![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang mengedarkan pandangan dan melihat kamar yang akan dia tempati bersama Wang Zhao. Dirinya baru saja akan memuji tempat ini saat tangannya tiba-tiba dipegang oleh seseorang.
"Shuxiang," Lan Guan Zhi meraih tangan Xiao Shuxiang dan ini membuat teman baiknya tersentak.
Zhi Shu mengerutkan kening melihat tindakan Lan Guan Zhi. Mo Huai dan Wang Zhao pun ikut penasaran.
"Ada apa?" Xiao Shuxiang bertanya.
"Aku ingin bicara,"
Tatapan Xiao Shuxiang berubah, dia tahu apa yang mau dibicarakan oleh teman baiknya. Dia pun menoleh ke arah Wang Zhao, "Kau istirahatlah dan tunggu aku. Kami keluar dulu sebentar,"
"Tu-Tuan Xiao?" Wang Zhao tersentak saat Xiao Shuxiang bergegas pergi begitu saja, bahkan tanpa menunggunya bicara.
Zhi Shu merasa ada sesuatu yang cukup serius melihat dari tingkah saudara Xiao-nya. Dia pun ikut meminta Wang Zhao beristirahat dan tidak perlu memikirkan hal apa pun. Zhi Shu mengikuti Lan Guan Zhi setelah berkata demikian pada Wang Zhao. Mo Huai mengikut di belakangnya.
Wang Zhao berkedip. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada teman-temannya, tapi dia juga tidak ingin mencari tahu. Jujur, ini bukan karena dia malas----tetapi tidak lain karena dirinya memang lelah.
Wang Zhao meletakkan pedang kayu yang selama ini selalu dia bawa di punggungnya. Pedang kayu yang besar itu terbungkus kain putih dan benar-benar berat. Hanya saja bagi Wang Zhao, dia sudah sangat terbiasa.
Di lain tempat, Xiao Shuxiang berjalan dengan ekspresi wajah yang serius. Lan Guan Zhi berada di sampingnya.
"Aku tahu apa yang ingin kau katakan," Xiao Shuxiang mulai buka suara, "Ini pasti karena anak-anak berandalan itu, kan?"
"......... Mn," Lan Guan Zhi mengangguk pelan. Dia memang meminta teman baiknya untuk mendisiplinkan Jian Yang dan beberapa orang murid Istana Seribu Pedang, tetapi dia tidak menginginkan ada di antara murid-murid itu sampai terluka parah.
"Ini salahku," Lan Guan Zhi berujar. "Aku terburu-buru menarikmu pergi. Saudara Jian pasti sangat kesakitan sekarang,"
Lan Guan Zhi terdiam beberapa saat sebelum kembali bersuara, "Hatinya pasti hancur. Dia tidak bisa berpedang lagi,"
"Kau jangan merasa bersalah, Lan'Er." Xiao Shuxiang menepuk pelan lengan teman baiknya, dia berkata. "Anak-anak itulah yang lebih dahulu memulai. Jika tidak dibuat jera, mereka tetap akan bersikap keterlaluan."
"Tapi, Shuxiang---"
"Jangan khawatir, aku punya rencana." Xiao Shuxiang tersenyum. "Mereka tidak akan lagi mencari masalah denganmu atau pun pada orang lain,"
"Saudara Xiao...!" Zhi Shu berseru. Dia pun berhasil menyusul saudaranya dan juga Lan Guan Zhi.
Xiao Shuxiang terlebih dahulu menatap Mo Huai, dia pun memanggil pemuda itu yang membuat Mo Huai tersentak.
*
*
Aaaakh...!
"Tahan, tahan sedikit lagi..." seorang pria tua nampak mengurut jari-jari tangan kanan Jian Yang dan membuat pemuda itu berteriak tragis.
Li Huanshou dan teman-temannya yang lain terlihat berwajah buruk. Mereka meringis dan seolah bisa merasakan sakit yang dialami oleh Jian Yang.
"Shi... Shizun..." Jian Yang berusaha untuk menahan air matanya, namun rasa sakit pada tangan kanannya bukanlah main-main.
__ADS_1
Tetua Jin Yufeng ada di ruangan tempat Jian Yang dirawat. Dia pun ikut ngeri melihat kondisi jari-jari Jian Yang yang terpelintir naik dan bahkan ada yang sampai menyentuh punggung tangannya sendiri.
