KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
181 - Yīng xióng (2)


__ADS_3

Xiao Shuxiang ingat, Tetua Wang Jing Li bisa terlihat begitu pucat karena sebelum ini pria tersebut menyerang Chu Gu Xiang dan serangannya justru ditahan oleh sosok yang asing.


Siapa pun tahu bahwa pria menawan berpakaian serba hitam itu tidak bisa dipandang remeh. Bahkan meski orang itu tidak mengeluarkan aura-nya sama sekali, siapa tetap pun akan merasakan tekanan.


Zhang Xiao Lian dan Liu Wei Lin bahkan tidak sadar menahan napas, begitu pula dengan Tetua Xie Yanran. Mereka sedang berpikir keras saat ini dan benar-benar yakin jika pria berpakaian serba hitam itu sampai bertarung-----mereka mungkin akan sulit menang.


Itu benar. Saat ini tidak ada di antara para tetua dan lainnya yang berada dalam kondisi tubuh yang baik-baik saja. Ini karena pertarungan sebelumnya sudah banyak menguras tenaga mereka dan akan sulit untuk meminta bantuan pada Tetua Sekte Lautan Awan yang ada di pulau terapung yang lain.


Liu Wei Lin kesulitan menelan ludah. Dia tidak bisa mengukur sekuat apa pria di hadapannya dan tidak yakin apakah jika dengan menyatukan kekuatan mereka saat ini bisa mengalahkan pria itu.


Jelasnya, untuk saat ini mereka tidak bisa mengambil risiko dengan melakukan serangan secara terburu-buru.


"..............."


Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu pun sedang berpikir dengan hati-hati. Salah pergerakan saja, maka sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.


"..............."


Masalahnya. Berbeda dengan Lan Guan Zhi, Ling Qing Zhu dan yang lainnya. Xiao Shuxiang justru tanpa ragu melesat ke tempat di mana pedangnya berada. Dia memakai kakinya untuk mengangkat Yīng xióng dan langsung menyerang lawan.


!!!


Tetua Jiao Feng dan yang lainnya terkejut bukan main, bahkan Lan Guan Zhi pun kaget. Suara debaman dahsyat terdengar dan angin kejut yang kuat membuat mereka semua terdorong beberapa langkah.


Jika Lan Guan Zhi terkejut dengan tindakan tidak terduga teman baiknya itu, maka Xiao Shuxiang lebih terkejut lagi dengan sesuatu yang menahan serangan pedang pusakanya.


Benda itu adalah sebuah manusia kertas yang kedua tangan tipisnya menekan ujung pedang Xiao Shuxiang. Detik itu juga terdengar suara yang aneh dan bilah pada Yīng xióng pun retak hingga sebagiannya hancur menjadi kepingan.


!!!


Ling Qing Zhu terkejut bukan main. Ini pertama kalinya keterkejutan itu terlihat jelas pada tatapan mata dan juga raut wajahnya yang tertutup cadar tipis.


Zhang Xiao Lian yang sebelumnya diketahui sebagai murid perempuan dengan ekspresi wajah yang tenang pun ikut terkejut. Belum lagi para Tetua Sekte Lautan Awan dan Liu Wei Lin. Mereka seakan dikejutkan secara bertubi-tubi.


"..............."


Manusia kertas yang hanya setinggi jari orang dewasa itu melayang turun dan seperti hidup. Dia melakukan gerakan mengusap wajah dan menggeleng pelan.


Pria berpakaian serba hitam itu sendiri hanya diam dan tanpa membalas serangan yang datang padanya. Satu tangannya merangkul Chu Gu Xiang dan tatapan matanya mengarah pada sosok pemuda yang berani menyerangnya.


"........... Menarik,"


Suara itu terdengar dan membuat Xiao Shuxiang tersentak. Kaki pria berpakaian serba hitam itu dan Chu Gu Xiang sendiri mulai dipenuhi kabut tebal.


Xiao Shuxiang mengetahui kedua musuhnya itu akan pergi. Dia pun kembali menyerang, namun manusia kertas tadi langsung menahan serangannya dan membuat Xiao Shuxiang terdorong beberapa langkah.


!!


