KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
125 - Misi Pertama


__ADS_3

Kelinci digendongan Xiao Shuxiang melompat turun saat terlihat sebuah hamparan luas dengan sebuah pohon besar di tengah-tengahnya. Hewan berbulu putih itu kembali berkumpul dengan kelinci lainnya dan nampak mengelilingi pohon tersebut.


Liu Wei Lin tersentak dan menahan Xiao Shuxiang agar tidak melangkah lebih jauh. Hamparan luas rerumputan di hadapan mereka ada yang menghasilkan semburan api dan petir. Bahkan beberapa bebatuan juga mengeluarkan hal yang sama.


Zhi Shu menghampiri Xiao Shuxiang dan terus memandang ke depan, "Saudaraku. Apa aku belum pernah menanyakan ini sebelumnya? Sebenarnya untuk apa kita kemari?"


Xiao Shuxiang dan Liu Wei Lin tersentak mendengar pertanyaan Zhi Shu. Mereka lantas menoleh dan menatap gadis itu.


Zhi Shu yang sadar sedang ditatap pun kembali berkata, "Maksudku. Jika kita ingin ke Istana Seribu Pedang, arahnya ada di perbatasan Kota Chenqing yang sebelumnya. Kita tidak perlu memasuki Kota Xiliang ini,"


Liu Wei Lin tersentak, "Itu benar. Tapi ke Istana Seribu Pedang juga bisa melalui Kota Xiliang,"


Zhi Shu, "Tapi bukannya akan memakan waktu yang lebih lama?"


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Zhi Shu. Sepertinya aku yang belum mengatakan apa-apa padamu. Kami memang berniat pergi ke Istana Seribu Pedang, tapi sebelum itu kami harus ke Kota Xiliang dulu untuk petirnya. Aku sedang dalam misi mengumpulkan lima jenis petir, kawan."


Zhi Shu tersentak, dia berkedip. "Saudara Xiao, kau ini kenapa punya misi yang aneh sekali. Kau mau buat apa dengan lima jenis petir itu dan bagaimana caramu mengambilnya? Apa aku mau berdiri di sana sambil menunggu petir menyambarmu?"


Xiao Shuxiang mendengus, "Apa kau pikir disambar petir itu tidak bisa membunuh orang? Se-luar biasanya Xiao Shuxiang ini, aku tidak ingin membuat diriku sendiri dalam bahaya."


Zhi Shu, "Jadi .... Lima jenis petirnya? Mau kau buat apa, Saudaraku?"


"Kau tidak perlu tahu. Jelasnya ini misi yang sangat wajib dilakukan,"


Lan Guan Zhi berjalan mendekati teman baiknya dan bertanya, "Berapa petir yang sudah kau kumpulkan?"


Xiao Shuxiang menggeleng, "Belum ada. Ini yang pertama,"


Lan Guan Zhi mengembuskan napas dan dengan tenang berkata, "Tunggu di sini."


Xiao Shuxiang dan teman-temannya yang lain memperhatikan saat Lan Guan Zhi menggunakan teknik meringankan tubuh dan menapak lembut di tengah-tengah kumpulan kelinci putih.


Sosok Lan Guan Zhi begitu tampan dan penuh wibawa. Cerminan dirinya adalah sebuah kesempurnaan. Dia membuat teman-temannya terpesona hanya karena melihatnya berdiri.


Lan Guan Zhi selalu membawa dua pedang bersamanya, dia nampak mengeluarkan salah satu pedang yang terlihat tua dan karatan. Wang Zhao dan Liu Wei Lin sampai membeku saking tidak percayanya dengan senjata milik pemuda berpakaian putih itu.


Meski tidak mengatakan apa pun, namun ekspresi wajah keduanya telah berkata. 'Pedang tua yang karatan itu merusak arti 'Sempurna' pada sosok Lan Guan Zhi'.


Liu Wei Lin berkedip, "Senjata itu bahkan tidak bisa digunakan menebas. Rasanya seakan-akan dapat hancur hanya dengan sekali sentilan ringan---!!"


Mata Liu Wei Lin sontak terbelalak saat melihat perubahan drastis ada pedang tua karatan yang dipegang Lan Guan Zhi. Senjata itu dengan cepat diselimuti cahaya kuning keemasan dan membuat bilahnya yang kecil menjadi lebar, ukuran pedang itu pun lebih besar daripada yang tadi.


