KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
36 - Keributan (1)


__ADS_3

Keributan yang diakibatkan oleh para kultivator itu mengundang perhatian. Orang-orang mulai berkumpul, mereka menonton pertarungan sengit yang melibatkan Siu Yixin dan Hu Li.


Sementara di dalam tenda sendiri Xiao Shuxiang terlihat fokus menghindari setiap serangan dari lima orang kultivator yang melawannya. Meja dan kursi milik Nie Shang menjadi korban dari betapa kuatnya serangan mereka.


Lihat saja, Xiao Shuxiang menendang sebuah kursi ke arah salah satu kultivator dan hanya sekali tebasan pedang----kursi itu pun terbelah dan hancur di udara. Ada juga kultivator yang menendang meja kayu ke arah Xiao Shuxiang, namun benda tersebut mengalami nasib yang sama hanya dengan sekali tinjuan kuat dari Koki Alkemis itu.


"Kenapa kau terus saja menghindar?" seorang pendekar mencibir, "Di mana sikap angkuhmu yang tadi, hah? Xiao Shuxiang!"


"Kau hanya bermulut besar. Jika memang begitu kuat, maka berhenti menghindar dan balas seranganku, sialan!"


Xiao Shuxiang melentingkan tubuhnya. Pedang salah satu lawannya menebas udara dan bilah senjata yang begitu tajam itu melintas di atas wajahnya.


Dia pun memutar tubuh dan menangkis serangan dari lawan lainnya dengan memakai Seruling Giok Putih.


Xiao Shuxiang berkata, "Kupikir kalian datang dengan banyak persiapan. Tetapi tak disangka bahkan setelah mendengar tentangku, kalian masih saja bertindak meremehkan seperti ini. Sangat tidak bisa diterima."


Xiao Shuxiang dalam gerakannya, dia mengambil sebuah obor yang menjadi penerang tenda. Dia pun menggunakan Teknik Pernapasan Angin untuk semakin memperbesar kobaran api pada obor itu hingga dua orang pendekar terkena serangan yang membuat mereka terpental.


!!


Nyala api itu membesar dan membakar sisi kiri tenda milik Nie Shang. Kobaran api itu terus merambat dan menimbulkan keributan bahkan termasuk Hu Li yang tengah bertarung sengit saat ini.


Tiga orang pendekar yang melawan Xiao Shuxiang ikut tersentak. Atap tenda mulai jatuh, bahkan termasuk balok-balok yang menyangganya.


Mereka menghindarinya, namun Xiao Shuxiang justru memakai kesempatan itu untuk membalas setiap serangan yang dialamatkan padanya.


"Kurang ajar...!" salah seorang pendekar mengumpat. Pakaian di bagian dadanya mengalami luka bakar dan rasa sakitnya jelas sampai menembus kulit.


Dalam senyuman Xiao Shuxiang, terlihat sedikit kekejaman. "Aku bahkan bisa lebih kurang ajar lagi. Bukankah ini permintaan kalian."


!!


Meski kelima kultivator itu datang untuk membalas dendam, namun mereka tetap memperhatikan kondisi sekitar, termasuk keselamatan kultivator yang lain. Inilah sebabnya mereka tidak bisa bersungguh-sungguh dalam mengerahkan kekuatan.


Para pendekar itu peduli pada rekan yang lain meskipun mereka berasal dari sekte yang berbeda. Hanya saja, Xiao Shuxiang sendiri tidak berpikir demikian. Pemuda tampan itu selalu bertarung tanpa peduli keselamatan orang-orang di sekitarnya.


Jangankan nyawa Hu Li yang merupakan pelayan setianya, bahkan nyawa Mo Huai dan Nie Shang, termasuk Siu Yixin tidak pernah dia pedulikan. Baginya, jika salah satu temannya tewas----maka itu adalah batasan mereka. Dia tidak mempunyai kewajiban melindungi nyawa orang lain.


!!

__ADS_1


Sebuah balok kembali runtuh, kali ini lelehan tenda yang terbakar juga ikut jatuh dan nyaris mengenai Xiao Shuxiang serta kelima lawannya. Suasana yang dikelilingi api semakin membuat alur pertarungan itu sengit.


Xiao Shuxiang tidak memakai pedang, sebagai gantinya dia mengayukan Seruling Giok Putihnya untuk menangkis serangan lawan. Dia juga tidak memakai Qi untuk bertarung, tapi ketangkasan dari tiap gerakannya benar-benar memukau.


Praktiknya memang berada di Forging Qi tingkat 5, dalam artian kata-----dia tidak mempunyai harapan menang melawan lima orang secara sekaligus. Apalagi praktik lawannya lebih tinggi dari dirinya sendiri.


Hanya saja, Xiao Shuxiang bisa bergerak lebih leluasa adalah karena pengalaman bertarungnya serta penguasaannya terhadap teknik pernapasan bukanlah main-main. 


Dia menguasai Teknik Pernapasan Angin dan Teknik Pernapasan Api. Salah satu di antara kedua teknik ini bahkan sudah dia kembangkan menjadi Teknik Pernapasan Air. Dan sejauh ini, hanya dia seorang yang memiliki ketiga teknik pernapasan tersebut. Bakat yang justru membawa Benua Timur pada sejarah kelam.


