![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Sudahkah kau memikirkan ini, Saudara Jian?"
Suara itu anggun, tanpa kehilangan vitalitas seorang pemuda. Lan Guan Zhi berdiri di sebuah arena latihan, bagaikan giok putih. Jubah dan pita dahi yang dia kenakan nampak mengombak lembut searah angin.
Di tangan kanannya, Lan Guan Zhi memegang sebuah pedang berharga yang dia terima dari Istana Seribu Pedang. Senjata kualitas atas yang lebih baik dari pedang para murid Sekte Pedang Langit.
Di hadapan Lan Guan Zhi juga terlihat Jian Yang. Pemuda yang tidak pernah jera mencari masalah meski telah banyak dihukum sekali pun.
"Lan Guan Zhi," Jian Yang berkata kasar. "Tidak perlu banyak bicara. Aku hanya akan berhenti saat aku benar-benar menginjakmu dan membuatmu berlutut di kakiku."
Setelah kata-kata itu diucapkan, semua orang yang menonton di luar arena menjadi gempar. Ada yang mengutuk Jian Yang karena sudah bertingkah tidak sopan, tetapi tidak sedikit murid yang mendukung pemuda tersebut.
Bukan sesuatu yang aneh jika Lan Guan Zhi dimusuhi oleh sebagian besar murid Istana Seribu Pedang. Dia adalah sosok yang berbakat, pribadi yang tenang dan memiliki karisma yang tak terbantahkan.
Lan Guan Zhi disukai oleh para Tetua dan guru di tempat ini. Meski terlihat dingin saat bicara dengan orang lain, nyatanya dia dikagumi oleh hampir semua murid perempuan Istana Seribu Pedang. Di hari pertamanya datang pun, dia telah banyak mencuri perhatian.
Salah satu gadis berseru, "Jian Yang! Kau sangat tidak tahu malu! Kau pernah dikalahkan sebelumnya, apa kau tidak bisa belajar dari kekalahmu, hah?!"
Gadis yang lainnya ikut menambahkan, dia mencibir. "Sepertinya Senior Jian baru akan berhenti saat dia benar-benar sudah dipermalukan."
"Tuan Muda Lan...!" Pemuda yang lain berseru, "Kau harus memberi Jian Yang pelajaran. Dia memang murid paling meresahkan di tempat ini..!"
"Tao Ming!" seorang pendukung Jian Yang menunjuk geram saudaranya, "Apa maksud ucapanmu itu?! Apa sekarang kau sudah menjadi anjing Lan Guan Zhi, hah?!"
Pendukung Jian Yang lainnya juga ikut geram. "Tao Ming! Pecundang sialan. Jangan hanya menekuk ekormu dan sembunyi di bokong Lan Guan Zhi. Kemari hadapi aku jika kau berani..!"
Tao Ming mendengus, "Siapa yang baru saja kau ledek? Justru yang menekuk ekor dan hanya mampu menjulurkan lidah seperti anjing adalah kau! Kalian hanya berani bersembunyi di bawah ketiak Jian Yang. Kau pikir aku takut, hah!"
"Tao Ming...!!"
Zhi Zhu, gadis cantik berpakaian merah muda dengan corak sayap kupu-kupu dan merupakan saudara seperguruan Xiao Shuxiang itu nampak menggeleng melihat keributan kubu yang mendukung Jian Yang dengan kubu yang mendukung Lan Guan Zhi.
Dia tidak habis pikir jika kehadiran Lan Guan Zhi telah memecah murid-murid Istana Seribu Pedang menjadi dua kubu meski itu tidak sepenuhnya benar. Sejak awal, murid perguruan ini memang sudah terpecah dan kehadiran Lan Guan Zhi makin memperjelas hal tersebut.
"............"
Lan Guan Zhi sendiri tidak melakukan apa pun. Dia menjalani hari-hari sama seperti yang biasa dia lakukan di Sekte Pedang Langit. Hanya saja entah kenapa dia malah ikut terseret pada permusuhan murid-murid ini.
Seorang murid perempuan kembali berseru, kali ini nadanya terdengar memprovokasi. "Kalian hanya iri pada bakat dan ketampanan Tuan Muda Lan, kan?! Karena itulah kalian sengaja mencari masalah dengannya."
"Itu benar!" gadis lainnya menambahkan, "Tuan Muda Lan jelas lebih baik dari kalian. Setiap inci dari dirinya adalah kesempurnaan. Kalian bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya."
"Kau dan teman-temanmu sudah dibutakan oleh iblis itu! Gadis j****g sepertimu lebih baik diam saja!"
"Kau..!!"
