KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
199 - Xiao Shuxiang (6)


__ADS_3

Batang pepohonan yang ada di sekitar Xiao Shuxiang sampai tergores oleh angin kejut yang datang secara berulang-ulang dan semakin kuat setiap kalinya.


Xiao Shuxiang terpaksa memakai sedikit dari kekuatannya untuk menghentikan pergerakan Yīng xióng yang begitu liar. Karena segelnya sedikit dibuka, warna matanya mulai berubah dan terlihat urat-urat tipis kehitaman yang menjalar di lehernya.


Tanah di bawah kaki Xiao Shuxiang terkikis dan angin kejut yang tercipta sangat menekan. Yīng xióng terlihat mengeluarkan cahaya merah dengan angin tipis yang melingkarinya.


Lengan pakaian Xiao Shuxiang agak terkoyak dan begitu juga dengan punggung tangannya. Bahkan kini, ada sedikit goresan di pipi kanannya hingga darah segar terlihat mengucur turun.


Xiao Shuxiang sama sekali tidak melonggarkan cengkeramannya. Justru, dia mengeluarkan aura hitam-pekat dan Yīng xióng menyerapnya.


Perlahan, angin kejut semakin dahsyat keluar dan sampai membuat pepohan yang berjarak tujuh meter dari tempat itu tumbang dalam kondisi yang tertebas.


Bocah Pengemis Gila dan yang lainnya baru saja tiba, namun mereka tidak bisa mendekat. Meski sebelumnya mereka sudah dilarang oleh Xiao Shuxiang, tapi tetap saja para kultivator itu menyusul kemari.


"Saudara Xiao--!!" Yi Wen baru saja akan berseru saat angin kejut hampir melukai dirinya andai Lan Guan Zhi tidak segera membuat perisai dari segel pelindung.


Kebetulan di saat yang sama, Wang Zhao datang dari sisi lain dan pemuda itu tidak sendirian. Wang Zhao terlihat bersama Tetua Dao Fang An dan Tetua Meng Hao Niang.


Angin kejut juga hampir membuat Wang Zhao terluka andai dia tidak dilindungi oleh kedua tetua ini. Dia sungguh terkejut menyaksikan kondisi Xiao Shuxiang yang terlihat berjuang keras menaklukkan Yīng xióng.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tetua Dao Fang An sama terkejutnya. Dia bertemu Wang Zhao di jalan saat dia bersama Tetua Meng Hao Niang.


Di sisi lain, Xiao Shuxiang begitu fokus dengan Yīng xióng. Tangannya sudah mengeluarkan banyak darah dan bahkan tangan kirinya yang sebelumnya terkena racun pun kembali terluka. Di saat Xiao Shuxiang hampir mencapai batasnya, besi berujung runcing yang dia pegang mulai berhenti memberontak.


Darah Xiao Shuxiang seakan terserap ke dalam senjata itu dan asap yang sebelumnya juga ada kini mulai memudar. Angin kejut yang sempat sangat berbahaya pun mulai berangsur-angsur menghilang.


?!


Xiao Shuxiang tersentak ketika racun di tangan kirinya juga ikut diserap oleh Yīng xióng. Perlahan, warna ungu-kehitaman pada kulit tangannya mulai memudar dan kembali seperti sedia kala.


Jantung Xiao Shuxiang masih berdebar-debar kencang karena kejadian ini dan masih terlihat sedang mengatur napas.


"........... Shuxiang?"


Lan Guan Zhi lebih dahulu menghampiri teman baiknya. Dia menyentuh bahu Xiao Shuxiang dan kembali memanggilnya.


"Shuxiang-"


"Jangan sentuh. Aku tidak apa-apa," Xiao Shuxiang menepis tangan Lan Guan Zhi dan seperti menghindari menatap teman baiknya tersebut.


Lan Guan Zhi tentu saja kaget, namun dia bisa melihat kenapa sikap Xiao Shuxiang seperti ini. Dia pun bernapas pelan dan langsung menarik teman baiknya untuk disembunyikan dalam pelukannya.


Xiao Shuxiang terkejut, sekarang terlihat jelas bahwa kedua matanya mempunyai warna berbeda dan bahkan ada beberapa urat tipis kehitaman di pipinya.


