![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang meletakkan sebuah keranjang bambu berisi akar ginseng merah dan melihat Zhang Xiao Lian yang begitu serius memilih bahan terbaik untuk pil buatannya.
Xiao Shuxiang tidak tahan untuk tak bicara. Dia pun berkata, "Aku yakin bahan-bahan itu sudah kualitas terbaik. Kenapa masih memilihnya lagi?"
"..............."
Tidak ada jawaban. Xiao Shuxiang mendapat keheningan sebagai balasan, padahal dia sudah mencoba membuka pembicaraan.
Sambil mengembuskan napas, Xiao Shuxiang pun mengangguk pelan. "Aku mengerti, kau tidak mau diganggu. Baiklah,"
Xiao Shuxiang berbalik dan bermaksud mengambil keranjang dari anyaman bambu yang lain. Hanya saja, dia tetap tidak berhenti bicara.
"Kau tahu, mungkin kau harus membuat pil yang dapat membantumu agar bisa lebih cerewet. Atau paling tidak, buatlah pil yang bisa sedikit melembutkan wajah dingin dan kakumu itu. Sangat sayang jika kau tidak punya teman, padahal kau ini cantik."
"............ Terima kasih,"
Xiao Shuxiang tersentak mendengar suara Zhang Xiao Lian. Dia pun spontan menoleh dan nampak berkedip tidak percaya.
Xiao Shuxiang berkata, "Kau berterima kasih untuk apa? Aku tidak sedang memujimu,"
Zhang Xiao Lian berbalik, dia menatap Xiao Shuxiang cukup lama sebelum berujar tanpa nada. ".............. Kau mengatakan aku cantik. Terima kasih,"
Xiao Shuxiang tertegun selama beberapa saat, sebelum tersenyum pahit. "Dari sekian banyak ucapan yang kulontarkan, dia justru berterima kasih hanya karena aku menyebutnya cantik? Tsk, tsk, tsk, luar biasa."
"Ehm .... Nona Zhang, apa boleh tahu pil yang akan kau racik ini?" Xiao Shuxiang bertanya sambil membawa keranjang anyaman terakhir dan meletakkannya di dekat Zhang Xiao Lian.
"............. Ramuan cinta,"
Xiao Shuxiang tersedak napasnya. Dia terbatuk dan langsung menatap gadis yang tidak ada manis-manisnya sama sekali ini. Dirinya pun berujar dengan ekspresi wajah yang tak percaya, "Kau .... Serius mengatakannya?"
"Mn,"
"Nona Zhang, apa itu .... Afrodisiak?"
"Efeknya tidak sekuat itu,"
"Tunggu, bukankah ini ilegal? Kau ...." Xiao Shuxiang menatap horor Zhang Xiao Lian. Tidak disangka, gadis berwajah sedingin gunung es ini adalah orang yang seperti 'itu'. Dia jadi ngeri sendiri.
Zhang Xiao Lian sendiri sepertinya tahu apa yang dipikirkan oleh pemuda di sampingnya. Dia pun berujar tanpa nada, "Obat ini legal dan merupakan ramuan untuk Demonic Beast peliharaan Shizun,"
"A-Ah, begitu ..." Xiao Shuxiang tertawa pahit, "Aku sempat berpikir yang bukan-bukan. Ehm .... Tapi ada apa dengan demonic beast peliharaan Shizun-mu?"
".............. Itu seekor Phoenix Api. Ingin dikawinkan dengan phoenix jenis lain,"
Xiao Shuxiang mengangguk pelan. Dia mulai mengerti dan lantas bertanya secara acak. "Apa kau pernah membuat ramuan jenis ini sebelumnya?"
".............. Mn,"
"Bagaimana penggunaannya?" Xiao Shuxiang mulai tertarik. Dia sampai memasang ekspresi wajah yang penuh rasa penasaran.
Zhang Xiao Lian memperhatikan pemuda di sampingnya dan lalu berujar, "Itu harus dicampur dengan makanan atau minuman. Ia akan mulai jatuh cinta pada lawan jenis pertama yang dia lihat,"
Xiao Shuxiang berwajah pucat, "Apa ini tidak masalah? Bukankah itu perbuatan yang memaksa?"
