![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang bernapas pelan ketika tiba di sebuah ruangan. Dia mengikuti Tetua Chen Duan Shan masuk dan tersentak ketika melihat Tetua Meng Hao Niang juga ada di dalam ruangan ini.
Selain Tetua Meng Hao Niang, terlihat juga Tetua Wang Haoran dan Tetua Huan Gui Fei. Kemudian ada tiga orang pria yang berpenampilan kumuh layaknya pengemis, bahkan ketiga orang itu nampak memegang masing-masing sebuah tongkat bambu.
"Ayo duduklah, Nak." Tetua Chen Duan Shan mempersilahkan Xiao Shuxiang untuk duduk. Di saat yang bersamaan seluruh pandangan para tetua itu mengarah pada pemuda mempesona tersebut.
Baru saja bokong Xiao Shuxiang menyentuh kursi, tiba-tiba saja terdengar ketukan tongkat bambu yang cukup membuat Wali Pelindung Ling Qing Zhu itu tersentak.
Tetua Besar Lembah Cahaya Surgawi berkata, "Pemuda ini tidak punya sopan santun. Jangankan memberi salam hormat, dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada Tetua Chen yang sudah mempersilahkannya duduk. Nak? Apa kau tidak diajari beretika di depan orang yang lebih tua?"
"Dia memang hanya pelayan, jadi mana tahu caranya berkelakuan sopan..." Tetua Meng Hao Niang menyindir dan kembali menenggak arak miliknya.
"Pelayan?" salah satu Tetua Lembah Cahaya Surgawi mendengus. "Hmph, justru karena statusnya yang seorang pelayan---dia harusnya tahu bagaimana cara bersikap di depan para tetua,"
"Ah .... Itu benar," Tetua Meng Hao Niang mengangguk pelan.
Xiao Shuxiang sendiri nampak berkedip, suasana hatinya menjadi buruk. "Apa aku dibawa kemari hanya untuk mendengar penghinaan para Tua Bangka ini? Hmph,"
Xiao Shuxiang menggeleng dalam hati dan mengembuskan napas pelan, dia berusaha menahan diri untuk tidak membalikkan meja di hadapannya dan menerjang para tetua ini.
"Aku tidak tahu sekuat apa mereka. Tapi jika harus mati di sini karena nekat melawan, aku pastikan akan menyeret mereka semua juga pada kematian. Itu pun jika aku tidak ragu membuat Kucing Putih menjadi janda, haiih... Kasihan gadis itu,"
Xiao Shuxiang menarik napas dan mencoba tersenyum, "Tetua. Aku minta maaf sudah menyinggung Anda. Aku sebenarnya gugup karena dibawa kemari oleh Tetua Besar Chen. Aku sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa karena rasa gugup itu,"
Xiao Shuxiang tidak berbohong. Pemuda mempesona itu memang sedang gugup sekarang. Jantungnya sampai berdebar antara ingin memberi jitakan pada Tua Bangka di hadapannya atau langsung merutukinya dan menyerukan bahwa dialah yang harusnya lebih pantas untuk dihormati, bukan malah sebaliknya!
"Bagus jika kau masih tahu caranya meminta maaf. Setidaknya wajah tampanmu kini lebih punya wibawa di mataku," salah satu tetua dari Lembah Cahaya Surgawi berujar dan membuat Xiao Shuxiang tersenyum getir.
Tetua Besar Shang lantas bertanya pada sosok pemuda yang duduk di depannya, "Apa benar kau yang bernama Xiao Shuxiang?"
Xiao Shuxiang berkedip dan kemudian mengangguk pelan, "Mn. Benar, itu memang namaku. Ini .... Sebenarnya ada apa? Aku .... Apa aku melakukan sesuatu yang tidak baik?"
Tetua Besar Wang Haoran mengusap pelan dagunya dan mengembuskan napas pelan. Dia berkata, "Tidak ada hal serius. Tetua Besar Shang dari Lembah Cahaya Surgawi ingin melihatmu. Karena itulah kau dibawa kemari,"
Xiao Shuxiang mengangkat sebelah alisnya dan kini tahu bahwa sosok pria bertongkat di hadapannya ini bernama Tetua Besar Shang. Dia memang cukup penasaran karena sosok di depannya mempunyai aura yang berbeda dari pria bertongkat bambu lainnya.
"Kudengar kau terluka? Apa kau kesulitan saat datang kemari?" Tetua Besar Shang bertanya sambil memperhatian Xiao Shuxiang dengan saksama.