Tetua Zhang Shan pun ada di ruangan itu. Dia membantu tabib tempat ini dan sekaligus membantu mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Jian Yang.
Aaaakh....!
Hanya saja, dari suara teriakan Jian Yang----dapat diketahui bahwa meski sudah dibantu oleh Tetua Zhang Shang, rasa sakitnya hanya berkurang sedikit.
AAAAKH....!!
!!
Mo Huai dan Lan Guan Zhi langsung berhenti ketika mereka tiba di depan pintu Paviliun Pengobatan. Keduanya terkejut mendengar suara teriakan yang jujur saja membuat ngilu.
"Tu-Tuan Muda Lan..." Mo Huai berusaha menelan ludah. Dia sangat gugup saat ini. Xiao Shuxiang memintanya untuk ikut dengan Lan Guan Zhi, sementara orang itu sendiri entah pergi ke mana bersama Zhi Shu.
Lan Guan Zhi bernapas pelan dan mulai mengetuk pintu Paviliun Pengobatan. Tidak butuh waktu lama sampai pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang murid Istana Seribu Pedang.
Murid itu tersentak kaget. Tidak disangka yang datang adalah Lan Guan Zhi. Para murid yang berada di dalam ruangan itu pun juga sama kagetnya saat melihat Lan Guan Zhi berjalan masuk diikuti oleh seorang pemuda asing.
"A-Yuan...?" Tetua Jin Yufeng berkedip, Lan Guan Zhi ternyata sudah pulang.
"Paman," Lan Guan Zhi memberi hormat pada Tetua Jin Yufeng dan juga Tetua Zhang Shan. Dia pun lalu memandang ke arah Jian Yang yang sedang diobati.
Aaakh...!
"Seseorang sudah menyerang Jian Yang. Tulang pada jari-jari di tangan kanannya remuk dan dipelintir ke atas." Jin Yufeng berkata, "Tetua Zhang dan tabib berusaha meluruskan kembali tulang pada setiap jari di tangannya itu, namun sepertinya meski sudah di tempatkan pada posisi yang seharusnya pun----Jian Yang tidak bisa lagi memegang pedang."
"Shizun...."
"Tenanglah, Nak. Sebentar lagi..." Tetua Zhang Shan mengusap pelan kepala Jian Yang. Dia tahu muridnya ini sangat nakal dan berandalan, tetapi dia juga begitu kasihan melihat kondisi muridnya.
"..............." Lan Guan Zhi bernapas pelan dan menoleh ke arah Tetua Jin Yufeng.
"Paman, dia Saudara Mo Huai." Lan Guan Zhi memperkenalkan pemuda yang dibawanya, "Dia akan mengobati tangan Saudara Jian,"
Li Huanshou tersentak saat mendengar ucapan Lan Guan Zhi. Dia spontan mengarahkan pandangannya pada pemuda yang praktiknya hanya berada di Forging Qi tingkat 2 tersebut.
Tetua Jin Yufeng, Tetua Zhang Shan, tabib dan para murid yang ada di ruangan itu juga tersentak. Mereka menatap Lan Guan Zhi dan pemuda bernama 'Mo Huai' itu secara bergantian.
"A-Yuan," Tetua Zhang Shan berujar. "Apa yang kau katakan ini, Nak?"
"Paman, Saudara Mo adalah murid dari dua tetua Sekte Lautan Awan. Biarkan dia memeriksa kondisi tangan Saudara Jian,"
Saat Lan Guan Zhi mengatakan Mo Huai adalah murid dari tetua Sekte Lautan Awan----ekspresi terkejut bukan main terlihat di wajah Jin Yufeng, Zhang Shang, Li Huanshou dan yang lainnya.
Mereka tercengang, tidak percaya bahwa pemuda yang memiliki praktik begitu rendah ternyata merupakan murid dari dua tetua Sekte Lautan Awan sekaligus.
"Silahkan, Tuan Muda Mo." tabib yang mengobati Jian Yang berdiri dan lantas mempersilahkan Mo Huai untuk duduk menggantikannya.
Mo Huai sendiri terkejut. Dia sejenak menatap Lan Guan Zhi dan saat melihat pemuda tampan itu mengangguk pelan, dirinya pun mulai memeriksa kondisi tangan Jian Yang.
__ADS_1
Aakh...!
"Ma-maaf," tangan Mo Huai terlihat gemetar, dia pun mengembuskan napas dan lantas meminta segelas air. Salah satu murid Istana Seribu Pedang lalu mengangguk dan segera mengambilkan air yang diminta.
