![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Mata Mo Huai perlahan terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah garis halus dari wajah seorang wanita. Sontak saja, matanya terbelalak dan berusaha untuk mundur.
"Ah!" Mo Huai merintih dan spontan mengusap-usap kepalanya yang terbentur dinding batu. Dia terlalu kaget karena di kelilingi oleh perempuan.
Xiao Shuxiang mendengar rintihan itu dan menaikkan sebelah alisnya. Dia menyilangkan tangan dan berkedip, "Jadi kau sudah bangun?"
"Tu-Tuan Muda Xiao...?" Mo Huai baru sadar bahwa Xiao Shuxiang ternyata ada di tempat ini. Sontak saja, dia berdiri dan bergegas mendekati pemuda itu. Murid perempuan yang merawatnya bahkan sampai kaget.
"Tuan Muda Xiao...!"
Tanpa peringatan, Mo Huai langsung memeluk Xiao Shuxiang dan menangis. Dia membuat banyak orang tersentak, termasuk Lan Guan Zhi.
"Apa yang kau lakukan?" Xiao Shuxiang juga tidak menyangka akan mendapat serangan yang tidak terduga. Mo Huai benar-benar menangis.
"Tuan Muda Xiao, kupikir .... Kupikir aku tidak akan melihatmu lagi ...." Mo Huai terisak. Tindakannya membuat Xiao Shuxiang menahan napas.
"Nak, di mana harga dirimu? Hei..?" Xiao Shuxiang mengusap-usap dan menepuk pelan punggung Mo Huai, "Laki-laki tidak boleh menangis. Apalagi di depan banyak orang seperti ini, jadi tarik kembali air matamu."
"Tapi .... Aku sangat takut,"
Xiao Shuxiang bisa mendengar betapa lirihnya suara Mo Huai, tubuh pemuda ini bahkan gemetar. Lan Guan Zhi yang ada di sampingnya bahkan tahu Mo Huai benar-benar ketakutan.
"Sudahlah, sudah.... Semua akan baik-baik saja. Kau sudah aman sekarang," Xiao Shuxiang menenangkan Mo Huai sampai pelukan padanya dilepaskan sendiri.
Para peserta konferensi yang melihat Xiao Shuxiang dipeluk begitu erat tidak mengutarakan satu kata pun. Mereka seakan bisa memahami ketakutan dari pemuda yang bernama Mo Huai tersebut.
Apalagi saat melihat betapa rendahnya praktik Mo Huai, para kultivator itu merasa bahwa sosok yang mereka lihat memang belum mempunyai pengalaman yang banyak dalam hal ini.
Setelah berhasil ditenangkan oleh Xiao Shuxiang, Mo Huai mulai menceritakan segala yang dia ketahui. Dia duduk di sebuah batu dan bersama Xiao Shuxiang. Beberapa murid yang perasaannya sudah lebih baik juga ikut dalam pembicaraan tersebut.
Xiao Shuxiang, "Kau bilang .... Hutannya bermasalah?"
Mo Huai menggeleng pelan, "Aku tidak yakin .... Itu hanya sekadar dugaan."
"Kami juga berpikir demikian. Kami tidak memasuki hutan, jadi tidak terkena ilusi. Kemungkinan besar memang hutan itu yang jadi sumber dari masalah ini,"
Mo Huai mengangguk pelan, ekspresinya pucat ketika mengingat hal mengerikan yang disaksikannya. Dengan suara yang sedikit serak, dia pun berkata. "Aku .... Harusnya bisa lebih kuat. Aku .... Terlalu takut hingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka..."
Dada Mo Huai terasa sakit, dia berusaha untuk tidak menangis namun air mata tetap jatuh membasahi pipinya. "Para murid itu .... Mereka bertarung dengan niatan membunuh. Mereka bertarung sampai mati dan aku hanya .... Aku hanya bisa diam menyaksikan semuanya. Aku .... Tidak bisa berbuat apa-apa,"
Lan Guan Zhi menepuk pelan pundak Mo Huai dan dengan tenang berkata, "Bukan salahmu..."
