![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Patriarch Lan Xu Jian terkejut, entah masalah apa yang sedang dialami oleh adiknya ini dan Xiao Shuxiang hingga pertemanan mereka menjadi tidak akur.
Lan Xu Jian mengembuskan napas dan lalu meminta Lan Guan Zhi untuk menenangkan diri. Dia berkata akan kembali lagi setelah Lan Guan Zhi menjadi lebih tenang.
Saat berada di pintu, Lan Xu Jian bernapas pelan dan kemudian berkata. "Kau sudah tahu seperti apa sifat Xiao'Er, jadi masalah apa pun yang ditimbulkannya.. Kurasa kau lebih mengerti daripada orang lain."
Lan Guan Zhi menatap saat pintu kamarnya pun mulai tertutup dan Patriarch Lan Xu Jian sudah tidak terlihat lagi. Dia sebenarnya tidak marah pada teman baiknya, dia hanya kecewa pada tindakan Xiao Shuxiang yang sama sekali tidak berubah. Dia juga kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa menghentikan tragedi mengerikan itu.
*
*
Kepergian Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang dari Alam Kultivasi Atas belum diketahui oleh teman-teman mereka. Yi Wen pun baru mencari Xiao Shuxiang setelah cukup istirahat dan mengganti pakaiannya.
Ada upacara pemakaman bagi para murid Istana Seribu Pedang yang gugur dalam perang melawan Sekte Lembah Iblis, bahkan kesedihan itu semakin kental dengan tewasnya Tetua Murong Xun.
"Zhi Shu! Kau melihat Saudara Xiao?" Yi Wen bertanya pada saudara seperguruannya ini karena sudah menyerah mencari Xiao Shuxiang sendirian.
Zhi Shu menggeleng pelan, "Tidak. Aku tidak melihatnya. Coba kau tanya nona Ling, dia mungkin tahu."
"Dia juga tidak tahu," Yi Wen menghela napas dan kembali buka suara, "Dipikir-pikir lagi, aku juga tidak melihat Bocah Pengemis Gila dan Tuan Muda Lan. Kira-kira ke mana perginya mereka?"
"Jika Tuan Muda Lan dan Bocah Pengemis Gila juga tidak ada, maka itu sudah pasti mereka mengikuti saudara Xiao kita. Aku yakin mereka sedang berjalan-jalan di kota,"
"Di kondisi berkabung seperti ini? Itu mustahil." Yi Wen mengembuskan napas dan kemudian mengedarkan pandangannya. Dia pun lantas memanggil murid Istana Seribu Pedang yang kebetulan berjalan.
"Hei, tampan! Kemari,"
!
Murid Istana Seribu Pedang itu menoleh. Dia dan rekannya berjalan menghampiri Yi Wen, namun dengan mata yang agak sembab.
"Nona Wen, ada yang bisa kami bantu?"
"Ah.." Yi Wen tersenyum pahit, dia pun dengan pelan berujar. "Aku sebenarnya tidak enak memanggil kalian, tapi aku benar-benar sudah putus asa. Apa kalian melihat saudara xiao-ku?"
"Maaf, tapi kami tidak melihatnya."
"Baiklah, terima kasih."
Kedua murid Istana Seribu Pedang itu membungkuk hormat dan kemudian berjalan pergi. Yi Wen cemberut dan memanyunkan bibirnya sambil menatap Zhi Shu.
Yi Wen berkata, "Aku jadi kasihan pada mereka."
"Sebenarnya kau mencari saudara Xiao untuk apa?" Zhi Shu bertanya, "Di mana pun saudara Xiao berada, dia pasti akan baik-baik saja."
"Entahlah, tapi tidak seru jika dia tidak ada. Haaah... Aku akan mencari Hu Li. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu,"
Zhi Shu menggeleng melihat Yi Wen yang begitu sibuk mencari Xiao Shuxiang. Dia pun lantas menatap keranjang besar berisi lilin dan lalu membawanya.
"Nona Zhi Shu, biar kubantu."
Seorang pemuda tiba-tiba datang dan membantunya membawa keranjang besar ini. Zhi Shu berkedip dan tersenyum, "Mo Huai. Kau tidak perlu melakukannya, aku bisa sendiri."
