KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
216 - Sosok Asing


__ADS_3

Tidak henti-hentinya Xiao Shuxiang menghela napas saat dia mengikuti langkah Tetua Meng Hao Niang dari belakang. Wanita ini mengajaknya ke suatu tempat yang tidak dijelaskan. Dia bahkan harus meninggalkan teman-temannya.


"Tetua Meng," Xiao Shuxiang berujar. "Apa kau tidak punya rasa kasihan padaku? Aku bahkan belum diobati dan kau langsung menyuruhku mengikutimu,"


"Kau seorang alkemis, tidak perlu diobati oleh orang lain."


"Ya ampun," Xiao Shuxiang menggeleng pelan dan lalu berkata. "Apa kau pikir seorang alkemis bukan manusia? Aku ini juga bisa mati, tahu..!"


"Jika kau mengeluh lagi, maka lupakan tentang niatanmu yang ingin menyerang Sekte Lembah Iblis."


"Kalau begitu maka lupakan apa yang aku katakan barusan," Xiao Shuxiang menggelembungkan pipinya. Wanita di hadapannya memang sangat sulit untuk dibujuk.


Xiao Shuxiang terus mengikuti langkah Tetua Meng Hao Niang. Beberapa kali dia mengembuskan napas dan fokus untuk memulihkan dirinya. Dia juga memikirkan tentang letak kesalahan pada gerakan berpedangnya yang sudah membuatnya kalah.


Sepanjang jalan itu, tidak ada suara lagi dari Xiao Shuxiang. Tetua Meng Hao Niang pun penasaran dan menoleh, dia melihat pemuda yang masih mengikuti dirinya nampak begitu fokus pada pikiran sendiri.


*


*


Xiao Shuxiang berkedip saat tiba di sebuah ruangan yang luas, namun penuh dengan aroma herbal.


Sebenarnya bukan itu yang lebih penting, tetapi apa yang terlihat di hadapannya.


Xiao Shuxiang melihat ada sebuah periuk yang sangat besar dan begitu tinggi. Dia sampai tertegun menyaksikan periuk kuno yang entah berusia berapa tahun. Bahkan benda yang sangat besar itu mempunyai aura yang menekan sendiri.


"Tetua Meng ...."


"Aku sedang ingin menggunakan periuk untuk meracik herbal. Bantu aku untuk membersihkan bagian dalamnya,"


?!


Xiao Shuxiang tersentak dan langsung menatap ke arah wanita yang memiliki ekspresi wajah ala pemabuk berat itu. Dia berkedip dan kemudian berkata, "Jadi aku dibawa kemari hanya untuk membersihkan benda besar ini?!"


"Apa yang kau sebut 'benda besar' adalah pusaka kuno yang sudah berusia ratusan ribu tahun. Ada banyak nyawa manusia yang berhasil diselamatkan oleh pil yang telah dibuat menggunakan pusaka ini. Kau harusnya merasa bangga karena bisa memiliki kesempatan untuk membersihkannya."


Xiao Shuxiang menatap Tetua Meng Hao Niang dan merasa aneh dengan wanita ini. Dia sama sekali tidak peduli dengan nyawa manusia, apalagi harus merasa bangga dengan sepak terjang benda di hadapannya. Yang dia pedulikan saat ini adalah dirinya sendiri.


"Tetua Meng," Xiao Shuxiang berbicara lembut, "Kau sendiri melihat kondisiku. Apa kau tidak bisa meminta bantuan pada murid sekte ini?"


"Untuk apa meminta bantuan murid jika ada pelayan di tempat ini? Apa kau sudah lupa dengan pekerjaanmu?" suara ketus dan tatapan dingin dari Tetua Meng Hao Niang seperti hantaman keras di dalam dada Xiao Shuxiang.


Wali Pelindung Ling Qing Zhu itu pun berusaha untuk menenangkan diri. Xiao Shuxiang tersenyum pahit, "Benar-benar tidak bisa mendebatmu. Baiklah. Hanya perlu dibersihkan, kan? Akan kulakukan sekarang,"


Xiao Shuxiang mengambil alat pembersih yang terbuat dari batang semak belukar dan mulai melesat untuk kemudian masuk ke dalam periuk.


