![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Coba lihat, siapa itu~"
"Waah~
Beberapa murid Sekte Pedang Langit nampak tersenyum saat melihat seorang anak laki-laki berusia 7 Tahun yang berjalan menggunakan pakaian putih bercorak aliran air khas sekte mereka.
Anak ini mempunyai pupil mata seperti harimau dan berwarna biru. Sesekali ekor putih dengan corak hitam nampak bergerak dari balik pakaiannya. Setiap kali anak ini lewat di depan para murid, aura menyenangkan tersebar.
" A-Xiao, ayo kemari. Kakak punya manisan gula untukmu," seorang murid perempuan Sekte Pedang Langit memanggil anak laki-laki yang tak lain adalah Lan Xiao tersebut. Dia dan rekannya berusaha membujuk Lan Xiao untuk bermain dengan mereka.
"Tidak untuk *hali ini, Kakak. Aku ingin menemui ayahku,"
^^^*hari^^^
"Kalau begitu hati-hati. Berjalanlah dengan baik,"
"Dia menggemaskan sekali saat bicara~"
Xiao Qing Yan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meski setiap hari menemui kejadian semacam ini, namun dia tetap saja belum terbiasa.
Pii...!
O Zhan melompat ke atas kepala Lan Xiao dan hanya butuh satu tarikan napas sampai anak laki-laki berusia 7 Tahun itu berubah menjadi harimau besar setinggi lima meter dengan tubuh yang perkasa.
Xiao Qing Yan tahu isyarat ini, dia pun lantas melompat naik ke punggung Harimau Bulan tersebut dan dibawa oleh Lan Xiao. Para murid Sekte Pedang Langit yang melihatnya begitu kagum dan sempat-sempatnya memanggil mereka.
Lan Xiao mengambil ancang-ancang dan kemudian membawa kedua temannya terbang. Mereka menuju ke Pagoda Tingkat Sembilan untuk menemui Lan Guan Zhi.
Di tempat lain, Rana Qisheng terlihat berdiri dengan menatap kemegahan bangunan pagoda di depannya. Dia terperangah dan berdecak kagum melihat betapa luar biasanya Pagoda Tingkat Sembilan ini.
"Nona Rana ..." salah seorang wanita yang merupakan pengasuh Rana Qisheng nampak tersengal-sengal dan berusaha menenangkan diri. Dia berkata, "Anda tolong jangan berlari secepat itu. Bagaimana jika Nona sampai terluka? Astaga ... Napasku,"
"Jadi ini tempat calon suamiku tinggal? Dia pasti orang yang sangat suka membaca buku. Pagoda Tingkat Sembilan bukankah gudang ilmu pengetahuan sekte ini?"
"Nona Rana, apa Anda mendengarkan kami?"
"Tidak," Ran Qisheng tersenyum dan dia pun berkata, "Aku akan naik ke sana dan melihat wajah calon suamiku."
!!
"Nona Rana, tunggu!"
"Ya ampun,"
Dua wanita yang menjadi pengasuh Rana Qisheng bergegas menyusul Nona Muda mereka. Keduanya terkejut saat Rana Qisheng melihat-lihat sekitarnya dan tersenyum ke arah salah satu pohon.
Kedua pelayan wanita itu tersentak kala menyadari apa yang akan Rana Qisheng lakukan. Mereka pun bergegas untuk mencegah nona mereka melakukan hal yang membahayakan diri sendiri.
"Nona! Kau akan jatuh, tolong jangan lakukan ini."
"Ya Tuhan. Tidak, tidak!! Jangan, kumohon jangan berbuat nekat. Ayo lewat pintu, lewat pintu."
"Tsk, kalian berdua berisik." Rana Qisheng berkata, "Jika lewat pintu ... Aku tidak akan tahu kebiasaan buruk apa yang disembunyikan oleh calon suamiku."
"Tapi ..."
"Kalian diam saja dan bantu aku,"
"Ta-tapi tempatnya tinggi..!"
