik untuk melihat siapa yang dengan berani menyerangnya secara sembunyi-sembunyi.
Mao Lin Lin mengerutkan keningnya, dia melihat ada seorang pria berpakaian merah sambil memegang sebuah kipas. Belum sempat dia buka suara, sebuah tendangan dari arah samping mengenai tubuhnya dan membuat Mao Lin Lin terpental.
Tetua Murong mendengar suara keras dan debaman. Hanya saja dia tidak tahu pasti apa itu karena sakit yang sedang dideritanya ini. Dia mengerang kesakitan sampai sebuah tangan meraih lengan kanannya.
"Anda cepat minum ini," suara pemuda itu lembut. Tetua Murong tidak tahu siapa, tapi dia segera memakan pil pemberian sosok tersebut.
Hanya dalam waktu tiga tarikan napas, rasa sakit di dada Tetua Murong berganti dengan rasa mual di perutnya. Dia pun memuntahkan beberapa teguk darah sebelum perasaannya menjadi lega.
Mao Lin Lin berusaha bangun dan melihat ada pemuda yang lainnya lagi. Dia mengepalkan kedua tangannya dan tatapannya semakin tajam.
Mao Lin Lin mendengus saat menyadari siapa yang sedang mengganggunya. Dia pun berkata, "Ini kejutan besar. Orang yang dibuang oleh keluarganya dan pemimpin Sekte Lembah Hantu bekerja sama?"
Tetua Murong Xun yang penglihatannya sudah jelas mulai memperhatikan baik-baik sosok yang ada di hadapannya. Dia melihat Liu Wei Lin, Wang Zhao dan pemuda berambut putih yang tidak lain adalah Hu Li.
Liu Wei Lin dan Wang Zhao sendiri sebenarnya tersentak melihat bahwa Hu Li juga ada di tempat ini. Di sisi lain, Hu Li pun tidak menyangka akan bertemu dengan teman dari Tuan Muda Xiao-nya tersebut.
"Tidak ada yang perlu kami bicarakan denganmu. Kau sudah kelewatan," Wang Zhao sudah memperhatikannya dan subjek kecil di depannya begitu berbeda dengan Hei Lian.
Dia awalnya ragu menyerang Mao Lin Lin, tetapi melihat apa yang terjadi---maka anak ini memang pantas mendapatkan balasannya.
Mao Lin Lin menggeram dan kemudian melesat dengan kecepatan yang tinggi. Tangan Wang Zhao diselimuti oleh asap merah tipis dan dia pun ikut melesat.
Hu Li yang saat ini sedang mengobati para murid Istana Seribu Pedang nampak memperhatikan pertarungan Wang Zhao. Kepalan tangan pemuda itu berbenturan dengan belati milik Mao Lin Lin.
Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Mao Lin Lin tersentak saat belatinya tiba-tiba terkikis kala bersentuhan dengan tangan Wang Zhao. Matanya terbelalak ketika menyadari bahwa sosok ini mempunyai kekuatan yang mirip dengan Hei Lian.
"Bagaimana ini mungkin?" Mao Lin Lin kaget. Dia tahu benar bahwa Wang Zhao adalah orang buangan dan sampah bagi Sekte Lembah Iblis. Jangankan untuk membunuh serangga, memegang pedang saja dia takut melakukannya.
Mao Lin Lin berpikir bahwa dia yang tidak bisa membaca praktik Wang Zhao adalah karena pemuda ini benar-benar sampah tidak berguna. Tetapi ketika tiba pada posisi di mana dirinya dipaksa untuk bertahan---Mao Lin Lin pun sadar akan sesuatu.
__ADS_1
Bukan karena praktik Wang Zhao begitu rendahnya hingga tidak terbaca, tapi karena praktik Mao Lin Lin-lah yang berada di bawah Wang Zhao hingga dia tidak menyadari sekuat apa pemuda ini sekarang.
Liu Wei Lin dan Hu Li bahkan tidak perlu turun tangan. Dalam beberapa gerakan saja, Wang Zhao berhasil mendesak Mao Lin Lin dan bahkan membuatnya menjadi lelehan asam dengan kekuatan barunya.
Wang Zhao menahan napas dan air mata yang membasahi pipinya bercampur dengan air hujan. Dia tidak menangis karena membunuh Mao Lin Lin, tapi karena menyadari bahwa kemampuan Hei Lian memang sekuat ini.