Wang Zhao juga kaget, dia melihat ada garis kuning keemasan di bagian tengah bilah pedang Lan Guan Zhi. Senjata itu berkilau dan sangat tajam, apalagi kini nampak petir-petir kecil yang seakan dikeluarkan oleh pedang tersebut.


Pedang tua yang dahulu pernah ikut dihina oleh Xiao Shuxiang itu bernama Shǎndiàn, senjata leluhur Sekte Pedang Langit yang bahkan para tetua terdahulu pun tidak pernah berhasil menariknya keluar dari sarungnya.


Zhi Shu terpukau melihat betapa luar biasa dan mengagumkannya sosok Lan Guan Zhi, apalagi saat pemuda itu mengayunkan Shǎndiàn.


Ling Qing Zhu sendiri memperhatikan bagaimana sebuah kilatan petir yang besar keluar dari pedang Lan Guan Zhi dan seakan memancing petir di atas sana untuk menyambar ke bawah.


Suara keras yang dahsyat tercipta dan bahkan membuat Mo Huai sampai memejamkan mata dan menutup telinganya. Jantungnya seperti diruntuhkan dan nyaris saja tubuhnya ambruk andai tidak ditahan oleh Ling Qing Zhu.


Xiao Shuxiang menyaksikan ada dua petir. Satu berasal dari pedang Lan Guan Zhi dan satunya lagi adalah petir dari langit. Kelinci-kelinci putih yang berada di sekitar teman baiknya itu melompat dan berlarian seakan-akan menghindari Lan Guan Zhi.


Mo Huai yang sudah membuka matanya kaget dengan para kelinci itu, dia pun lantas bersembunyi di belakang Ling Qing Zhu dan tanpa sadar memegang kedua lengan gadis itu.


Wajah Mo Huai begitu pucat, "Nona Ling. Tolong aku..!"


Ling Qing Zhu mengulurkan tangan dan mengusap pelan kepala Mo Huai. Dia bersuara tenang, "Jangan khawatir. Aku di sini,"

__ADS_1


Mo Huai kaget pada tindakan Ling Qing Zhu, dia spontan menepis kasar tangan gadis berambut putih itu dan mengambil langkah mundur. Dia membuat Ling Qing Zhu tersentak dan gadis itu langsung menoleh ke belakang.


"Ma-maafkan aku. Aku... Aku tidak sengaja," Mo Huai menundukkan pandangan dan tidak berani menatap Ling Qing Zhu. Suaranya bahkan gemetar.


"Kau baik-baik saja?" Ling Qing Zhu jelas tidak mempermasalahkan tindakan Mo Huai yang mengejutkan barusan.


"Apa yang kalian lakukan di belakang?" Xiao Shuxiang menghampiri Ling Qing Zhu dan lantas bertanya, "Kucing Putih. Apa kau sedang selingkuh dariku?"


"Tidak," Ling Qing Zhu menjawab tanpa ekspresi. "Mo Huai takut pada kelinci, aku melindunginya."


Xiao Shuxiang menyilangkan tangan dan menggeleng pelan. Dia pun menatap Mo Huai yang masih tertunduk dengan tubuh yang nampak gemetar. Xiao Shuxiang berkata, "Mo Huai. Naiklah ke kereta, aku tidak ingin kau pingsan."


Mo Huai mengangguk dan mengikuti ucapan Xiao Shuxiang. Dia segera masuk ke dalam gerbong kereta kuda dengan ekspresi wajah yang memburuk, entah karena syok dengan para kelinci atau terlalu syok atas perlakuan Ling Qing Zhu padanya.


Xiao Shuxiang sudah tidak lagi melihat Mo Huai, dia pun menyenggol Ling Qing Zhu dan dengan serius berkata. "Aku tadi melihatmu mengusap kepala Mo Huai, kau ini benar-benar ingin selingkuh dariku yaah?"


"Tidak,"


"Usia Mo Huai itu lebih muda darimu, Kucing Putih. Kau tidak boleh seperti ini," Xiao Shuxiang menatap Ling Qing Zhu dan melanjutkan, "Bahkan meski usianya sepantaran denganmu pun, kau tetap tidak boleh terlalu perhatian padanya. Bagaimana jika ada yang salah paham dan mengira hubungan kita tidak baik-baik saja? Aku tidak mau menerimanya,"


Ling Qing Zhu berkedip saat pemuda di sampingnya ini malah merangkul lengan kanannya dan menyandarkan dagu di bahunya sambil merengek manja. Dirinya pun dengan dingin berkata, "Menjauhlah."