Jing Yufeng yang merupakan salah satu Tetua Istana Seribu Pedang nampak tersentak ketika mendengar seruan kasar dari seorang muridnya. Di sampingnya juga ada Tetua yang lain dan terlihat berekspresi sama dengannya. Mereka tidak menyangka akan mendengar kata seperti itu.
__ADS_1
"Dasar anak berandalan, mereka benar-benar sudah membuat buruk tempat ini." Tetua Murong Xun menggeram tertahan, dia mengepalkan tangannya dan akan melesat saat lengannya diraih oleh Jing Yufeng.
"Tetua Jing, jangan hentikan aku--!" Tetua Murong baru akan bersuara tegas saat terdengar bunyi Guqin yang dipetik.
Suara tersebut keras dan menghasilkan gelombang kejut hingga membuat murid laki-laki pendukung Jian Yang terdorong, banyak di antara mereka yang terjatuh sebab tidak menyangka akan serangan yang tiba-tiba itu. Bahkan, Jian Yang pun terdorong mundur hingga beberapa meter.
Sosok yang menyerang mereka barusan tidak lain adalah Lan Guan Zhi. Pemuda itu mengibaskan tangannya dan Guqin putih bersenar tujuh miliknya kembali menghilang.
Alat musik itu adalah pusaka pemberian teman baiknya. Sayang, Lan Guan Zhi hanya sesekali memakainya karena dia merupakan orang yang lebih nyaman menggunakan pedang.
Lan Guan Zhi sebenarnya ingin menarik pedangnya, Shǎndiàn dan memakainya untuk menghentikan perdebatan murid Istana Seribu Pedang ini. Namun efek yang dikeluarkan Shǎndiàn adalah petir, suaranya akan jauh lebih kuat lagi.
"KAU..!!" Jian Yang berteriak keras. Para murid yang mendukungnya pun nampak menggeram marah.
Suara Lan Guan Zhi dingin. Dia berkata, "Jika hanya mendengar kalian saling mengatai, sebaiknya tidak perlu bertarung lagi."
Jian Yang tersentak saat Lan Guan Zhi malah menyarungkan pedangnya dan hendak melangkah pergi. Urat menegang di dahinya, dia meradang.
Zhi Shu terkejut dan menyerukan nama Lan Guan Zhi saat melihat Jian Yang melesat dan hendak menyerang pemuda berpakaian putih itu.
"Tuan Muda Lan..!!"
"Tuan Muda Lan..!!"
Murid perempuan Istana Seribu Pedang juga ikut berseru. Suara keras dengan angin kejut bercampur debu langsung menyeruak di atas arena pelatihan.
"A-apa yang terjadi?!"
"Tuan Muda Lan...!"
Beberapa murid merasa khawatir karena tidak mengetahui apa yang terjadi pada Lan Guan Zhi. Kepulan debu menghalangi pandangan mereka. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai sesuatu terlempar keluar dari kepulan tersebut.
Semua orang menyaksikannya. Jian Yang menggunakan kaki kanan dan lutut kirinya untuk menahan badan dan agar tidak sampai keluar dari arena.
Sekali ayunan pedang, kepulan debu yang sebelumnya menutupi arena pelatihan itu langsung menghilang. Lan Guan Zhi tetap berdiri kokoh dan masih penuh wibawa. Ekspresi wajahnya tenang, tapi tatapan matanya begitu dingin. Para murid yang memihak padanya nampak mengusap dada dan mengembuskan napas lega.
"Jian Yang! Apa-apaan kau ini..?!" seorang pemuda berseru, "Melakukan serangan pengecut seperti tadi, apa bagusnya itu!"
Tao Ming menunjuk, "Kalian lihat! Kalian menyebutku pecundang tadi, tetapi apa buktinya ini?! Jelas-jelas Jian Yang, orang yang kalian bangga-banggakan itu justru menyerang Tuan Muda Lan dari belakang, sekarang siapa yang pecundang, hah?!"
"Lan Guan Zhi yang lebih dahulu menyerang Jian Yang dan kami semua juga terkena serangannya! Apa kau tidak memakai matamu?! Dia memakai Guqin dan menyerang kami..!"
"Itu karena kalian memang pantas mendapatkannya..!"
Zhi Shu melihat keributan para murid Istana Seribu Pedang dan benar-benar tidak habis pikir mereka bisa sebenci ini satu sama lain. Kedua ibu jari tangan Zhi Shu nampak menggaruk-garuk telunjuk jari tangannya, dia gelisah dan ingin sekali memanah para berandalan sekte itu.
Zhi Shu mencoba tenang, "Tidak baik. Ini bukan Sekte Kupu-Kupu. Aku tidak boleh bertindak seenaknya. Tetapi aku benar-benar ingin memanah leher mereka semua. Sudah lama sekali .... Tangan ini tidak dicuci dengan darah."
