KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
291 - Xiao Shuxiang (9)


__ADS_3

Tetua Chen Duan Shan yang berada di kediaman rahasia miliknya mendengar suara keras. Zhi Shu dan Hu Li juga mendengar hal yang sama. Mereka bahkan bisa merasakan lantai bergetar.


"Apa yang dilakukan Bocah Pengemis Gila di luar?" Zhi Shu yang duduk di samping Ling Qing Zhu terlihat mengerutkan kening.


"Aku akan memeriksanya," Tetua Chen Duan Shan berjalan keluar. Dia memang mendengar suara keras selama rentang waktu tertentu. Entah apa yang sedang terjadi di luar sana.


Bocah Pengemis Gila sendiri tidak melakukan apa-apa, dia hanya berdiri sambil memeluk tongkat bambunya dan menoleh ketika mendengar suara dari Tetua Chen Duan Shan.


"Shén Lóng-" Tetua Chen Duan Shan baru akan bertanya ketika tubuhnya tiba-tiba membeku. Dia melihat warna langit yang begitu memerah di ujung sana, seakan telah terjadi fenomena yang langka.


Bocah Pengemis Gila menatap pria di sampingnya dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya ... Ini bukan hal biasa-"


"Sekte di serang," Tetua Chen Duan Shan menyela dan langsung melesat pergi begitu saja.


Bocah Pengemis Gila kaget, dia melihat wajah Tetua Chen Duan Shan tegang dan menjadi panik saat pria tersebut tiba-tiba pergi meninggalkannya.


"Ja-jadi yang kulihat tadi itu tanda-tanda Istana Seribu Pedang diserang?!" Bocah Pengemis Gila menepuk dahinya dan di saat bersamaan, Hu Li nampak berjalan keluar.


"Tuan Muda, ada apa?" Hu Li bertanya dan baru saja akan menanyakan keberadaan Tetua Chen Duan Shan saat mendengar Bocah Pengemis Gila buka suara.


"Hu Li, kau tetap di sini dan jaga tempat ini. Aku akan pergi membantu tetua Chen terlebih dahulu,"


"Ta-tapi ada apa?"


"Istana Seribu Pedang diserang. Kau di sini saja," Bocah Pengemis Gila segera berlari dan ucapannya barusan membuat Hu Li terkejut.


Tentu saja tidak ada yang menyangka Istana Seribu Pedang akan diserang secara mendadak seperti ini, bahkan termasuk Hu Li sekali pun. Pemuda itu ingin melihat sendiri apa yang terjadi, tapi ucapan Bocah Pengemis Gila juga ada benarnya---dia dibutuhkan di sini.


*


*


Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia mereka saat ini. Keduanya masih berada di atas perahu yang bergerak.


Masalahnya, entah apa yang sudah terjadi hingga posisi Xiao Shuxiang berubah. Dia menjadikan teman baiknya sebagai tempat sandaran dan terlihat memperhatikan sebuah lukisan.


"Apa ini aku?"


"Mn,"


Xiao Shuxiang berkedip dan kembali memperhatikan lukisan pada selembar kertas di tangannya. "Aku merasa ada yang salah dari lukisan ini, tapi apa.."


"Jangan dilihat lagi," Lan Guan Zhi ingin mengambil kembali lukisan buatannya, tetapi tangannya justru ditepis pelan.


"Ini pertama kalinya aku memandangi lukisanmu, jadi jangan ganggu."


"..............." Lan Guan Zhi mengembuskan napas dan kemudian melihat ke arah sungai.


Ekspresinya setenang air, penuh wibawa, sosok dengan keagungan yang luar biasa, tidak tergambarkan. Bahkan ketika cahaya dari jiwa-jiwa yang berenang di air menyinarinya, dia tampak seperti patung es batu giok. Sangat indah tiada tara.


Lan Guan Zhi cukup lama diam dan mendengarkan gumaman pelan dari Xiao Shuxiang. Jarinya sesekali memainkan rambut teman baiknya sebelum dia mulai buka suara.


Tanpa nada, Lan Guan Zhi berkata. "Aku mulai merasa pegal,"


"Bagaimana bisa itu terjadi. Aku hanya meminjam dadamu untuk bersandar, kan?" Xiao Shuxiang terlihat malas saat bicara.


"Kau menduduki kakiku,"


"Tidak mungkin, kakimu ada di sini. Bagaimana bisa kududuki,"


"Bukan yang itu, tapi kaki yang lainnya."


Xiao Shuxiang tersentak dan baru menyadarinya, dia tertawa. "Aiya, kenapa tidak bilang dari tadi? Apa kau baik-baik saja?"


