![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Yīng xióng tidak habis pikir dengan Xiao Shuxiang. Dilihat dari mana pun, keluhan pemuda ini sangat tidak wajar. Andai saja Yīng xióng manusia, dia mungkin sudah merasa bahwa Xiao Shuxiang sama sekali tidak mempunyai keteguhan hati.
Memang benar, bahwa kebiasaan paling susah diubah. Jika Xiao Shuxiang sendiri telah sangat terbiasa mengambil nyawa orang lain, maka sulit baginya untuk menghilangkan kebiasaan itu.
Xiao Shuxiang jelas merupakan sosok yang tidak bisa dibiarkan sendirian, dia harus punya seseorang yang selalu ada bersamanya. Paling tidak orang itu bisa mengingatkan dan mencegahnya untuk melakukan kebiasaan yang buruk.
Selama ini, Xiao Shuxiang selalu berhati-hati dalam bertindak apalagi saat sedang bersama teman-temannya. Dia tidak mau menjadi ditakuti, karenanya dia berusaha menahan diri.
Tetapi sekarang karena tidak ada yang mengenalinya, Xiao Shuxiang tentu tidak perlu lagi menahan diri. Sayang sekali meski pun teman-temannya tidak ada di sini----dirinya tetap mengalami kendala karena kehadiran Yīng xióng.
"Bisakah kau berhenti menyerang?!" Xiao Shuxiang merutuk. Dia mengambil tiga langkah mundur sebab diserang oleh pedangnya sendiri.
"Yīng xióng, di mana hati nuranimu? Kenapa kau jadi agresif, bahkan padaku?" Xiao Shuxiang menggeleng. Dia terus menghindari serangan pedangnya dan andaikan salah langkah sedikit saja----dia mungkin akan berada dalam bahaya.
!!
Yīng xióng begitu serius menyerang. Dia melayang-layang dengan gesit di udara dan hanya sekali ayunan saja----lima serangan seketika melesat ke arah Xiao Shuxiang. Hebatnya lagi, salah satu dari lima serangan itu mengenai sebuah pohon hingga langsung membuat tumbuhan itu terbelah menjadi dua.
Suara dari serangan Yīng xióng begitu keras dan kuat seperti sambaran petir, bahkan itu membuat pohon tersebut terbakar. Xiao Shuxiang terkejut dan memandangi Yīng xióng yang mulai kelewatan.
"Apa yang kau lakukan?! Kau serius ingin membunuhku?!" Xiao Shuxiang tidak menyangka bahwa pedangnya sendiri akan bisa menjadi durhaka seperti ini.
"Kau sangat menyebalkan---baik! Baiklah, aku berhenti. Aku tidak akan membunuh mereka, jadi hentikan seranganmu." Xiao Shuxiang menatap Yīng xióng dan lantas berkata, "Sayangilah aku. Oke?"
Xiao Shuxiang mengembuskan napas, menyilangkan kedua tangannya dan lalu menggeleng pelan. Dia pun bergumam, "Entah bagaimana aku bisa membuat pedang yang sangat menyebalkan sepertinya. Dia membuatku tidak bisa melakukan hal yang menyenangkan,"
Xiao Shuxiang mulai lagi. Dia berjalan pergi sambil terus mengomel dalam bentuk gumaman yang bahkan tidak dimengerti oleh Yīng xióng.
"Apa bagusnya pedang hebat jika malah membuat pemiliknya sendiri kerepotan. Dia tidak mau menurut dan hanya bisa sesekali diajak bekerja sama. Jika saja ada yang ingin menawarnya dengan harga bagus, maka sudah lama aku menjualmu." Xiao Shuxiang bersungut-sungut, "Pedang Pusaka Langit-ku yang dahulu jelas jauh lebih baik. Setidaknya dia tidak pernah melarangku melakukan apa pun---!?"
