KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
58 - Bukan Ancaman


__ADS_3

Xiao Shuxiang menatap Dao Fang An, "Kenapa kau membawaku kemari?"


"Hanya di tempat ini aku bisa menceramahimu." Dao Fang An terlihat marah ketika berkata, "Sekarang jawab, kenapa kau melakukan itu kepada tuan muda Yan Tianhen?"


"Kau sendiri tahu kebenarannya, Kakek. Kau sendiri melihatnya. Dia yang lebih dahulu mencari masalah denganku, kenapa kau bersikap seolah akulah yang bersalah?"


"Nak, ada perbedaan status yang sangat besar antara 'Pelayan' dan seorang 'Tuan' bahkan bila tingkat kultivasi mereka tinggi. Kau sendiri hanya punya wajah yang bagus dan selain itu tidak ada yang dapat dibanggakan. Tetapi kau justru dapat dengan mudahnya membanting tuan muda Yan Tianhen dan melukainya. Apa kau tidak takut mati, hah?!"


Xiao Shuxiang menyilangkan tangannya, kedua pipinya menggelembung saat bergumam. "Aku jauh lebih takut menjadi orang baik."


Gumaman pemuda itu sangat pelan, Dao Fang An jelas tidak bisa mendengarnya dengan telinga tuanya tersebut. Pria itu justru mengira Xiao Shuxiang sedang merutukinya.


"Nak," Dao Fang An berbicara. "Aku membawa kau kemari tidak untuk membuatmu tewas dengan cara yang mengerikan. Aku membantumu sama seperti aku membantu kultivator yang lainnya."


Dao Fang An menjelaskan, "Banyak orang yang bermimpi naik ke Alam Kultivasi Atas demi meningkatkan bakat dan teknik mereka. Namun hanya sedikit yang terpilih dan sebagian besar justru adalah murid kebanggaan sekte masing-masing. Kau kebetulan adalah orang beruntung yang kupilih, jadi bisakah kau sedikit memberi hormat padaku?"


"........"


Dao Fang An melihat Xiao Shuxiang tidak mengatakan apa pun, tetapi dia tahu pemuda tersebut sedang merutukinya di dalam hati sekarang ini. Dia pun lantas berkata, "Kau bilang... Kau datang kemari untuk istrimu, kan? Apa kau tidak berpikir bahwa tindakanmu barusan selain membawamu ke dalam masalah juga bisa menyeret istrimu?"


"Kucing putihku akan baik-baik saja,"


"Aku tidak memintamu bicara!" Dao Fang An membentak, "Ada saatnya di mana kau harus bicara dan ada saatnya di mana kau menunduk dan diam."


"........"

__ADS_1


"Pahamilah kondisimu sekarang, Nak. Meski kau awalnya lahir dalam keluarga kaya raya dan diperlakukan layaknya 'Tuan Muda' yang manja, tetapi di tempat ini kau adalah pelayan! Sikap angkuhmu justru bisa membuatmu mati---" Dao Fang An tersentak saat bahunya disentuh oleh Xiao Shuxiang. Dia tersentak karenanya.


Xiao Shuxiang sendiri tidak merasa kesal diceramahi. Justru dia memperlihatkan senyuman yang begitu menawan. Dia dengan lembut berkata, "Kakek. Kita tidak saling mengenal, tapi aku berterima kasih karena kau membantuku datang ke tempat ini. Kau sangat baik karena begitu mengkhawatirkanku,"


"Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku hanya tidak ingin karena ulahmu, orang lain bisa ikut terkena imbasnya."


Xiao Shuxiang sudah menahannya sejak tadi dan kini tidak bisa lagi. Dia pun mulai tertawa hingga membuat Dao Fang An tersentak. Pria tua itu berkedip sambil memberikan ekspresi wajah yang tidak biasa.


Dao Fang An berbicara ketus, "Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu dari ucapanku,"


"Ha ha ha, kau benar. Tidak ada yang lucu dari ucapanmu, tapi tidak ada juga yang melarangku untuk tertawa." senyuman Xiao Shuxiang kembali terbentuk, dia pun bersuara pelan. "Dengar, aku tidak tahu seberapa berbahaya-nya pria bernama Yan Tianhen itu. Tapi kau juga tidak tahu apa pun tentangku."


Ekspresi wajah Xiao Shuxiang kali ini berubah serius. Dia berkata, "Kau melihat praktikku yang sangat rendah ini. Tentu dibandingkan orang-orang di sini, Xiao Shuxiang tidak ada apa-apanya. Tapi kau harus ingat, Kakek. Aku bukan tipe orang yang akan menerima setiap penindasan. Harusnya kau lebih mengkhawatirkan Yan Tianhen. Karena jika dia berani mencari masalah denganku, maka bukan hanya dirinya----tapi orang yang dekat dengannya pun tidak akan kulepaskan. Dan ini... Bukanlah ancaman."