"Bagaimana mungkin aku membiarkan nona Zhi Shu melakukan pekerjaan seperti ini," Mo Huai tersenyum, namun terlihat kesusahan karena tenaganya benar-benar payah.
Zhi Shu tertawa kecil melihat Mo Huai yang seakan hendak menjadi pahlawan untuknya. Dia pun berkata, "Saudara Mo. Lebih baik aku saja,"
!!!
Mata Mo Huai terbuka lebar saat keranjang besar berisi lilin diangkat Zhi Shu dan bahkan diletakkan di atas kepala gadis tersebut. Dia sampai membeku di tempat karena melihat cara Zhi Shu membawa keranjang yang berat tersebut.
"Lihat, kan? Ini mudah," Zhi Shu tersenyum dan kemudian mulai berjalan.
Ekspresi Mo Huai nampak pucat. Dia pun berkata, "Nona Zhi Shu. Itu memang hanya lilin, tapi jika jumlahnya sangat banyak--maka pasti akan sangat berat. Turunkan, aku takut lehermu patah. Ayo turunkan,"
"Ya ampun, kau ini menggemaskan sekali." Zhi Shu berujar, "Membawa barang dengan cara dijunjung seperti ini adalah hal biasa bagi perempuan. Apalagi bagi mereka yang tinggal di desa kecil. Ini sama sekali tidak masalah, tapi terima kasih karena sudah khawatir padaku."
"Nona Zhi Shu..!"
Siapa lagi itu? Zhi Shu dan Mo Huai berbalik saat mendengar suara seruan. Terlihat seorang pria berambut putih yang berjalan mendekat. Bahkan tanpa peringatan, pria itu langsung berdiri tepat di hadapan Mo Huai dan seakan membuat jarak antara Mo Huai dengan Zhi Shu.
"Tuan Muda Hu Li?" Mo Huai berkedip, Zhi Shu pun juga ikut penasaran dengan sikap Hu Li yang seakan menjadi dinding pelindung untuknya.
"Apa yang kau lakukan?" nada suara Hu Li terdengar dingin dan membuat kedua temannya ini terkejut.
"A-aku tidak melakukan apa pun," Mo Huai menjadi takut. Dia sama sekali tidak tahu apa kesalahannya hingga Hu Li bersikap seperti ini.
"Tuan Muda Mo, tolong perhatikan jarakmu dengan Nona Zhi Shu lain kali. Dia adalah calon istriku,"
"A-apa?!" Mi Huai terkejut bukan main, dia pun langsung mengarahkan pandangan pada Zhi Shu dan melihat bahwa gadis ini pun sama terkejutnya dengan dirinya.
__ADS_1
"Tuan Muda Mo, jangan menatap Nona Zhi Shu seperti itu. Ini peringatan untukmu," Hu Li berbalik dan mengambil keranjang berisi lilin dari Zhi Shu. Dia pun memegang pergelangan tangan gadis itu dan kemudian menariknya untuk berjalan pergi.
!!!
Mo Huai dan Zhi Shu sama-sama tidak menduga hal ini akan terjadi. Lebih tepatnya mereka berdua syok sampai tidak tahu harus berkata apa.
Mo Huai menyilangkan tangan dan mendengus, "Ada apa dengan rubah itu? Apa dia sedang di masa kawin?"
Mo Huai menggeleng pelan kemudian berjalan pergi untuk membantu murid Istana Seribu Pedang lain yang kesulitan.
Di sisi lain, Zhi Shu memperhatikan tangannya yang dipegang oleh Hu Li sebelum mulai menatap pemuda di sampingnya ini. Dia pun berkedip dan cukup lama memikirkan ini sebelum dirinya mulai buka suara.
"Ehm... Hu Li," Zhi Shu menelan ludah, "Kau tadi tidak serius, kan?"
Hu Li menoleh dan menatap gadis di dekatnya ini. Ekspresi wajahnya serius saat dia berkata, "Apa tuan muda Mo lebih menggemaskan dariku?"
!!!
Zhi Shu seperti mendengar suara yang jatuh di dalam dadanya. Dia langsung buang muka, tapi dengan ekspresi yang sangat terguncang.
"Jantungku, masih aman kah? Astaga, astaga, astaga! Kenapa Hu Li jadi punya kebiasaan merajuk seperti saudara Xiao sekarang?! Oh Ya Tuhan, aku tidak kuat."