"Tuan Muda Lan," Mo Huai terisak. "Para murid itu bisa saja selamat .... Jika aku dapat lebih berani. Tapi aku .... Justru aku tidak---"
"Nak," Xiao Shuxiang menyela. Dia pun mengembuskan napas dan menepuk pelan lutut temannya. Dia pun berkata, "Ada hal tertentu yang tidak bisa kau cegah di dunia ini, seberapa keras pun kau berusaha. Salah satunya adalah kematian. Jika itu sudah ditetapkan untukmu atau untuk orang lain, maka kau tidak akan bisa mencegah apalagi lari darinya. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah, itu merupakan takdir mereka,"
"Yang lebih penting...." Xiao Shuxiang melanjutkan ucapannya, "Jika memang hutan itu adalah sumber dari ilusi yang dialami para peserta konferensi----lantas mengapa kau tidak terkena ilusi itu? Dan kenapa aku juga tidak mengalaminya? Padahal Tetua Wang saja bahkan terkena ilusi ini,"
Mo Huai terkejut mendengar penuturan dari Xiao Shuxiang, begitu pula dengan para murid yang lain. Beberapa dari mereka bahkan mengangguk dan dengan penuh semangat mengutarakan isi hati yang sudah lama mereka simpan.
"Itu juga yang ingin kutanyakan sejak tadi..!"
"Aku bahkan sudah memikirkannya sejak awal, tetapi belum sempat bertanya----Tuan Muda Mo langsung tidak sadarkan diri,"
!!
Mo Huai kaget dan menjadi sangat gugup ketika tiba-tiba diperhatikan oleh banyak pasang mata. Wajahnya pucat dan suaranya gemetar saat dia berkata, "A-aku juga tidak tahu. Aku bahkan terkejut kenapa aku sama sekali tidak terkena ilusi,"
Xiao Shuxiang sendiri nampak memain-mainkan poni rambutnya. Dia memikirkan setiap insiden yang dialaminya selama memasuki Ngarai Xiling dan memang pengaruh ilusi itu seakan tidak mempan padanya. Anehnya, Mo Huai juga tidak ikut terpengaruh.
"Apa mungkin karena .... Praktik Tuan Muda Mo terlalu lemah?" salah seorang murid mengutarakan pendapat dan membuat murid lainnya langsung mengarahkan pandangan padanya.
Lan Guan Zhi juga ikut memikirkannya. Dia menatap Xiao Shuxiang dan berujar, "Persamaan antara kau dan Mo Huai. Kalian mempunyai praktik yang lemah. Mungkin, ilusi ini hanya berlaku bagi kultivator dengan praktik tertentu."
Xiao Shuxiang menatap teman baiknya, "Itu bahkan terlalu aneh. Tapi .... Memang hanya kemungkinan itu saja yang bisa terjadi. Konferensi Aliansi Abadi diikuti oleh para murid terbaik setiap sekte, tentu saja praktik kultivasi mereka tidak ada yang lemah."
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Jika ini konspirasi .... Berarti yang kau katakan tadi bisa saja benar. Ilusi ini hanya ditujukan bagi para kultivator yang praktiknya tinggi,"
"Tapi bukankah murid yang praktiknya lemah justru lebih rentang terkena ilusi?" seorang kultivator mengutarakan isi pikirannya. Beberapa temannya juga setuju.
__ADS_1
"Tuan Muda Xiao, ini sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa ilusi itu tidak mempan pada kultivator yang praktiknya lemah, tetapi justru sangat kuat bila praktik kultivator itu tinggi?"
"Aku juga merasa ini tidak masuk akal," Xiao Shuxiang bernapas pelan dan masih memikirkannya. "Kita butuh sesuatu yang bisa membuktikan ini benar atau salah---"
"Tuan Muda Xiao!" Mo Huai seperti baru tersadar akan sesuatu, "Wang Zhao! Kita harus mencari tuan Wang Zhao,"
Mo Huai berkata, "Tuan Wang Zhao juga menjadi peserta konferensi. Jika kita menemukannya, maka kita akan tahu apa ilusi ini ikut mempengaruhinya atau tidak."
Xiao Shuxiang tersentak, "Benar! Wang Zhao mempunyai praktik kultivasi yang sama sepertimu. Aku akan mencarinya,"
"Aku akan ikut membantumu!"
"Kami juga!"
"Sebaiknya jangan," Xiao Shuxiang mencegah para murid yang berniat membantu dirinya mencari keberadaan Wang Zhao. Dia berkata, "Anggap saja hutan itu memang adalah sumber utama dari ilusi yang membuat para peserta bertarung satu sama lain. Dan anggap saja memang hanya kultivator dengan praktik lemah yang bisa memasuki hutan. Jadi jika kalian ikut denganku, justru kalian akan terpengaruh pada ilusi itu."
Xiao Shuxiang, "Aku pun akan tidak punya pilihan selain membuat kalian memakan pil olahan dari lalat pelangi. Jujur saja, aku tidak membawa banyak benda ini. Tapi lalat pelangi cukup mudah ditemukan di dalam hutan. Aku bisa saja menangkapnya dan---"
"Tidak, sebaiknya tidak perlu." seorang murid laki-laki menyela. Dia menggeleng pelan dan mengurungkan niat untuk ikut dengan Xiao Shuxiang.
