![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang membersihkan debu pada pakaiannya. Dia baru saja akan kembali bersandar pada pohon yang sebelumnya dia tempati saat seseorang menabrak lengannya.
Xiao Shuxiang spontan mengulurkan tangan dan menahan sosok itu agar tidak jatuh. Dia tersentak, namun tiba-tiba saja hidungnya mencium bau yang begitu menyengat.
"Arak!" mata Xiao Shuxiang membulat, "Hei, kau baik-baik saja?"
"Mmn, menyingkirlah." sosok berpakaian putih itu berdiri dan mendorong lengan Xiao Shuxiang, hanya saja tanpa tenaga. Dia kembali meminum arak yang ada di dalam kendi labunya.
Pemabuk berat itu tidak lain adalah Tetua Puncak Jin Cheng, Meng Hao Niang. Dia menyepitkan mata saat memperhatikan dengan jelas sosok yang menahannya agar tidak jatuh tadi.
Xiao Shuxiang tertegun, namun dengan cepat tersadar. Dia pun mendengus dan kemudian merampas kendi labu wanita berpakaian putih ini.
Xiao Shuxiang berkata, "Seorang wanita harusnya tidak mabuk-mabukan. Apalagi dalam kondisi siang hari begini,"
Meng Hao Niang tersentak, ini pertama kalinya ada orang yang berani merampas kendi labu miliknya. Bahkan termasuk berani menegurnya.
Meng Hao Niang berwajah gelap, "Kembalikan."
Xiao Shuxiang menepis tangan wanita pemabuk yang penampilannya berantakan ini. Dia mengendus sedikit kendi labu di tangannya dan berekspresi kecut, "Arak ini tidak seharusnya diminum oleh seorang wanita. Apa kau mau mati? Ini terlalu kuat,"
"Kau yang akan mati jika tidak memberikan itu padaku. Kembalikan,"
"Kau adalah wanita dewasa. Ini adalah sekte, apa pantas seorang wanita dewasa mabuk-mabukan? Kau akan memberi contoh yang buruk pada murid di tempat ini,"
"Lancang," Meng Hao Niang merebut paksa kendi labu miliknya. Namun dia tersentak saat pemuda asing ini bisa mengelak dengan mudah.
Xiao Shuxiang menangkis kepalan tangan wanita pemabuk tersebut. Dia terkesan sebab meski dalam kondisi yang mabuk berat, namun wanita ini tetap mampu memberinya serangan yang kuat. Hanya saja....
"Aku akan kehilangan muka jika sampai kalah dari pemabuk sepertimu," Xiao Shuxiang mengait kaki wanita berpakaian putih itu dan nyaris menjatuhkannya andai wanita tersebut tidak melompat.
Meng Hao Niang menyerang Xiao Shuxiang tanpa memakai energi spiritual. Gerakan-gerakan yang dia lakukan hanya gerakan biasa, namun mempunyai teknik yang mumpuni.
Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, wanita yang sedang dia lawan bukan kultivator biasa. Tidak ingin semakin larut dalam pertukaran serangan dengan pemabuk berat membuatnya mulai memberi serangan yang lebih serius.
"Berhenti...!"
Hampir saja Xiao Shuxiang dan Meng Hao Niang melakukan serangan dengan niat membunuh satu sama lain andai Mo Huai tidak segera berseru.
Teman Xiao Shuxiang itu baru saja keluar dan berlari cepat untuk memisahkan dua orang yang dikenalnya. Wajah Mo Huai terlihat sangat tegang.
"Berhenti, berhenti. Apa yang kalian lakukan?" Mo Huai memegang tangan Xiao Shuxiang dan menariknya. Dia jujur saja kaget karena pemuda ini hampir bertarung serius dengan sosok yang tidak lain adalah salah satu Tetua Gunung Puncak Suci.
__ADS_1
Meng Hao Niang mengambil kembali kendi labunya dan terlihat biasa saja. Ekspresi wajahnya masih tidak berubah, berbeda sekali dengan Xiao Shuxiang yang nampak kesal.
"Mo Huai, kenapa kau menahanku? Dia duluan yang mulai," Xiao Shuxiang berujar ketus.
Meng Hao Niang mendengus, "Kau yang merebut minumanku lebih dulu. Apa kau berani dengan Tetua Puncak Suci sepertiku, hah?"
Xiao Shuxiang tidak kalah sengit, "Tetua Puncak mana yang berani minum-minum begini? Apa kau mimpi di siang bolong begini, Nenek Tua?"
