![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Nak! Tunggu aku..!" Bocah Pengemis Gila menggelengkan kepalanya, "Ya ampun. Kenapa dia cepat sekali?"
Bocah Pengemis Gila terus mengikuti Xiao Shuxiang meski semakin lama, dia sama sekali tidak bisa menyusul pemuda itu.
Bukan berarti Bocah Pengemis Gila melemah, tetapi tenaganya memang cukup terkuras sebab sebelumnya harus menghadapi Yan Qi Lou. Di sisi lain, Mao Lin Lin hampir saja membunuh Tetua Xia Longhua andai tidak dicegah oleh Tetua Murong Xun.
!!
"Patriarch..!" seruan para murid Istana Seribu Pedang menggema. Mereka tersentak saat Tetua Murong Xun menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi Tetua Xia Longhua dari serangan Mao Lin Lin.
Tanpa energi spiritual, serangan Mao Lin Lin jelas sangat mematikan. Tapi karena tubuh Tetua Murong Xun adalah tubuh yang sudah banyak ditempa oleh latihan fisik, serangan tersebut tidak langsung menghabisi nyawanya.
"Senior..!" Tetua Xia Longhua membantu Tetua Murong Xun dan menggunakan pahanya sebagai bantalan untuk kepala pria berusia 40 Tahunan tersebut. Raut wajah Tetua Xia Longhua begitu cemas, nyaris pucat pasi.
Tetua Murong Xun terbatuk darah, dia merasakan sakit pada dadanya dan kemungkinan besar ada tulang rusuknya yang retak. Tatapannya tajam saat menatap Mao Lin Lin.
"Pecundang!" salah seorang murid dari Istana Seribu Pedang menggerakkan dan menatap tajam ke arah Mao Lin Lin. Dia berkata, "Kalian takut dengan kekuatan para Tetua kami hingga menggunakan senjata suci untuk mengunci energi spiritualnya. Tidak tahu malu!"
Mao Lin Lin tersenyum dan kemudian berkata, "Kenapa? Apa kau merasa ini tidak adil? Ha ha ha, dunia memang tidak adil. Jadi kalian harus terbiasa, bukankah begitu?"
Tetua Xia Longhua mengepalkan kedua tangannya. Jika dia masih memiliki energi spiritual saat ini, maka dirinya pasti sudah menendang keluar anak perempuan yang gila ini.
Mao Lin Lin masih sangat muda, dan dia juga terlihat seperti anak perempuan baik-baik. Namun sangat tidak disangka bahwa sosok yang nampak polos ini sudah banyak mengambil nyawa murid Istana Seribu Pedang.
"Benar-benar menyenangkan melihat sosok yang begitu disegani sekarang berada di bawah kakiku." Mao Lin Lin tersenyum lebar. "Aku jadi tidak tega membunuh kalian,"
Tetua Murong Xun melihat Mao Lin Lin yang tertawa mengejek. Dia berusaha keras menarik energi spiritualnya, namun memang tidak ada yang terasa. Jika kondisinya terus seperti ini, maka tidak mungkin mereka semua akan selamat.
__ADS_1
Mao Lin Lin mendengar suara keras dan menatap ke arah langit. Ada dua cahaya yang jatuh dan detik berikutnya sebuah suara menggetarkan tanah terdengar. Dia tahu bahwa salah satu cahaya itu adalah Hei Lian, namun dirinya agak ragu dengan siapa Hei Lian bertarung.
Ada suara keras lain yang terdengar dan itu berasal dari pertarungan Wu Tong Fu. Rekan Mao Lin Lin itu tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk melakukan serangan. Bahkan Wu Tong Fu terlihat tanpa ragu mencabut satu per satu tangan lawannya.
Di lain tempat, kondisi yang berbanding terbalik terlihat dari pertarungan Liu Wei Lin. Pria berpakaian merah dan memakai kipas sebagai senjata itu terlihat begitu tenang saat mengibaskan senjatanya dan menebas leher lawan.
Ekspresi wajah Liu Wei Lin begitu serius dan terukur. Setiap langkahnya pasti dan ketika dia mengibaskan kipasnya, kepala lawan satu demi satu terlempar dan lalu menggelinding di tanah.
"Lari ... Kita harus lari..!" salah seorang anggota Sekte Lembah Iblis berekspresi pucat dan bahkan berkeringat dingin. Dia tidak mau lagi menghadapi sosok di depannya. Liu Wei Lin terlalu kuat untuk mereka hadapi.
"Bukankah harusnya kau bersekutu dengan kami?" seorang anggota Sekte Lembah Iblis menunjuk Liu Wei Lin dengan memakai pedangnya. "Sekte Lembah Hantu seharusnya membantu kami menaklukkan tempat ini. Kenapa kau justru bersikap sebaliknya?!"
