![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang terkejut bukan main saat mendengarnya. Apalagi setelah itu, Ling Qing Zhu melenggang pergi begitu saja. Dia pun berkedip dan mulai menyentuh pipinya sambil menggeleng pelan, "Gila sih.... Tapi dari mana dia tahu aku sedang belajar bersikap agresif? Tunggu! Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Mo Huai di hari itu?!"
Xiao Shuxiang kaget sendiri, dia mulai berjalan masuk ke dalam gubuknya sambil menepuk pelan pipinya dan masih tidak menyangka. "Kucing Putih benar-benar mengejutkan. Padahal kupikir dia akan menganggapku sebagai 'Kakeknya' karena dia tahu masa laluku seperti apa, tapi dia malah melakukan hal semacam ini. Benar-benar tidak terduga,"
Kejadian yang menimpanya dan hanya berlangsung sepersekian detik itu memang cukup mengguncang jiwa, tetapi dengan cepat juga Xiao Shuxiang melupakannya. Pemuda itu kembali beraktivitas seperti biasa, termasuk mengawasi latihan Wang Zhao.
Selama tiga hari berlatih di bawah bimbingan Xiao Shuxiang, perubahan mulai nampak pada diri Wang Zhao. Dia kini sudah bisa mengayunkan pedang kayunya yang besar dan bahkan mampu melakukan berbagai gerakan berpedang.
Wang Zhao mengayunkan pedang yang berat itu tanpa kesusahan. Saat posisi kakinya berada di tempat yang tepat, dia pun menekuk sedikit lututnya dan detik berikutnya melayang naik.
Xiao Shuxiang memperhatikan teknik meringankan tubuh milik Wang Zhao yang semakin membaik. Dirinya pun menatap sebuah ranting pohon dan segera melompat untuk meraihnya.
Xiao Shuxiang dengan cepat melesat dan langsung menyerang Wang Zhao. Suara ketika kedua senjata mereka berbenturan terdengar cukup kuras. Xiao Shuxiang memberi tekanan hingga kaki Wang Zhao kembali menapak di tanah, kejadian itu pun menciptakan angin kejut.
"Tuan Xiao?"
"Fokus pada gerakanmu...!"
Xiao Shuxiang menyerang Wang Zhao dengan kakinya. Dia membuat pemuda itu melompat menghindar dan membalas serangannya. Benturan kedua senjata mereka kembali menghasilkan suara yang berat dan kuat.
"Pergerakanmu masih kaku, Wang Zhao!" Xiao Shuxiang memutar tubuhnnya dan nyaris menusuk punggung Wang Zhao dengan memakai ranting kayu yang dia pegang. Beruntung Xiao Shuxiang bisa menahan pergerakannya.
"Tolong lebih perlahan, Tuan Xiao." Wang Zhao sudah terengah-engah, jantungnya berdebar sangat kencang.
"Musuhmu tidak akan memberikanmu kesempatan, Wang Zhao! Jangan lengah dan gerakkan pedangmu...!"
Wang Zhao terkejut saat diserang lagi. Dia berusaha mengambil jarak dari Xiao Shuxiang saat pemuda itu justru melesat dan mempersempit jarak di antara mereka kembali. Keadaannya benar-benar terdesak.
"Fokus, Wang Zhao. Jangan pedulikan beratnya pedangmu...!" Xiao Shuxiang memberi arahan, "Kumpulkan tenagamu di tumit kaki dan pinggul. Perhatikan juga gerakan lawanmu,"
Wang Zhao mendengarkan arahan yang diberikan. Gerakannya terasa lebih ringan dan kini dia mampu membuat lawannya terdorong mundur. Saat tidak peduli pada betapa beratnya senjata yang dia pegang, gerakan Wang Zhao semakin ringan dan terarah. Ini mengagumkan! Bahkan detak jantungnya tidak lagi secepat yang tadi.
"Aku .... Benar-benar tenang,"
Xiao Shuxiang sekarang dalam posisi bertahan, dia sampai terpojok dan nyaris tertebas andai tidak menapak di batang pohon dan melentingkan tubuhnya di udara untuk menghindari serangan Wang Zhao.
Segaris senyum terukir di wajah tampan Xiao Shuxiang ketika melihat perubahan pada binar mata Wang Zhao yang terlihat fokus. "Kau ternyata lebih berbakat dari yang kukira. Bagus!"
!!
Wang Zhao tersentak saat gerakan Xiao Shuxiang lebih cepat dan tajam dari yang sebelumnya. Dia pikir sudah memojokkan pemuda ini, namun nyatanya tidak butuh waktu lama sampai dirinya mendapat serangan hingga membuatnya harus menghantam tanah dengan keras.
