KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
102 - Perjalanan Menuju Konferensi Aliansi Abadi


__ADS_3

Wang Zhao sudah mempersiapkan semua barang bawaannya. Pedang kayu besar miliknya dibalut dengan kain putih. Dia memikulnya di punggung. Rasanya tidak lagi seberat dahulu, ini menjadi bukti bahwa Wang Zhao benar-benar sudah banyak berubah.


Xiao Shuxiang berada di samping Wang Zhao sambil mengusap-usap kain pada lengan pakaiannya. Wajahnya terlihat ditekuk, apalagi pemuda ini nampak tidak bersemangat.


"Tuan Xiao, kau kenapa?" Wang Zhao bertanya.


"Tua Bangka itu memintaku memakai pakaian berkabung. Belum lagi dia berhasil membuatku berjanji untuk tidak sampai mengotori pakaian ini. Dasar menyebalkan,"


"Itu bukan pakaian berkabung, Tuan Xiao. Warna putih justru membuatmu terlihat lebih mempesona dan penuh wibawa, sungguh."


"Tapi aku tidak suka," Xiao Shuxiang terus mengusap-usap lengan pakaiannya dan mulai melihat sebuah kereta berjalan menghampiri mereka.


Tirai pada jendela kereta itu terangkat dan memperlihatkan sosok Liu Wei Lin serta Mo Huai yang tersenyum ramah.


"Tuan Muda Xiao...!" Mo Huai terlihat senang, dia mengajak Xiao Shuxiang dan Wang Zhao untuk satu kereta dengannya.


"Saudara Xiao, ayo naiklah kemari." Liu Wei Lin juga nampak senang. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan teman barunya tersebut.


"Kami sudah punya kereta sendiri, kalian duluan saja..." Xiao Shuxiang menolak dengan ramah.


Liu Wei Lin, "Kereta kalian tidak akan datang. Aku sudah meminta izin tetua Dao untuk satu kereta dengan kalian, ayo kemari."


Wang Zhao mengembuskan napas dan lalu menatap Xiao Shuxiang. Dia hanya bisa mengikuti pemuda itu untuk satu kereta dengan Liu Wei Lin dan Mo Huai. Dirinya tersentak saat tahu bahwa di dalam kereta yang lumayan luas itu juga ada orang lain lagi.


"Kucing Putih?" Xiao Shuxiang tertegun dan sama sekali tidak menyangka bahwa Ling Qing Zhu juga ada di dalam kereta ini. Dia pun duduk di samping Kucing Putihnya.


Kereta mulai berjalan.


"Bagaimana kau ada di sini? Bukankah kau harusnya berangkat lebih awal?" Xiao Shuxiang nampak penasaran.


Bukan Ling Qing Zhu yang menjawab, tetapi Mo Huai. Pemuda itu berujar pelan, "Kami sebenarnya memang sudah pergi sejak tadi, tapi Tuan Muda Liu yang minta agar kami menunggu kalian. Aku sama sekali tidak keberatan, justru aku senang bisa pergi bersama Tuan Muda Xiao."


Liu Wei Lin membuka kipasnya dan tersenyum, "Bagaimana Saudara Xiao? Sebagai sosok belahan jiwa, aku ini orang yang setia kawan bukan?"


Xiao Shuxiang tersenyum, namun Wang Zhao nampak penasaran akan sesuatu. Pemuda itu bertanya, "Tuan Muda Liu? Apa tujuh murid dari Gunung Puncak Suci juga pergi?"


"Benar. Mo Huai bahkan yang menjadi pelengkap dari kursi terakhir murid yang selama ini kosong. Tidak seperti tahun lalu di mana hanya Tetua Meng yang tidak membawa seorang pun murid,"


"Mm... Lantas Nona Ling menggantikan murid Tetua yang mana? Jika Nona Ling ikut, bukankah ini akan menjadi delapan orang murid? Aku dan Tuan Xiao jelas tidak masuk hitungan,"


Ling Qing Zhu menjawab dengan nada yang singkat, "Aku menggantikan Tetua Liu Lang."


!!


Wang Zhao tersentak. Dia kini mengerti. Sama seperti Xiao Shuxiang yang pergi sebagai perwakilan Dao Fang An---Ling Qing Zhu pun ternyata pergi sebagai perwakilan salah satu Tetua Gunung Puncak Suci.

__ADS_1


Liu Wei Lin melambaikan kipasnya dengan lembut, dia pun berkata. "Sekte Lautan Awan tidak bisa ditinggalkan tanpa tetua. Kejadian seperti dua hari yang lalu mungkin saja akan terjadi, lagipula Shizun-ku sendiri sudah terlalu tua untuk perjalanan jauh. Dia ingin agar Nona Ling bisa melihat-lihat kehidupan di Alam Kultivasi Atas ini."


"Aku senang karena Kucing Putihku diperlakukan dengan baik." Xiao Shuxiang tersenyum dan melihat keluar dari jendela, dia pun bertanya. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Konferensi Aliansi Abadi itu?"