Zhi Shu berusaha menenangkan debaran jantungnya dan kemudian menatap Hu Li. Dia tersenyum sambil berkata, "Hu Li-ku lebih menggemaskan."
!!!
Zhi Shu membeku saat melihat pipi Hu Li nampak merona merah. Itu terlihat jelas karena Hu Li mempunyai wajah yang putih bersih, apalagi senyuman pemuda ini sangat manis. Dan entah hanya perasaannya atau tidak, tetapi seakan ada bunga yang bermekaran di sekeliling pemuda ini.
Zhi Shu menggeleng pelan, "Aku benar-benar terpesona. Dia dan saudara Xiao berbeda, tapi senyuman mereka sama-sama memikat. Aku jatuh hati,"
Zhi Shu tersenyum tipis, dia berusaha menahan diri untuk tidak langsung menerjang Hu Li dengan pelukan mengingat keadaan di sekitarnya sekarang.
"Kogetsune Ryuu," Hu Li tiba-tiba buka suara saat sedang berjalan dengan Zhi Shu. Dia membuat gadis di sampingnya ini tersentak dan langsung menoleh menatapnya.
"Kau tadi bilang apa?" Zhi Shu berkedip.
"Namaku yang sebenarnya, Kogetsune Ryuu."
"Ah..." Zhi Shu mengangguk dan kemudian bertanya, "Apa Saudara Xiao tahu?"
"Mn, Tuan Muda Xiao tahu. Hu Li adalah nama yang Tuan Muda berikan padaku,"
"Apa saya terlihat bercanda?"
"Sama sekali tidak, tapi aku sangat bingung..." Zhi Shu menepuk-nepuk pelan pipinya. Dia pun berkata, "Bagaimana kau bisa tiba-tiba ingin menikah denganku? Apa kau sudah lama suka padaku?"
Hu Li berkedip, dia sebenarnya tidak pernah memikirkan ini. Namun tentu saja dia tidak akan mengatakan hal tersebut, jadi dia pun mengembuskan napas dan mulai buka suara.
Hu Li berkata, "Nona Zhi Shu gadis yang baik, sederhana, pandai memasak, dan keibuan. Saya tidak menginginkan banyak hal, tiga ini saja sudah cukup."
"Tapi yang kau bilang empat, Hu Li. Baik, sederhana, pandai memasak, dan keibuan. Itu empat, kan?"
"Ah... Cinta sepertinya membuat saya tidak bisa berpikir,"
"Hu Li..!" Zhi Shu memukul gemas lengan pemuda di sampingnya. Dia malu sampai wajahnya memerah, "Kau ini. Kau belajar dari mana..! Rayuan zaman kapan yang kau lakukan itu? Pfft,"
"Saya pikir itu keren,"
Zhi Shu menggeleng pelan, "Berapa usiamu? Rayuanmu mirip seperti rayuan orang tua."
"Tolong jangan bertanya tentang usia," Hu Li tersenyum. Dia dan Zhi Shu pun kembali berjalan sambil menghabiskan waktu bersama.
"Ah, benar. Yi Wen tadi mencarimu," Zhi Shu baru ingat tentang Yi Wen, "Kau sudah bertemu dengannya?"
"Tidak, tapi saya akan menemui nona Wen nanti. Memang nona Wen mencari saya karena apa?"
"Dia mencari saudara Xiao, apa kau melihatnya?"
Hu Li menggeleng pelan, "Saya tidak melihat Tuan Muda Xiao sejak kemarin. Tunggu,"
Hu Li berhenti berjalan dan mulai fokus pada penciumannya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia seakan baru menyadari sesuatu.
"Ada apa, Hu Li?" Zhi Shu keheranan dengan sikap Hu Li yang tiba-tiba ini.
"Nona Zhi Shu, keranjang ini akan diletakkan di mana? Saya akan membawanya dan pergi untuk mencari Tuan Muda Xiao," Hu Li tidak ingin memikirkan yang bukan-bukan, hanya saja dia tidak mencium aroma Xiao Shuxiang di tempat ini. Dan bila mengingat terakhir kali dirinya bertemu Tuan Muda-nya tersebut, Xiao Shuxiang terlihat begitu gelisah.
Zhi Shu pun mengajak Hu Li ke tempat di mana murid Istana Seribu Pedang sudah menunggu keranjang berisi lilin tersebut. Ini merupakan persiapan yang besar dan melibatkan semua orang.