Xiao Shuxiang sendiri terkejut dan segera menghampiri Wang Zhao saat pemuda itu mengerang kesakitan. Dirinya sedikit cemas, "Kau tidak mati, kan?"
"Akh, sa-sakit..." Wang Zhao tidak kuat lagi untuk bangun. Dadanya sakit sebab terkena tendangan dan bahu kanannya juga ikut terkena pukulan ranting dari Xiao Shuxiang.
__ADS_1
Napas Wang Zhao kembali tidak beraturan, dia merasakan tubuhnya sakit dan tenaganya terkuras habis. Untung saja Xiao Shuxiang memakai ranting, andai itu pedang----mungkin sebagian tubuhnya sudah tidak ada sekarang ini.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, dia membuang ranting di tangannya dan mengusap pelan dadanya. "Baguslah, kupikir aku sudah membunuhmu."
"Tuan Xiao..." napas Wang Zhao masih tidak beraturan, "Punggung dan dadaku sakit. Kurasa .... Ada tulangku yang retak,"
Xiao Shuxiang mengeluarkan sebuah pot kecil berisi arak dan menyerahkannya pada Wang Zhao, "Ambil dan minumlah dulu."
Wang Zhao berusaha bangun sambil menahan sakit di tubuhnya. Dia pikir yang diserahkan oleh Xiao Shuxiang adalah air biasa, namun saat mencium aroma yang manis---dirinya pun mengerutkan kening.
Wang Zhao baru terkejut saat mulai meminum air pada pot tersebut. Dia sampai terbelalak, "I-i-ini arak!"
"Memang siapa yang bilang itu teh hijau? Sudah minum saja,"
Wang Zhao mencoba meminum lagi dan sungguh merasa kagum. Tidak hanya kepalanya yang terasa ringan, bahkan tenaganya seakan pulih kembali dan tubuhnya terasa tidak sakit lagi.
Wang Zhao, "Luar biasa. Ini sebenarnya arak jenis apa? Aku baru pertama kali meminum arak seperti ini, he-hebat..."
"Tidak perlu terlalu memuji. Itu hanya Arak Anak Linglung yang belum pernah kuperbarui. Bersyukurlah karena aku membiarkanmu mencobanya,"
"Arak yang belum pernah .... Diperbarui? Maksud Tuan Xiao...?"
"Apa kita harus membahas itu?"
Wang Zhao menggeleng, "Tidak... Aku hanya agak penasaran. Sepertinya Alam Kultivasi Bawah itu sangat menarik...."
Xiao Shuxiang mengangguk, "Arak itu memang hanya ada di Alam Kultivasi Bawah dengan harga yang sesuai kualitasnya. Siapa pun tidak akan menyesal menghabiskan uang untuk mendapat arak terbaik itu,"
Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan kembali berkata, "Jika kondisimu sudah baik. Kita akan lanjut latihan lagi,"
Wang Zhao tersentak, dia sebenarnya masih ingin istirahat sejenak. Namun latihan juga perlu. Dirinya harus makin kuat jika ingin pergi untuk mencari lima jenis petir agar akar pada inti spiritualnya dapat dikurangi.
Selama tiga hari berikutnya, Wang Zhao terus-menerus berlatih. Di sisi lain, Mo Huai juga belajar di bawah bimbingan Tetua Puncak Jiang.
Setiap harinya Mo Huai menghapalkan nama-nama tanaman herbal beserta manfaatnya. Sesekali, Tetua Puncak Jin Cheng yakni Meng Hao Niang datang meski tidak mengajarinya apa pun.
Wanita dengan rambut dan penampilan berantakan itu hanya datang sambil bersandar pada tiang dan menikmati meminum arak di kendi labunya.
Hari ini pun, saat Mo Huai tengah fokus membaca buku----Meng Hao Niang lagi-lagi datang dan tetap dalam penampilan yang berantakan.
Mo Huai berdiri dan memberi hormat, namun tidak mendapat respon apa pun dari Meng Hao Niang. Tetua Puncak Bai, yakni Jiao Feng yang juga berada di ruangan itu nampak menggeleng pelan.
Jiao Feng mengembuskan napas, "Tetua Meng? Kau yakin tidak ingin memberi beberapa saran pada anak ini?"
Mo Huai tersentak dan menundukkan kepalanya, dia masih saja sangat gugup. Sebenarnya tidak hanya Tetua Puncak Jiang yang menaruh perhatian padanya, tetapi Tetua Puncak Bai pun melakukan hal yang sama. Dia bahkan diberi buku tentang pengetahuan dasar alkemis dari Tetua Puncak Bai.
