KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
67 - Pertemuan (2)


__ADS_3

Hari itu dan di dalam hutan yang cukup lebat, Wang Zhao mulai dilatih.


Awalnya Xiao Shuxiang meminta dirinya melakukan push up hingga seratus kali. Wang Zhao tentu bisa melakukannya karena sudah terbiasa dengan latihan ini. Namun saat tiba pada perintah kedua, dia mulai kesulitan.


Xiao Shuxiang menyentuh sebuah pohon besar dengan tangan kanannya dan memakai Qi di alam untuk dialiri pada batang pohon yang hidup itu. Angin aneh berhembus dan detik berikutnya titik-titik cahaya terbentuk, memadat hingga menjadi serangga indah bersayap putih.


Wang Zhao terlihat sangat kagum pada pemandangan di depannya. Apalagi serangga yang dari jenis kupu-kupu itu terbang menyelimuti batang pohon dan seperti masuk ke dalamnya.


Tidak butuh waktu lama sampai batang pohon tersebut bergetar dan mulai menyusut hingga dahan serta daunnya menghilang. Wang Zhao terpukau ketika melihat satu batang pohon dalam waktu cepat menjadi sebuah pedang kayu yang lumayan besar.


Xiao Shuxiang dengan ekspresi tenang memegang pedang kayu itu dan melemparkannya hingga tertancap indah di tanah, tepat di depan Wang Zhao.


!!


Masalahnya saat ujung pedang itu tertancap----tanah langsung retak dan membuat Wang Zhao terkejut. Bisa dikatakan pedang ini kemungkinan sangatlah berat.


"Coba kau ayunkan pedang itu," Xiao Shuxiang berujar.


Wang Zhao menelan ludah, dia pun ragu-ragu mengulurkan tangan sebelum mulai mengembuskan napas pelan. Wang Zhao kemudian memegang gagang pedang kayu itu dan berusaha menariknya.


!!


"Ini berat." Wang Zhao menatap Xiao Shuxiang karena sangat sulit menarik pedang kayu yang tertancap di depannya.


"Kau ini pria, kan? Apa otot-ototmu itu hanya pajangan?"


"Tapi aku tidak punya otot, aduh!" Wang Zhao berusaha keras menarik pedang kayu di hadapannya. Dia bahkan sampai memakai dua tangan.


"Kalau begitu bentuk ototmu mulai dari sekarang. Jangan jadi pria yang cantik!" Xiao Shuxiang mengepalkan tangannya dan menyemangati Wang Zhao.


"Pakai energi spiritualmu, satukan dengan kekuatan fisikmu, kemudian campurkan dengan semangat. Kau pasti bisa melakukannya!" Xiao Shuxiang jadi lelah sendiri karena terus bicara, dia pun mengembuskan napas dan melihat bagaimana Wang Zhao berusaha keras.


Butuh waktu beberapa menit sampai pedang kayu setinggi satu meter itu berhasil diangkat----namun tetap saja Wang Zhao menjatuhkannya. Pemuda tersebut nampak sudah kehabisan tenaga.

__ADS_1


"Aku... Aku seperti... Mengangkat sebuah pohon..." Wang Zhao terengah-engah, dia berbaring di tanah sambil mengatur napasnya.


"Usahamu lumayan, tapi kau baru mengeluarkan ujungnya dari tanah. Ini tidak belum bisa dibanggakan." Xiao Shuxiang meminta Wang Zhao bangun.


"Selanjutnya kau seret pedang kayu itu mengitari wilayah hutan ini. Mungkin mengelilingi lingkungan sekte ini, ayo lakukan." Xiao Shuxiang memberi perintah.


Wang Zhao mencoba bangun, dia menatap pemuda tersebut dengan penuh rasa tak percaya. "Tuan Xiao? Bukankah itu hal yang mustahil?"


"Tidak ada cara instan untuk menjadi orang yang kuat dan hebat. Kau ingin jadi sepertiku, kan? Maka lakukan,"


Wang Zhao mengumpulkan tenaganya dan mulai berdiri. Dia memegang kuat gagang pedang kayu itu dengan dua tangan dan berusaha keras menyeretnya.


"Rasanya benar-benar aku... Menyeret sebuah pohon besar. Ya Tuhan..! Ini... Sangat sulit sekali,"


"Kau bisa mengeluh, Saudara Wang. Tapi jangan menyerah. Ayo berusahalah," Xiao Shuxiang menyilangkan tangannya. "Aku akan menunggumu di batu tadi, kau tidak boleh berhenti sebelum berhasil dengan satu putaran penuh."


"Dia ini... Kenapa kejam sekali," Wang Zhao berusaha keras menarik pedang kayu setinggi satu meter itu. Urat nampak menegang di leher dan juga dahinya.


Xiao Shuxiang sendiri benar-benar pergi ke arah batu tempatnya duduk tadi. Dia menunggu Wang Zhao sambil mulai memikirkan sesuatu. Hanya saja tidak berselang lama sampai dua orang pria terlihat berjalan mendekatinya.


"Saudara Xiao," pria yang memegang kipas merah itu melambaikan pelan tangannya sambil tersenyum ramah. Tindakannya membuat Xiao Shuxiang yakin dengan nama yang dia sebut tadi.