Manusia kertas itu pun terbakar di udara dan lenyap bersamaan dengan kabut yang menyelimuti Chu Gu Xiang dan rekannya. Mereka menghilang tanpa jejak dan mengejutkan semua orang.


"..............."


Xiao Shuxiang kemungkinan adalah orang yang paling syok saat ini. Dia tidak bisa menghentikan pria itu membawa pergi Chu Gu Xiang dan kini setengah dari bilah pedangnya pun harus hancur berkeping-keping.


Tidak bisa dijelaskan betapa kalutnya perasaan Xiao Shuxiang sekarang.


"..............." Ling Qing Zhu mengerutkan kening dan menyadari sesuatu. Dia pun menghampiri Wali Pelindungnya.


?!

__ADS_1


Xiao Shuxiang tersentak ketika sebuah tangan terulur dan menepuk pelan punggungnya. Dia menoleh dan melihat Kucing Putihnya berdiri sambil membawa pakaian putih yang kotor karena noda darah.


"Tidak apa-apa," Ling Qing Zhu bersuara tenang dan mengusap pelan punggung Wali Pelindungnya. Dia seakan sedang menenangkan Xiao Shuxiang.


"......... Bukan salahmu," Ling Qing Zhu berujar kembali.


Liu Wei Lin sendiri nampak berusaha untuk mengatur napas. Di satu sisi, sebenarnya sangat disayangkan lawan mereka berhasil meloloskan diri, tetapi di sisi lain juga ada perasaan lega sebab mereka tidak kembali bertarung secara mati-matian.


Liu Wei Lin mengembuskan napas. Jujur saja, dia bersyukur karena pria asing yang sebelumnya muncul dengan tiba-tiba itu sudah menghilang. Jika tidak, mungkin saat ini mereka semua tidak akan dalam kondisi bernyawa.


"Shizun ....." Zhang Xiao Lian masih belum tenang. Dia menatap Tetua Jiao Feng yang berada di sampingnya.


"Orang itu sangat kuat, tetapi untung saja dia tidak datang kemari dengan niatan ingin bertarung. Aku sendiri .... Tidak yakin bisa mengalahkannya,"


Zhang Xiao Lian terkejut. Jika Shizun-nya saja bisa bicara seyakin ini, maka itu berarti pria berpakaian serba hitam tadi merupakan lawan yang lebih kuat dan lebih berbahaya.


"..............."


Lan Guan Zhi sendiri menyarungkan kembali pedangnya dan mulai berjalan ke arah Xiao Shuxiang. Dia melepaskan jubah luarnya dan melemparkannya ke samping.


Jubah putih itu menutupi punggung dan kepala Xiao Shuxiang. Ling Qing Zhu yang tersentak hanya bisa menatap Lan Guan Zhi dan berkedip satu sampai tiga kali.


Ling Qing Zhu, ".......... Tuan Muda Lan?"


"Kau kacau sekali," Lan Guan Zhi bicara pada Xiao Shuxiang. Meski keadaan saat ini cukup gelap, tetapi dia yakin tubuh temannya kotor karena darah.


Belum lagi, Xiao Shuxiang sedang dalam kondisi telanjang dada sekarang dan ada kemungkinan tanda di punggung teman baiknya terlihat. Lan Guan Zhi hanya bergerak cepat untuk menutupinya agar orang lain tidak sampai mengetahui hal ini.


"..............." Xiao Shuxiang tidak bicara apa-apa. Perasaannya sedang kalut sekarang ini dan semakin bertambah karena kondisi Yīng xióng.


"Kita akan pergi ke tempat tetua Meng terlebih dahulu. Kalian perlu diobati," Tetua Xie Yanran mengajak semuanya untuk pulang. Mereka akan memikirkan pembersihan kekacauan ini esok hari.


Tetua Jiao Feng membantu Tetua Wang Jing Li untuk berjalan. Mereka pun mulai melesat memakai pedang terbang.


Ling Qing Zhu sendiri mengikuti para tetua itu dari belakang, dia juga menaiki sebuah pedang terbang. Di tangannya masih ada pakaian putih Xiao Shuxiang.