*
*
__ADS_1
Di tempat lain, Yi Wen terlihat mencari keberadaan Hu Li. Dia berada di sekitaran para murid Istana Seribu Pedang yang sedang mengerjakan peti untuk saudara-saudara mereka yang telah tiada.
Pemandangan yang saling bekerja sama ini membuat Yi Wen merasa sangat terpukul di dalam hati. Dia tidak banyak membantu saat perang itu hingga korban berjatuhan seperti ini.
Yi Wen bernapas pelan, "Aku jadi merasa bersalah..."
"Nona Wen jangan bersedih. Ini bukan kesalahan Nona Wen,"
Yi Wen spontan menoleh dan melihat sosok pria berpakaian putih yang berdiri di dekatnya. Dia berkedip menyadari siapa yang ada di sampingnya ini.
"Wang Zhao?" Yi Wen tersentak, "Kapan kau datang?"
"Aku mengejar rombongan yang terakhir dan ikut kemari, karena rasanya tidak sopan jika aku tidak membantu di tempat ini."
Yi Wen memperhatikan pemuda di sampingnya dan mengulurkan tangannya. Dia mengusap pelan punggung Wang Zhao dan berusaha untuk menenangkan pemuda ini.
Yi Wen berkata, "Aku tahu perasaanmu. Kau jangan merasa bersalah,"
Wang Zhao menurunkan pandangannya dan suaranya terdengar sedih, "Aku minta maaf. Aku ..."
"Wang Zhao, kau ini tidak seperti biasa. Aku paling tidak suka melihat laki-laki menangis seperti ini, tarik kembali air matamu."
"Aku tidak menangis, mataku hanya berair." Wang Zhao berusaha menenangkan diri, dia menatap Yi Wen dan baru akan bicara saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Wang Zhao? Kau di sini?"
Yi Wen menoleh, sosok yang mendekat ke arah mereka tidak lain adalah Liu Wei Lin. Pemuda berpakaian merah itu terlihat berkeringat karena membantu murid Istana Seribu Pedang membuat peti.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harusnya ada di Sekte Lembah Iblis?" Liu Wei Lin mengusap keringat yang turun ke dagunya. Dia bertanya, "Apa yang terjadi? Kau diusir oleh wargamu sendiri atau kau membakar mereka dan datang kemari, hah?"
Yi Wen membentak, "Hei. Tidak bisakah kau bicara yang baik-baik?"
"Tidak apa-apa, Nona Wen." Wang Zhao berujar pelan dan menatap Liu Wei Lin. Dia menelan ludah dan berusaha bicara, "Di saat seperti ini.. Tolong jangan memulai pertengkaran. Aku berat meninggalkan tempat itu dan juga berat melupakan tempat ini. Tidakkah kau tahu, betapa sulitnya untukku?"
"Ya sudah, kalau begitu bantu kami." Liu Wei Lin melempar potongan kayu yang ditangkap dengan tepat oleh Wang Zhao, "Ada seratus peti lagi yang harus dibuat."
Wang Zhao berkedip dan lantas tersenyum pahit, dia membungkuk hormat pada Yi Wen dan kemudian membantu para murid Istana Seribu Pedang membuat peti mayat.
Yi Wen kembali mencari Hu Li dan terkadang dia memanggil Bocah Pengemis Gila. Dia meninggalkan Wang Zhao bersama Liu Wei Lin dan juga para murid Istana Seribu Pedang.
Liu Wei Lin yang sedang mengangkat papan kayu nampak menatap Wang Zhao dan lantas bertanya, "Apa yang kau lakukan pada para warga di sektemu? Karena jika aku tidak salah ingat, korban yang lebih banyak berjatuhan berasal dari tempat tinggalmu. Kau tidak membuat acara pemakaman untuk mereka?"
Wang Zhao menatap Liu Wei Lin sejenak sebelum bernapas pelan. Dia pun berkata, "Tidak. Aku merasa ... Aku tidak pantas melakukannya..."
"Benarkah?"
