![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mengerutkan kening. Dia pun berujar, "Meski aku tahu bahwa mendung tidak selamanya akan hujan, tapi suara petir yang saling bersahut-sahutan di atas sana cukup membuatku heran. Apa langit memang hanya ingin bercanda dengan kota ini? Lihat, awan di atas sana benar-benar gelap. Namun tak satu pun air hujan yang menetes turun,"
Liu Wei Lin memainkan pelan kipas di tangannya, dia pun menjelaskan. "Kota Xiliang memang kota yang sedikit unik. Julukannya sebagai Kota Petir bukanlah isapan jempol jika dilihat dari keadaan sekarang,"
Zhi Shu, "Tapi .... Apa masih ada orang yang tinggal di tempat ini? Tidak mungkin kan langit di kota ini terus diselimuti oleh awan dan petir?"
Liu Wei Lin menutup kipasnya dan berujar, "Melihat kondisi tempat ini sekarang... Sepertinya mustahil ada orang yang tinggal,"
Xiao Shuxiang tanpa peringatan mulai melesat dan menapak lembut di salah satu atap bangunan. Dia membuat Zhi Shu, Liu Wei Lin dan yang lainnya tersentak.
Lan Guan Zhi pun ikut memeriksa kondisi, dia juga memakai teknik meringankan tubuh dan menapak tepat di samping Xiao Shuxiang. Dia melihat beberapa bangunan terbakar akibat terkena sambaran petir.
Xiao Shuxiang, "Kau melihatnya Lan'Er?"
"Mn,"
"Bangunan-bangunan yang hancur di tempat ini bukan karena diserang manusia, tapi murni karena alam. Ayo," Xiao Shuxiang kembali melayang turun, Lan Guan Zhi mengikut di belakangnya.
Zhi Shu menghampiri Xiao Shuxiang dan bertanya, "Bagaimana?"
"Seperti yang kau lihat. Keadaannya mencekam dan tidak ada orang selain kita, jika bukan karena suara petir di atas sana----aku bisa mengatakan ini adalah kota yang mati,"
Wang Zhao baru saja akan bicara saat merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya. Dia pun spontan menunduk dan tersentak melihat seekor kelinci putih yang entah datang dari mana.
"Ini..."
Ling Qing Zhu mendengar suara Wang Zhao dan ikut mengarahkan pandangan ke bawah. Dia berkedip melihat binatang imut itu bergerak di sekitar Wang Zhao, bahkan ada beberapa lagi kelinci yang juga mempunyai bulu yang sama.
!?
Lan Guan Zhi juga merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya, bahkan Xiao Shuxiang pun ikut merasakan hal yang sama. Mereka tersentak dan merasa heran dengan keberadaan binatang menggemaskan tersebut.
Xiao Shuxiang membungkuk dan mengambil seekor kelinci. Dia terlihat terkesan, "Kelinci ini datang dari mana?"
Liu Wei Lin mengedarkan pandangannya dan melihat kelinci-kelinci tersebut keluar dari bangunan dan lorong-lorong kecil di sekitaran bangunan. Dia pun membuka kipasnya, "Aku tahu bahwa Kota Xiliang mendapat julukan kota petir, namun aku tidak pernah mendengar bahwa kota ini dihuni oleh banyak kelinci,"
"Saudara Xiao~ lihat! Yang ini gemuk sekali~" Zhi Shu terlihat senang, dia seakan tidak mendengar ucapan Liu Wei Lin barusan. Dia nampak menggendong seekor kelinci yang cukup besar dan memperlihatkannya pada Xiao Shuxiang.
"Zhi Shu, apa kau juga memikirkan apa yang kupikirkan sekarang?" Xiao Shuxiang tersenyum.
Zhi Shu spontan menjawab, "Kelinci bakar?"
"Ayo lakukan,"
!?
Lan Guan Zhi tersentak dan langsung meraih lengan Xiao Shuxiang, dia memperingatkan. "Jangan berbuat lancang,"
"Lan Zhi, aku hanya mengambil satu yang paling imut ini." Xiao Shuxiang mengusap-usap lembut kelinci di gendongannya, "Aku tidak pernah makan daging kelinci sebelumnya, jadi ayo. Akan kubuatkan masalah yang enak untukmu,"
"Shuxiang, turunkan itu."
