KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
284 - Dunia Bawah


__ADS_3

Perahu Lan Guan Zhi menepi dengan sendirinya. Dia pun turun dan apa yang menyambutnya adalah pilar-pilar besar dengan patung serigala raksasa di atasnya.


Rahang patung serigala itu terbuka lebar, berwarna merah pekat dan mempunyai bau yang busuk. Rasanya seakan-akan bahwa patung itu sudah banyak menelan jiwa-jiwa yang penuh kekotoran dunia.


Semakin berjalan dekat, pilar-pilar ini makin menyeramkan. Bahkan setenang apa pun seorang Lan Guan Zhi, dia tetap bisa merasa gelisah.


Dia menahan napas saat melihat sebuah menara yang dindingnya tertulis *Dìyù dengan tulisan besar dan tebal.


^^^*Dìyù [地狱] \= Dunia Bawah^^^


Di tengah kegelapan yang ada, tulisan itu sangat jelas dan berwarna merah. Entah apakah itu tinta atau justru darah segar dari manusia yang hidup.


Lan Guan Zhi melihat ada semakin banyak orang yang berjalan di sekitarnya. Mereka adalah jiwa-jiwa yang telah meninggal, melayang menuju ke bagian terdalam dunia ini.


Jiwa-jiwa itu tidak peduli mereka wanita atau pria, tua atau muda, kaya maupun rakyat jelata---semuanya menempuh jalan sendiri menuju ke pintu masuk Dunia Bawah.


Lan Guan Zhi mengikuti jiwa-jiwa itu, melangkah dengan penuh kehati-hatian menuju pintu gerbang yang dijaga oleh seorang pengawal dengan wajah pucat dan bibir hitam pekat.


Penjaga gerbang ini duduk tenang sambil menginterogasi setiap jiwa yang baru saja meninggal. Ekspresi penjaga itu nampak malas, seakan dia orang yang sudah bosan terus melakukan pekerjaan yang selalu sama.


"Sebutkan nama dan bagaimana kau mati?"


"Aku, aku Bao Shuan. Mati karena perang,"


Lan Guan Zhi mendengarnya. Dia pun bernapas pelan dan memperhatikan saat penjaga gerbang mulai memberi stempel pada sebuah plakat yang menjadi tanda pengenal untuk memasuki Dunia Bawah.


"Jika aku reinkarnasi, bisakah aku lahir di keluarga bangsawan dan mendapat istri yang cantik? Paling tidak kepribadiannya lemah lembut, penyayang dan setia."


"Hah, standarmu terlalu tinggi. Apa kau pikir setelah masuk kau akan langsung reinkarnasi? Semua orang juga sedang menunggu. Waktu reinkarnasimu bisa cepat atau lama tergantung perbuatan yang kau lakukan selama hidup,"


"Tapi-"


"Pergi, pergi. Jangan menahan yang lain. Kau mengganggu antrian,"


Lan Guan Zhi memperhatikan setiap jiwa yang diinterogasi. Mereka mempunyai cara kematian sendiri-sendiri, bahkan memiliki perilaku yang berbeda-beda.


Ada jiwa yang tidak sabaran, ada yang terlihat gugup, arogan dan bahkan ada yang sampai melakukan pemberontakan. Satu-satunya yang tidak mengubah sikap adalah penjaga gerbang itu, dia masih duduk dengan malas.


Ada seorang pemuda berusia 16 Tahun dan mengenakan baju besi sederhana. Rambutnya dikuncir kuda, dihiasi cincin kuncir perak dan ikat pinggang berkepala singa yang melilit pinggangnya. Dalam sekali pandang, jelas sekali bahwa sosok ini mempunyai penampilan mencolok.


Tidak hanya itu, bahkan pribadi orang ini pun lebih dari yang dibayangkan. Sosok yang masih muda, tetapi sangat angkuh. Orang ini bahkan sampai berani memberi ancaman pada penjaga gerbang dan seakan tidak menyadari posisinya.


Keributan terjadi di detik berikutnya. Tapi penjaga gerbang itu hanya menanggapi dengan malas, tidak ada niatan untuk memberi balasan pada jiwa yang kurang ajar kepadanya.


Jiwa itu protes dan ingin reinkarnasi sekarang, namun hanya dalam sekali kipasan tangan dari penjaga---jiwa itu seketika menghilang dan entah apa yang terjadi padanya.


Lan Guan Zhi berjalan selangkah, kali ini adalah gilirannya. Dia menatap penjaga gerbang di hadapannya dengan sangat tenang dan penuh aura kesalehan.


"Namamu?" penjaga gerbang bertanya dengan malas. Dia hanya mengangkat matanya sejenak untuk melihat sosok di hadapannya.


"Lan Guan Zhi,"


Penjaga gerbang itu kembali menatap pria di hadapannya. Tatapan matanya menyipit saat buka suara, "Kau tidak memiliki cacat di wajahmu dan pakaian juga sangat bersih. Jadi bagaimana kau ini bisa mati?"