"Lan Zhi ...."


"Tidak apa-apa. Mereka tidak melihatnya. Kau juga bisa menutup matamu," suara Lan Guan Zhi sejernih air, jermarinya yang putih dan lentik terulur. Dia menepuk pelan punggung teman baiknya dengan penuh perhatian. Xiao Shuxiang hanya terdiam mendapat perlakuan semacam itu.


Lan Guan Zhi tahu bahwa Xiao Shuxiang tidak ingin perubahan pada matanya terlihat oleh siapa pun. Ini tentu akan menimbulkan banyak spekulasi dan rasa curiga dari banyak pihak, khususnya bagi mereka yang masih belum mengenal baik identitas sebenarnya dari Xiao Shuxiang.


Selama ini, hanya Demonic Beast yang matanya bisa berubah warna. Kalau pun ada kultivator yang dapat melakukannya, maka orang itu kemungkinan besar adalah keturunan Demonic Beast atau kultivator yang telah mengikat perjanjian dengan makhluk tersebut.


Meski demikian, iblis juga adalah salah satu makhluk yang warna matanya mampu berubah. Ia mempunyai mata yang lebih tajam dari Demonic Beast, lebih membuat takut dan seakan ingin menelan siapa pun hanya dengan memakai tatapan mata saja.

__ADS_1


Jika orang lain tahu, mereka bisa saja akan menuduh teman baiknya. Lan Guan Zhi tidak ingin bila kejadian di masa lalu juga dialami oleh temannya di tempat ini.


Xiao Shuxiang pun tidak ingin itu terjadi. Dia pun berusaha menyembunyikannya dan Lan Guan Zhi yang juga mengetahuinya langsung memberikan bantuan. Xiao Shuxiang jujur saja senang mempunyai teman yang begitu perhatian.


"Lan'Er .... Tolong tetap diam seperti ini. Sebentar saja ...."


"............ Mn,"


"Tuan Xiao ....!" Wang Zhao bergegas di susul oleh Tetua Dao Fang An dan Tetua Meng Hao Niang. Mereka mendekat ke tempat di mana Xiao Shuxiang berada.


"Saudara Xiao ...!" Jian Yang dan teman-temannya yang lain juga tidak tinggal diam. Bahkan Liu Wei Lin pun bergegas mendekat. Mereka semua tentu ingin memeriksa kondisi Xiao Shuxiang.


Lan Guan Zhi menyadari hal itu dan lalu membantu Xiao Shuxiang berdiri, tentu dia menyembunyikan agar wajah teman baiknya tidak sampai dilihat. Dia masih memeluk Xiao Shuxiang.


"Lan'Er Gege, ada apa dengan Shuxiang?" Bocah Pengemis Gila gugup karena Lan Guan Zhi seperti sangat melindungi Xiao Shuxiang. Dia khawatir jika teman baik Lan'Er Gege-nya itu dalam kondisi yang buruk.


"Tuan Muda Lan, apa yang terjadi pada Saudara Xiao-ku?" Yi Wen juga merasa khawatir. Dia sama sekali tidak bisa melihat wajah Xiao Shuxiang, namun dari tangan saudaranya----jelas sekali bahwa Xiao Shuxiang berada dalam kondisi yang terluka.


"Biar aku memeriksamu," Tetua Meng Hao Niang bermaksud baik. Namun Lan Guan Zhi dengan sopan menolaknya.


Lan Guan Zhi berujar, "Shuxiang butuh waktu menenangkan diri. Ini tidak masalah,"


"Nak, tapi--"


"Lan'Er benar, Tetua ...." Xiao Shuxiang menyela dengan nada suara yang agak melemah. Dia masih menyembunyikan wajahnya dan menjadikan dada bidang teman baiknya sebagai penyangga tubuh. Dia kembali berujar, "Aku .... Berusaha mengatur napas. Ini .... Hanya sebentar,"


"Saudara Xiao ...." Wang Zhao bernapas pelan. Ekspresi wajahnya terlihat pucat. Dia jelas mencemaskan Xiao Shuxiang saat ini, namun pemuda itu sudah bicara dan mengatakan perlu waktu untuk bisa kembali tenang.


