KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
52 - Kekhawatiran (2)


__ADS_3

"Apa memang kultivator di tempat ini memiliki tingkah yang seperti itu?" Xiao Shuxiang bertanya.


Kakek tua yang tidak lain adalah Dao Fang An tersadar dan langsung menatap pemuda berpakaian serba hitam di hadapannya. Suaranya serius, "Apa maksudmu Bocah?"


"Bukankah pertanyaanku jelas? Apa memang kultivator di tempat ini memiliki sifat yang angkuh?"


"Kau juga seperti itu. Kau sama dengan mereka,"


Xiao Shuxiang mendengus, "Aku baik pada orang yang baik padaku. Aku hormat pada orang yang hormat padaku. Aku dingin pada orang yang tidak kusukai dan aku membunuh mereka yang tidak pantas hidup. Bagaimana? Mau pilih sikapku yang seperti apa, hm?"


"Apa yang kau katakan sama saja menjelaskan bahwa kau ini tipekal orang yang tidak punya pendirian," Dao Fang An meledek. Dia berjalan melewati pemuda di depannya.


Xiao Shuxiang berjalan mengikuti Tua Bangka tersebut, dia pun berkata. "Kau salah besar, Kakek. Justru itu adalah keteguhanku."


Dao Fang An membawa Xiao Shuxiang ke sebuah gubuk bambu. Tiba di halaman, dia menyuruh pemuda itu meletakkan keranjang sayur yang dibawanya. Tentu saja Xiao Shuxiang meletakkannya seperti yang diminta.


Dao Fang An, "Apa kau bertemu seseorang selain Tuan Muda Liu?"


"Mn, sebelumnya ada gadis berpakaian merah yang cukup cantik. Tapi aku tidak tahu namanya. Kemudian aku bertemu nenek menyebalkan yang mengomeliku. Dia tidak membiarkanku meletakkan keranjang ini di tanah. Dia sampai merutukimu, apa nenek itu istrimu?"


"Tentu saja bukan." Dao Fang An menolak mentah-mentah, "Kau istirahatlah di tempat ini. Besok, bangun pagi-pagi dan mulai pekerjaanmu mencabut rumput. Keranjang itu kau bawa masuk, aku akan mengambilnya besok."


Xiao Shuxiang tersentak, dia menghentikan Dao Fang An ketika pria tua itu berniat pergi. "Tunggu, aku tidak melihat temanku? Ke mana perginya para pelayan baru yang lain?


"Mereka memiliki kamar sendiri. Sudah, istirahat saja. Atau kau mau langsung bekerja?"


"Tidak, terima kasih. Aku akan masuk sebelum kau berubah pikiran." Xiao Shuxiang mengambil kembali keranjang sayur miliknya dan segera berjalan pergi. 


Dia merutuk, "Kalau kau menyuruhku membawa ini masuk, harusnya jangan suruh meletakkannya di luar. Benar-benar Tua Bangka menyebalkan,"


Dao Fang An mendengarnya dan menggeleng pelan, dia menatap punggung Xiao Shuxiang dan juga mulai berjalan pergi. "Anak itu... Meski kurang ajar, tapi dia setidaknya masih tahu caranya berterima kasih."


*


*


*


Xiao Shuxiang mengembuskan napas melihat tempat istirahat yang diberikan Dao Fang An padanya. Gubuk ini jujur saja lebih cocok disebut gudang kayu bakar atau penyimpanan bahan makanan dan air.


Ada sebuah tempat tidur dengan alas jerami yang berada di dekat jendela kecil. Ada juga sekat kayu yang dibaliknya terdapat bak mandi. Xiao Shuxiang yakin seseorang sengaja menempatkan benda itu untuk menyakinkan dirinya bahwa ini adalah kamar.


"Tidak ada waktu untuk protes. Ini lebih baik daripada gubuk tua kakek saat aku pertama kali datang ke Sekte Kupu-Kupu."


Xiao Shuxiang sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan di mana pun tempat istirahat untuknya. Meski jika Dao Fang An tidak menyediakan tempat, dia masih bisa tidur di mana saja. Di dahan pohon pun sama sekali tidak masalah.

__ADS_1


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, dia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Ada bak air di tempat ini dan karena kondisi tersebut, dia tidak perlu mencari air lagi.