"A-aku juga sebaiknya merawat Tetua Wang dan Se-Senior Taiyang saja," murid perempuan yang sebenarnya berusaha menarik perhatian Xiao Shuxiang juga ikut menggeleng.
Para murid itu menyerah.
"Mencium bau lalat pelangi saja sudah membuat perutku sakit dan mual-mual, apalagi sampai memakannya."
"Aku juga tidak pernah bermimpi, bahkan sekali pun untuk memakan serangga yang memiliki bau paling menyengat di seluruh alam semesta ini."
"Aku sendiri lebih baik mencium bau kotoran kuda daripada mencium bau serangga menyebalkan itu. Bentuknya saja yang kecil, tapi baunya ....."
"Aku malah tidak mau dua-duanya,"
Xiao Shuxiang menahan senyum saat melihat para murid di hadapannya tiba-tiba saja merinding ngeri dan bahkan secara tidak sadar menutup hidung mereka.
Para murid ini jelas membayangkan betapa buruknya bau dari lalat pelangi itu. Mereka bahkan menyebutnya sebagai serangga yang memiliki bau paling menyengat di seluruh alam semesta dan Xiao Shuxiang setuju.
Xiao Shuxiang berjalan dan menepuk pelan lengan teman baiknya, "Lan Zhi. Kau bantu mereka,"
"..............."
Xiao Shuxiang baru saja akan melesat saat tangannya mendadak diraih oleh Lan Guan Zhi. Dia tersentak dengan tindakan teman baiknya ini.
"Lan Zhi, kau---"
!!
Xiao Shuxiang mendengar suara dari para murid yang seketika riuh. Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao yang sebelumnya tidak sadarkan diri kini mulai bangun. Mereka langsung muntah-muntah tidak karuan dan berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikat tubuh mereka.
"Tetua Wang..!"
"Senior Taiyang..!"
"Saudara bela diri Taiyang..!"
Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao mendengar seruan para kultivator itu. Tetapi mereka kesulitan untuk menjawab karena terus saja muntah-muntah. Wajah mereka bahkan sangat pucat dan sampai mengeluarkan air mata karena bau yang sangat menyengat ini.
Mo Huai dan beberapa murid tahu bahwa Tetua Wang Jing Li serta Taiyang Hao sangat kesulitan. Mereka pun bergegas melepaskan ikatan kedua pria itu yang mana membuat Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao bisa muntah dengan posisi yang sedikit lebih nyaman.
Lan Guan Zhi masih memegang tangan Xiao Shuxiang. Dia menatap teman baiknya dan berujar, "Tetaplah di sini. Setidaknya bantu mereka dulu,"
"Lan Zhi, mereka akan baik-baik saja."
"Shuxiang, kau membuat Tetua Wang dan Tuan Taiyang memakan masing-masing satu pil bau milikmu. Mereka muntah-muntah selama berapa jam sampai keduanya membaik?"
"Ah... Soal itu ...."
"Jangan keterlaluan. Kau selesaikan ini dulu,"
"Lan Zhi ...." Xiao Shuxiang menggoyang pelan tangannya, "Aku sama sekali tidak mempunyai pil penentralisir bau dari lalat pelangi dan tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu mereka. Lagipula, bau menyengat itu perlu agar keduanya cepat sadar. Aku sebaiknya pergi untuk mencari Wang Zhao---"
__ADS_1
"Kau terluka, kan?"
"Apa?!" Xiao Shuxiang tersentak karena Lan Guan Zhi menyela ucapannya dengan sebuah pertanyaan. Dia berkedip tak percaya dan menatap teman baiknya.
Lan Guan Zhi melepaskan pegangan tangannya dan kemudian menepuk pelan punggung Xiao Shuxiang. Tepukan itu amat pelan, namun teman baiknya ini meringis seperti menahan kesakitan.
Lan Guan Zhi bersuara dingin, "Bodoh. Kau memikirkan orang lain, tapi tidak memikirkan diri sendiri. Kau pikir bisa menyembunyikannya dariku?"
"............ Ini bukan masalah, Lan Zhi. Kau terlalu mengkhawatirkanku. Aku memiliki regenerasi tubuh yang baik, kan? Luka ini akan pulih sebentar lagi."
"Jika demikian, tunggu sampai pulih."