Kedua wanita pengasuh Rana Qisheng syok sebab Nona Muda mereka begitu ngotot ingin memanjat. Gadis cantik ini hanyalah orang biasa di antara para kultivator. Rana Qisheng tidak berbakat kultivasi dan mengandalkan keberanian untuk mengajukan lamaran pada sekte paling besar di Kekaisaran Matahari Tengah.
Semua orang tahu bahwa Rana Qisheng adalah bangsawan dari Kekaisaran Matahari Tenggelam, namun identitas sebenarnya dari gadis ini masih rahasia dan mungkin hanya sedikit orang yang mengetahuinya.
"Nona Rana, hati-hati..!"
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
__ADS_1
*
*
Lan Guan Zhi baru saja mengantar Tetua Chun Bai Dao ke pintu saat mendengar suara berisik. Dia menutup pintu kamarnya ketika Tetua Chun Bai Dao sudah pergi dan kemudian berjalan ke arah jendela.
Rana Qisheng baru saja berhasil memegang ke arah pinggiran langkan dengan salah satu kaki berayun. Dia hendak mengangkat kakinya saat tiba-tiba saja seekor harimau besar menapak di langkan dan membuatnya terkejut.
Rana Qisheng berteriak dan tanpa sengaja pegangan tangannya lepas. Kedua wanita yang menjadi pengasuhnya berseru memanggil nona mereka.
Xiao Qing Yan tidak sempat bereaksi, dia sama sekali tidak tahu akan kehadiran orang asing ini, termasuk Lan Xiao sendiri. Namun sedetik itu juga sebuah kaki menapak di pinggiran langkan dan seseorang melesat keluar.
Sebuah tangan terulur dan menangkap tubuh Rana Qisheng sebelum hal yang buruk terjadi pada gadis itu. Sosok berjubah putih tersebut tidak lain adalah Lan Guan Zhi.
Xiao Qing Yan turun dari punggung Harimau Bulan dan segera melihat ke bawah. Harimau itu berubah kembali menjadi wujud anak kecil berusia 7 Tahun dengan rubah putih di atas kepalanya.
"Apa yang *teljadi?"
^^^*terjadi^^^
"Kau membuat seseorang terjatuh," Xiao Qing Yan menjawab.
"Apa gadis itu bodoh? Kenapa dia seakan *mencali kematiannya **sendili?"
^^^*mencari, **sendiri^^^
"Nona Rana! Anda baik-baik saja, kan?!"
Kedua wanita pengasuh Rana Qisheng terlihat begitu pucat. Mereka benar-benar takut jika Nona Muda mereka ini jatuh dan terluka. Untung saja seseorang menyelamatkannya tepat waktu.
Lan Guan Zhi menurunkan gadis yang entah datang dari mana ini. Dia memperhatikan sosok di hadapannya sebelum mengarahkan pandangan pada kedua wanita yang nampak berpakaian seperti pelayan.
Rana Qisheng berusaha mengatur napasnya dan kemudian mulai menengadah. Dia melihat pemuda yang sudah menolongnya dan sontak tertegun. Orang ini luar biasa menawan dan mempunyai aura dingin yang membekukan, tetapi memikat.
"Hai ..." Rana Qisheng melambaikan tangannya dan menyapa sosok di hadapannya secara tidak sadar.
Rana Qisheng seperti mendengar suara jatuh di dalam dadanya. Suara orang ini membuat jantungnya seakan sudah dicuri. Dia berkedip dan kemudian mengangguk. Suaranya pelan dan terdengar gugup saat berkata, "I-iya. Apa kau calon suami--Aduh!"
!!!
Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Kedua wanita yang merupakan pengasuh Rana Qisheng kaget bukan main saat Nona Muda mereka langsung mendapat jeweran di telinga dari pemuda berpakaian putih yang sangat tampan ini.
Rana Qisheng merintih, "Aduh.. Aduh.. Yuan-Gege. Aku salah, tolong ... Aduh,"
"Pembuat masalah," Lan Guan Zhi tidak melepas tarikannya. Dia membawa Rana Qisheng masuk ke bangunan Pagoda Tingkat Sembilan tanpa menghiraukan rintihan dan permohonan gadis nakal ini.