Tidak butuh waktu lama sampai Xiao Shuxiang selesai membersihkan diri. Setelah berpakaian, dia pun mulai berbaring di tempat tidurnya. 


Alas jerami ini mengingatkannya pada saat dia pertama kali bangun di rumah sederhana di Desa Tani. Kehidupan yang baru setelah perang besar antara dirinya dengan para kultivator ketiga aliran. 


Sekarang, sepertinya kehidupannya dimulai kembali. Entah masalah apa yang akan menghampirinya, namun dahulu dan sekarang adalah dua hal yang berbeda. Xiao Shuxiang tidak pernah menyesali keduanya.


"Aku tidak melihat Mo Huai seharian ini, entah bagaimana keadaan anak itu. Ah, Kucing Putih juga... Apa perlu kucari dia?" Xiao Shuxiang baru ingat, dia harusnya mencari Ling Qing Zhu terlebih dahulu dan memastikan kondisi istrinya baik-baik saja.


Baru saja akan melangkah keluar dari gubuk bambu itu, namun seketika terlintas dibenak Xiao Shuxiang untuk tidak pergi ke mana-mana. Tempat ini asing untuknya dan setelah bertemu beberapa kultivator dengan kemampuan yang tinggi----dia merasa perlu lebih berhati-hati.


"Aku tidak boleh sembarangan. Ini bukan di Benua Timur, apalagi jika aku anggap ini sebagai tempat yang bisa membuatku bertingkah seenaknya. Kultivator di sini punya kemampuan yang sangat tinggi, akan sangat merepotkan bila aku justru membuat masalah. Kucing Putih juga pasti akan ikut terseret,"


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, biar bagaimapun dia tidak bisa bertindak kekanak-kanakan di tempat semacam ini. "Sebaiknya besok saja mencari gadis itu, kurasa dia juga sedang beristirahat..."


Pada akhirnya Xiao Shuxiang kembali ke tempat tidurnya dan hanya butuh waktu tiga tarikan napas sampai dirinya mulai tertidur pulas.


Di sisi lain, Mo Huai tidur bersama dua orang kultivator yang praktiknya berada di Forging Qi tingkat dua. Kedua orang itu terlihat sangat kelelahan, bahkan salah satunya berwajah agak pucat.


Mo Huai dan para kultivator yang sama sepertinya memang diberi kemudahan untuk melewati Tiān lù. Mereka dibantu sepanjang jalan oleh Wang Yu hingga bisa tiba di tempat ini lebih cepat. 


Mereka yang menderita luka dalam pun mendapat pengobatan. Syukurlah tidak ada dari kultivator tersebut yang berada dalam kondisi luka parah.


"......"


Tempat ini asing dan Mo Huai tidak akrab dengan siapa pun. Ling Qing Zhu yang merupakan satu-satunya kenalan Mo Huai berada di kamar khusus dan jauh dari lingkungan tempat tinggal para pelayan. Entah apakah Xiao Shuxiang berhasil datang kemari atau tidak, tapi dia berharap agar Koki Alkemis itu ada di sini bersamanya.


"......"


*


*


*


Hu Li yang bersama dengan Nie Shang dan Siu Yixin pun merindukan Xiao Shuxiang. Dia melakukan perjalanan pulang kembali ke Penginapan Seribu Tahun.


Nie Shang sendiri berada di dalam sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Hu Li duduk bersila di atas atap kereta itu. Dia terlihat fokus memandang ke depan, nampak begitu tenang----namun hatinya jelas sedang gelisah.


"♪♬ Apa yang kau pikirkan, yo? ♪♬" Siu Yixin yang menunggang kuda bertanya pada Hu Li.


"Tuan Mudaku. Aku mengkhawatirkan keadaannya,"


Nie Shang yang berada di dalam kereta mendengar ucapan Hu Li. Dia pun mengangkat tirai di sampingnya dan sedikit mengeluarkan kepala.

__ADS_1


Nie Shang bicara, "Saudara Xiao akan baik-baik saja. Justru yang harus kau khawatirkan adalah para kultivator yang ada di Alam Kultivasi Atas. Entah kondisi di sana akan sekacau apa setelah dia datang. Saudara Xiao itu bukannya biang keonaran?"


Hu Li tidak membantahnya, "Sebenarnya Tuan Mudaku tidak akan melakukan hal yang merugikan jika tidak ada orang yang mengganggunya. Hanya saja..."