Memang benar bahwa salah satu pria yang menghampiri pemuda itu adalah Liu Wei Lin. Kultivator yang merupakan murid dari Gunung Puncak Jiang, Sekte Lautan Awan.


"......" Jiao Feng yang berjalan di sisi Liu Wei Lin memperhatikan pemuda tampan di hadapannya.


Sosok yang bernama Xiao Shuxiang itu memakai pakaian putih, namun warna kedua lengan pakaiannya adalah hitam.


Pemuda yang dia lihat ini mempunyai senyuman ramah dan wajah tampan yang nampak polos. Jiao Feng merasa tidak yakin bahwa pemuda yang dilihatnya tahu cara bertarung.


"Saudara Liu?" Xiao Shuxiang turun dari batu tempatnya duduk. Dia menghampiri Liu Wei Lin dan berujar, "Kau ini mau ke mana?"


"Aku ingin menemuimu, apa kau sedang istirahat?"

__ADS_1


"Yaah... Aku memang sedang istirahat sebentar di sini,"


"......." Jiao Feng hanya mendengarkan percakapan antara Liu Wei Lin dengan Xiao Shuxiang sambil terus mengamati dalam diam pemuda mempesona di depannya. Dia seakan-akan sedang mengukur kemampuan Xiao Shuxiang.


"Saudara Xiao, aku ingin mengenalkanmu pada salah satu tetua puncak di sekte ini. Beliau adalah Tetua Puncak Bai, Tetua Jiao Feng. Beliau memiliki murid paling banyak di sekte ini," Liu Wei Lin tersenyum dan kemudian menoleh ke arah pria di sampingnya, dia pun mengenalkan teman barunya. "Tetua Jiao, dia adalah Xiao Shuxiang. Teman baruku sekaligus orang yang kuceritakan tadi,"


Entah apa yang dikatakan Liu Wei Lin tentangnya kepada sosok pria berwibawa di hadapannya ini----namun Xiao Shuxiang tetap bersikap ramah. Dia tidak bisa membaca praktik Jiao Feng dan karena itulah dia merasa perlu bersikap hati-hati.


Sambil menyatukan kedua tangannya, Xiao Shuxiang membungkuk memberi hormat. Jika orang yang mengenalnya melihat ini----mereka pasti akan sangat terkejut. Pasalnya Xiao Shuxiang adalah orang yang sangat ogah-ogahan dalam memberi hormat pada orang lain.


Jiao Feng berkedip dan seperti tidak menyangka dengan respon yang diberikan sosok pemuda di hadapannya. Dia pun menyatukan tangan dan ikut membalas hormat dari Xiao Shuxiang.


Di sisi lain, justru Liu Wei Lin yang kaget melihat adegan tersebur. Dalam hal ini, sudah jadi kebiasaan dan hal yang mutlak ketika Tetua Puncak Gunung Suci dihormati oleh para murid termasuk pelayan. Dan sebenarnya Jiao Feng hanya perlu menggumam atau mengangguk pelan sebagai respon, bukan ikut memberi hormat seperti ini. Apalagi diketahui bahwa status Xiao Shuxiang sendiri bahkan lebih rendah dari pelayan pada umumnya, dia hanyalah tukang pencabut rumput liar.


Liu Wei Lin, "Te-Tetua Jiao...?"


Jiao Feng tersentak. Dia seakan baru menyadari reaksinya barusan. Dia pun terbatuk pelan dan kembali bersikap seperti sosok tetua yang seharusnya.


"Cara teman barumu dalam memberi hormat sangat sempurna dan penuh ketulusan. Aku sampai terpesona. Rasanya seakan dihormati oleh sosok penguasa. Ini pertama kalinya aku sangat puas melihat seseorang,"


Xiao Shuxiang berkedip sebelum akhirnya tersenyum, dia mengusap tengkuknya. Ini juga yang pertama kalinya dia berperilaku seperti itu. Dalam hati dia memuji diri sendiri, "Aku memang luar biasa. Jika menginginkannya.... kurasa sebenarnya aku bisa menjadi murid teladan seperti Lan'Er atau kakak iparku. Tapi... Aku tidak bisa mempertahankannya dalam jangka waktu yang lama."


Jiao Feng berbicara lembut pada Xiao Shuxiang, "Seperti yang dikatakan Wei Lin----Aku adalah salah satu tetua dari sekte ini. Kedatanganku kemari karena aku penasaran denganmu,"


"Mn? Aku...?" Xiao Shuxiang berkedip.


"Bisa aku menanyakan sesuatu?"


Xiao Shuxiang mengangguk pelan, "Tentu saja. Memang apa yang ingin Tetua Jiao ketahui?"


Tetua dari Gunung Puncak Bai rupanya adalah orang tipe orang yang tidak banyak bicara. Dia langsung menanyakan inti kedatangannya kemari kepada Xiao Shuxiang.


Jiao Feng, "Sebenarnya aku sedang merawat tiga orang muridku yang terluka cukup parah. Saudara seperguruan mereka yang menemukan ketiganya di dalam hutan dan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Perlu waktu berhari-hari bagi ketiganya untuk pulih dan saat salah satu di antara mereka siuman----dengan jelas dia menyebutkan namamu. Katanya kaulah yang sudah menyerang hingga membuat mereka terluka parah, apa itu benar?"

__ADS_1


!!


******


__ADS_2