Xiao Shuxiang kembali melanjutkan tugasnya mencabuti rumput. Kali ini dia dibantu oleh Mo Huai. Mereka berdua berada di dekat sebuah bangunan yang fungsinya sebagai tempat belajar Ling Qing Zhu dan para kultivator yang lain.


"Tuan Muda Xiao, kau tidak menemui Nona Ling hari ini?" Mo Huai bertanya sambil menaruh rumput yang sudah dicabutnya pada keranjang anyaman.


"Kucing Putih terlihat serius belajar. Aku tidak mau menganggunya, lagipula aku memiliki pekerjaan yang merepotkan dengan rumput-rumput liar ini."


Mo Huai bisa melihat betapa tekunnya Xiao Shuxiang mencabuti rumput dan menaruhnya di keranjang anyaman bambu. Dia mengembuskan napas dan merasa bahwa tindakan pemuda ini sangatlah sia-sia.


"Tuan Muda Xiao," Mo Huai berujar pelan. Ekspresi wajahnya serius, "Bukankah kau sebaiknya pergi berlatih pedang atau mencari cara menaikkan praktikmu? Jika terus seperti ini... Seseorang pasti akan menindasmu."


"Mn, kebetulan aku sudah ditindas tadi." Xiao Shuxiang berujar hingga membuat Mo Huai menatapnya. Dia melanjutkan, "Ada tiga orang murid Sekte Lautan Awan yang salah satunya bernama Yan Tianhe yang menindasku barusan. Mereka pasti sedang kesal sekarang,"

__ADS_1


"Tuan Muda Xiao? Kau baru satu malam di sini dan sudah membuat masalah?!" Mo Huai tidak tahu harus berkata apa, dia sungguh tidak percaya.


"Masalah selalu datang tanpa aku mencarinya. Ini seperti... Aku memang berjodoh dengan masalah,"


Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan menggeleng pelan. Kegiatannya mencabut rumput bersama Mo Huai disaksikan secara jauh oleh Dao Fang An.


Di sisi lain, Liu Wei Lin sedang bersama dengan empat orang murid terbaik Sekte Lautan Awan. Mereka adalah murid yang sangat terkenal di tempat ini. Bahkan sekte lain yang juga ada di Alam Kultivasi Atas menaruh hormat kepada mereka.


Sekte Lautan Awan sebenarnya memiliki 7 Puncak Gunung Suci. Ada tujuh orang guru terbaik di tempat itu yang praktik kultivasinya sudah mencapai tingkat 'Immortal'. Liu Wei Lin sendiri merupakan murid pertama Tetua Puncak Jiang.


Ada sekali dalam dua minggu, setiap murid teratas Puncak Gunung Suci akan melakukan pertemuan. Mereka biasanya duduk bercengkrama sambil sesekali saling beradu kekuatan. Namun setiap kali ada pertemuan seperti ini, hanya lima murid yang selalu bisa hadir.


Semua murid Sekte Lautan Awan tahu, bahkan Liu Wei Lin pun mengetahuinya. Satu-satunya tetua puncak gunung suci yang tidak pernah mengangkat seorang murid pun adalah Tetua Puncak Jin Cheng. Padahal sebenarnya, banyak yang ingin berguru dengannya.


Nada suara Wen Gao Chong terdengar menyindir ketika dia berkata, "Saudara Liu, kudengar kau akrab dengan seorang pelayan. Ada apa? Mungkinkah seleramu jadi menurun akhir-akhir ini, hm?"


"Dia bukan pelayan, statusnya bahkan lebih rendah daripada itu." Liu Wei Lin tersenyum dan menatap pria berpakaian merah gelap yang tubuhnya tinggi berotot itu.


Sambil menggerakkan pelan kipasnya, Liu Wei Lin kembali berkata. "Saudara Xiao Shuxiang itu adalah pencabut rumput yang baru di sekte ini,"


"Kau benar-benar menyebutnya 'Saudara'?" Wen Gao Chong tersentak, dia mendengus. "Hah, kau pasti sudah gila. Dia dari kalangan yang rendah, apa kau sungguh akan memanggilnya 'Saudara'?"


"Kenapa tidak boleh?" ekspresi Liu Wei Lin tidak berubah. Dia meminum teh yang berada di atas meja dengan penuh penghayatan.


******

__ADS_1


__ADS_2