Keraguan terlihat di wajah Hu Li. Dia mengurungkan niat untuk bicara. Tindakannya membuat Nie Shang dan Siu Yixin menunggu.


"Hanya saja apa...?" Nie Shang agak tidak sabaran.


Hu Li terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bicara, "Tuan Mudaku tidak bisa jauh dari darah."


!?


"♪♬ Maksudmu? ♪♬"


"Dia berusaha menjadi orang yang baik, tapi sebenarnya sulit bagi Tuan Muda untuk membuat tangannya selalu bersih dari darah. Aku hanya khawatir dia akan melukai dirinya sendiri..."


Perasaan Hu Li semakin tidak nyaman ketika sebuah ingatan terlintas dibenaknya, "Beberapa kali aku pernah mendapati Tuan Muda Xiao mematahkan jari-jarinya sendiri dan nyaris merobek perutnya. Beruntung aku datang tepat waktu hingga bisa mencegahnya berbuat tindakan yang nekat,"


Nie Shang terkejut, "Apa separah itu penyakit Saudara Xiao?! Kupikir selama ini dia baik-baik saja,"


"Tuan Mudaku pernah dibawa ke Arena Hidup dan Mati saat usianya baru saja menginjak 5 Tahun. Ayah dan ibunya di kehidupan yang dahulu sangatlah tidak waras. Mereka membuat Tuan Mudaku melalui masa-masa yang sulit sendirian selama dua tahun. Belum lagi ketika mereka telah tiada, Tuan Mudaku harus hidup sendirian hingga usianya menginjak dewasa. Tidak bisa dibayangkan betapa berat hidup yang Tuan Mudaku jalani. Tuan Muda tidak bisa disalahkan atas kepribadiannya,"


"......"


Hu Li tidak menceritakan lebih jauh detail tentang hidup Xiao Shuxiang, tetapi Nie Shang sudah sangat memahaminya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Xiao Shuxiang hidup dengan didikan yang seperti itu.


"♬♪ Yo, yo. Kejadian itu sudah lebih dari seratus tahun yang lalu, apa dia tidak bisa melupakan masa lalunya? ♪♬"


Nie Shang, "Kurasa itu bukan hal yang mudah dilupakan. Ini semacam trauma, tapi mungkin lebih buruk lagi. Meski di kehidupan ini Saudara Xiao memiliki ayah dan ibu yang berbeda, namun tetap saja trauma masa lalunya tidak bisa dia hilangkan."


Hu Li, "Aku pernah mendengar bahwa kenangan yang buruk itu tidak mampu dilupakan dan terus membekas seumur hidup. Sifatnya permanen jika dibanding dengan kenangan yang indah. Entahlah... Sebenarnya Tuan Mudaku tidak terlalu terbuka pada kehidupannya di masa lalu padaku,"


"Kenapa tidak bertanya padanya?" Nie Shang merasa bahwa Hu Li hanya fokus menjadi pelayan Xiao Shuxiang tanpa pernah berusaha menjalin hubungan yang lebih daripada itu.


"Hu Li," Nie Shang kembali berkata. "Ada batasan antara pelayan dan Tuan Muda, tetapi tidak ada batasan antara saudara. Apa kau tidak pernah berpikir lebih baik menjadi saudara daripada pelayan untuk orang seperti Saudara Xiao?"


Hu Li tertegun, dia tidak pernah berpikir seperti itu. Dia baru akan bicara saat dua orang pengawal Nie Shang mendadak berseru. Hu Li tersentak dan langsung mengambil posisi berdiri.


!!


Pembicaraan tersebut tiba-tiba harus berhenti karena rombongan Nie Shang beserta para pelayan dan pengawalnya telah dihadang oleh sekelompok orang berpakaian serba hitam. Wajah mereka tertutupi kain dan pedang yang dibawa itu jelas menunjukkan itikad tidak baik.


Empat pengawal Nie Shang langsung turun dari kuda mereka sambil menarik pedang. Tidak perlu lagi ditanya, sosok yang menghadang jalan itu tidak lain adalah kumpulan bandit gunung.


"Sebelumnya tidak ada yang seperti ini? Kenapa tiba-tiba kita dihadang?!" Nie Shang terkejut. Matanya terbelalak dan spontan menutup tirai ketika sebuah anak panah melesat.

__ADS_1


!!


******


__ADS_2