Meski demikian, ada satu titik di hati Wang Zhao yang sangat terluka. Dia tidak mengatakan kepada Liu Wei Lin karena ini memang tidak berhubungan dengan pemuda tersebut atau pun Hei Lian.
Tangan Wang Zhao terulur dan menekan dadanya sendiri. Dia memejamkan mata dengan erat dan membuat Liu Wei Lin keheranan.
"Kau kenapa?" Liu Wei Lin mendekat dan bertanya.
Wang Zhao dengan suara gemetar mulai buka suara, "Aku ... Pernah berkata pada tuan Xiao bahwa aku akan menjadi pendekar yang tidak akan membunuh manusia. Tapi sekarang..."
"Apakah tidak bisa ..." Wang Zhao berujar pelan, "Apa tidak bisa seorang penjahat mendapatkan pengampunan? Bisakah mereka diberikan kesempatan untuk berubah? Anak ini ... Bahkan masih muda,"
Liu Wei Lin memperhatikan sosok di depannya ini dan merasa bahwa Wang Zhao adalah pendekar paling baik hati yang pernah dia temui. Bahkan pemuda ini mempunyai rasa empati yang kuat kepada musuhnya.
Liu Wei Lin menarik napas dan berkata, "Tidak semua orang jahat bisa diberikan kesempatan seperti itu. Ada yang jika diberi satu kesempatan, dia akan bisa mengubah sikapnya. Tapi ada orang yang diberi kesempatan berkali-kali pun, dia akan selalu sama."
"Tapi bagaimana aku bisa tahu mana yang dapat diberi kesempatan itu?"
"Dengan melihat ada berapa orang yang mengasihinya."
Wang Zhao tersentak. Liu Wei Lin pun melambaikan kipasnya dan berkata, "Jika seorang penjahat dikasihi dan begitu disayangi oleh banyak orang, maka dia bukanlah penjahat. Langit pasti akan selalu melindunginya dan memberi kesempatan padanya,"
Liu Wei Lin berkata, "Seperti dirimu. Kau dicintai oleh Lian'Er. Kau disayangi oleh tetua besar Sekte Lautan Awan dan ada saudara Xiao yang memperlakukanmu dengan baik. Kau tentunya bukan orang yang jahat,"
Wang Zhao menundukkan pandangan. Dia kemudian menatap Liu Wei Lin dan bertanya, "Lalu bagaimana denganmu?"
Liu Wei Lin berkedip sebelumnya mulai tersenyum, "Aku tentunya orang yang baik. Semua orang menjuluki aku sebagai 'Tuan Baik Liu'. Kau jangan pikirkan itu,"
Wang Zhao merasa bahwa dia tidak seharusnya bertanya tentang Liu Wei Lin atau pemuda ini akan dengan percaya diri mengutarakan kelebihan-kelebihan yang sengaja dibuat sebanyak mungkin.
Wang Zhao tidak mau mendengar Liu Wei Lin yang mulai bicara panjang dan membahas tentang diri sendiri. Dia lebih memilih untuk mengedarkan pandangan dan tersentak saat tidak menemukan Hu Li.
"Bukankah pemuda itu tadi ada di sini?" Wang Zhao tersentak. Pemuda berambut putih itu kemungkinan besar pergi ke tempat lain setelah mengobati para murid Istana Seribu Pedang.
Baik Wang Zhao atau pun Liu Wei Lin tidak tahu bahwa Hu Li tidak serta merta mengobati murid dan patriarch Istana Seribu Pedang. Pemuda berambut putih itu juga memasuki kediaman yang rusak parah untuk mencari lembaran dari Kitab Pembunuh Matahari.
Sama seperti Hu Li, Xiao Shuxiang pun juga melakukan hal yang sama. Pemuda itu dengan gesit menyerang anggota dari Sekte Lembah Iblis. Gerakannya sulit dan bahkan tidak bisa sembarangan ditiru.
__ADS_1
Xiao Shuxiang tanpa ragu memisahkan tubuh lawannya menjadi beberapa bagian. Dia melakukan itu untuk bisa memeriksa lembaran Kitab Pembunuh Matahari tanpa diketahui oleh orang lain.
*******