"Mn, biarkan aku sebentar. Kakiku mati rasa,"


"Ha ha ha, maaf, maaf. Aku tidak sengaja,"


Lan Guan Zhi menggeleng pelan, dia tersenyum dan kemudian memperbaiki posisi duduknya.


"Bagaimana?" Xiao Shuxiang bertanya kembali dan dijawab anggukan pelan oleh Lan Guan Zhi. Dia pun kembali menjadikan teman baiknya sebagai sandaran manusia, tapi kali ini tidak lagi menduduki kaki temannya.

__ADS_1


"Aku merasa seperti kita pernah berada dalam situasi ini," Xiao Shuxiang buka suara. "Tapi aku tidak ingat kapan tepatnya itu,"


"Entahlah,"


Xiao Shuxiang mengusap-usap kertas yang dipegangnya dan kemudian berujar, "A-Yuan. Apa kau percaya takdir?"


"......... Kenapa menanyakan itu?"


"Kupikir kita selalu terjebak dalam situasi yang berbahaya bersama. Misalnya saja saat kau dan aku terperangkap di antara banyaknya pengantin hantu, kemudian terjebak di Alam Baka seperti ini. Itu pun bahkan denganmu,"


"Mn, aku juga heran."


"Benar, kan? Ini ... Kurasa aku yang sudah melibatkanmu dalam masalah," Xiao Shuxiang mengembuskan napas. "Apa aku sangat merepotkan?"


"Sama sekali tidak," nada suara Lan Guan Zhi dalam dan membuat Xiao Shuxiang menatap ke arahnya. Dia pun berkata dengan tenang, "Aku menyukainya."


Xiao Shuxiang tertegun, dia berkedip beberapa kali dan seperti tidak percaya bahwa dia bisa melihat senyuman teman baiknya di jarak sedekat ini.


"A-Yuan ..."


"Jika tidak berteman denganmu. Kurasa aku masih duduk di dalam kamarku saat ini," Lan Guan Zhi buka suara. "Menjalani kehidupan monoton kurasa,"


Xiao Shuxiang berkedip, "Aku baru saja memperhatikannya. Kau ini sepertinya punya jiwa-jiwa petualang,"


"Tidak mungkin,"


"Itu benar, lihat wajahmu." Xiao Shuxiang mengulurkan tangan dan menyentuh pipi teman baiknya, ingin mencubit tetapi tangannya langsung dipegang.


Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan kembali memperhatikan lukisan di tangannya. Dia pun berkata, "Aku punya banyak masalah dan kau jadi ikut masuk ke dalamnya. Itu pasti merepotkan,"


"Aku bisa mengatasi masalahku selama ini, tapi masalahmu memang lebih berat. Sulit, membutuhkan banyak waktu dan akhirnya pun tidak bisa dipastikan."


"Lihat, kan. Kau ini sebenarnya punya jiwa petualang. Anak berdarah muda yang suka tantangan dan terlibat ke dalam masalah,"


"Usiaku 25 Tahun. Apa itu masih terlihat anak muda di matamu?"


"Ayolah, selagi kau masih belum menikah sepertiku---kau masih anak-anak." Xiao Shuxiang bangga saat mengatakannya. Dia berkata, "Coba lihat aku. Temanmu ini sudah berkeluarga, jadi apa kabar denganmu?"


"Di kehidupan ini? 23 Tahun dan aku sudah menikah," Xiao Shuxiang sangat membanggakan statusnya yang satu itu.


Lan Guan Zhi menggeleng pelan, "Tidak terlihat sama sekali. Kau masih begitu kekanakan,"


"Hei, aku sedang belajar menjadi seperti dirimu."


"Seingatku Lan Guan Zhi tidak pernah bersandar pada dada orang lain seperti ini,"


"Aku kan Xiao Shuxiang. Aku akan tertawa jika kau melakukannya," Xiao Shuxiang tersenyum, "Itu sangat tidak cocok dengan pribadimu dan siapa yang kau maksud 'orang lain'? Aku hanya bersandar pada A-Yuan-ku."


"Memalukan,"


Xiao Shuxiang tertawa mendengar kata legendari itu, dia pun tersentak saat mulai sadar akan sesuatu. "Lan Zhi, aku baru memperhatikannya baik-baik. Kau ini melukisku atau istrimu? Coba lihat dadanya, bukankah ini terlalu ... Ehm,"


"Itu kesalahan. Terburu-buru," Lan Guan Zhi tidak ragu mengakui kesalahan yang dia perbuat, hanya saja ini membuat teman baiknya tersentak.