Xiao Shuxiang tersentak saat Yīng xióng tiba-tiba saja menghadang dengan ujung bilah yang mengarah tepat di wajahnya. Dia pun tersenyum pahit, "Baiklah. Aku mengerti. Tidak merutuk lagi, oke? Aku tidak akan merutukimu lagi hari ini. Kau pedang yang baik. Kau mencegahku melakukan hal yang salah, itu tindakan yang terpuji."
Xiao Shuxiang berkedip saat melihat pedangnya menulis sesuatu di tanah dan kemudian mendengus, "Hmph. Mudah menjadi penjahat tapi sulit menjadi orang baik? Bagus, hebat sekali. Kata-kata bijak Yīng xióng hari ini, aku belajar sesuatu darimu. Terima kasih, kau pedang yang sangat bijak. Tidak ada pusaka yang bisa mengajarkan hal semacam itu pada pemiliknya, kaulah yang pertama."
__ADS_1
Xiao Shuxiang melompat dan mendarat tepat di atas sebuah dahan pohon. Yīng xióng sendiri mulai menghilang dan kembali masuk ke dalam Cincin Spasial pemuda menawan itu. Xiao Shuxiang pun melesat untuk melihat tempat yang lain, dia meninggalkan para murid yang tidak sadarkan diri begitu saja bahkan tanpa diobati.
*
*
Di sisi lain. Mo Huai saat ini bersembunyi di sebuah semak-semak belukar. Entah bagaimana dia bisa lolos dari serangan Demonic Beast yang pertama dan berakhir di tempat ini.
Mo Huai hanya tahu, bahwa langit sudah menyelamatkannya. Demonic Beast yang mengguncang pohonnya tewas terkena dahan runcing tepat di bagian kepala. Itu adalah jenis keberuntungan yang tidak semua orang miliki.
Hanya saja sekarang, Mo Huai sedang berhadapan dengan masalah lain. Dia kini berada di antara pertarungan sengit para kultivator yang entah mengapa saling menyerang satu sama lain.
Banyak murid dari sekte berbeda-beda yang mengalami luka parah akibat terkena serangan, beberapa di antaranya sampai tewas dengan kondisi tubuh yang amat mengenaskan. Ini merupakan pertarungan berdarah yang pernah Mo Huai saksikan sebelumnya.
"AA-Hmph," Mo Huai langsung menutup mulut untuk meredam teriakannya ketika melihat seorang kultivator terlempar dan menghantam pohon dengan bagian tubuh yang tidak utuh lagi.
Tangan dan tubuh Mo Huai bergetar hebat saking takutnya. Dia menekuk lututnya dan terus bersembunyi di balik semak-semak belukar. Dirinya sudah berada sangat lama di tempat ini dan bahkan tidak tahu lagi membedakan tempat jantungnya yang sebenarnya ada di dada atau di telinga.
!!!
Mo Huai hampir saja menjerit andai dia tidak mengigit tangannya. Dia tidak bisa bergerak, seluruh tubuhnya kaku dan yang terburuk adalah----Mo Huai juga tidak bisa pingsan. Ini mungkin karena guncangan hebat yang dirasakannya.
"A-a-aku harus pergi .... Pergi dari sini," air terlihat mengucur dari pelupuk mata Mo Huai. Dia tahu dunia pendekar sangat kejam, tapi bukankah ini jenis kekejaman yang tidak manusiawi?!
Para kultivator di balik semak tempat Mo Huai bersembunyi begitu mengayunkan setiap senjata mereka. Bahkan tidak ada yang berniat mundur meski sudah terluka parah. Mereka seakan-akan bertarung sampai titik darah penghabisan dan jujur itu sangat menakutkan.
Mo Huai berusaha menenangkan diri. Dia tidak boleh terus berada di tempat ini jika masih ingin selamat. Dirinya perlu cara untuk bisa lolos dan pergi ke tempat yang aman.
"Aku tidak bisa mengharapkan bantuan orang lain. Aku akan terbunuh jika terus mengandalkan keberuntungan," Mo Huai menguatkan hati meski tatapan matanya mengandung ketakutan.
Tangan Mo Huai mulai terulur, dia ingin menutup mata mayat kultivator di dekatnya karena tidak nyaman dipelototi. Hanya saja, di saat itu juga----Mo Huai tersentak akan sesuatu.