"Kau ingat paman Wang Hu Zhuang?" Wang Zhao buka suara, "Dia tidak ikut berperang dan tidak mendukung siapa pun. Dia juga tidak membenciku, jadi aku memberikan penjagaan sekte padanya. Termasuk persiapan pemakaman,"
"Apa?" Liu Wei Lin berkedip. Dia mendengus, "Apa kau bodoh? Dia menjadi kaki tangan Qiao Nuan selama ini dan kau memberikan tanggung jawab sebesar itu padanya? Bagaimana jika dia justru memanfaatkan situasi dan mengambil alih Sekte Lembah Iblis?"
"Dialah yang sudah membantuku dan Tetua Meng keluar dari sekte itu. Menurutku dia orang yang baik,"
"Wang Zhao, kau ini polos sekali." Liu Wei Lin menggeleng pelan dan berkata, "Aku tidak mau tahu lagi. Jika sesuatu terjadi di sektemu, jangan bilang bahwa aku tidak memberimu peringatan."
Wang Zhao memperhatikan Liu Wei Lin dan lantas berkata, "Bagaimana denganmu sendiri? Masih ada anggota sekte--"
"Sshh, jangan membahasnya." Liu Wei Lin menyela, "Mereka bukan anggota sekteku dan aku tidak mau menerima mereka. Kau bisa mengatakan pada pamanmu itu untuk memberi mereka hukuman apa pun, terserah. Aku tidak peduli,"
"................." Wang Zhao tidak lagi bicara. Dia cukup lama terdiam sebelum pada akhirnya mulai buka suara. Nadanya terdengar sedih, "Aku sebenarnya ... Merasa tidak enak kembali kemari. Karena sekteku ... Murid-murid di sekte ini dan para murid di sekte lain mengalami kejadian paling buruk dalam hidup mereka. Aku merasa sangat menyesal,"
"Yaah, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi," Liu Wei Lin berujar tanpa nada. "Lagipula kau juga bisa dibilang tidak bersalah dalam hal ini, jadi jangan merasa bahwa kau memiliki tanggung jawab atas semua kerugian yang terjadi."
"Kurasa tidak," Wang Zhao menurunkan pandangan matanya. Dia mengusap pelan peti di hadapannya dan berkata, "Andai saat itu aku jauh lebih kuat... Mungkin tidak akan ada hal semacam ini. Tetua Murong Xun juga ... Tidak akan tiada,"
"Sudahlah, sikapmu yang selalu merasa menyesal atas perbuatan yang sama sekali tidak kau perbuat itulah yang membuatmu begitu menyebalkan di mataku. Berhenti menyalahkan diri sendiri,"
"Tuan Muda Liu Wei Lin benar," seorang murid Istana Seribu Pedang buka suara. Dia menepuk pelan punggung Wang Zhao dan tersenyum, "Ini semua sudah ditakdirkan oleh langit. Anda jangan merasa bersalah,"
"Terima kasih," Wang Zhao tersenyum tipis, tapi para murid Istana Seribu Pedang, termasuk Liu Wei Lin bisa melihat itu adalah senyuman yang mengandung kesedihan.
Wang Zhao berusaha membantu sebisa mungkin, dia bahkan sangat teliti dalam membuat peti sebagai tempat peristirahatan terakhir para murid Istana Seribu Pedang yang gugur. Bahkan saat hari menjelang malam pun, dia terus bekerja keras membuat peti itu.
Para murid dan tetua sekte yang melihat Wang Zhao begitu giat bekerja merasa kasihan pada pemuda tersebut. Mereka merasa bahwa Wang Zhao sengaja menyibukkan diri agar tidak teringat pada kesedihannya.
Tidak seorang pun yang tahu bahwa Wang Zhao melakukan ini semua bukan untuk menghilangkan duka, tetapi upacara atas keberhasilannya mengambil nyawa banyak orang tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
Wang Zhao mengukir simbol kelopak bunga pada setiap peti buatannya dan menatapnya lekat. Di mata orang lain, dia terlihat begitu terpuruk, nyaris kehilangan cahaya harapan. Tapi dibalik itu semua, hatinya tersenyum penuh kemenangan.
"Ini merupakan tanda .... Bahwa permainan yang baru sudah dimulai. Sayang sekali hanya Tetua Murong yang tiada, tetapi hasilnya pun tidak terlalu mengecewakan karena istana ini sudah banyak kehilangan murid-muridnya yang berbakat. Lain kali pasti ... Akan kubuat lebih banyak peti untuk dikuburkan bersama kalian semua,"
******
__ADS_1