*


*


Jauh di tempat lain, tepatnya di sebuah pulau terapung dan di antara banyaknya pepohonan rindang----terlihat Mo Huai sedang meracik tanaman herbal dengan ditemani oleh cahaya dari sebuah lentera.


Pemuda yang nampak berusia 21 Tahun itu sangat serius meracik tanaman herbal, memadatkannya sebelum pada akhirnya dibentuk menjadi pil. Mo Huai telah berusaha sangat keras.


"Aku membawakannya lagi,"


Terdengar suara pria dan langkah kaki yang membuat Mo Huai menoleh. Dia tahu itu adalah Wang Zhao. Temannya tersebut terlihat membawa sebuah keranjang anyaman bambu yang penuh dengan dedaunan herbal dan akar kering.


"Terima kasih, Tuan Muda Wang." Mo Huai berujar ketika Wang Zhao mulai duduk di dekatnya.


"Biar kubantu untuk menghaluskannya,"


"Tidak perlu, Tuan Muda Wang. Aku masih bisa menanganinya sendiri," Mo Huai tersenyum tipis dan berkata, "Kau sudah banyak melakukan pekerjaan. Jadi sebaiknya Tuan Muda Wang istirahat saja,"


"Ya ampun, apa maksudmu? Yang aku lakukan hanya mengambil tanaman herbal, membawanya kemari dan lalu membawa pil buatanmu ke tempat Tetua Meng. Tidak banyak pekerjaan yang bisa kulakukan,"


Mo Huai menatap Wang Zhao dan bicara dengan nada yang serius, "Tuan Muda Wang? Apa kau tidak sadar dengan kondisi tubuhmu sekarang? Kau sudah banyak bertarung sebelumnya dan aku yakin kau sedang kelelahan."


Mo Huai berkata, "Jangan memaksakan diri. Kau harus istirahat,"

__ADS_1


"Tapi--"


"Kau harus tahu kapan waktunya untuk beristirahat dan kapan waktu yang tepat untuk memaksakan diri," Mo Huai dengan cepat menyela dan membuat Wang Zhao tertegun selama beberapa saat.


"..............."


Wang Zhao berkedip. Dia tidak pernah melihat Mo Huai bertingkah seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti Mo Huai sedang kesal karena sesuatu.


"Apa yang terjadi padamu?" Wang Zhao pada akhirnya bertanya. Dia membuat Mo Huai menatapnya sejenak sebelum menghela napas berat.


"Tidak ada...." Mo Huai menggeleng pelan dan terus melanjutkan meracik tanaman herbalnya.


Wang Zhao, "Jangan berbohong, kau terlihat tidak baik-baik saja."


"..............." Mo Huai terdiam beberapa saat sebelum berujar pelan, "Sebenarnya aku sangat takut ...."


Mo Huai bernapas pelan, "Sebelum ini .... Konferensi Aliansi Abadi juga dibuat kacau oleh anggota Sekte Lembah Iblis. Banyak kultivator yang kehilangan nyawa mereka. Kesedihan dan rasa takut karena hal itu belum hilang, tetapi sekarang .... Mereka kembali mengacau di tempat ini. Aku .... Padahal kupikir Alam Kultivasi Atas akan lebih baik dari tempat tinggalku, tapi .... Ternyata tidak jauh berbeda."


"..............."


Wang Zhao memperhatikan pemuda di dekatnya dan tahu bahwa Mo Huai pasti sedang ketakutan. Sosok yang mempunyai gigi taring manis itu bukan seorang petarung, jadi tentu dia akan sangat mencemaskan hidupnya.


Mo Huai berujar pelan, "Aku tidak tahu kenapa ada orang yang sangat jahat seperti mereka. Kenapa mereka selalu ingin mencari masalah dan membuat hidup orang lain tidak tenang? Padahal jika dibandingkan dengan orang biasa sepertiku, mereka jauh lebih beruntung. Aku .... Bahkan tidak punya bakat dalam berkultivasi,"


"..............." Wang Zhao mengembuskan napas dan menengadah. Dia berkata, "Shizun pernah mengatakan ini padaku. 'Manusia sebenarnya sama, tetapi hati merekalah yang kadang berbeda-beda.' Kita tidak tahu seperti apa hati seseorang, tetapi Shizun-ku percaya bahwa dunia ini dihuni oleh orang-orang yang baik."