"Ini ....." Mo Huai menahan napas. Mata mayat di sampingnya tidak memiliki pupil dan itu sepenuhnya berwarna putih. Dia yakin mayat tidak mungkin mempunyai warna mata seperti ini, apalagi jelas bahwa mayat di dekatnya masih sangat baru.
__ADS_1
Mo Huai memberanikan dirinya untuk mengintip dan memperhatikan pertarungan murid-murid dari berbagai sekte yang tersisa. Dia kembali tersentak saat melihat bahwa memang para murid itu mempunyai mata yang sepenuhnya putih.
"Mereka semua .... Terkena ilusi..!" Mo Huai menahan napas, ekspresi wajahnya yang sudah ketakutan sejak awal kini menjadi semakin pucat.
Mo Huai mengetahui hal tersebut karena selama belajar di bawah naungan Tetua Jiao Feng, dia membaca buku tentang tanaman yang mampu menciptakan ilusi dan salah satu ciri orang yang terkena ilusi ini adalah warna matanya yang sepenuhnya putih.
Mo Huai menelan ludah. Sayang sekali dia belum banyak membaca buku itu dan dirinya pun lupa tentang nama dari jenis tanaman yang bisa menciptakan ilusi. Dia memang bukan orang yang mudah menghapalkan sesuatu.
"Aku .... Harus pergi dari tempat ini terlebih dahulu. Aku harus mencari orang yang bisa membantu menghentikan mereka agar tidak bertarung lagi. Tapi .... Bagaimana caranya?"
Mo Huai mengusap keringat yang mengucur di pipi dan lehernya, "Aku tidak boleh takut. Mereka semua akan tewas jika sampai aku tidak berbuat sesuatu,"
"..............."
Mo Huai menatap mayat kultivator di sampingnya dan mempunyai ide yang cukup gila. Dia mengembuskan napas dan berusaha menenangkan debaran kuat pada jantungnya.
Mo Huai mengulurkan tangan dan begitu ngeri saat mulai menyentuh bagian dada kultivator tersebut. Tangannya gemetar dan dia nampak memejamkan mata.
"A-aku pasti akan memberi pemakaman yang layak untukmu, Tuan." Mo Huai mengusapkan darah kultivator itu pada pakaiannya dan kembali melakukannya lagi.
"Ini harus terlihat meyakinkan," Mo Huai mengusapkan darah di leher dan sedikit di wajahnya. Dia pun merogoh lengan pakaiannya dan lalu mengambil sebuah belati.
Mo Huai merobek kain pakaiannya. Dia membuat seakan-akan telah terkena serangan yang mematikan. Dia benar-benar membuat tubuhnya basah karena darah. Mo Huai pun kembali mengintip dan melihat-lihat situasi di sekitarnya.
Pertarungan masih berlangsung dan ada banyak murid yang sudah kehilangan nyawanya. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Mo Huai sangat berhati-hati dan lebih mendekat ke arah para mayat hingga ketika diperlukan----Dia bisa berpura-pura tewas.
Di lokasi lain, Yi Shisi sudah menyelesaikan pekerjaannya yang terakhir. Dia membunuh empat kultivator yang bertahan dan mulai memeriksa bawaan dari setiap mayat.
Yi Shisi berdecak kesal. Dari banyaknya orang yang dihabisinya, hanya dua di antara mereka yang membawa lembaran dari Kitab Pembunuh Matahari.
Yi Shisi sendiri tidak peduli dengan barang-barang lain dari setiap kultivator yang ada, termasuk koin emas yang mereka bawa. Misinya adalah mengumpulkan lembaran Kitab Pembunuh Matahari sekaligus menyingkirkan murid yang akan menjadi pilar masa depan dari sekte mereka masing-masing.
__ADS_1
Memanfaatkan Konferensi Aliansi Abadi untuk melancarkan rencananya memang sangat tepat. Ini seperti 'Melempari dua burung dengan satu batu'.
******