Liu Wei Lin menjawab, "Jika tidak ada halangan apa pun----kita akan sampai dalam waktu 9 hari perjalanan. Tempat konferensi itu ada di Kuil TongTian. Itu adalah bagian dari Istana Seribu Pedang,"


Wang Zhao, "Tapi kami... Ingin mampir ke kota Xiliang terlebih dahulu."


Liu Wei Lin mengerutkan kening, "Xiliang? Kenapa kalian ingin ke sana?"


Wang Zhao menjadi agak gugup, "I.. Itu..."


Sadar sedang ditatap, membuat Xiao Shuxiang angkat bicara. "Yang dikatakan Wang Zhao benar. Kami harus pergi ke Kota Xiliang terlebih dahulu. Tidak hanya mengikuti Konferensi Aliansi Abadi, aku juga harus membantu anak ini menemukan lima jenis petir,"


"Ah..." Liu Wei Lin akhirnya mengerti, dia pun menatap Wang Zhao. "Jadi kau mulai mencari Lima Jenis Petir untuk menghilangkan akar pada inti spiritualmu?"


Wang Zhao mengangguk pelan, dia membenarkan hingga membuat Liu Wei Lin mendengus tak percaya.


"Kenapa baru sekarang kau ingin mencarinya, Zhao'Er? Bukankah kau sudah menyerah, hm?"


"A-aku tahu, tapi..." Wang Zhao menarik napas pelan dan berujar, "Awalnya aku menyerah karena kupikir itu sangat mustahil dilakukan. Tapi saat melihat Tuan Muda Xiao, aku juga ingin bisa sepertinya. Dia mempunyai kesamaan denganku dan bahkan memiliki bakat yang lebih hebat dariku. Aku .... Ingin belajar banyak darinya,"


"Dia penggemar baruku," Xiao Shuxiang menyembunyikan tangannya di kedua lengan pakaiannya. Dia sedikit menoleh saat merasakan ada yang menarik-narik rambutnya.


"............" Ling Qing Zhu sejak tadi hanya diam. Dia duduk tenang dan mendengar pembicaraan para pemuda ini. Dirinya bahkan tidak peduli bahwa sejak tadi pemuda di sampingnya menatap ke arahnya.


Kereta yang mereka naiki dibawa oleh empat ekor kuda tanpa kusir. Perjalanan selama tiga hari pertama itu berlangsung tanpa hambatan dan sebenarnya seru.


Liu Wei Lin banyak membicarakan tentang apa yang dia dengar dari para murid Sekte Lautan Awan. Dia memuji Xiao Shuxiang dan juga meminta maaf karena datang di waktu yang kurang tepat.


Xiao Shuxiang sendiri sama sekali tidak mempermasalahkannya. Dia bahkan masih sempat-sempatnya menjual nama Mo Huai sebagai orang yang sudah mengobati lukanya. Dia berkata bahwa pil yang diberikan Mo Huai sangat luar biasa dalam menyembuhkan luka. Andai tidak mengkonsumsi pil itu, dia mungkin saat ini masih berbaring di tempat tidur.


Mendengarnya membuat Liu Wei Lin ikut memuji bakat Mo Huai sebagai seorang alkemis muda. Hanya saja dia tidak tahu bahwa dibandingkan senang----justru Mo Huai terlihat tertekan dan pucat.


Liu Wei Lin menjelaskan, "Jalan yang kita lewati ini adalah jalanan yang paling aman. Aku sudah menghapal benar jalan ke Konferensi Aliansi Abadi, meskipun kita tidak boleh sampai lengah."


Mo Huai melihat keluar jendela dan hanya menemukan pepohonan serta semak-semak belukar. "Aku pernah dengar bahwa Alam Kultivasi Atas itu meliputi tiga benua dan Istana Seribu Pedang menjadi bagian dari Alam Kultivasi Atas yang berada di Benua Timur. Apa Tuan Muda Liu yakin kita akan sampai ke sana dalam 9 hari? Bukankah tempat ini masih bagian dari Sekte Lautan Awan?"


Liu Wei Lin, "Benar. Sekte Lautan Awan dikelilingi oleh hutan dan bagian terluar hutan merupakan area paling berbahaya."


Liu Wei Lin dengan tenang berkata, "Ada gerbang bernama Dà Mèilì yang akan kita temui setelah 7 hari perjalanan di dalam hutan ini. Gerbang itu mempunyai energi spiritual yang tinggi dan membuat kita bisa sampai ke wilayah yang kau katakan merupakan bagian dari Benua Timur. Kemudian jika sesuai perkiraan, 2 hari berikutnya akan membawa kita sampai ke Istana Seribu Pedang."


Liu Wei Lin menutup kipas miliknya dan mulai mengambil sebuah kertas dari balik lengan pakaiannya. Kertas tersebut berisi peta dari Alam Kultivasi Atas.


"Kalian coba kemari dan lihat ini," Liu Wei Lin menunjukkan isi dari petanya, "Garis ini merupakan batasan dari wilayah Alam Kultivasi Atas bagian Benua Timur, Benua Tengah dan Benua Mati. Normalnya, waktu tempuh dari Sekte Lautan Awan ke perbatasan wilayah Benua Timur adalah enam bulan lebih, tapi dengan melewati Dà Mèilì----kita jadi bisa lebih cepat sampai."