Mo Huai tersenyum tipis, "........... Itu pemikiran yang--"


"Pemikiran yang polos sekali." Wang Zhao menyela dan membuat Mo Huai menatap ke arahnya. Dia pun melanjutkan, "Aku sudah melihatnya sendiri. Ini semua tergantung dengan pilihan yang diambil. Manusia bisa baik dan jahat tergantung dengan pilihan yang mereka ambil. Aku pun sudah membuat pilihan. Aku akan mengambil langkah di jalan yang tidak akan pernah kusesali,"


"..............." Mo Huai memperhatikan Wang Zhao dengan saksama dan merasa agak aneh. Dia pun bertanya, "Aku sebenarnya sudah lama ingin menanyakan ini. Kau adalah murid langsung dari Tetua Besar Sekte Lautan Awan, tetapi kenapa kau justru menjadi pelayan?"


Wang Zhao tersentak sebelum menatap Mo Huai dan kemudian tersenyum. Dia pun menjawab, "Shizun-ku adalah salah satu kepala pelayan Sekte Lautan Awan. Jadi tentu saja aku juga pelayan,"


"Tapi bukankah itu hanya penyamaran?" Mo Huai sebenarnya tidak menyangka dengan jawaban Wang Zhao barusan.


"Tidak..." Wang Zhao menggeleng, "Shizun-ku memang adalah pelayan. Dia diangkat sebagai Tetua Besar karena para tetua puncak suci Sekte Lautan Awan memiliki tempat tinggal mereka sendiri. Murid-murid di sekte ini pun adalah para murid luar, tapi kami tidak menyebutnya begitu."


Wang Zhao berkata, "Sebelumnya tidak ada dari Tetua Puncak Gunung Suci yang ingin menjadi Tetua Besar. Itu karena mereka tidak mau menjadi pengawas sekaligus pendidik di dua tempat. Dan lagi, masing-masing dari Tetua Puncak Gunung Suci memiliki penilaian yang ketat bagi kultivator yang ingin dijadikan murid di bawah bimbingan langsung. Shizun pun akhirnya mengambil peran ini dan mulai menetap. Sebelumnya, Shizun-ku adalah seorang kultivator pengelana."


"Aku mendengar bahwa Tetua Besar Dao Fang An mempunyai gelar yang hebat. Apa Tetua Besar Dao tidak mengajarimu sesuatu seperti salah satu teknik terkuat yang beliau miliki?" Mo Huai bernapas pelan dan kemudian melanjutkan, "Aku minta maaf jika ini terdengar agak kurang ajar, tapi yang aku lihat .... Kau selama ini bertarung dengan teknik berpedang yang diajarkan tuan muda Xiao."


"Shizun-ku tidak pernah mengajariku cara bertarung."


Mo Huai tersentak. Dia menatap Wang Zhao dan melihat bahwa ekspresi sosok di sampingnya begitu serius, sama sekali tidak ada kebohongan di dalamnya.


"Ke-Kenapa bisa begitu...?" Mo Huai agak gugup bertanya, tetapi dia tetap bicara.


"..............." Wang Zhao memperhatikan pemuda di sampingnya dan kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Dia membuat Mo Huai tersentak.


"Kau tidak tahu....?"


"........... Sepertinya aku sudah terlalu lama di sini. Akan kubawa pilnya ke tempat tetua Meng dulu sebelum kembali kemari lagi."


"Ap-Hei..! Tuan Muda Wang...!" Mo Huai jelas saja kaget karena Wang Zhao tiba-tiba saja mengambil keranjang anyaman yang berisi pil buatannya dan pergi, bahkan tanpa peduli pada seruannya.


Mo Huai berdecak dan menggeleng pelan, "Dia menghindari pertanyaan. Jelas sekali dia melakukannya,"


Mo Huai mengembuskan napas, "Aku merasa penasaran. Dia menyembunyikan sesuatu. Tapi .... Jika dipikirkan lagi, ini sebenarnya juga bukan urusanku,"

__ADS_1


******


__ADS_2