Xiao Shuxiang mendengus, "Luar biasa. Lan Guan Zhi kita yang sempurna dan tidak bercela ini sudah membuat satu noda dalam hidupnya. Dunia harus tahu ini. Aku akan menyimpannya untuk memerasmu lain kali,"


"..............." Lan Guan Zhi menatap teman baiknya, binar pada matanya melembut dan dia pun berkata. "Kau bisa simpan itu. Jika ada yang tanya, akan kukatakan bahwa itu Shuxiang yang terlihat di mataku."


Xiao Shuxiang kaget, "Kau ingin bilang bahwa kau melihatku sebagai perempuan?!"


"Kau terlalu manja untuk disebut laki-laki,"


"Oh, ya ampun." Xiao Shuxiang bangun dari tempatnya bersandar dan menoleh untuk melihat baik-baik wajah temannya. Dia berkata, "Sejak kapan kau mulai bisa menjawab? Kau bahkan sudah belajar mengancam? Siapa yang mengajarimu?"


"Hmph, tidak sadar diri."


"Apa aku?!" Xiao Shuxiang berkedip.


"Kau yang bilang sendiri, aku tidak mengatakan apa-apa."


"Astaga ... A-Yuan-ku sudah mulai berubah," Xiao Shuxiang menggeleng pelan dan kembali menjadikan dada orang lain sebagai tempat bersandar. Dia membuat Lan Guan Zhi tersentak.

__ADS_1


Sangat tidak tahu malu, padahal Lan Guan Zhi sudah mengatainya 'manja' tapi Xiao Shuxiang masih saja melakukan tindakan serupa seakan-akan ini hal yang biasa.


Lan Guan Zhi mengembuskan napas pelan. Dia mempunyai teman baik yang menarik. Sangat jarang menemukan kultivator yang mempunyai pikiran bebas dan tidak akan peduli pada citranya sendiri seperti Xiao Shuxiang.


Bila mengingat tentang apa yang dia ketahui, teman baiknya ini seharusnya mengundang rasa kasihan dari orang lain, apalagi dengan masa lalunya. Tapi subjek di hadapannya sama sekali tidak seperti itu, seolah Xiao Shuxiang di masa lalu berbeda dengan yang sekarang.


Sosok ini bersahabat, menyenangkan, merangkul orang lain dan mempunyai karakter yang selalu dirindukan ketika tidak ada. Bahkan bisa dikatakan bahwa Xiao Shuxiang ini seperti air, mampu menempatkan diri sesuai dengan sifat orang yang dia temui.


"..............." Lan Guan Zhi kembali merasakan sakit di keningnya, tetapi ini tidak diperhatikan oleh Xiao Shuxiang. Dia memejamkan mata dan sedikit menggeleng, telinganya tiba-tiba saja berdengung.


"Aku pernah datang kemari di masa lalu, tapi bukan dalam kondisi hanya jiwa saja. Tempat pulangku pun berbeda, jadi aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Xiao Shuxiang terus bicara, namun ucapannya tidak bisa didengar oleh Lan Guan Zhi.


Xiao Shuxiang menurunkan pandangan saat berkata, "Sebenarnya ... Di antara kau dan Kucing Putih, aku tidak pernah mau melibatkan kalian dalam masalah. Tapi jika harus memilih, dalam hati aku memilihmu. Mungkin karena aku tidak mau menyulitkan gadis kecil itu dan tidak ingin lagi melihatnya berkorban seperti saat itu,"


Xiao Shuxiang menarik napas, "Dia baik. Gadis yang sangat baik. Dia bahkan tanpa ragu mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkanku. Aku tidak mau melihatnya terluka lagi. Dan di sisi lain, aku justru sangat bergantung padamu. Kau juga teman yang sangat baik,"


"A-Yuan, apa mungkin suatu hari nanti kau akan membenciku?" Xiao Shuxiang berujar, "Aku sebelumnya memiliki Hu Li. Dia sangat setia, tapi hubungan kami tidak seperti teman. Di masa lalu, aku mempunyai senior Zhou---tapi juga belum sedekat itu hingga bisa disebut teman. Kau ... Mengenalmu, berteman denganmu dan melalui banyak hal bersama ... Rasanya sangat berbeda."


Xiao Shuxiang bergumam pelan, "Apa yang dikatakan Liu Wei Lin, ya..? Ehm.. Ah, 'Seperti menemukan belahan jiwa.'"


Lan Guan Zhi membuka matanya, dia sudah baik-baik saja sekarang dan meski tidak banyak mendengarkan---setidaknya dia masih bisa menangkap beberapa hal yang dikatakan teman baiknya ini.


Lan Guan Zhi berujar tenang, "Apa kau sedang mengungkapkan isi hatimu?"