"Tapi--"
"Tetap di sini," Lan Guan Zhi menyela dan membuat Xiao Shuxiang memberinya pandangan yang dalam.
"Lan Zhi..."
"Kau terlalu memaksakan diri," Lan Guan Zhi tahu teman baiknya ini mempunyai regenerasi tubuh yang tidak seperti kultivator lain. Tapi bukan berarti dia menjadi tidak peduli pada temannya.
Lan Guan Zhi tanpa memandang ke arah Xiao Shuxiang langsung memberi dua totokan pada punggung teman baiknya. Xiao Shuxiang memuntahkan darah saat itu juga, namun ini tidak disadari oleh para peserta konferensi karena mereka semua sibuk dengan kondisi Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao.
Xiao Shuxiang memberi tatapan yang menyalahkan pada teman baiknya. Dia baru saja akan bersuara ketika Lan Guan Zhi tiba-tiba menoleh dan menatapnya.
"Darah kotor sebaiknya dikeluarkan," Lan Guan Zhi berujar tenang. Dia sebenarnya tidak tahu alasan kenapa Xiao Shuxiang menahan luka dalam yang dialaminya, tetapi Lan Guan Zhi sempat berpikir bahwa teman baiknya ini berusaha untuk tidak terlihat lemah.
Lan Guan Zhi mengulurkan tangan dan berniat membersihkan darah di bibir Xiao Shuxiang dengan lengan pakaiannya saat tangannya justru ditahan.
"Kawan, kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa sendiri," Xiao Shuxiang baru akan menggunakan lengan dari jubah hitamnya untuk membersihkan darah di bibirnya saat Lan Guan Zhi justru mencegahnya.
"Jangan membuat kotor pakaian orang lain," Lan Guan Zhi membersihkan darah di bibir teman baiknya, kali ini Xiao Shuxiang tidak mencegah.
"Lan'Er. Lihat, sekarang pakaianmu yang malah kotor,"
"Aku bukan orang lain,"
"Kau ini..." Xiao Shuxiang protes, "Kenapa kau sangat memanjakanku, aku ini bukan anak kecil tahu."
"Mn, tahu. Kau Kakekku,"
"Ya ampun," sudah lama sekali Xiao Shuxiang tidak mendengar guyonan menyebalkan dari teman baiknya. Dia pun mengembuskan napas dan membalas ucapan teman baiknya.
"Lan Zhi, kau benar-benar Cucu yang berbakti. Sungguh, apa kau selama ini menganggapku 'Kakek'?"
"...........Mn, memang kau ingin kuanggap apa?"
"Suami,"
"Shuxiang,"
"Pfft---" Xiao Shuxiang tertawa dengan perubahan pada raut wajah Lan Guan Zhi. Ini pertama kalinya dia menyaksikan teman baiknya yang syok hingga nyaris kehilangan ketenangan.
"Lan'Er, kau tidak perlu tegang begitu..." Xiao Shuxiang tersenyum dan setengah berbisik. Kali ini nada suaranya serius, "Aku mendengarnya. Kau tidak disukai oleh Jian Yang dan teman-teman anak itu karena pada murid perempuan Istana Seribu Pedang mengagumimu, kan?"
Lan Guan Zhi berkedip dan tahu maksud ucapan teman baiknya. Dia pun bersuara pelan, "Jangan membantuku dengan hal yang tidak berguna. Aku tidak ingin ada nama baik yang ternoda dengan sebutan aneh lagi."
"Mm... Kalau begitu harus cari cara lain. Jika tidak ingin bantuan seperti sebelumnya, maka cara lainnya.... Kau harus segera menikah. Yaaah... Meski aku tidak yakin cara ini akan berhasil. Buktinya .... Aku dan Kucing Putih. Mereka tahu aku sudah menikah, tapi tetap berusaha menarik perhatianku."
"........... Mn. Apa menurutmu nona Zhi Shu cocok?"
"Ayolah, Kawan. Jangan saudara seperguruanku. Mereka adalah anak-anak yang tidak waras,"
"........... Mari bicarakan lain kali,"
Pembicaraan antara Lan Guan Zhi dan Xiao Shuxiang memang lebih privasi, ini hanya pembicaraan antara dua pemuda yang memiliki masalah dengan wajah menawan mereka. Tetapi keduanya tetap tidak melepaskan pandangan dari memperhatikan kondisi Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao.
Xiao Shuxiang dan Lan Guan Zhi bahkan berhenti berbincang saat Tetua Wang Jing Li dan Taiyang Hao telah kembali tenang, meski tubuh kedua pria itu agak lemas karena muntah-muntah.
******
__ADS_1