KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
137 - Rencana (2)


__ADS_3

Zhi Shu tersenyum senang ketika tiba di depan sebuah bangunan besar yang penuh hiasan lampion dengan cahaya putih-kekuningan. Tempat ini kedai yang paling terkenal di Kota Yixuan.


"Aku mencium bau yang manis," Xiao Shuxiang mengendus aroma yang terasa seperti buah persik. Semakin mencium bau ini, dia benar-benar yakin ini persik.


"Saudara Xiao, penciumanmu sangat bagus." Zhi Shu memuji, dia tersenyum dan merangkul lengan saudaranya dengan lebih erat. "Makanan di kedai ini menurutku biasa-biasa saja, tapi Arak Buah Persik di tempat inilah yang mengundang banyak pengunjung. Ini bahkan lebih enak dari arak Anak Linglung buatanmu,"


Xiao Shuxiang tersentak, tidak disangka Zhi Shu berani memuji arak buatan orang lain dan membandingkan dengan arak yang selama ini dia elu-elukan. "Kalau begitu ini tidak bisa dibiarkan,"


"Saudara Xiao..!" Zhi Shu tersentak ketika ditarik masuk ke dalam kedai oleh Xiao Shuxiang. Dia memegang erat lengan saudara seperguruannya dan karena kedekatan mereka----keduanya langsung menarik perhatian cukup banyak pelanggan kedai.


Zhi Shu menahan napas, dia merasa tidak nyaman menjadi target perhatian. Sementara Xiao Shuxiang justru nampak mengedarkan pandangannya dan seakan tidak peduli dengan pandangan orang-orang.


"Baunya benar-benar manis dan ini manis yang....Mm... Mengagumkan,"


Sebagai pecinta arak, tentu saja Xiao Shuxiang sangat tertarik dan penasaran dengan Arak Buah Persik di kedai ini. Dia menjadi tidak sabar ingin mencoba arak yang dikatakan Zhi Shu lebih enak dari arak buatannya.


"Ayo cari tempat duduk untuk kita," Xiao Shuxiang memegang tangan Zhi Shu dan berjalan mencari kursi yang kosong.


"Mn? Itu bukannya Nona Zhi Shu? Siapa pemuda yang bersamanya?" seorang pria yang merupakan pelanggan setia kedai ini mengenali Zhi Shu. Begitu pun dengan dua teman sebangkunya.


"Aku baru melihat pemuda itu, dia seperti bukan berasal dari sini. Apa mungkin dia sama seperti Nona Zhi Shu? Kultivator yang tinggal di Alam Kultivasi Bawah?"


".... Melihat dari betapa dekatnya mereka, kurasa kau benar. Aku juga ingat bahwa sekarang diadakan Konferensi Aliansi Abadi, kan? Mungkin pemuda itu dari sekte yang lain."


Mendengar kedua temannya bicara, pria berpakaian hijau tua itu nampak menarik napas. Ekspresi wajahnya mengandung sedikit kekecewaan, apalagi itu semakin jelas ketika dia menatap Zhi Shu yang berada cukup jauh darinya.


"Saudaraku...." salah seorang teman pria itu menyadarinya dan langsung menepuk pelan pundaknya, "Kau pasrahkan saja. Mereka jelas terlihat bukan teman biasa. Sudah, sudah... Masih banyak gadis yang lain."


"Dia benar. Dunia ini sangat luas, kau pasti akan bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan langit untukmu." pria lainnya menenangkan.


Dia pun mulai mengangkat tangannya dan berseru, "Pelayan! Bawakan arak lagi. Aku ingin merayakan patah hati Saudaraku..!"


"Kau ini...!"


Suara tawa dari meja itu terdengar dan semakin menambah keramaian. Hanya saja Zhi Shu tidak mengetahuinya dan fokus pada Xiao Shuxiang yang mulai kesal karena tidak menemukan tempat duduk yang kosong.


Xiao Shuxiang menghela napas berat, "Aku jadi ingin menarik leher beberapa orang dan merebut kursi mereka---"


Xiao Shuxiang mengerutkan kening saat salah satu meja menarik perhatiannya. Dia melihat seorang wanita berpakaian putih berantakan dan nampak duduk sendirian dengan wajah mabuknya.


"Saudara Xiao?" Zhi Shu keheranan karena pemuda di sampingnya tiba-tiba saja berhenti berjalan.

__ADS_1


"Aku punya rencana," senyuman terlukis di wajah mempesona Xiao Shuxiang, dia membuat Zhi Shu berkedip.


"Rencana?"


"Tidak hanya mendapat tempat duduk. Kita juga akan makan gratis, ayo."