Xiao Shuxiang berkedip, pertanyaan yang tanpa rasa itu membuatnya menghela napas. Dia pun berkata, "Ayolah kawan. Aku sedang mendramatisir keadaan. Coba pikirkan, tidak ada siapa pun yang mau membahayakan diri sendiri untuk menyelamatkan temannya seperti ini selain dirimu. Kita berdua ini sudah seperti ditakdirkan oleh langit, pasangan-"


"Hentikan, kau jangan katakan hal yang tidak tahu malu lagi. Kepalaku sakit,"


"Aku hanya menggodamu,"


"..............." Lan Guan Zhi memandang Xiao Shuxiang sejenak sebelum menatap lurus ke depan. Dia melihat kabut putih tebal yang mempunyai aura hangat tidak jauh di hadapannya. Itu kabut yang punya aura kehidupan dan menenangkan.


Jika bertanya tentang, 'apa kau percaya takdir?'---Lan Guan Zhi tidak perlu berpikir tentang jawaban yang harus diberikan. Dia tentu mempercayainya.


Entah itu adalah takdir yang sudah ditetapkan seperti kematian, atau ketika dia pertama kali bertemu Xiao Shuxiang hingga mengalami banyak kejadian bersama. Dia tidak pernah mengeluhkan apa pun atau menyalahkan siapa pun.


Xiao Shuxiang yang sudah hidup lama tahu satu rahasia kecil ini, walau pada awalnya dia meragukannya. Tapi melihat betapa baiknya sosok Lan Guan Zhi, dia tahu bahwa sebenarnya dirinya sudah memandang remeh orang lain.


Ini bukan tentang Sekte Pedang Langit tempat Lan Guan Zhi tinggal, tetapi lebih kepada karakter dari anggota klan-Lan ini sendiri. Mereka adalah kesatria dengan pendirian yang teguh, sosok yang sangat disiplin, keras pada diri sendiri dan orang lain. Pendidikan mereka luar biasa dan tidak lagi diragukan.


Namun dibalik semua karakter yang ada dan dari banyaknya aturan yang harus dipatuhi---klan ini menjunjung tinggi kesetiaan dan persahabatan. Xiao Shuxiang membuktikannya sekarang.


Dia penuh penghayatan saat berkata. "Jika kau melihat bintang, jangan terlena hingga melupakan bulan. Cinta itu mudah diraih, tapi teman abadi sulit dicari."


"Kau belajar puisi dari mana?" Lan Guan Zhi berkedip, tiba-tiba saja tingkah teman baiknya sedikit mirip dengan Liu Wei Lin.


"Tsk, aku ini sedang memberikan pujian padamu. Kau seperti ... Teman di alam baka, kurasa."


"Jangan bicara lagi, puisimu bahkan terbalik."


"Maksudmu tentang cinta dan teman abadi itu? Sama sekali tidak," Xiao Shuxiang dengan tidak tahu malu berkata, "Dengan wajahku yang luar biasa mempesona ini dan juga uangku ... Aku bisa mendapatkan cinta satu malam di rumah bordil. Tapi teman abadi itu sulit dicari,"


"Jadi ini makna puisimu?"


"Tentu. Aku luar biasa, kan?"


Lan Guan Zhi menghela napas, "Tidak lagi mendebatmu. Kau sudah membuka lembaran baru---dari karakter tidak tahu malu lainnya,"


Perahu yang ditumpangi Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang mulai memasuki kabut putih tebal hingga keduanya tidak lagi terlihat.


Ketenangan yang mereka alami jauh berbanding terbalik dengan apa yang sedang terjadi di dunia nyata sekarang ini.


Wajah Yi Wen sudah sangat pucat, bahkan bibirnya terlihat membiru. Dia sudah muntah darah beberapa kali hingga tidak bisa terhitung lagi.


Setelah menyelamatkan Ling Qing Zhu dan Hu Li, semuanya berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan. Tetapi kemudian suara keras dan getaran yang Yi Wen rasakan mempengaruhi pengendalian dirinya terhadap teknik terlarang ini.


Dia pun mengalami luka dalam dan mati-matian mempertahankan tali yang menghubungkan jiwa Lan Guan Zhi dengan tubuh pemuda itu. Zhi Shu dan Ling Qing Zhu juga dibuat panik karena keadaan Yi Wen yang memburuk.


Mereka khawatir dengan kondisi di luar yang entah apa itu dan juga khawatir dengan kondisi Yi Wen. Belum lagi, Tetua Chen Duan Shan dan Hu Li bahkan belum kembali. Ini semakin menguatkan bahwa telah terjadi sesuatu yang kemungkinan besar bukanlah hal yang baik.


******

__ADS_1


__ADS_2