"Tapi ini menggemaskan Lan'Er, manis dan imut. Lihatlah,"
"Kau lebih manis dan imut,"
"Lan Zhi..!" Xiao Shuxiang syok dan sampai tidak tahu harus berkata apa.
Lan Guan Zhi mengambil kelinci di tangan teman baiknya dan menurunkan kembali hewan berbulu putih yang cantik tersebut. Pembawaannya tetap tenang meski sudah mengatakan kata yang jujur saja mengejutkan bagi banyak orang.
Ling Qing Zhu sampai berkedip dan memperhatikan raut wajah Xiao Shuxiang. Dia pun mengambil seekor kelinci dan membandingkannya dengan pemuda itu.
"..............."
Meskipun kelinci di tangannya sangat lembut dan menggemaskan, tetapi masih belum menyamai pesona dari Wali Pelindungnya. Dirinya pun menggumam dan mengangguk pelan. Xiao Shuxiang jauh lebih manis dan menggemaskan.
"........ Dia seksi sekali,"
"Saudara Mo? Ada apa denganmu?" Wang Zhao yang berdiri di samping Ling Qing Zhu nampak bicara dengan Mo Huai. Dia menarik perhatian teman-temannya.
__ADS_1
Liu Wei Lin melihat Mo Huai berdiri dengan ekspresi wajah yang tegang, dirinya pun mengerutkan kening dan bertanya. "Kau kenapa?"
Mo Huai kesulitan menelan ludah, dia pun menjawab meski nada suaranya agak bergetar. "A-aku hanya .... Tidak nyaman dengan hewan kecil yang berbulu,"
?!
Liu Wei Lin dan teman-temannya yang lain merasa heran dengan Mo Huai. Mereka memperhatikan betapa tegang dan takutnya pemuda dengan gigi taring yang manis tersebut.
Zhi Shu, "Saudara Mo? Jangan bilang kau takut dengan kelinci,"
"Ti-tidak, aku hanya... Ge-geli saja."
Xiao Shuxiang mendengus, "Wah. Ini tidak biasa, kau jelas takut. Lihat, kau sampai pucat begitu."
"A-aku tidak takut. Aku hanya---Waaa..!" Mo Huai spontan berteriak saat Wang Zhao menyodorkan seekor kelinci padanya.
"Yaa! Kau takut.." Xiao Shuxiang tersenyum dan mengambil seekor kelinci, dia pun mengejar Mo Huai yang berlari.
"Tuan Muda Xiao...! Tolong jangan bercanda..! Jauhkah dariku...!"
"Mo Huai..! Ini menggemaskan, coba kau pegang dulu..!"
"Tidak mau..!"
Liu Wei Lin mengerjap dan membuka kipasnya, dia menyaksikan bagaimana Mo Huai takut dikejar-kejar Xiao Shuxiang yang membawa seekor kelinci. Bahkan Wang Zhao juga ikut mengejar Mo Huai tanpa merasa berat dengan pedang kayu besar yang dipikul tepat di punggungnya.
"Tsk, tsk, tsk, mereka bersenang-senang sekali." Liu Wei Lin tersenyum. Dia turut bahagia melihat penderitaan Mo Huai.
"Ka-kalian jangan seperti ini...! Aku alergi dengan bulu kelinci, sungguh!" Mo Huai terlihat berlari.
Xiao Shuxiang, "Tidak ada yang seperti itu,"
"Tuan Muda Xiao, sungguh! Aku tidak bercanda," Mo Huai hampir menangis.
Wang Zhao tersenyum, "Saudara Mo. Kau harus lihat dulu...! Kelinci ini menangis jika kau terus menolaknya,"
"Menjauh dariku..! Tolonglah, jangan begini. Kalian keterlaluan..! Siapa pun, tolong aku..!"
Ling Qing Zhu menggeleng pelan melihat tingkat Wali Pelindungnya, Wang Zhao dan Mo Huai. Suasana mencekam yang sebelumnya terasa kental kini seakan menghilang karena tingkah ketiga pemuda itu.
Lan Guan Zhi pun merasakan hal yang sama. Dia samar-samar tersenyum tipis dan ikut senang melihat teman baiknya bisa sebahagia ini. Andai perjalanan mereka tidak ditemani Xiao Shuxiang, mungkin keadaan tidak semenyenangkan yang sekarang.