"Kau!" Meng Hao Niang cegukan dan nyaris oleng andai tidak segera ditahan oleh Mo Huai.
Xiao Shuxiang berkedip menyaksikan kejadian tersebut, dia menggeleng pelan. "Lihat? Bahkan berdiri saja kau harus dibantu. Sudahlah, kau harus berhenti minum."
Mo Huai menatap Xiao Shuxiang dan berkata, "Tuan Muda. Beliau ini memang salah satu Tetua Puncak Gunung Suci, Beliau ini bernama Tetua Meng Hao Niang. Anda tidak boleh berkata kasar padanya,"
Meng Hao Niang menyipitkan matanya, dia kurang jelas melihat wajah pemuda yang barusan mengatainya 'Nenek Tua'. Dia kembali cegukan dan menunjuk wajah Xiao Shuxiang.
Meng Hao Niang, "Kau... Saat aku sadar, aku akan memberi hukuman padamu. Kau .... Kau Bocah Berandalan Kecil. Aku akan ingat wajahmu,"
Xiao Shuxiang menggelang saat wanita dengan rambut kusut dan pakaian berantakan di hadapannya berbicara sambil menunjuk-nunjuk wajahnya. Dia jadi tidak berselera melayangkan bogem mentah pada wanita pemabuk ini.
Meng Hao Niang mendorong pelan Mo Huai, "Lepaskan aku! Aku tidak mabuk. Menjauhlah!"
Mo Huai tersentak kaget dan menjadi agak khawatir. Dia melihat bagaimana Tetua Meng Hao Niang berjalan dengan langkah yang goyah, seakan wanita itu dapat ambruk sewaktu-waktu.
Xiao Shuxiang terkejut dan spontan menoleh ke belakang. Dia mengusap-usap kepalanya karena merasa baru saja ditimpuk sesuatu. Matanya langsung bertemu pandang dengan Meng Hao Niang yang memegang botol labu.
Meng Hao Niang jelas merupakan pelaku yang menimpuk kepala Xiao Shuxiang dengan benda di tangannya. Jangankan pecah, botol labu tersebut bahkan dapat memantul kembali saat berhasil memberi pelajaran pada Xiao Shuxiang. Mo Huai sendiri sampai tidak bisa berkata apa-apa saking kagetnya.
Meng Hao Niang berkata ketus, "Aku bukan pemabuk! Awas saja jika sampai aku melihat wajahmu lagi, hik..." Meng Hao Niang kembali cegukan, dia berujar dan menunjuk Xiao Shuxiang. "Awas jika kau menyebutku 'Nenek Tua' lagi. Kau akan ...."
Xiao Shuxiang tertegun saat melihat wanita berambut berantakan itu kembali menenggak arak dalam kendi labunya dan berjalan pergi tanpa melanjutkan ucapannya barusan. Dia baru berkedip saat sosok Meng Hao Niang sudah makin menjauh.
"Aduh..." Xiao Shuxiang mengusap-usap kepalanya, "Gara-gara melihat tingkah anehnya... Aku sampai melupakan rasa nyut-nyutan di kepalaku. Isshh... Dia itu Shizun-nya siapa, sih? Aku yakin, dia pasti tidak punya murid."
Mo Huai bersuara pelan, "Sebenarnya banyak orang yang ingin menjadi murid Tetua Puncak Jin Cheng, hanya saja beliau sendiri yang tidak mau. Tetua Puncak Jin Cheng adalah orang yang pemilih,"
"Ah ... Begitu. Tidak peduli juga sih," Xiao Shuxiang menoleh dan bertanya, "Kenapa kau lama sekali di dalam? Kulitku hampir melepuh gara-gara menunggumu di luar,"
Mo Huai tersentak dan sedikit menahan senyum, "Tuan Muda Xiao. Aku minta maaf, Ehm... Bagaimana kalau kita cari tempat yang lebih baik untuk bicara?"
"Mn? Oke. Aku juga tidak mau lama-lama di sini, ayo."
__ADS_1
Mo Huai mengikuti Xiao Shuxiang dan berjalan pergi. Hanya saja tidak ada di antara mereka yang menyadari bahwa ada seseorang yang sejak tadi berdiri mengawasi mereka.
*
*
Xiao Shuxiang kembali ke wilayah barat Sekte Lautan Awan dan duduk bersama Wang Zhao serta Mo Huai di dalam gubuk bambu miliknya. Dia dan Wang Zhao tidak bisa menahan rasa terkejut mereka.