__ADS_1


"........ Penyimpangan Qi," Lan Guan Zhi menahan napas dan menjawab dengan sangat tenang. Sama sekali tidak terlihat betapa gugupnya dia sekarang.


"Ah ... Kau seorang kultivator? Pantas saja,"


"Mn," Lan Guan Zhi tetap tenang sebelum tiba-tiba mengerutkan keningnya. Entah bagaimana dia bisa melihat ekspresi wajah yang disembunyikan oleh penjaga gerbang ini. Jelas bahwa dirinya sedang diejek.


"..............." Lan Guan Zhi merasakan sakit di keningnya, namun hanya berlangsung singkat. Dia mengambil plakat yang diberikan oleh penjaga gerbang ini.


Lan Guan Zhi berjalan dan merasa sedikit kebingungan. Dia jelas melihat penjaga gerbang tadi hanya berekspresi malas, tapi seakan-akan dia menyaksikan raut wajah penjaga itu bahkan suara yang benar-benar meledek seorang kultivator.


Di dunia ini memang banyak orang awam dan mereka tidak memiliki bakat serta keberuntungan untuk berkultivasi. Jadi mengetahui ada kultivator yang mati karena penyimpangan Qi, tentu saja ini bagus untuk dijadikan bahan ejekan.


Lan Guan Zhi tahu ini. Tapi meski begitu, dia sama sekali tidak tersindir. Hal yang paling dia pikirkan sekarang adalah tentang bagaimana dia bisa melihat apa yang orang lain coba sembunyikan.


Pria berpakaian putih ini tidak tahu bahwa saat dia melihat penjaga gerbang tadi, kedua matanya tiba-tiba berubah warna menjadi sehitam malam dengan ribuan bintang di dalamnya sebelum kembali normal.


Lan Guan Zhi berjalan, menelusuri tanah gelap dan berbau. Langit merah seperti disirami tinta merah si atasnya dan ada cukup banyak orang di sekelilingnya.


Terdapat bangunan-bangunan di tempat ini, itu terlihat tersusun rapi dengan tata letak yang bagus dan nyaris mempunyai kemiripan yang sama dengan dunia asli. Bahkan bila hanya ilusi, ini tetap begitu sempurna.


Lan Guan Zhi mengedarkan pandangan. Memperhatikan setiap jiwa yang duduk di sisi jalan. Beberapa anak-anak berlari di sampingnya, bermain dan bercanda seperti yang mereka lakukan selama hidup.


Dia juga mendengar ada jiwa yang menangis sampai mengutuk takdir yang mereka miliki. Bahkan tidak sedikit yang mengeluarkan sumpah serapah dan seakan dunia sudah berhutang banyak padanya.


Lan Guan Zhi bernapas pelan. Dia masih ingat dengan jelas kenapa dirinya bisa sampai di sini, namun dia sama sekali tidak tahu bagaimana menemukan jiwa Xiao Shuxiang di tempat yang luas ini.


"..............." Lan Guan Zhi melangkah ke salah satu jiwa yang terlihat seperti pria tua. Dia pun buka suara, "Apa aku bisa bertanya sesuatu?"


Jiwa tua itu menengadah, menatap siapa yang baru saja mengajaknya bicara. Dia pun mengerutkan kening dan kemudian berkata, "Apa yang kau mau?"


Pria tua yang berwajah pucat itu nampak mengerutkan kening sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu siapa yang kau maksud,"


Lan Guan Zhi berkedip. Memang sulit untuk menemukan Xiao Shuxiang bila hanya menyebut nama. Dia butuh cara lain.


Lan Guan Zhi berjalan ke tempat lain dan kali ini menemui jiwa yang lebih muda. Sosok itu seperti seorang sarjana yang begitu fokus menulis puisi bahkan sampai mengabaikan panggilannya.


"Permisi? Apa bisa kupinjam kuas milikmu?" Lan Guan Zhi tetap tenang meski diabaikan. Dia menunggu sampai sarjana muda itu menoleh ke arahnya.


"Kau sedang bicara denganku?" sarjana muda itu buka suara. Wajahnya pucat dengan bekas merah yang melingkar di lehernya.


Lan Guan Zhi mengangguk pelan dan menyatukan tangannya. Dia berkata, "Aku sedang mencari seseorang. Apa bisa meminjam peralatan melukismu?"


Sarjana muda ini memperhatikan sosok di hadapannya baik-baik dan berdecak kagum. Dia baru pertama kali melihat pria yang dipenuhi aura penuh wibawa serta sulit ditentang.


"Ahem," sarjana muda itu terbatuk dan kemudian berkata. "Sebenarnya aku menyewakan peralatan melukisku dengan beberapa lembar uang kertas. Jadi ..."