Xiao Shuxiang sendiri merasakan sakit pada tubuhnya, apalagi organ dalamnya. Namun dibandingkan yang tadi, kali ini dia sungguh sudah agak membaik.


Lan Guan Zhi sendiri mampu menutupi teman baiknya dengan sempurna. Dia memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dan juga lebih tinggi dari Xiao Shuxiang. Jadi tentu menyembunyikan temannya dalam pelukan seperti ini sama sekali bukan masalah.


Tetua Dao Fang An berkedip dan lantas mengarahkan pandangan kepada Bocah Pengemis Gila. Penampilan dari putra kebanggaan tetua Sekte Lembah Cahaya Surgawi itu terlihat berantakan seperti baru saja habis bertarung. Tetua Dao Fang An yakin bahwa pria ini mempunyai keterlibatan dari kondisi yang ada.


"Shen Long, apa kau bisa menjelaskan semuanya padaku?" Tetua Dao Fang An bertanya. Ucapannya membuat Liu Wei Lin, Jian Yang, Yan Tianhen dan juga Li Huanshou menjadi tersentak.


Bocah Pengemis Gila bernapas pelan dan kemudian menggeleng, "Aku tidak tahu secara pasti. Aku hanya menolongnya dari serangan senjata itu,"


Liu Wei Lin berkedip ketika ditunjuk dengan memakai tatapan mata oleh pria yang bernama Shen Long itu. Dia lantas terbatuk pelan dan mulai membuka kipas miliknya.


Liu Wei Lin berkata, "Sebelumnya .... Aku, Jian Yang dan Li Huanshou sedang memperbaiki pedang Saudara Xiao. Tapi saat selesai membentuk ulang senjata itu .... Tiba-tiba saja senjata Saudara Xiao menyerang kami."


Jian Yang mengangguk membenarkan, "Itu benar. Senjata Saudara Xiao seperti menggila, bahkan buruknya mengandung racun. Padahal kami sama sekali bukan orang yang pandai dalam meracik racun,"


"Kalian memperbaiki senjatanya tanpa menungguku?" Yan Tianhen bertanya dan lalu berdecak. Dia menggeleng dengan tangan yang disilangkan dan kemudian berujar, "Harusnya kalian menungguku membawa bahan lain untuk pedang itu. Jika saja aku di sana, maka tidak mungkin senjata itu menyerang kalian."


Liu Wen Lin tersentak mendengarnya dan lalu mendengus. Dia pun melambaikan kipasnya dan menatap Yan Tianhen. Liu Wei Lin meledek, "Hah. Seakan kau bisa saja menghadapi pedang itu sendirian,"


"Apa kau sedang meremehkanku?"


"Jelas aku meledekmu. Kau selama ini hanya banyak bicara,"


Yan Tianhen mengambil satu langkah dan menatap Liu Wei Lin. Dia pun berujar, "Mendengarmu bisa mengatakan hal itu sepertinya kau yang sudah membuat masalah. Aku yakin, kau pasti dalang yang memperbaiki pedang itu."

__ADS_1


Yan Tianhen menghela napas dan menggeleng pelan. Dia mengarahkan pandangan pada Li Huanshou dan Jian Yang. Dirinya berkata, "Kalian berdua jangan mau diperintah oleh pemuda ini. Dia bisa menyesatkan kalian--"


"Hei," Liu Wei Lin menyela. "Saudara Yan, kau sepertinya sudah menemukan lagi kebiasaan lamamu. Apa kau sedang memulai pertengkaran denganku?"


"Tentu saja. Siapa yang tidak muak melihatmu,"


"Waa kawan. Kalian jangan seperti ini," Bocah Pengemis Gila mencoba melerai karena dia berada di antara Yan Tianhen dengan Liu Wei Lin. Entah kenapa suasana tiba-tiba menjadi agak tegang di antara kedua pemuda yang dilihatnya ini.