__ADS_1
Zhi Shu bisa merasakan debaran pada jantungnya. Dia bernapas pelan-pelan, "Tetap tenang. Aku harus terlihat anggun, tidak boleh merusak nama Sekte Kupu-Kupu di tempat ini. Harus selalu cantik,"
Zhi Shu mengembuskan napas, "Ingat ucapan guru. Kurangi mengambil nyawa orang lain. Jauhi sikap seperti saudara Xiao, pokoknya tidak boleh bertingkah seperti saudara Xiao--!!"
Zhi Shu inginnya juga tenang dan tetap menjaga keanggunannya sebagai seorang gadis. Tetapi yang terjadi berikutnya justru makin membuat debaran jantungnya menguat.
Dia melihat pertarungan Lan Guan Zhi dan Jian Yang berlangsung sangat sengit. Bahkan Jian Yang mengerahkan seluruh tenaganya hingga mampu mendesak Lan Guan Zhi untuk mengambil posisi bertahan.
Setiap serangan Jian Yang tajam dan menukik. Lan Guan Zhi berkonsentrasi penuh supaya tidak sampai tertusuk dan tertebas. Salah langkah saja, maka akan berakhir fatal.
!!
Semua orang seperti terhipnotis dengan pertarungan kedua pemuda itu. Mata Zhi Shu sampai berbinar saat melihat Jian Yang berhasil menebas sedikit dari kain pakaian Lan Guan Zhi.
Pemuda yang merupakan berandalan sekte itu nampak bersemangat dan makin mempercepat serangannya. Hanya saja detik berikutnya keadaan kembali berbalik.
!!
Mata Jian Yang terbelalak saat tiba-tiba lawannya menghilang dan segaris cahaya keperakan melintas tepat di depan matanya.
Dia mendengar suara menggelegar petir. Detik itu juga, pandangannya berubah gelap dan kepalanya sakit, Jian Yang pingsan.
Para murid yang berada di luar arena terkejut melihat perubahan yang begitu drastis itu. Mereka yang mendukung Jian Yang menggeram marah dan menarik pedang mereka, nyaris ingin melesat untuk menyerang Lan Guan Zhi saat sebuah anak panah tiba-tiba saja melesat.
Lan Guan Zhi yang menyadari serangan itu berasal dari belakang langsung berbalik. Dia melihat Zhi Shu yang sudah memegang sebuah busur es di tangan kirinya. Di samping gadis itu berdiri dua tetua Istana Seribu Pedang.
!!
Anak panah itu tidak hanya sebagai peringatan, tetapi juga hukuman. Para murid yang mendukung Jian Yang entah bagaimana merasakan tubuh mereka kaku dan sulit digerakkan. Rasanya seakan aliran darah mereka telah membeku.
Tidak ada yang bisa bersuara. Mereka semua hanya mampu melotot dan kaget saat tahu yang melakukan serangan itu adalah seorang gadis. Masalahnya, ini merupakan serangan yang begitu kuat.
Jin Yufeng menepuk pelan pundak Zhi Shu, dia memuji gadis tersebut. "Kau sudah melakukannya dengan baik,"
"Terima kasih, Shizun."
Jin Yufeng pun melayang dan menapak lembut di samping Lan Guan Zhi. Dialah yang sudah meminta Zhi Shu untuk membuat para muridnya tidak bergerak selama beberapa saat.
Jin Yufeng menggeleng, "Aku memberi izin pada kalian untuk memakai Arena Pelatihan dan bertarung dengan A-Yuan agar kalian bisa berbagi pengalaman. Namun yang kulihat, justru kalian ingin menyerangnya beramai-ramai. Apa ini didikan yang kami ajarkan sebagai Tetua dan Shizun kalian?"
!!
Melihat para muridnya terkejut membuat Jin Yufeng melanjutkan, "Apa yang ingin kalian buktikan? Bahwa didikan para murid di Istana Seribu Pedang tidak jauh berbeda dari perguruan Aliran Hitam?"
"Ti-tidak Shizun. Kami---"
"Kalian mengecewakan." Jin Yufeng menyela, dia pun menoleh ke arah Lan Guan Zhi dan berkata, "A-Yuan. Pergi dan beristirahatlah. Dari sini, serahkan semuanya padaku dan Tetua Murong."
__ADS_1
Lan Guan Zhi menatap Jin Yufeng sejenak sebelum menyarungkan pedangnya kembali. Dia pun menyatukan kedua tangannya dan memberi hormat sebelum melangkah pergi keluar arena.
******