Liu Wei Lin tidak menjawab. Ekspresinya sulit diartikan, tetapi dari yang terlihat dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh para anggota Sekte Lembah Iblis ini.
Baginya sekarang adalah menghabisi nyawa lawan yang tahu identitas aslinya. Bahkan termasuk memberikan mereka kematian yang paling menyakitkan.
Pemuda yang menggunakan pedang kayu sebagai senjata tersebut nampak terbatuk darah. Di sisi lain, musuh dari Wang Zhao juga tidak dalam keadaan yang baik. Liu Wei Lin melihat wajah Hei Lian yang begitu pucat.
Memanfaatkan kondisi dan peluang ini, dia pun tanpa ragu melesatkan kipas miliknya di saat Hei Lian baru saja akan bicara kepada Wang Zhao.
Lesatan dari kipas Liu Wei Lin seperti anak panah, begitu cepat dan bahkan sulit diprediksi. Hei Lian baru saja akan mencemooh Wang Zhao ketika matanya tiba-tiba terbelalak.
Wang Zhao terkejut bukan main. Dia juga tidak menyadari serangan yang datang dengan kecepatan luar biasa itu. Bahkan saking cepatnya, dia baru tersadar saat Hei Lian terbelalak dengan kipas yang menancap di lehernya.
Pemandangan itu sangat mengerikan, bahkan darah Hei Lian sampai memercik dan mengenai pipi kanan Wang Zhao. Dia kemungkinan besar tidak akan pernah menduga bahwa akan tewas dengan serangan mendadak semacam ini.
"Li-Lian'Er ..." Wang Zhao merasakan jantungnya berdetak kencang. Darah mengalir deras naik di kepalanya dan dia pun berusaha untuk bergerak.
__ADS_1
"Lian'Er..!?" Wang Zhao berseru dan segera menangkan tubuh Hei Lian sebelum anak perempuan itu jatuh ke tanah. Dia bahkan menjatuhkan pedang kayu miliknya.
Ekspresi Wang Zhao begitu rumit. Sosok tersebut sudah mengalami banyak luka luar dan luka dalam, kondisinya ini tentu saja disebabkan oleh Hei Lian. Tetapi dari tatapan matanya, Wang Zhao justru terlihat begitu perhatian pada anak yang sudah bahkan menginginkan nyawanya.
"Lian'Er? Lian'Er, apa kau mendengarku?" napas Wang Zhao tidak beraturan. Kedua tangannya gemetar saat mengangkat tubuh Hei Lian. Air menggenang di pelupuk matanya.
"Lian'Er..!!" Wang Zhao merasakan tubuh Hei Lian semakin dingin. Sosok dalam dekapannya ini bahkan sudah tidak lagi merespon. Dia sampai menangis saat memanggil-manggil Hei Lian.
Liu Wei Lin melompat turun dari dahan pohon tempatnya berpijak. Dia berjalan menghampiri Wang Zhao dan nampak mengerutkan kening. Dirinya pun lantas menundukkan sedikit dan mencabut kipas merahnya di leher Hei Lian.
Tindakan Liu Wei Lin ini mengejutkan bagi Wang Zhao. Pemuda itu menatap sosok yang baru saja datang dan sangat terkejut. "Ka-Kau..!"
"Ada apa denganmu? Kau menangis?" Liu Wei Lin tersentak dan mendengus, "Apa kau tidak waras? Kenapa menangisi lawanmu seperti itu?"
"Wei ... Lin ..." Wang Zhao menatap sosok di depannya dengan perasaan yang kesal dan campur-aduk. Dia menggeram, "Liu Wei Lin..! Kau-Kenapa kau membunuh Hei Lian?! Kenapa membunuhnya?!"
"Tentu saja dia harus dibunuh. Jika tidak, maka kaulah yang akan mati." Liu Wei Lin memperhatikan kipasnya yang sudah agak kotor. Dia pun berkata, "Berhentilah menangis. Anak perempuan yang ada di pelukanmu itu sama sekali tidak pantas ditangisi,"
Liu Wei Lin berkata, "Masih ada banyak hal yang harus dilakukan. Ayo ikut denganku dan selamatkan yang lainnya,"
Wang Zhao tersentak. Liu Wei Lin sadar dengan tatapan itu dan berkata, "Lihat apa yang sudah anak perempuan ini lakukan padamu? Jika saja aku membiarkannya, maka sosok yang terbaring di tanah adalah kau."
"Lian'Er-"
"Sudahlah, ayo ikuti aku." Liu Wei Lin memegang lengan Wang Zhao dan menariknya. Dia membuat pemuda itu tersentak.
"Apa yang kau lakukan?" Wang Zhao terkejut. Kedua tangannya dipegang dan ditarik oleh Liu Wei Lin.
__ADS_1
******