Tetua Meng Hao Niang berujar, "Kau harus membersihkannya dengan benar dan tidak boleh ada debu yang terlewat. Mengerti?"


"Iya, tidak masalah..!"


Suara Xiao Shuxiang bergema. Tetua Meng Hao Niang mulai duduk di kursi panjang miliknya sambil bersandar. Dia mengeluarkan kendi labunya dan mulai meminum arak seperti kebiasaannya selama ini.


Di dalam periuk sendiri, Xiao Shuxiang tidak bisa melihat apa-apa. Keadaan di sekitarnya gelap, suasananya mencekam dan penuh aroma herbal serta debu yang pekat. Dia sampai terbatuk beberapa kali dan menutup hidungnya.


"Sebenarnya benda ini sudah berapa lama tidak dibersihkan?! Hidungku sampai sakit," Xiao Shuxiang terbatuk dan mulai mengeluarkan seekor kupu-kupu bersayap putih miliknya.

__ADS_1


Sayap serangga terbang itu bercahaya dan membuat tempat ini menjadi lebih terang. Hanya saja sama sekali tidak menutupi nuansa mencekam dari dalam benda ini.


Udara di sekitar Xiao Shuxiang hangat, tetapi juga menyesakkan. Dia mulai membersihkan dinding periuk sambil menutup hidungnya dan tidak lupa untuk merutuk.


"Aku benar-benar melakukannya. Ini pertama kali dalam hidup seorang Xiao Shuxiang melakukan hal semacam ini." Xiao Shuxiang terbatuk dan kembali berkata, "Periuk besar. Kau harusnya bangga karena sangat beruntung dibersihkan oleh Yang Mulia Xiao Shuxiang ini,"


Meski berujar dengan nada yang biasa, namun suara Xiao Shuxiang tetap menggema. Itu membuat Tetua Meng Hao Niang yang berada di luar bisa dengan jelas mendengarnya.


Tetua Meng Hao Niang mendengus dan menggeleng pelan, "Yang Mulia Bocah Berandalan itu .... Aku bahkan baru tahu dia bisa mendebat benda mati,"


"Kau tidak perlu menjatuhkan debumu di atas kepalaku...! Astaga, kurang ajar sekali."


Tetua Meng Hao Niang menoleh. Suara gema itu membuatnya berkedip. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Xiao Shuxiang di dalam sana, tetapi Tetua Meng Hao Niang yakin pemuda itu memang bisa berdebat dengan apa saja.


Di dalam periuk, Xiao Shuxiang menepis debu di rambut poni depannya. Dia baru akan kembali merutuk saat kupu-kupu miliknya yang hinggap di dinding tiba-tiba terserap.


!!


Xiao Shuxiang tersentak. Dia yakin tidak melakukan apa-apa. Hanya saja belum sempat bersuara, periuk besar ini tiba-tiba bergetar. Dia melihat cahaya putih terbentuk di sekeliling dinding dan mulai meliuk membentuk ukiran-ukiran kuno.


"Tetua Meng?" Xiao Shuxiang memanggil Tetua Meng Hao Niang karena merasa aneh dengan perubahan ini. Hanya saja tidak ada balasan dari luar.


"Tetua Meng? Apa kau mendengarku?! Ada yang salah dengan benda ini. Tetua Meng..!"


Tidak bisa dipungkiri bahwa kepanikan terlihat di wajah Xiao Shuxiang, apalagi getaran pada periuk ini semakin besar dan mulai mengeluarkan suara denging yang kuat.


Xiao Shuxiang menjatuhkan alat pembersih di tangannya dan langsung menutup telinga. Dia memanggil-manggil Tetua Meng Hao Niang, namun tetap tidak ada jawaban.


Baru saja akan mencoba keluar dari tempat ini saat ukiran kuno di sekitaran dinding di hadapannya mengeluarkan cahaya yang begitu menyilaukan. Xiao Shuxiang dengan spontan menutup matanya.