Murid tersebut keluar dari ruangan dan dengan langkah yang terburu-buru. Dia terlihat dalam pandangan Xiao Shuxiang yang tengah bersandar pada sebuah batang pohon sambil menyilangkan tangannya.
"..............."
Ekspresi wajah Xiao Shuxiang sulit diartikan, apalagi bagi Zhi Shu. Gadis cantik yang berdiri di sampingnya itu juga nampak menatap ke arah Paviliun Pengobatan.
"Saudara Xiao, kenapa kau lakukan ini?"
"Mn? Apa maksudmu?"
Zhi Shu menarik napas dan menatap pemuda mempesona di sampingnya, dia pun berkata. "Kau menyuruh Mo Huai pergi bersama tuan muda Lan untuk mengobati Jian Yang. Bukankah lebih baik kau yang pergi? Jika seperti ini... Mo Huai-lah yang akan mendapat pujian dan tuan muda Lan yang akan dihormati..."
Zhi Shu terdiam sejenak dan seakan sulit melanjutkan ucapannya. Pandangan matanya kini agak tertunduk, "....... Dan kau sendiri.... Justru akan dibenci,"
"..............."
"Saudara Xiao, apa kau sangat suka jika terlihat seperti penjahat di mata orang lain?" Zhi Shu menahan sesuatu yang sangat menyesakkan di hatinya. "Yang kulihat sekarang ini .... Rasanya kau membuat Mo Huai dan tuan muda Lan seperti pahlawan. Mereka akan menyembuhkan Jian Yang dan mendapat pujian. Lalu bagaimana denganmu?"
Xiao Shuxiang tanpa ekspresi menatap gadis cantik di sampingnya. Dia lantas berkedip dan lalu tersenyum, "Shu'Er. Aku tidak butuh pujian dari siapa pun karena aku sudah sangat luar biasa. Cukup aku yang memuji diri sendiri, mengerti?"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan menggeleng pelan, dia melihat murid yang sebelumnya keluar kini telah datang dengan air dan kembali masuk ke dalam ruangan Paviliun Pengobatan.
Zhi Shu masih memperhatikan garis wajah pemuda di sampingnya. Ekspresi wajah Zhi Shu berubah serius. Dia memberi tatapan menyelidik pada Xiao Shuxiang.
"Saudaraku?"
"Mn? Apa?"
"Jawab dengan jujur. Di masa itu, lebih dari seratus tahun yang lalu----apa kau juga melakukan hal seperti ini? Membuat orang lain menjadi pahlawan, sementara kau menanggung kebencian dari banyak orang? Kau menyembunyikan kebaikan--"
"Kau bicara apa?" Xiao Shuxiang menyela dan lantas menyentil dahi Zhi Shu hingga gadis cantik itu merintih.
Xiao Shuxiang menggeleng, "Kau terlalu banyak membaca buku, Zhi Shu. Aiih... Sebaiknya jangan katakan hal yang bukan-bukan. Satu-satunya kebaikan dariku adalah berbuat jahat. Ayo pergi,"
Zhi Shu mengusap-usap dahinya dan nampak cemberut, dia pun menatap punggung Xiao Shuxiang yang semakin menjauh.
"Saudara Xiao...!" Zhi Shu berseru dan menyusul Xiao Shuxiang, "Kita perlu bicara serius. Kau harus menjawab pertanyaanku...! Saudaraku...?!"
Sesak di dalam dada Zhi Shu semakin bertambah. Dia merupakan salah satu orang yang sangat penasaran dengan detail dari masa lalu Xiao Shuxiang.
Bagaimana pemuda mempesona itu bisa dibenci oleh kultivator dari Ketiga Aliran? Menjadi ditakuti oleh hampir seluruh masyarakat di Benua Timur hingga mendapat gelarnya yang luar biasa.
Jujur saja, sebenarnya jika hanya cara bertarung saudaranya yang brutal----masih banyak kultivator dengan cara bertarung yang sama. Xiao Shuxiang bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai kebiasaan menarik keluar usus lawan saat bertarung. Pasti ada alasan yang lain.
"Saudara Xiao...! Tunggu aku..! Aku memikirkannya dan semakin penasaran. Kau harus mendengarkanku. Kita benar-benar perlu membahas ini...!"
"Kembali saja ke kamarmu dan tidurlah..!"
__ADS_1
*******