"Phoenix Shizun bukan manusia. Jika tidak dilakukan, maka tidak akan ada keturunan. Bisa punah,"
"Tapi .... Pada usia tertentu bukankah seekor Demonic Beast bisa memiliki tubuh fisik layaknya manusia? Mereka juga akan mampu bicara dan bertindak seperti manusia. Kenapa harus---tunggu. Kenapa aku jadi memikirkannya? Ini kan bukan urusanku,"
Xiao Shuxiang terkejut dengan dirinya sendiri. Entah bagaimana dia mulai memikirkan makhluk hidup lain. Ini bahkan membuatnya merinding.
"Ada apa?" Zhang Xiao Lian bertanya saat melihat pemuda di sampingnya berwajah agak pucat. Ekspresi Zhang Xiao Lian sendiri masih tidak berubah.
__ADS_1
Xiao Shuxiang berdeham dan lalu bertanya untuk mengalihkan perhatian, "Apa efek dari ramuan buatanmu ini permanen?"
"............. Tidak. Hanya bertahan sehari,"
Xiao Shuxiang berkedip, "Bukankah itu terlalu singkat. Apa yang akan terjadi selanjutnya jika efeknya hilang?"
Zhang Xiao Lian bernapas pelan dan lalu menjelaskan, "Ramuan cinta .... Hanya sebuah pancingan. Phoenix merupakan hewan yang angkuh, tidak jujur pada perasaan sendiri. Jadi ini adalah ramuan agar ia bisa lebih terus terang,"
"Contohnya seperti apa? Aku benar-benar tertarik,"
"Jika ada rasa suka pada lawan jenis, ramuan ini akan memperkuat efeknya. Seperti itu,"
Mata Xiao Shuxiang yang jernih nampak semakin terang, dia tersenyum dan lalu bertanya. "Apa kau pernah mencoba ramuan buatanmu pada manusia?"
".............. Kau mau mencobanya?"
"Te-tentu saja tidak." Xiao Shuxiang spontan menjawab, "Aku jelas tidak mau menjadi kelinci percobaan ramuanmu."
Zhang Xiao Lian melihat bahwa pemuda ini menjadi salah tingkah. Dia bahkan melihat Xiao Shuxiang mengusap-usap lengannya seakan merinding geli.
Zhang Xiao Lian bernapas pelan dan lalu berkata, "Kau ternyata memang menarik. Seperti yang dikatakan Qing Zhu'Er."
"Qing Zhu'Er...? Apa Kucing Putihku?" Xiao Shuxiang berkedip. Dia memperhatikan gadis di sampingnya dari atas sampai bawah dan lalu bertanya, "Kau mengenali Kucing Putihku...?"
"Xiao Shuxiang. Kau suami Ling Qing Zhu, kan?"
"Benar. Lalu kenapa?"
"..............." Zhang Xiao Lian cukup lama terdiam sebelum berkata tanpa nada, "Junior Qing Zhu'Er sering membicarakan tentangmu. Kau mempunyai karakter yang menarik,"
Xiao Shuxiang tidak salah mendengarnya dan dia sampai tertegun untuk beberapa saat. Dirinya pun angkat bicara, "Kucing Putihku .... Apa selalu berbincang denganmu?"
".............. Mn,"
".............. Bagaimana menurutmu?"
"Ayolah, Nona. Bagaimana aku bisa tahu? Siapa yang bisa menebak isi hati gadis dengan wajah papan datar itu? Aku sendiri bahkan masih syok karena baru tahu bahwa dia selalu membicarakanku di belakang punggungku,"
"..............." Zhang Xiao Lian tidak bicara. Dia membuat Xiao Shuxiang merasa lebih penasaran lagi dan memang seperti yang Ling Qing Zhu katakan, pemuda ini sangat banyak bicara.
*
*
Di hari itu, Xiao Shuxiang terus membujuk Zhang Xiao Lian sambil memperhatikan gadis tersebut yang mulai meracik ramuan miliknya.
Tetua Meng Hao Niang memperhatikan tingkah Xiao Shuxiang, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya duduk bersandar sambil menikmati arak pada kendi labu miliknya.