Zhi Shu tidak menolak ketika tangannya ditarik oleh Xiao Shuxiang. Dia baru tahu maksud ucapan saudaranya saat mereka menghampiri salah satu meja yang tidak lain adalah milik Tetua Meng Hao Niang.


"Tetua Meng, kau di sini?" Xiao Shuxiang menyapa dengan gayanya sendiri dan langsung duduk begitu saja di seberang meja Tetua Puncak Jin Cheng tersebut.


Zhi Shu sebenarnya ingin membungkuk hormat, tetapi tangannya tiba-tiba ditarik dan dirinya terpaksa duduk di samping Xiao Shuxiang. Dalam hati dia merutuki saudara seperguruannya ini yang begitu tidak sopan pada seorang Tetua.


"Kau ini .... Siapa?" Meng Hao Niang menyipitikan mata. Dia sendiri nampak tidak peduli dengan tingkah orang yang menyapanya ini.


Xiao Shuxiang tersentak, "Tetua Meng. Kenapa kau begini lagi? Kau masih tidak mengenaliku? Pemuda luar biasa tampan ini harusnya sulit dilupakan. Aku Xiao Shuxiang, Yang Mulia Xiao Shuxiang."


"Ah, Berandalan Kecil." Tetua Meng Hao Niang meminum arak di cawan miliknya dan kembali bersuara, "Untuk apa kau kemari?"


Xiao Shuxiang mengembuskan napas, "Tetua. Aku sudah menyebutkan namaku dan kau malah memanggilku 'Berandalan Kecil'? Kau membuatku terluka,"


Zhi Shu tertegun ketika Saudara Xiao-nya mengambil satu cawan dan tanpa tahu malu menuangkan arak ke awan itu lalu mulai meminumnya sendiri. Dirinya pun menggeleng pelan, "Dia benar-benar telah mendapat arak yang gratis."


Xiao Shuxiang mengerutkan kening, rasa arak yang dia minum sama sekali tidak seenak bayangannya. Bahkan aromanya pun tidak sekuat yang dia ingat. Ini jelas bukan Arak Buah Persik.


"Aku tidak menyuruhmu meminumnya, kan? Kau benar adalah Berandalan Kecil." Meng Hao Niang kembali menenggak arak miliknya dan mulai memandang ke arah gadis di samping pemuda ini.


Matanya kembali menyipit dan dirinya pun menggumam, "Mm... Jadi kalian memutuskan berkencan? Perselingkuhan di depan umum, begitu?"


"Ti-tidak sama sekali," Zhi Shu melambai-lambaikan tangannya. Dia menyenggol Saudara Xiao-nya untuk membantunya memberikan penjelasan.


Xiao Shuxiang menyilangkan tangan, dia menatap Tetua Meng Hao Niang. "Aku inginnya begitu, tapi gadis ini sama sekali tidak mengerti. Aku malah ditinggalkan di tempat pedagang Baozi sementara dia melenggang pergi begitu saja. Apa ada jenis kencan semacam itu?"


"Saudara Xiao..." Zhi Shu tidak sanggup berkata-kata saat Xiao Shuxiang justru mengadukan dirinya. Pipinya seketika merona merah karena malu.


"Berandalan Kecil," Tetua Meng Hao Niang menatap pemuda di hadapannya dan lalu menggunakan ibu jarinya untuk menunjuk Zhi Shu. Dia pun berkata, "Hati adalah sesuatu yang lemah dan sangat mudah berpaling. Gadis di dekatmu ini... Jelas sekali punya perasaan untukmu. Kau harus berhati-hati,"


Tetua Meng Hao Niang lalu menoleh ke arah Zhi Shu dan bertanya, "Kau punya tiga koin emas?"


"Eh? Ah, i-iya.." Zhi Shu sebenarnya agak kaget dengan pertanyaan itu, tapi dia segera memberikan tiga koin emas pada wanita berpakaian putih di depannya.


Tetua Meng Hao Niang menimbang-nimbang koin tersebut dan kembali menatap Xiao Shuxiang, "Lihat. Aku bisa katakan bahwa hatimu seperti benda ini, jangan biarkan kau memberikannya pada orang lain dengan mudah."

__ADS_1


Saat mengatakan itu, Tetua Meng Hao Niang memberi tanda agar seorang pelayan datang dan menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" pelayan muda itu tersenyum ramah saat berada di dekat Tetua Meng Hao Niang.


"Lantai 2 dengan arak terbaikmu," Tetua Meng Hao Niang memberikan tiga koin emas itu kepada pelayan tersebut yang diterima dengan wajah gembira.


"Tentu, Nyonya. Mari, mari silahkan lewat sini..!"