Ketika getaran dan cahaya menyilaukan tidak lagi terasa----Xiao Shuxiang pun mulai membuka matanya. Dia terengah-engah sebelum memperhatikan keadaan di sekitarnya.


!!!


Xiao Shuxiang terkejut bukan main. Dia tidak berada di dalam periuk, bahkan di bawah kakinya tidak ada lantai periuk yang sebelumnya dia pijak. Nuansa di sekitarnya bagai alam yang luas dengan ribuan bintang. Dia bahkan melihat sesuatu yang bahkan belum pernah disaksikan sebelumnya.


"Tempat .... Tempat apa ini?" Xiao Shuxiang memandang ke sekeliling. Di bawah kakinya bahkan ada benda bercahaya yang melayang. Dia sendiri merasa sedang berpijak pada udara yang beku. Dia bahkan melihat ada bangunan yang hancur dan melayang jauh di depannya.


Xiao Shuxiang sangat tidak nyaman dengan perasaan ini. Bahkan untuk bernapas pun terasa menyesakkan. Entah kenapa, dia seakan berada di sebuah alam lain.


"Dahulu .... Aku berpikir bahwa jalan kultivasi akan membuatku terlepas dari kematian dan menjadi makhluk abadi. Tetapi rupanya tidak ada yang bisa menyalahi takdir."


!!!


Xiao Shuxiang terbelalak. Dia mendengar suara asing dan lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya saja, tidak ada apa pun selain dirinya dan benda-benda aneh di sekitarnya.


"Kuhabiskan hampir seluruh sisa hidupku untuk berkultivasi dan sesekali aku turun ke alam bawah. Membawa seorang anak yang kupilih dan kudidik dengan ajaran yang sama .... Yang pernah kudapatkan."


"Suara siapa itu?" Xiao Shuxiang paling tidak suka dengan keadaan di mana dirinya mendengar suara, namun tidak ada seorang pun yang dia lihat.


Belum lagi, dia tidak tahu jalan keluar dari tempat yang sangat asing ini. Dia pun kembali mendengar suara dan terpaksa hanya bisa mendengarkan.


"Di antara para murid bimbinganku, ada satu yang sangat kubanggakan. Anak itu terlahir dalam keluarga sederhana, dia memiliki hati yang murni, berbakat dan aku melihat dia mampu mewujudkan apa yang tidak bisa kulakukan."


"Aku hanya fokus untuk mencapai tingkat tertinggi dan sama sekali tidak melihat kemanusiaan yang semakin ke titik terendah. Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Untuk apa aku mencapai tingkat kultivasi tertinggi, jika tidak bisa menyelamatkan kemanusiaan."

__ADS_1


"Ilmu yang kudapatkan selama ini dan merupakan karya terbesarku .... Aku mewariskannya pada muridku yang penuh bakat dan murni itu. Dia sendiri mempunyai visi dan misi yang sama denganku. Dia adalah wujud dari impianku,"


Xiao Shuxiang menahan napas saat mulai melihat titik-titik cahaya berkumpul di depannya dan memadat.


Titik-titik cahaya itu membentuk sosok pria berpakaian serba hitam. Terlihat berusia sekitar tiga puluh tahun dengan penampilan yang jernih. Matanya cerah dan tajam, tetapi justru lebih tenang dan tidak mengancam.


Xiao Shuxiang tidak tahu siapa sosok ini, namun ada perasaan yang tidak asing baginya. Rasanya seakan-akan akrab, entah bagaimana.


"Anda ...."


"Dia adalah murid yang penuh kasih. Dia mempunyai jiwa yang kuat dan hati yang tegas, tidak tergoyahkan. Rasa cintanya kepada manusia membuat dia kuat, tapi juga memberinya kelemahan. Kesalahan besar yang dia lakukan, sama sekali tidak membuat kemurniannya ternoda. Akulah yang telah bersalah,"


!!


Xiao Shuxiang bagai mendengar suara dentuman di dalam dadanya. Dia tidak berani mengambil napas yang panjang. Suasana di dalam hatinya sangat gugup dan tidak karuan.