__ADS_1


Xiao Shuxiang memperhatikan dengan saksama penjelasan Liu Wei Lin dan merasa bahwa sifat gerbang bernama Dà Mèilì ini kurang lebih sama dengan sifat Cermin Pemindah miliknya.


Xiao Shuxiang, "Dalam perjalananmu dahulu.... Apa kau juga sering bertemu dengan Demonic Beast?"


"Di sini bahkan jauh lebih banyak lagi," Liu Wei Lin mengembuskan napas, "Tapi kau jangan khawatir, Saudaraku. Kebanyakan Demonic Beast di tempat ini takut pada manusia. Mereka lebih dulu akan pergi jika melihat kita,"


Liu Wei Lin menambahkan, "Satu-satunya yang mungkin berbahaya adalah invasi dari dunia roh dan iblis. Selain itu masih ada gangguan dari sekte lain yang tidak menyukai Sekte Lautan Awan,"


Xiao Shuxiang mengangguk pelan, "Aku mengerti. Sekte Lautan Awan bukan satu-satunya perguruan di Alam Kultivasi Atas, aku juga bisa mengerti bahwa justru di tempat inilah yang paling dekat dengan bahaya. Meski aku iri dengan tempat ini, tapi setidaknya.... di tempat tinggal kami tidak pernah terjadi invasi dari dunia roh maupun iblis."


Mo Huai, "Semakin padat energi spiritual di suatu tempat, maka invasi semakin mudah terjadi. Tanah di Benua Tengah sama sekali tidak mendukung kultivator, sementara di Benua Timur sendiri----meski mendukung, namun tidak sepadat Alam Kultivasi Atas ini."


"Mn, benar." Xiao Shuxiang sekarang sudah tidak tahan lagi. Dia pun meraih tangan yang sejak tadi memain-mainkan rambutnya. Dia sudah sabar sejak tadi dan kini tidak bisa sabar lagi.


"Kucing Putih, kau ini kenapa? Sejak tadi menarik-narik rambutku, kau pikir itu tidak sakit?"


"Mn, jadi ternyata sakit?" Ling Qing Zhu memberi respon yang datar. Dia sama sekali tidak merasa bersalah hingga membuat Xiao Shuxiang membeku.


Mo Huai, Wang Zhao dan Liu Wei Lin nampak tertegun. Ketiganya tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ling Qing Zhu, tapi dari ucapan Xiao Shuxiang barusan----gadis berambut putih ini telah melakukan sesuatu yang berada di luar bayangan mereka.


"Aku sejak tadi hanya diam melihat tingkahmu, Kucing Putih. Apa kau sangat sukanya dengan rambutku?"


"Tidak juga,"


"Lalu kenapa kau terus memegangnya?"


"Mn,"


"............"


Xiao Shuxiang berkedip. Dia sama sekali tidak mengerti isi pikiran gadis bercadar tipis di sampingnya ini. Bukan hanya dia saja, tapi Liu Wei Lin, Wang Zhao dan Mo Huai pun nampak keheranan.


Perjalanan mereka selanjutnya mulai diisi dengan guyonan dan Xiao Shuxiang-lah yang lebih banyak berperan. Dia bicara tentang banyak hal dan karena sifatnya yang tidak pernah berbohong----guyonan itu jelas sering membuat kaget meski pada akhirnya berakhir tawa.


Suasana di dalam kereta tersebut kian hangat saat disatukan dengan gaya bicara Liu Wei Lin yang terkadang bersajak. Apalagi, Xiao Shuxiang tanpa ragu mengikuti gaya bicara Liu Wei Lin yang semakin menambah keseruan di dalam kereta itu.


Untuk Mo Huai, dia adalah pemuda yang memiliki sifat penakut dan mudah sekali gugup. Namun saat dipancing sedikit oleh Xiao Shuxiang, sifat aslinya yang blak-blakan mulai terlihat.


Mo Huai bahkan tanpa ragu menyindir Xiao Shuxiang yang justru langsung dimanfaatkan oleh Koki Alkemis itu untuk bersandar di bahu Ling Qing Zhu dan mencari perlindungan darinya.


Wang Zhao yang merupakan tipekal pemuda normal dan tidak pernah seakrab ini dengan siapa pun bahkan terlihat tertawa lepas. Rasanya seakan beban yang menggelayut di hatinya berangsur-angsur berkurang.


Wang Zhao mengagumi Xiao Shuxiang. Pemuda itu tidak hanya memiliki paras yang tampan, tetapi juga mempunyai senyuman yang menawan. Baginya, Xiao Shuxiang adalah sosok yang ramah, kuat dan pemberani.


Tidak ada wibawa yang perlu dijaga. Xiao Shuxiang bahkan tanpa ragu bersikap manja di depan seorang Ling Qing Zhu. Meski sedikit tidak tahu malu, namun entah kenapa Wang Zhao tidak bisa menemukan celah yang dapat membuat Xiao Shuxiang terlihat rendah. Justru semakin dia mengenal pemuda ini, Wang Zhao semakin menghormatinya.

__ADS_1


******


__ADS_2