Wang Zhao, "Kau serius diangkat murid oleh Tetua Puncak Jiang?!"
Mo Huai mengangguk pelan, "Jujur aku ingin menolaknya. Tapi ... Aku tidak bisa berkata apa-apa di hadapan banyak tetua hebat seperti mereka. Apalagi di dalam sana juga ada para murid terbaik sekte ini. Aku saja sudah sangat bersyukur karena bisa berjalan keluar dari ruangan itu dengan selamat. Sampai sekarang pun .... Kakiku masih gemetaran,"
Xiao Shuxiang, "Tapi apa maksudmu dengan kau juga diangkat menjadi murid oleh Tetua Puncak Jin Cheng? Kau ini diangkat menjadi murid oleh dua tetua sekaligus?"
"Tidak... Aku hanya menjadi murid dalam nama oleh Tetua Puncak Jin Cheng, yang akan membimbingku adalah Tetua Puncak Jiang. Kata para tetua... Aku akan mengisi kekosongan kursi di antara murid terbaik Gunung Puncak Suci."
Wang Zhao tidak bisa menahan rasa kekagumannya, "Hebat... Di sekte ini memang murid terbaik Gunung Puncak Suci hanya ada enam orang. Itu karena Tetua Puncak Jin Cheng tidak pernah mengangkat seorang pun kultivator untuk menjadi muridnya. Beliau itu adalah alkemis terbaik yang pernah ada. Jadi aku bisa menarik kesimpulan bahwa kursi untuk murid alkemis diturunkan padamu,"
Xiao Shuxiang tersentak, "Tunggu dulu. Ayo luruskan ini. Mo Huai bukan murid Sekte Lautan Awan, dia berasal dari Alam Kultivasi Bawah. Apa bisa manusia dari Alam Kultivasi Bawah diangkat murid oleh kultivator dari alam ini?"
Wang Zhao, "Kenapa tidak boleh? Selagi bakat Tuan Mo dapat menarik perhatian salah satu Tetua Puncak Gunung Suci, dia bisa belajar sebagai murid."
Xiao Shuxiang berkedip dan bersilang tangan, raut wajahnya agak berbeda saat dia bertanya. "Bakat ya... Mm.. Mo Huai? Kapan kau belajar alkemia? Kenapa aku bisa tidak tahu kau seorang alkemis,"
!!
Mo Huai sebenarnya sudah menunggu pertanyaan ini sejak tadi. Dia menutup mata sejenak sebelum mengembuskan napas, "Tuan Muda Xiao ... Inilah sebab kenapa aku ingin bicara di tempat yang tertutup."
Mo Huai menarik napas perlahan dan kemudian berujar pelan, dia menatap Xiao Shuxiang. "Kau tidak boleh marah saat aku mengatakan yang sebenarnya,"
Xiao Shuxiang, "Kenapa aku harus marah? Sudah, katakan saja. Kau jangan membuatku penasaran, ada apa?"
Mo Huai menelan ludah, dia benar-benar gugup namun hal ini harus dia ungkapkan. "Tuan Muda Xiao? Kau ingat tidak saat bertarung dengan beberapa orang di tenda milik tuan muda Nie? Ada satu orang yang entah sengaja atau tidak... Tapi kau membuat lengannya tertebas,"
Xiao Shuxiang berkedip, "Oh. Aku selalu ingat wajah orang yang kulawan. Aku memang sengaja menebas lengannya meski aku tidak tahu siapa nama orang itu. Memang kenapa?"
Mo Huai, "Dia adalah tuan muda Mu Fang dari Sekte Langit Petir. Aku ... Menolong tuan muda Mu Fang dengan Pil Napas Naga yang pernah kudapatkan darimu. Tuan muda Mu Fang juga mendapat undangan dari Alam Kultivasi Atas. Dia ... Entah bagaimana bertemu nona Yun Qiao Yue yang juga mengenalinya sebagai pria yang lengannya tertebas,"
Mo Huai merasakan tenggorokannya sakit, tetapi dia berusaha untuk kembali berbicara. "Tuan muda Mu Fang mengira pil yang kuberikan padanya itu adalah buatanku sendiri. Dia sepertinya memberi penjelasan seperti itu pada nona Yun Qiao Yue. Aku .... Kupikir Nona Yun yang memberi tahu para tetua hingga aku dipanggil. Mereka mengira aku adalah alkemis,"
!!
__ADS_1
******