Zhi Shu melihat ketika Tetua Meng Hao Niang berdiri dari kursinya dan nampak mendengus pelan sebelum akhirnya mengikuti pelayan muda itu pergi. Dirinya baru akan bersuara ketika kepalanya tiba-tiba dijitak oleh Xiao Shuxiang.


"Aduh! Saudara Xiao?!" Zhi Shu kaget dan merintih kesakitan. "Kau kasar sekali... Bagaimana jika kepalaku berlubang,"


"Itu akan sangat pantas untukmu," Xiao Shuxiang merutuki Zhi Shu. "Kenapa kau memberinya koin emas itu? Aku inginnya kita yang mengerjai Tetua Meng, bukan malah sebaliknya. Tsk, kau ini..."


"Ma-mana kutahu dia akan memakai uang itu untuk memesan tempat..." Zhi Shu berusaha membela diri, tingkahnya begitu menggemaskan sampai Xiao Shuxiang menyerah mengomelinya.


"Untung kau saudara seperguruanku," Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan mengajak Zhi Shu ke lantai dua. Dia menjelaskan bahwa Tetua Meng Hao Niang sangat pandai bicara dan tipekal orang yang licik. Buktinya mereka malah dikerjai sampai seperti ini.


Kedai terkenal di Kota Yixuan itu memiliki dua lantai dan sangat luas. Meng Hao Niang sudah lama ingin ke tempat ini dan hanya setiap Konferensi Aliansi Abadi-lah dia bisa berkunjung. Dia pun hanya dapat meminum Arak Buah Persik di kedai ini saat hari terakhir konferendi diadakan, itu pun jika ada tetua yang mentraktirnya.


"Tolong isi labu ini. Isi .... Yang penuh," Tetua Meng Hao Niang memberikan botol labu miliknya pada pelayan itu yang diterima dengan senyuman gembira.


"Akan saya siapkan segera~ Nyonya tunggu sebentar,"


Ekspresi wajah dengan senyuman ramah dan sikap pelayan muda itu adalah nilai dari tiga koin emas yang dibayarkan oleh Tetua Meng Hao Niang. Dia baru akan memperbaiki posisi duduknya ketika melihat dua orang menghampirinya.


"Berandalan Kecil, kau masih di sini?" Tetua Meng Hao Niang kali ini mengingat wajah Xiao Shuxiang, termasuk gadis di samping pemuda itu.


"Tetua Meng, kau keterlaluan sekali..." Xiao Shuxiang duduk di hadapan Meng Hao Niang dan berkata, "Apa bagusnya kau mengerjai murid seperti itu? Kau memanfaatkan kepolosan temanku ini,"


"Memang seharusnya seperti itu. Aku adalah 'Tetua', jadi layak dihormati dan diperlakukan istimewa. Apa yang kuambil merupakan bentuk penghormatan kalian padaku, jadi bersyukurlah."


Xiao Shuxiang menggeleng pelan. Makin dia bersama wanita ini, maka semakin dirinya tertarik. Zhi Shu sendiri masih gugup untuk bicara formal dengan Tetua Meng Hao Niang. Dia bahkan sulit masuk dalam pembicaraan kedua orang ini.


Xiao Shuxiang sebenarnya tidak pernah mau melakukan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula saat dia yang ingin saja diajak kencan oleh Zhi Shu. Semua itu tentu mempunyai alasannya.


Dia tahu bahwa saat ini dunia sedang mengalami keguncangan karena Kitab Pembunuh Matahari. Tentu saja, hal itu juga mempengaruhi jalannya Konferensi Aliansi Abadi nanti.


Sebagai orang yang tahu benar pikiran para penjahat, Xiao Shuxiang tidak ragu membuat kesimpulan bahwa di keadaan tenang dan damai inilah mereka sedang mempersiapkan diri untuk rencana yang merugikan. Tidak mustahil bahwa para penjahat itu kemungkinan akan membuat kacau jalannya Konferensi Aliansi Abadi.


Xiao Shuxiang mendekati Meng Hao Niang tentu karena wanita ini adalah alkemis yang terkenal. Sosok yang akan berperan penting sebagai penyelamat dan merupakan benalu yang bisa mengganggu rencananya.

__ADS_1


Xiao Shuxiang memang pernah dan sampai saat ini masih ingat benar bahwa dia ingin membentuk jati diri yang baru. Xiao Shuxiang berusaha menata hidupnya dengan lebih baik, tapi bukan berarti dia lupa membayar hutang yang sudah dirinya dapatkan dari orang lain. Tidak terkecuali mereka yang berasal dari Sekte Lembah Iblis.


******


__ADS_2