Bocah Pengemis Gila berkata, "Kalian saudara seperguruan. Tidak baik saudara sendiri bertengkar, apalagi dilihat banyak orang. Ayo saling berbaikan~"


Yan Tianhen mendengus, "Aku tidak mau berbaikan dengan pria yang hanya tahu melambai-lambaikan kipasnya sambil membaca puisi yang aneh,"


"Saudara Yan, kau akan tahu apa yang bisa kulakukan dengan benda ini jika kipasku sudah memutuskan salah satu urat lehermu."


"Akulah yang akan membunuhmu lebih dahulu--"


"Kalian bertengkar seperti anak kecil saja,"


Yan Tianhen tersentak saat mendengar suara pemuda yang menyela ucapannya. Dia pun berbalik dan tahu bahwa pemilik suara itu adalah Xiao Shuxiang.


"Saudara Xiao ...." Yi Wen sangat ingin menerjang dan memeluk Xiao Shuxiang, namun melihat kondisi tangan saudara seperguruannya itu----dia pun terpaksa mengurunkan niatnya.


Warna mata Xiao Shuxiang telah kembali normal seperti semula dan Lan Guan Zhi juga sudah melepaskan pelukannya. Dia merobek sedikit pakaiannya dan lalu mulai melilitkannya pada tangannya yang terluka.


"Kau yakin sudah baik-baik saja?" Tetua Dao Fang An bertanya. Dia melihat wajah Xiao Shuxiang yang masih agak pucat.


"Kakek Tua, terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Aku sekarang bisa mengatasinya," Xiao Shuxiang menjawab dan mulai menimbang-nimbang senjata di tangannya.


"Apa benda itu milikmu?" Tetua Meng Hao Niang memperhatikan senjata di tangan Xiao Shuxiang. Pemuda ini seakan sedang memikirkan sesuatu.


Xiao Shuxiang mengangguk pelan, "Ini pedangku yang sebelumnya telah patah."


Xiao Shuxiang menatap Liu Wei Lin, Yan Tianhen dan Li Huanshou. Dia pun lantas mengucapkan terima kasih yang justru membuat ketiga temannya itu tersentak.


Tetua Meng Hao Niang kembali berkata, "Senjata di tanganmu sekarang tidak lagi terlihat seperti pedang. Apa yang akan kau lakukan?"


"Itu mudah. Tinggal ditempa saja menjadi pedang seperti semula,"


Tetua Meng Hao Niang menyilangkan tangan dan mendengus. Dia menggeleng pelan, "Jika aku jadi kau .... Aku akan langsung membuang benda itu dan lalu mencari penggantinya yang lebih baik,"


"Tetua Meng, pedangku tidak mungkin bisa diganti begitu saja."


"Hmph, tapi itu bukan--!" Tetua Meng Hao Niang tersentak saat Xiao Shuxiang tiba-tiba saja melenggang pergi di saat dia baru akan bicara. Bahkan, Tetua Dao Fang An dan yang lainnya pun ikut tersentak.


"Tuan Xiao ....!" Wang Zhao berseru dan lalu menyusul Xiao Shuxiang. Yi Wen pun ikut di belakangnya.


Tetua Meng Hao Niang berdecak dan menggeleng pelan. Dia memperhatikan punggung Xiao Shuxiang yang semakin menjauh dan berkata, "Memang dasar Bocah Berandalan. Tidak sopan sama sekali,"


"Lihat itu, Tua Bangka." Tetua Meng Hao Niang menoleh ke arah Dao Fang An dan berkata, "Aku sedang bicara dan Bocah Berandalan itu malah pergi begitu saja, bahkan tanpa berpamitan. Hah, aku jadi penasaran apa dia lahir dari manusia atau dari batu."


Tetua Dao Fang An tersenyum pahit, dia pun mengembuskan napas dan mempersilahkan Tetua Meng Hao Niang untuk berjalan lebih dahulu. Tetua Dao Fang An berujar, "Karena itulah kurasa kita memang dibutuhkan. Dia butuh banyak pengajaran tentang moralitas dan sebagainya,"


Tetua Meng Hao Niang berjalan dan lalu berkata, "Kaulah yang akan membimbingnya dalam berbagai hal semacam itu. Karena jika aku yang lakukan, dia mungkin saja akan menjadi Bocah Berandalan Pemabuk."

__ADS_1


******


__ADS_2