__ADS_1
"Aku sudah cukup membaik sekarang meski memang punggungku masih agak perih,"
"Bagaimana dengan luka dalammu?"
"Lumayan membaik. Aku mendapat pengobatan dari tetua Chu dan dirawat dengan baik oleh teman-temanku,"
"Mn, baguslah." Tetua Besar Shang menoleh ke arah Tetua Meng Hao Niang dan kembali menatap Xiao Shuxiang. Dia menjelaskan, "Kau pasti sudah tahu bahwa Tetua Meng adalah seorang alkemis yang hebat dan karena kejadian besar yang tak terduga ini----Beliau harus merawat banyak murid yang terluka. Jadi jangan merasa bahwa dia tidak peduli padamu,"
"Aku sama sekali tidak berpikir demikian,"
Tetua Besar Shang mengangguk pelan dan sebelum bicara lebih jauh, dirinya menatap para tetua yang lain. Baru setelah mendapat anggukan dari rekan-rekannya, Tetua Besar Shang kembali menatap Xiao Shuxiang.
"Kudengar kau bertarung melawan penyusup yang mengacaukan konferensi dan berhasil mengalahkan mereka. Aku sebenarnya kagum padamu dan jika kuperhatikan baik-baik, kau memang tidak seperti kultivator dengan praktik Forging Qi tingkat 7 pada umumnya."
Xiao Shuxiang tersentak mendengarnya. Dia menatap Tetua Besar Shang, "Orang ini tahu sesuatu. Apa mungkin dia---"
"Segel Teratai Pengunci Qi di dahimu itu lebih kuat dari segel yang pernah kulihat. Aku bisa tahu kau mempunyai kekuatan besar yang sulit dikendalikan,"
"Dia tahu!" Xiao Shuxiang terkejut, dia bahkan sampai tidak sadar menyentuh dahinya. "Bukankah Bocah Pengemis Gila mengatakan bahwa segel ini bisa tidak terlihat jika aku menginginkannya? Lalu kenapa Tua Bangka ini bisa sampai tahu? Apa mungkin segel ini sekarang terlihat?"
"Mm .... Aku hanya melihat kualitas tulang anak ini yang lumayan. Tidak melihat segel apa pun," Tetua Huan Gui Fei yakin dengan apa yang dilihatnya.
Tetua Besar Shang berkata, "Tetua Huan memang tidak akan bisa melihatnya karena segel ini termasuk langka dan sangat jarang digunakan. Aku sendiri bisa tahu karena pernah belajar dan masih mendalami penggunaan dari Segel Teratai Pengunci Qi ini sampai sekarang,"
Tetua Besar Shang kembali menatap Xiao Shuxiang dan mulai bertanya, "Nak? Apa kau bisa memberi tahu aku siapa yang memberikanmu segel itu?"
"Dia lebih dikenal dengan sebutan Bocah Pengemis Gila. Pria abnormal yang jujur sangat menyebalkan. Dia pendekar dari Benua Tengah,"
Tetua Besar Shang dari Lembah Cahaya Surgawi nampak mengerutkan kening dan mulai mengusap-usap dagunya. "Bocah Pengemis Gila ...? Aku tidak pernah mendengar nama ini,"
"Aku juga tidak," salah satu tetua Lembah Cahaya Surgawi berujar, "Tetapi jika dia tahu tentang Segel Teratai Pengunci Qi ini, maka dia bukan orang sembarangan."
"Mm, kau benar..." Tetua Shang kembali bertanya pada Xiao Shuxiang, "Kau tahu siapa namanya?"
Xiao Shuxiang heran karena Tua Bangka di depannya ini seakan sangat penasaran dengan identitas Bocah Pengemis Gila, tetapi dia tetap memberikan jawaban. "Namanya Cakrabuana, dia juga suka membawa tongkat bambu seperti Tetua Shang dan orang itu tinggal di Jalan Para Pengemis. Apa mungkin dia salah satu orang yang pernah belajar di sekte Anda?"
Xiao Shuxiang hanya sekadar bertanya karena merasa ada kemiripan antara orang-orang dari Lembah Cahaya Surgawi dengan Bocah Pengemis Gila. Kemiripan yang dia lihat tentu saja karena mereka sama-sama selalu memegang dan membawa tongkat bambu ke mana pun.