Lan Guan Zhi berkedip, isyarat ini entah bagaimana dia bisa memahaminya dengan baik. Masalahnya, dia tidak menyangka bahwa bahkan uang pun bisa dibutuhkan di tempat semacam ini.


Lan Guan Zhi berujar tenang, "Aku baru tiba di sini, hari ini. Tidak membawa uang sama sekali,"


"Tidak ada uang, tidak ada bantuan. Pergi..!" sarjana itu langsung membentak dan memperlihatkan wajah yang masam.


Lan Guan Zhi tentu saja tidak menyangka akan mendapat bentakan semacam ini. Dia baru saja akan pergi ketika tiba-tiba matanya melihat sesuatu dan ini adalah masa lalu dari sarjana di hadapannya.

__ADS_1


"Kematian yang tidak wajar. Kau diculik seseorang yang tidak dikenal dan lantas dibunuh. Jika kau ingin keadilan, masih belum terlambat meminta."


Ucapan Lan Guan Zhi membuat sarjana muda di depannya tersentak. Dia pun kembali berkata dengan helaan napas yang terdengar sedikit berat.


Lan Guan Zhi berujar, "Namun apa yang membuatmu kehilangan nyawa ini juga berhubungan dengan sikapmu. Kau tidak pernah melakukan derma dan sering kali menyalahkan langit atas takdir burukmu,"


Sarjana itu menelan ludah. Dia memang pernah diperingatkan hal semacam ini sebelumnya, tetapi memang sifatnya sangat keras kepala. Jadi karena itulah dia punya banyak musuh.


"Teman--"


"Tuan, kau melakukan kesalahan yang sama. Puisi indah bisa dibuat dengan memahami sekitarmu, tapi kau mengabaikannya. Kau justru tanpa sadar menyinggung orang lain,"


Sarjana muda itu tertegun, namun kedua matanya memperlihatkan keterkejutan yang amat sangat. Seakan-akan dia sudah lama mencari jawaban ini dan baru mengetahuinya sekarang.


"Jadi ..." sarjana muda itu berkedip, "Jadi ini sebabnya aku ... Bisa mati?"


Dia berkata, "Aku selama ini mengira bahwa takdirku sangat sial. Aku hanya belajar setiap hari, tidak pernah berbuat hal yang merugikan orang lain, tapi tidak disangka aku sudah membuat musuh tanpa disadari."


"Tidak yakin. Kurasa kau menyadarinya," Lan Guan Zhi berujar tenang.


Sarjana muda itu memperhatikan sosok di hadapannya dan kemudian menarik napas dalam-dalam. Dia menundukkan pandangan dan seperti baru mengingat sesuatu.


Sarjana itu berkata, "Aku sudah berada di sini selama empat ratus hari. Kegagalan pada hidup sepertinya membuatku tidak mempunyai teman. Bahkan tidak ada yang membakar uang kertas untukku. Haaah ... Di dunia hidup terasing, bahkan di alam baka pun juga terbuang."


"..............." Lan Guan Zhi memperhatikan sarjana muda ini dan dia berkedip saat disodorkan kuas dan kertas.


Sarjana muda itu melihat pria berpakaian putih di depannya mulai melukis sebuah subjek. Dia pun berkata, "Apa kau sedang mencari kekasihmu di sini?"


"Dia temanku," Lan Guan Zhi masih fokus melukis wajah teman baiknya yang akan mudah dikenali.


"Mm ... Laki-laki dan perempuan itu sangat mustahil bisa berteman. Salah satu dari mereka pasti mempunyai perasaan,"


Goresan dari kuas Lan Guan Zhi sedikit menjorok karena mendengar ucapan dari sarjana ini barusan. Dia pun menatap pemuda di hadapannya dan kemudian buka suara.


Lan Guan Zhi berkata, "Dia laki-laki."


"Ah, maaf. Kupikir temanmu perempuan karena kau terlihat peduli dengannya,"


"..............." Lan Guan Zhi menarik napas dan meletakkan kembali kuas yang dia pinjam.


Dia memperhatikan lukisan paling cepat yang bisa dilakukan. Ini sebenarnya tidak terlalu bagus, tapi setidaknya beberapa hal masih cukup mirip dengan teman baiknya.


"Siapa namamu?" Lan Guan Zhi bertanya dengan suara yang tenang.


Sarjana itu menjawab, "Chu Gao Ye. Apa sekarang kau akan pergi?"


"Mn, aku harus mencari temanku. Terima kasih atas bantuannya, Tuan Chu."


"Ah ... Yah, tidak masalah. Tapi aku tidak tahu siapa namamu--"


"Aku harus pergi,"


"Hei..!" sarjana itu tersentak saat pria dengan pita rambut berwarna merah itu mulai pergi begitu saja. Dia pun lantas mengembuskan napas dan tiba-tiba saja mendapatkan sebuah inspirasi.

__ADS_1


******


__ADS_2