__ADS_1
Meng Hao Niang cegukan sebelum menatap Jiao Feng, "Kau dan Liu Lang sudah mengajari bocah penurut ini. Jadi apa gunanya aku ikut mengajarinya?"
Jiao Feng, "Tapi tetap saja berbeda. Kami bukan alkemis sepertimu. Bakatnya akan semakin terasah jika Tuan Muda Mo ini berada di bawah bimbinganmu,"
"Shizun ...." Mo Huai menatap tak percaya ke arah Jiao Feng. Dia kembali tertunduk dengan tangan yang memegang kuat kain pakaiannya. Dia benar-benar tidak menyangka akan sangat diperhatikan sampai seperti ini.
Meng Hao Niang memperhatikan Mo Huai sebelum kembali meminum arak di dalam kendi labunya. "Anak penurut ini .... Dia terlalu baik. Jika dia berada di bawah bimbinganku, kepolosannya pasti akan rusak. Dia .... Bisa saja justru menjadi pemabuk."
Meng Hao Niang menggeleng, "Tidak. Tidak bisa, aku tidak ingin merusak sifat polos anak ini. Aku .... Tidak menerima murid yang penurut."
Mo Huai memberanikan diri untuk menengadah dan menatap Meng Hao Niang. Dia gugup, tetapi dirinya perlu mengatakan ini.
Mo Huai bersuara pelan, "Te-Tetua Meng. A-Anda sudah tahu bahwa minuman se-semacam itu merusak. Ja-jadi saya harap, Tetua Meng dapat mengurangi kebiasaan Anda ini."
Jiao Feng tidak menyangka Mo Huai akan begitu berani menegur Meng Hao Niang meski dengan suara yang gemetar. Itu sudah termasuk keberanian yang tak semua orang bisa melakukannya.
Meng Hao Niang sendiri yang mendengar ucapan itu terlihat mengerutkan kening. Dia seperti fokus memperhatikan wajah Mo Huai yang sontak membuat pemuda tersebut terkejut dan samakin gugup.
Meng Hao Niang cegukan, "Namamu?"
Mo Huai tersentak, dia berkedip karena Meng Hao Niang menanyakan tentang namanya. Dia pun dengan hormat mulai menjawab, "Sa-Saya Mo Huai, Tetua."
"Mo Huai," Meng Hao Niang bersuara. "Ada tiga alasan kenapa seseorang sampai menenggelamkan dirinya dengan minuman seperti ini..."
Meng Hao Niang kembali cegukan dan menenggak araknya lagi. Dia berkata, "Yang pertama... Orang itu melakukannya untuk meringankan beban pikirannya. Yang kedua, dia ingin melepaskan kesedihannya. Sementara yang terakhir, dia ingin ..... Ha ha, cepat mati."
Meng Hao Niang melambaikan tangan yang memegang kendi labu sebelum kembali bersuara, "Aku .... Tidak. Sama sekali tidak memilih ketiganya sebagai alasan. Aku meminum arak.... Karena aku suka. Aku sangat menyukai arak. Benar-benar suka. Sangat suka. Suka sekali."
Mo Huai tertegun bahkan sampai tidak berkedip. Dia melihat Meng Hao Niang berjalan pergi dengan langkah yang kurang seimbang. Dirinya baru berkedip saat tidak lagi melihat punggung Tetua Puncak Jin Cheng itu.
Mo Huai menoleh ke arah Jiao Feng, "Shizun? Tetua Meng .... Apa beliau sungguh akan baik-baik saja?"
Jiao Feng mengembuskan napas dan menggeleng pelan, dia tersenyum tipis. "Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, dia memang seperti itu. Dia akan selalu baik-baik saja,"
"Ah ...." Mo Huai mengangguk pelan. "Jika Shizun sudah berkata demikian, aku jadi tidak merasa khawatir lagi."
"Mn, sekarang kembali lihat bukumu. Kita akan mempelajari tentang manfaat getah Rumput Hantu,"
Mo Huai kembali fokus pada bukunya. Dia mendengarkan setiap penjelasan Jiao Feng dengan teliti dan sesekali mencatat hal yang masih ingin dia cari tahu lebih mendalam lagi.
Tidak hanya Mo Huai yang fokus belajar, Liu Wei Lin dan kelima murid terbaik dari Gunung Puncak Suci Sekte Lautan Awan pun melakukannya.
Mereka berusaha keras meningkatkan kemampuan masing-masing dan mempersiapkan diri untuk mengikuti pertemuan Aliansi Abadi.
Sangat jauh di tempat lain, tepatnya di arena latihan Istana Seribu Pedang----Lan Guan Zhi kembali menghadapi murid senior yang ingin bertukar pengalaman bertarung dengannya.
__ADS_1
******