"Aah..!" Zhi Shu menjerit dan membuat Liu Wei Lin, Lan Guan Zhi dan Ling Qing Zhu kaget. Dia lantas segera menurunkan kelinci di tangannya.
"Kelincinya menyetrum..!" Zhi Shu merintih dan melihat telapak tangannya, "Ssh... Aduh.."
"Coba kulihat tanganmu," Ling Qing Zhu meraih kedua tangan Zhi Zhu dan memperhatikan telapak tangan gadis tersebut.
Lan Guan Zhi dan Liu Wei Lin ikut melihatnya. Telapak tangan Zhi Shu terluka dan beberapa bagian kulitnya menghitam bahkan mengeluarkan darah.
Lan Guan Zhi mengeluarkan sebuah sapu tangan dan memberikannya pada Ling Qing Zhu, gadis itu memakainya untuk membersihkan darah di telapak tangan Zhi Shu.
Liu Wei Lin melihat kelinci-kelinci di sekitarnya bermain-main seperti tidak terjadi apa pun. Binatang kecil itu bahkan mulai menjauhi mereka. Mo Huai terlihat berlari mendekat sambil meminta tolong pada Lan Guan Zhi.
"Tuan Muda Lan..! Tuan Muda..! Tolong selamatkan aku..!" Mo Huai bersembunyi di belakang Lan Guan Zhi dan membuat pemuda berpita dahi itu tersentak.
"Saudara Mo, kau jangan lari lagi----" senyuman Wang Zhao perlahan memudar dan berganti dengan kerutan di kening saat melihat Zhi Shu yang meringis.
Xiao Shuxiang yang baru sampai juga ikut mengerutkan kening, dia pun lantas menghampiri Kucing Putihnya. "Apa yang terjadi?"
Ling Qing Zhu, "Tangannya terluka. Dia memegang kelinci itu dan tangannya tersentrum. Kau juga, sebaiknya turunkan hewan itu."
Liu Wei Lin, "Kelinci-kelinci ini sepertinya memiliki aliran listrik di tubuhnya. Meski tidak sampai membunuh orang, namun luka karena hewan kecil ini tetap serius jika tidak ditangani dengan benar."
Wang Zhao tersentak dan kemudian menurunkan kelinci digendongannya, Xiao Shuxiang pun juga melakukan hal yang sama. Keduanya lantas melihat telapak tangan Zhi Shu yang berdarah.
"Tunggu," mata Xiao Shuxiang sedikit membulat, "Coba kulihat."
"Saudara Xiao..." Zhi Shu meringis saat Xiao Shuxiang meraih tangannya, "Ini sangat sakit. Aku berusaha mengobati dengan mengalirkan Qi milikku, tapi tidak bisa. Rasanya bahkan lebih sakit,"
__ADS_1
"Kau jangan cengeng," Xiao Shuxiang mendekatkan tangan Zhi Shu di bibirnya, dia membuat teman-temannya dan Zhi Shu sendiri membeku.
"Sa-Saudara Xiao...?" pipi Zhi Shu memerah, dia tidak menyangka saudara seperguruannya akan bersikap seberani ini.
"Kau punya darah yang tidak enak," Xiao Shuxiang meludahkan darah Zhi Shu dan kembali berkata, "Ada racun pada luka di telapak tanganmu. Kulit yang menghitam ini harus diangkat sebelum diobati,"
Zhi Shu tersentak, "Benarkah?! Apa aku akan mati,"
"Tidak, ini bukan racun yang mematikan selama bisa ditangani."
"Saudara Xiao, ucapanmu tidak membuat perasaanku jadi baik." Zhi Shu berwajah pucat, "Tolong obati aku,"
Xiao Shuxiang dengan tenang menoleh dan menatap Mo Huai yang berada di belakang Lan Guan Zhi. Dia pun lantas memanggil pemuda itu.
Xiao Shuxiang, "Mo Huai. Kemari dan rawat luka Zhi Zhu,"
"Apa?! Ta-tapi aku bukan---"
"Kau ingin belajar jadi alkemis, kan? Ayo kemari. Ini saatnya kau latihan secara langsung,"
Mo Huai sangat gugup, namun tetap berjalan ke arah Xiao Shuxiang. Dia sempat kesulitan menelan ludah.
"Ayo istirahat di sana," Liu Wei Lin mengajak teman-temannya ke sebuah bangunan tua yang tidak berpenghuni.