"Kucing Putih, kau perhatian pada orang lain tapi tidak padaku. Apa kau sungguh tidak suka aku?"


"Ini bukan saatnya bersikap kekanakan, Shuxiang." Ling Qing Zhu mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pelan pipi Wali Pelindungnya, dia mengingatkan. "Sadari situasinya dan berdiri dengan benar, ayo."


"Cium aku dulu,"


"Jangan uji keberuntunganmu,"


"Kalau begitu, biar aku saja yang menciummu---"


Xiao Shuxiang melepaskan rangkulannya pada lengan Ling Qing Zhu dan menoleh ke arah Zhi Shu. Dia berdecak, "Apa kau bisa menjadi udara hampa saat aku dan istriku sedang sayang-sayangan? Kau merusak suasana,"


"Memalukan." Ling Qing Zhu mendengus dan mengibaskan lengan pakaiannya sebelum akhirnya berjalan mendekati Wang Zhao. Dia kini fokus melihat Lan Guan Zhi tanpa peduli pada perdebatan antara dua saudara seperguruan di belakang sana.


Liu Wei Lin menggeleng pelan. Dia pun menghampiri Ling Qing Zhu dan berujar pelan, "Nona Ling? Apa boleh kutanya sesuatu?"


"Mn," Ling Qing Zhu mengangguk.


"Nona Ling dan Saudara Xiao-ku.... Apa kalian sungguhan sudah menikah?"


"Mn, benar."


Liu Wei Lin mendesah kecewa dan menutup kipasnya. Namun tidak berapa lama sebelum dia kembaki membuka kipas di tangannya dan bertanya lagi, "Apa Nona Ling tidak ada niatan untuk berpisah darinya?"


"Saudara Liu, aku mendengarmu." Xiao Shuxiang menghentikan perdebatannya dengan Zhi Shu dan menatap ke arah Liu Wei Lin. Dia berkata, "Kau tidak akan bisa mendapatkan Kucing Putih. Dia milikku,"


"Aku kan hanya bertanya..." Liu Wei Lin tanpa ragu berkata, "Siapa tahu saja Nona Ling menemukan ketidak-cocokan denganmu dan akhirnya membuat keputusan lain."


Liu Wei Lin tersenyum lembut pada Ling Qing Zhu, "Aku hanya ingin mengatakan pada Nona Ling untuk bisa melihatku sebagai pilihan yang berikutnya. Aku janji akan selalu membahagiakanmu,"


Ling Qing Zhu berkedip, dia menatap Liu Wei Lin dan mengangguk pelan. "Terima kasih,"


"Kucing Putih, kau jangan dengarkan dia." Xiao Shuxiang baru saja akan berjalan mendekat saat ditahan oleh Zhi Shu. Dia tersentak dan menatap saudaranya itu, "Kau ini kenapa?"


"Kita belum selesai,"


Xiao Shuxiang kembali menoleh ke arah Ling Qing Zhu tanpa memberontak saat Zhi Shu memegang lengannya. Dia pun berseru, "Kucing Putih..! Kau jangan percaya jika ada pria yang menjanjikan 'kebahagiaan' padamu. Hidup itu terus berjalan, tidak mungkin selamanya kau akan bahagia. Apalagi ini dunia yang keras,"

__ADS_1


Zhi Shu mendengus, "Saudara Xiao? Sejak kapan kau belajar menasehati layaknya orang bijak seperti itu? Kau tidak cocok sama sekali,"


Ling Qing Zhu menoleh dan menatap Wali Pelindungnya. Tanpa nada, dia berkata. "Tapi kau pernah mengatakan ingin membuatku bahagia, kau ingat?"


Xiao Shuxiang tersentak, dia berkedip. "Benar juga,"


Zhi Zhu menahan tawanya dan memukul gemas lengan Xiao Shuxiang. "Saudara Xiao, berarti kau juga termasuk pria yang tidak bisa dipercayai. Ha ha ha, bukankah sudah kubilang bersikap bijak itu tidak cocok denganmu, pffft."


Xiao Shuxiang menyentil dahi Zhi Shu dan membuat gadis itu merintih. Dia pun menghampiri Ling Qing Zhu dan tanpa peringatan menggeser kasar Liu Wei Lin hingga membuat pemuda itu berakhir dipelukan Wang Zhao secara tidak sengaja.


Xiao Shuxiang terlihat mengabaikan tindakannya barusan. Dia malah fokus menatap Ling Qing Zhu dan berujar lembut, tatapan matanya teduh.