"Aku melakukan dua kesalahan terbesar. Kuberikan kasihku pada satu murid dan kuabaikan muridku yang lain. Namun keduanya tidak pernah mengecewakan, mereka mengambil jalan yang benar. Yang terabaikan menjadi seorang legenda yang dikagumi, sementara sosok yang paling kusayangi menyebarkan kebaikannya dengan cara yang lain. Aku sendirilah yang sudah mengecewakan,"


Xiao Shuxiang praktis bisa mendengar suara dari detak jantungnya sendiri. Punggungnya tertutupi oleh keringat. Tanpa sadar dia dan sosok di depannya saling memandang.


"..............." Xiao Shuxiang gugup. Entah sosok ini memang menatapnya atau hanya memandang udara kosong. Ini karena dia merasa bahwa kehadirannya tidak benar-benar disadari. Atau mungkin saja ini adalah alam ingatan dari pemilik periuk, benda pusaka yang dia bersihkan sebelumnya.


Masalahnya, entah kenapa dadanya sesak. Titik keringat bahkan terbentuk di dahi Xiao Shuxiang. Dia tahu sosok ini asing baginya, tetapi ada sesuatu yang membuatnya justru merasa akrab.


Xiao Shuxiang tanpa sadar berujar dengan suara yang begitu hening hingga nyaris tidak terdengar, "Ini bukanlah kesalahanmu..."


Xiao Shuxiang terkejut mendapati nada suaranya sedikit bergetar. Dia sendiri bahkan tidak yakin melontarkan ucapan semacam itu.


"Penyesalan tidak bisa diperbaiki, bahkan waktu sudah tidak lagi berpihak pada yang rendah ini. Sekarang, aku hanya bisa menunggu dengan sisa-sisa jiwa yang kumiliki. Berharap seseorang bersedia membantu yang rendah ini untuk memperoleh ketenangan jiwa."


"..............." Xiao Shuxiang sekarang mengerti. Sosok di hadapannya adalah potongan jiwa. Mungkin ucapannya sendiri tidak didengar karena hal itu. Sosok asing ini pun kembali bersuara.


"Yang sederhana ini mengetahui bahwa kehidupan tidak hanya ada pada satu dunia. Pusaka yang kuwariskan pada muridku dan yang kuharapkan dapat membantunya .... Justru membuatnya menemui akhir yang menyedihkan."


"Sekarang potongan dari jiwa ini semakin melemah. Kupikir bahwa yang sederhana ini tidak akan bisa bertemu dengannya. Namun tidak disangka .... Muridku kini ada di hadapanku."


!!


Xiao Shuxiang terlonjak kaget, dia menoleh ke belakang dan tidak melihat ada orang lain lagi di tempat ini. Dirinya pun menatap sosok di hadapannya dan dengan gugup bertanya, "Ka-kau barusan bicara denganku?"


"..............." sosok itu terdiam sejenak, seakan memperhatikan apa yang ada di hadapannya dan lalu berujar. "Apa ada orang lain selain kau di tempat ini?"


!!!


Xiao Shuxiang terbelalak. Dia sebenarnya hendak mengambil langkah mundur, tapi kakinya sulit digerakkan. Sungguh, Xiao Shuxiang sebelumnya berpikir bahwa sosok di hadapannya tidak menyadari kehadirannya. Itu karena dia sempat berujar, namun tidak ada balasan.


Xiao Shuxiang menelan ludah dan dengan gugup bertanya, "A-Anda .... Anda siapa?"


"..............."


Sosok itu tidak menjawab pertanyaan Xiao Shuxiang, tetapi sebagai balasan----dia memperlihatkan sebuah senyuman yang lembut. Untuk sesaat, hanya ada nuansa keheningan yang terpana.


Tidak butuh waktu lama, sosok itu mulai buka suara. Dia berujar sopan dan lembut. "Yang sederhana ini adalah Duan Wenyang,"


?!

__ADS_1


******


__ADS_2