Zhang Xiao Lian menggunakan energi spiritual untuk mengangkat bahan-bahan pembuat ramuannya dan memasukkan berbagai tanaman itu ke dalam periuk besar.
Konsentrasinya sama sekali tidak terganggu meski Xiao Shuxiang tidak berhenti untuk mengajaknya bicara.
"Bocah Berandalan," Tetua Meng Hao Niang akhirnya buka suara karena tidak lagi tahan. Dia berkata, "Bisakah kau tak mengganggu orang yang sedang belajar? Jika kau sudah tidak punya sesuatu yang harus dikerjakan, maka pergilah."
Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan berjalan ke arah Tetua Meng Hao Niang. Dia berdiri di samping wanita itu dan lalu berkata, "Tetua Meng. Kau tidak tahu apa pun. Kucing Putihku membicarakan aku di belakangku. Entah apa yang dibahas gadis itu kepada Nona Zhang. Firasatku tidak enak dan merasa bahwa aku telah dibicarakan buruk,"
"Hmph, apa ada kebaikanmu yang bisa dikatakan pada orang lain? Kau hanya berandalan, pembuat masalah, tidak tahu malu, dan bahkan tidak sopan pada orang tua."
Xiao Shuxiang terperangah dan lantas menggeleng pelan. Dia pun berdecak, "Tetua Meng. Apakah kau tidak ingat bahwa aku sudah menyelamatkan sekte ini? Aku juga mengikuti apa pun yang kau katakan, termasuk membersihkan periuk besarmu. Tidakkah itu sebuah kebaikan?"
Tetua Meng Hao Niang memperhatikan pemuda di sampingnya dari atas sampai bawah. Dia pun berkata, "Baiklah. Aku akan menganggapmu sebagai pelayan yang berbakti. Sekarang pergilah,"
__ADS_1
"Hah, pelayan .... Jadi aku pelayan? Kau bahkan langsung mengusir begitu selesai menggunakanku. Bagus ... Bagus sekali," Xiao Shuxiang berujar dengan nada yang mengejek. Dia pun menatap Zhang Xiao Lian saat mendengar suara dengingan yang kuat.
Zhang Xiao Lian telah selesai membuat ramuan miliknya. Gadis berpakaian putih itu menggunakan energi spiritualnya untuk mengisi sepuluh botol giok dengan cairan berwarna persik.
Xiao Shuxiang bertanya pada Tetua Meng Hao Niang. "Apa kau tahu bahwa dia membuat sebuah ramuan cinta?"
"Tentu, dia mendapat izin dari Shizun-nya." Tetua Meng Hao Niang menjawab dengan nada yang malas.
Xiao Shuxiang berkata, "Ramuan itu bukan diajari olehmu?"
Tetua Meng Hao Niang meminum arak miliknya dan lalu berkata, "Aku bukanlah bagian dari sekte ini. Jadi kemampuanku tentu tidak kuberikan pada sembarangan orang. Aku hanya meminjamkan periuk milikku padanya,"
"Aiya, kau tidak boleh pelit seperti ini..." Xiao Shuxiang berkata, "Tua Bangka itu sudah memberimu tempat tinggal. Paling tidak, kau harusnya membantu sekte ini meski hanya sedikit. Atau mungkin .... Kau tidak tahu caranya membalas budi."
"..............." Tetua Meng Hao Niang menatap pemuda di sampingnya. Dia pun kembali meminum arak miliknya dan lalu berkata, "Bagaimana denganmu sendiri? Apa kau tahu caranya membalas budi?"
Xiao Shuxiang mendengus, "Tentu saja. Jika ada orang yang berani membuatku membungkuk, maka akan kuhancurkan tempurung lututnya. Bukankah itu balas budi?"
Tetua Meng Hao Niang mengembuskan napas pelan dan berkata, "Kurasa kau perlu mencoba ramuan buatan Xiao Lian. Kau punya masalah dalam hati nuranimu, tidak ada cinta di dalamnya."
"Apa?!" Xiao Shuxiang tersentak saat mendengar ucapan Tetua Meng Hao Niang. Alisnya bertaut, dia baru akan buka suara saat Tetua Meng Hao Niang kembali bicara.