Xiao Qing Yan dan Lan Xiao saling berpandangan, mereka terlihat keheranan dengan apa yang baru saja terjadi. Tidak butuh waktu lama sampai terdengar suara pintu digeser.
"Yuan-Gege, telingaku ... Aduh. Ini memerah," Rana Qisheng mengusap-usap telinganya dan masih meringis. Dia memanyunkan bibirnya dan kemudian mengikuti Lan Guan Zhi yang duduk di depan sebuah meja.
Sambil mengusap telinganya, Rana Qisheng berjalan ke sekeliling ruangan dan begitu fokus memperhatikan setiap sudut kamar ini sampai sebuah lukisan bunga haitang mencuri perhatiannya.
Lan Guan Zhi memperhatikan gadis cantik berpakaian merah muda itu dan bernapas pelan. Dia pun menuangkan teh pada sebuah cawan keramik dan aroma khas minuman itu seketika membuat Rana Qisheng mengambil tempat duduk dengan baik.
Gadis cantik itu tersenyum, dia baru akan bicara saat dikagetkan dengan seorang anak laki-laki berusia 7 Tahun yang tiba-tiba mulai duduk di pangkuan pemuda di hadapannya.
Ekspresi Lan Guan Zhi tidak berubah, tetapi sejujurnya dia terkejut sebab anak laki-laki yang memakai pakaian sektenya ini tanpa tahu malu duduk di pangkuannya dan memeluknya.
"Ayah,"
Lan Guan Zhi berkedip, "Lan Xiao?"
"Yuan-Gege? Apa dia putramu?" Rana Qisheng terlihat syok, apalagi dia baru sadar bahwa tidak hanya anak laki-laki ini yang ada. Tetapi juga ada anak lainnya yang nampak berusia 14 Tahun dan seekor rubah kecil.
Xiao Qing Yan mengambil tempat duduk di samping Lan Guan Zhi dan menyilangkan tangan. Dia menatap gadis di hadapannya dan seperti menyelidiki.
Rana Qisheng menelan ludah dan merasa gugup karena ditatap aneh oleh anak berusia 14 Tahun di hadapannya. Dia pun berujar pelan pada Lan Guan Zhi, "Apa mereka ini anakmu?"
__ADS_1
Lan Xiao menatap gadis di hadapannya, dia masih memeluk Lan Guan Zhi dan berkata tanpa nada. "Tentu saja, apa kau tidak melihat *kemilipanku dengan ayahku?"
^^^*kemiripanku^^^
Rana Qisheng mendengus dan tersenyum. Dia pun berkata, "Setahuku ... Yuan-Gege tidak cerewet sepertimu,"
"Aku setampan Ayah dan *secelewet ibu," Lan Xiao menggelembung pipinya. Dia membuat Rana Qisheng mengusap pelan pipinya.
^^^*secerewet^^^
"Ehm ... Ngomong-ngomong, sepertinya yang mengejutkanku tadi adalah harimau. Tapi ... Aku tidak melihatnya lagi,"
Xiao Qing Yan memperhatikan gadis di depannya dan merasa bahwa sosok ini seakan sedang mengarahkan pembicaraan ke arah lain. Lan Guan Zhi sendiri hendak bicara soal harimau yang dilihat Rana Qisheng, namun bibirnya lebih dahulu dibungkam dengan dua jari Lan Xiao.
Sambil memperbaiki posisi duduknya, Lan Xiao menyembunyikan ekornya dan berdeham. "Aku tidak *mengelti apa maksudmu, tapi ada hubungan apa kau dengan Ayahku. **Kudengal, kau mengajukan ***lamalan. Apa kau ingin ****melebut posisi ibuku?"
^^^*mengerti, ** kudengar, ***lamaran, ****merebut,^^^
Lan Guan Zhi bernapas pelan dan mengusap kepala Lan Xiao. Anak yang dahulunya hanya tahu cara memanggil 'Ayah dan Ibu' sekarang sudah bisa bicara. Namun apa yang dikatakan olen Lan Xiao sekarang ini? Siapa yang sudah mengajarinya.