Di tempat itu, mereka menyaksikan bagaimana Mo Huai diajari cara menggunakan belati untuk memotong kulit tangan Zhi Shu yang telah menghitam.
"Tanganmu jangan sampai gemetar," Xiao Shuxiang memberi arahan pada Mo Huai dan diperhatikan oleh Lan Guan Zhi serta Ling Qing Zhu.
Mo Huai begitu takut, keringat dingin nampak mengucur di pipinya. Dia pun menatap Zhi Shu dan bertanya dengan suara yang gemetar, "No-Nona Shu tidak apa-apa, kan?"
"Rasanya sakit, tapi lanjutkan saja." Zhi Shu meringis, namun dia masih mampu menahannya.
Wang Zhao memperhatikan bagaimana Mo Huai mengiris kulit tangan Zhi Shu yang hitam dan perlahan mengangkat kulit tersebut, kemudian membuangnya. Darah segar terlihat mengucur dan jujur pemandangan ini cukup membuat ngeri.
"Tu-Tuan Muda Xiao, selanjutnya apa yang harus kulakukan?" Mo Huai mulai bertanya setelah berhasil menghilangkan semua kulit hitam yang ada di telapak tangan Zhi Shu.
Xiao Shuxiang mengibaskan pelan tangannya dan sebuah guci berukuran sedang langsung muncul beserta beberapa tanaman herbal.
Xiao Shuxiang pun berkata, "Bersihkan luka Zhi Shu dengan air dan gunakan pengetahuan yang sudah kau pelajari untuk menentukan herbal mana yang bisa mengobati lukanya,"
"Tapi bukannya Tuan Muda Xiao punya pil?" Mo Huai hampir menangis karena Xiao Shuxiang begitu menyulitkannya.
"Mo Huai," Xiao Shuxiang dengan tenang berkata, "Jika kau terus bergantung pada pil buatanku, bagaimana kau bisa dapat menjadi tabib dengan usahamu sendiri?"
Liu Wei Lin membuka kipasnya, dia pun tersenyum. "Saudara Xiao-ku memang benar. Saudara Mo? Kau harus belajar meracik herbalmu sendiri,"
Zhi Shu tersenyum pahit, "Jadi aku saat ini menjadi kelinci percobaan untuk Mo Huai?"
Xiao Shuxiang, "Kau baru sadar?"
"Saudara Xiao..! Kau sangat keterlaluan! Kenapa kau jahat padaku?!" Zhi Shu memukul keras lengan pemuda tampan itu.
"Aduh," Xiao Shuxiang mengusap-usap lengannya, dia sedikit meringis sebelum akhirnya berkata. "Aku ini baik pada Mo Huai, buktinya aku mengajari dia dengan benar. Kau harusnya bersyukur karena menjadi pasien pertama dari sosok yang nantinya akan menjadi alkemis hebat sepertiku."
Mo Huai mengusap air yang entah sejak kapan menuruni pipinya. Dia tidak pernah mendapat kepercayaan sebesar ini dari siapa pun dan jika diingat-ingat lagi, dulu dia hanya seorang pemuda biasa dari sebuah kota yang hampir mati. Bertemu Xiao Shuxiang dan mengalami banyak petualangan dengannya adalah mimpi yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.
Wang Zhao tersentak, "Saudara Mo? Kenapa kau menangis,"
"Aku .... Aku tidak apa-apa," Mo Huai mengusap air matanya, "Aku hanya merasa sangat bahagia..."
Xiao Shuxiang berkedip dan menyenggol Zhi Shu, dia menaikkan alisnya. Saudara seperguruannya yang cantik tersebut mengangkat bahu dan menggeleng sebagai respon.
Mo Huai sudah merasa tenang, dia pun dengan hati-hati mengobati luka Zhi Shu.
Memang, apa yang dia rasakan tidak bisa dimengerti oleh orang-orang seperti Xiao Shuxiang dan yang lainnya. Dia adalah pemuda yang biasa-biasa saja, memiliki fisik yang lemah dan sama sekali tidak punya bakat kultivasi. Bisa hidup sampai sekarang pun merupakan keberuntungan yang tidak pernah Mo Huai bayangkan.
"Aku selama ini hanya beban, tapi Tuan Muda Xiao sangat mempedulikanku. Aku harus berusaha lebih keras lagi agar bisa berguna untuknya. Aku juga ingin .... Bisa diandalkan,"
******
__ADS_1