__ADS_1
Tetua Besar Shang menggeleng pelan, "Aku tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Kurasa dia memang sosok pendekar yang hebat, tetapi tidak pernah mendapat undangan untuk naik ke Alam Kultivasi Atas,"
"Tetua Shang ...." Tetua Meng Hao Niang buka suara, "Meski aku tahu kau sangat penasaran dengan orang berjulukan Bocah Pengemis Gila itu .... Namun kau harusnya ingat tujuan kita membawa Berandalan Kecil ini kemari,"
Xiao Shuxiang menatap Tetua Meng Hao Niang dan mendengus. Wanita pemabuk ini memang sangat ahli dalam memberi julukan pada orang sepertinya. Hebat sekali dan begitu menyebalkan.
"Ucapan Tetua Meng benar," Tetua Besar Shang mengembuskan napas dan lanjut bicara, "Shuxiang. Karena segel yang ada di dahimu itu, aku jadi semakin yakin bahwa kau mempunyai potensi yang besar. Apa kau mau belajar di bawah bimbingan para tetua dari kelima sekte besar dari Alam Kultivasi Atas ini?"
!!!
Xiao Shuxiang seperti mendengar suara petir dari dalam kepalanya. Dia terkejut dengan ucapan Tua Bangka di depannya yang bahkan tidak terlihat bercanda itu.
"Ini ...." ekspresi Xiao Shuxiang jelas masih syok berat, dia berusaha mengatur napas sebelum mulai bertanya. Suaranya sedikit bergetar, "Maksud Tetua Besar Shang .... Aku .... Aku--"
"Tentu saja kau sedang ditawari untuk belajar langsung di bawah bimbingan para tetua. Tidak hanya satu Tetua Besar, tetapi kami semua bermaksud untuk menerimamu sebagai murid."
"Ini kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya," Tetua Chen Duan Shan tersenyum dan berkata, "Aku sendiri juga sangat ingin agar kau bisa belajar di bawah bimbinganku."
Xiao Shuxiang tersentak. Dia menatap satu demi satu tetua di ruangan ini dan mengembuskan napas. Dia menggeleng pelan dan lantas mendengus di dalam hati, "Hah. Yang benar saja? Mereka ingin mengangkatku menjadi murid? Aku? Xiao Shuxiang?!"
Bukannya ingin angkuh, tetapi sosok Xiao Shuxiang sangat anti pada hubungan guru-murid semacam ini. Dia dahulu sudah pernah mengakui tua bangka bertubuh anak kecil yang bernama Duan De sebagai guru, tetapi bahkan sampai sekarang pun mereka berdua masih belum melakukan ritual guru-murid dan sekarang Xiao Shuxiang justru ditawari menjadi murid orang lain?! Ini ....
"Hah, luar biasa. Bagaimana mungkin Yang Mulia ini diangkat murid oleh orang lain?" Xiao Shuxiang bernapas pelan. Dia memikirkannya, "Jika mereka sekarang ini tidak sedang bercanda, maka pasti ada sebab yang lain. Aku sama sekali tidak sepolos itu sampai harus meng-iyakan ajakan Tua Bangka ini."
Xiao Shuxiang bukanlah kultivator pemula yang akan sangat senang dan langsung menerima tawaran menggiurkan seperti ini tanpa sekali pun mengedipkan mata.
Sepak-terjangnya dalam dunia kultivasi tidak main-main. Xiao Shuxiang tidak akan pernah lupa dengan pengalaman yang dia dapatkan ketika hidup di lingkungan Aliran Hitam.
Xiao Shuxiang tersenyum tipis, pandangan matanya sedikir tertunduk. "Bagaimana yah .... Ini .... Benar-benar sangat mengejutkan,"
Xiao Shuxiang tahu benar bahwa manusia itu mempunyai hati yang unik dan sulit diprediksi. Tidak peduli orang itu yang disebut sebagai manusia setengah dewa sekali pun---dia tetaplah makhluk hidup yang memiliki hati.
Luar biasanya, Xiao Shuxiang tahu satu fakta besar ini. 'Justru para kultivator yang disebut sebagai manusia setengah dewa-lah yang mempunyai hati paling berbahaya dibandingkan dengan orang yang tak berlatih kultivasi.'
Lainnya, Xiao Shuxiang pun tahu dengan fakta bahwa sangat jarang ditemukan kebaikan yang tidak memerlukan imbalan. Apa yang ditawarkan padanya ini jelas memiliki maksud tersembunyi dibaliknya.
******
__ADS_1