"Kucing Putih, saat itu aku berkata ingin membuatmu bahagia. Tapi aku tidak pernah menjanjikannya," Xiao Shuxiang meraih tangan Ling Qing Zhu dan dengan lembut menepuk-nepuk punggung tangan gadis cantik tersebut.


Xiao Shuxiang berujar, "Aku adalah orang yang paling sulit mengucapkan janji. Jika janji itu tidak ditunaikan, maka kau harus menelan seribu jarum. Jadi aku berusaha untuk tidak pernah mengutarakan janji sembarangan,"


Ling Qing Zhu bergumam, "Itu janji jari kelingking. Terlalu kekanakan,"


Xiao Shuxiang tersenyum, "Benar. Tapi masih digunakan bahkan oleh orang dewasa,"


"........ Mn, sepertinya begitu."


Zhi Shu mengibas-ngibaskan tangannya yang terbalut perban. Rasa sakit di kedua tangannya sudah berpindah dan menjadi rasa gerah di dalam hatinya melihat Xiao Shuxiang yang penuh dengan trik.


Zhi Shu mengembuskan napas dan menggeleng pelan. Dia pun bergumam, "Benar-benar menyebalkan. Saudara Xiao-ku itu bisa saja mencari celah untuk mengambil kesempatan, licik sekali. Tsk, tsk, tsk. Aku harus banyak belajar darinya."


Zhi Shu tersentak ketika melihat Lan Guan Zhi berjalan mendekat. Pemuda berpakaian putih itu menyarungkan kembali Shǎndiàn. Pemuda tampan tersebut sudah kehilangan banyak tontonan yang menarik.


Lan Guan Zhi memang tidak tahu apa yang terjadi di antara teman-temannya, tetapi dia masih menyaksikan Xiao Shuxiang yang sedang memegang tangan Ling Qing Zhu. Entah kenapa dia jadi ingin menendang bokong teman baiknya itu dan mengikatnya di dahan pohon.


Wang Zhao menghampiri Lan Guan Zhi dan nampak cemas, "Anda baik-baik saja?"


"Mn," Lan Guan Zhi mengangguk sebagai jawaban sebelum akhirnya mendekati Xiao Shuxiang dan menyentil keras dahi teman baiknya itu.


Xiao Shuxiang spontan merintih dan lalu mengusap-usap pelan dahinya. Dia pun meringis dan menatap teman baiknya, "Lan'Er..! Kau ini punya masalah apa?! Aduhh..!"


Lan Guan Zhi mengeluarkan sebuah bola kaca seukuran kepalan tangan orang dewasa yang terbentuk dari petir di langit dan petir yang berada di pedangnya. Dia menyodorkannya pada Xiao Shuxiang.


Lan Guan Zhi bersuara ketus, "Dua jenis petir. Untukmu, yang sangat tidak tahu malu."


Zhi Shu melihat Xiao Shuxiang tersentak dan berkedip. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalas Saudara Xiao-nya.


Zhi Shu berjalan mendekat dan menyindir, "Haaah... Saudara Xiao. Tuan Muda Lan begitu setia dan sangat peduli padamu. Tuan Muda Lan bahkan mengumpulkan petir yang kau mau dan sampai membuat ringan pekerjaanmu, tapi kau justru.... Haaah. Kasihan sekali Tuan Muda Lan, pengorbanannya tidak dianggap sedikit pun."


Zhi Shu menggeleng dan mengembuskan napas kecewa, "Sungguh kisah kasih yang tragis. Aku bahkan tidak sanggup memikirkannya,"


Lan Guan Zhi, "Nona Shu---"


"Zhi Shu. Kau mulai lagi," Xiao Shuxiang tidak akan terpengaruh. Dia pun menatap Lan Guan Zhi dan menerima bola kaca pemberian teman baiknya itu. Dirinya tersenyum.


Lan Guan Zhi bertanya, "Kau tidak akan memberitahukan apa pun tentang fungsi lima jenis petir itu?"


Xiao Shuxiang menjawab dengan suara yang pelan, "Aku ingin mengolahnya agar bisa digunakan untuk menghilangkan beberapa akar pada dantian."


Lan Guan Zhi mengerutkan kening, "Dantianmu berakar lagi?"


Xiao Shuxiang menggeleng, "Bukan untukku. Tapi untuk Wang Zhao,"


!!

__ADS_1


******


__ADS_2