"Yuan-Gege, bagaimana ini?" Rana Qisheng menatap Lan Guan Zhi dan dengan serius berkata, "Apa kau sungguh sudah menikah?"
"............... Mn,"
!!!
Rana Qisheng terkejut bukan main, sementara Lan Xiao nampak tersenyum. Di sisi lain, Xiao Qing Yan dan O Zhan terlihat kaget hingga langsung menatap ke arah pemuda berpakaian putih ini.
Lan Guan Zhi tentu saja sudah menikah, hanya saja prosesi dan pengantinnya berbeda dari pernikahan pada umumnya. Namun jika dilihat dari sisi lain, itu tetaplah sebuah pernikahan.
"Jadi apa aku sia-sia datang kemari?" Rana Qisheng mendesah kecewa. Dia menurunkan pandangan dan nampak cemberut.
"Sebenarnya kenapa kau mengajukan lamaran?" Lan Guan Zhi buka suara dan membuat Lan Xiao menatap keheranan padanya.
Anak laki-laki berusia berapa 7 Tahun itu bertanya dengan ekspresi yang polos. "Siapa bibi ini? Ayah mengenalnya?"
"Mn," Lan Guan Zhi berujar tenang, "Dia kerabat jauh,"
"Hei, Bocah." Rana Qisheng berkata, "Aku ini adik angkat Ayahmu, tahu."
Xiao Qing Yan buka suara, "Kalau kau adalah adik angkat, kenapa ingin menikahi Ayah Yuan? Sesama saudara harusnya tidak menikah,"
"Qing Yan *benal,"
Pii..!
Xiao Qing Yan sebenarnya hampir keceplosan memanggil Lan Guan Zhi dengan 'Tuan Muda Lan,' tetapi beruntung O Zhan menyadarkannya dengan cara mengigitnya pelan.
Rana Qisheng berkata, "Kami hanya saudara angkat, bukan saudara kandung. Jadi masih bisa menikah,"
Rana Qisheng menatap Lan Guan Zhi dan dengan ******* kecewa berkata, "Tapi apa yang kulihat ini? Yuan-Gege, kapan kau menikah? Kenapa aku tidak diundang dan di mana istrimu sekarang?"
"Aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana.." Rana Qisheng mengembuskan napas, "Aku menolak dinikahkan dan berkata akan mencari calon suamiku sendiri, tapi apa ini? Kenapa Tetua Xu Jian tidak mengatakan apa-apa tentang kau yang bahkan sudah memiliki anak,"
"Mereka ini bukan--"
"Ayah~" Lan Xiao menyela saat Lan Guan Zhi hendak mengatakan kebenarannya.
Pemuda berpakaian serba putih itu nampak mengusap kepala Lan Xiao dan berkata, "Sudah cukup bercandanya. Duduklah dengan tenang,"
Lan Xiao menggelembungkan pipinya. Dia pun bergeser dan duduk di samping Xiao Qing Yan meski dengan ekspresi yang ditekut. Lan Guan Zhi pun mulai berbicara lebih serius dengan Rana Qisheng dan tentang identitas anak laki-laki di sampingnya.
Mendengar ini hanya kesalahpahaman membuat Rana Qisheng bisa bernapas lega, apalagi pernikahan yang dikatakan Lan Guan Zhi pun bukan pernikahan sungguhan. Dia tentunya merasa senang.
Lan Xiao sendiri merasa bahwa keadaan ini akan sangat gawat. Dia tidak mau Ayahnya menjalin hubungan dengan orang lain, apalagi dengan seseorang yang tidak dia kenali.
Jika hubungan kedua orang ini terus berlanjut, entah apa yang akan terjadi pada sosok lainnya yang dia anggap berharga. Dan bahkan entah ada di mana subjek yang selalu dia anggap 'ibu' tersebut.
__ADS_1
******