"Apa kau tidak pernah mengajukan pertanyaan pada dirimu sendiri tentang apa yang kau sukai? Atau tentang siapa yang sebenarnya kau suka?"
Zhang Xiao Lian telah selesai dengan pekerjaannya. Dia pun menoleh dan memperhatikan pembicaraan Tetua Meng Hao Niang dengan pemuda yang mempesona tersebut.
"..............." Xiao Shuxiang menatap wanita di sampingnya tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Tetua Meng Hao Niang menyadari hal itu dan meminta Zhang Xiao Lian untuk membawakan satu botol giok yang berisi ramuan kepadanya. Gadis berpakaian putih itu mengangguk mengerti.
Tetua Meng Hao Niang mengambil botol giok pemberian Zhang Xiao Lian dan memperhatikannya sebelum menatap ke arah Xiao Shuxiang.
Dia pun berujar tanpa nada, "Kau seorang alkemis. Kupikir kau dapat melakukan sesuatu untuk menyempurnakan obat ini. Setidaknya bisa sedikit mencuci hatimu,"
Xiao Shuxiang spontan menangkap botol giok yang dilemparkan Tetua Meng Hao Niang padanya. Dia tersentak dan mulai memperhatikan benda di tangannya.
Xiao Shuxiang pun mendengus, "Apa kau ingin aku mengeluarkan organ dalamku dan mencucinya dengan ini? Aku tidak memerlukannya. Ambil kembali,"
Tetua Meng Hao Niang berkata, "Kau punya masalah dengan hati nuranimu. Apa pun yang kau lakukan, tidak akan menghasilkan hal yang baik. Sebelum hatimu yang sakit itu pulih, otakmu akan terus memikirkan pembunuhan. Kau tidak akan bisa mengalahkan Iblis Mimpi jika hatimu tidak diperbaiki,"
"..............." Xiao Shuxiang memperhatikan Tetua Meng Hao Niang dan wanita itu pun kembali bersuara.
Tetua Meng Hao Niang berkata, "Karena aku berasal dari wilayah aliran yang sama denganmu----aku bisa sangat mengerti. Kultivator dari Aliran Hitam .... Kebanyakan tidak dibesarkan dengan cinta. Mereka membuang hati nurani mereka, menganggap itu adalah kelemahan. Apa kau yang mengalami hal semacam itu ... Tidak menyadarinya?"
"..............."
Tetua Meng Hao Niang mendengus, "Melihatmu menatapku dan hanya diam, sepertinya kau sama sekali tidak bodoh. Ini adalah pelajaran pertamamu dariku, pergilah."
"..............." Zhang Xiao Lian sendiri sebenarnya tidak mengerti ada masalah apa antara Tetua Meng Hao Niang dengan Xiao Shuxiang. Suasana di sekitar kedua orang ini terasa agak menegangkan.
Hanya saja, dia terlalu kaku untuk mengajukan pertanyaan. Apalagi kini, pemuda mempesona itu mulai berjalan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Tetua Meng Hao Niang sendiri menatap punggung Xiao Shuxiang yang hampir melangkah keluar dari kediamannya. Dia baru akan meminum araknya saat tiba-tiba terdengar suara dari pemuda itu.
Xiao Shuxiang menoleh dan berkata dengan nada yang serius, "Sesuatu yang kusukai .... Mustahil akan diterima oleh orang lain. Dan siapa pun yang kusuka .... Tidak akan mengalami akhir yang bahagia. Jika hati nurani yang kau katakan bukanlah kelemahan, maka tidak mungkin sekte ini dan dirimu sendiri akan berakhir begitu menyedihkan,"
Tetua Meng Hao Niang menatap Xiao Shuxiang yang kini mulai melangkah keluar dari kediamannya. Dia nampak memegang kuat kendi labu miliknya dan seakan menahan sebuah emosi.
"..............." Zhang Xiao Lian sendiri bisa melihat tatapan mata Xiao Shuxiang tadi. Ada hal yang tersembunyi dalam ucapan pemuda itu, apalagi sepertinya----Tetua Meng Hao Niang menjadi tersinggung.
******
__ADS_1