Terima kasih kepada pemilik dari Kitab Pernapasan Langit dan Bumi yang sudah memberikan hasil ciptaannya itu pada sosok seperti Xiao Shuxiang. Andaikan dia memberikan kitab itu pada kultivator yang lebih baik, mungkin tragedi kelam di Benua Timur tidak akan pernah terjadi.


Teknik pernapasan Xiao Shuxiang akan semakin kuat ketika digabungkan dengan Qi. Namun karena segel yang diberikan padanya, Xiao Shuxiang kini mempunyai batasan dalam penggunaan ketiga teknik pernapasan miliknya. Dan dibandingkan dengan teknik Pernapasan Api----melawan lima kultivator ini hanya membutuhkan satu di antara tiga teknik pernapasan yang dikuasainya.


Buktinya, tidak berlangsung lama----Xiao Shuxiang sudah membuat seorang pria yang merupakan lawannya berlutut di tanah. Kultivator itu mengerang penuh kesakitan saat tangan Xiao Shuxiang menembus tubuhnya dan menarik kuat tulang punggungnya.


!!


Kultivator yang lain terkejut dan untuk beberapa saat seperti sulit bergerak. Keadaan di sekitar mereka penuh dengan asap yang menyesakkan, apalagi mereka masih harus berjaga-jaga dengan tenda dan balok kayu yang terbakar.


Xiao Shuxiang menarik rambut kultivator itu dan sedikit membungkukkan tubuh. Dia berkata dengan makna yang dalam, "Aku sekarang berusaha menjadi orang yang baik dengan tidak menarik keluar jantungmu. Tapi karenamu, pakaianku jadi kotor lagi."


"Baiklah, kau bisa membawa dendammu pergi ke neraka. Kebetulan sekali, selama ini aku bisa hidup karena dendam kalian." 


Xiao Shuxiang melempar kasar kultivator itu dan membiarkannya merasakan sakit yang amat sangat. Dia tidak membunuh kultivator tersebut begitu saja. Dia tidak mau memberikan kematian yang mudah untuk lawannya sekarang ini.


Ada empat kultivator yang mengepalkan tangan mereka. Keempatnya ingin sekali menerjang Xiao Shuxiang sekarang, tapi kondisi di sekeliling mereka sudah terlalu buruk. Tenda yang sedang terbakar ini sewaktu-waktu bisa runtuh dan menimpa mereka. Apalagi sekarang asapnya pun sudah menjadi pengganggu.


"Kalian berempat, apa juga mau berada dalam kondisi sepertinya?" Xiao Shuxiang menatap keempat lawannnya ini, tangan kirinya lengket karena darah. Namun dia masih sanggup mematahkan beberapa tulang punggung lagi.


"Xiao Shuxiang...! Kematian istriku pasti akan kubalas. Kau akan membayarnya dengan nyawamu!"


"Oh, apa aku yang menyebabkan istrimu mati?" Xiao Shuxiang berujar sarkatis. "Bagus sekali, kapan aku membunuh istrimu? Jangan bilang karena aku layak menjadi target pembalasan dendam, hingga istrimu yang mati dibunuh orang lain justru kau limpahkan kesalahannya padaku."


Emosi para kultivator itu meluap. Satu di antara mereka yang tengah memegang dadanya nampak menatap nyalang ke arah Xiao Shuxiang. "Tidak mungkin kami sembarangan menuduh! Kau membunuh istrinya dan kau juga membunuh putriku! Pembantaian di Kedai Longyan, kau tidak mungkin lupa itu...!"


!!


Sekarang Xiao Shuxiang yang terkejut. Pembantaian di Kedai Longyan bukanlah keinginannya. Tapi bagaimana bisa dia menjelaskan semua hal itu, sementara dirinya sendiri masih bertanya-tanya.

__ADS_1


Xiao Shuxiang sebenarnya ingin berkata bahwa pembantaian yang terjadi di kedai beberapa hari lalu bukan kesalahannya. Dia mengalami mimpi yang justru tanpa sadar terhubung dengan dunia nyata. Namun para kultivator ini jelas tidak akan percaya dan juga tidak mau mendengar penjelasan.


"Menyalahkanku atas kematian istri dan anak kalian...? Hah, luar biasa." tatapan mata Xiao Shuxiang menajam, suaranya dingin. "Seharusnya sebagai pendekar kalian tahu... Bahwa di dunia ini, kalian tidak bisa selalu menjadi pelindung orang lain."


Ada saat di mana seseorang dilindungi orang lain, tetapi ada juga saat di mana dia harus sadar diri untuk menjadi kuat hingga mampu melindungi diri sendiri. Hal ini penting diingat bagi mereka yang hidup di dunia para pendekar yang kejam.


Di tengah banyaknya kobaran api, salah satu kultivator meninggikan suaranya. Dia menunjuk Xiao Shuxiang, "Kau berani berkata seperti itu karena tidak pernah tahu arti sebuah hubungan! Makhluk sepertimu yang tidak memiliki hati, bagaimana bisa mengerti rasa sakit orang lain!"


"......"


Xiao Shuxiang tersenyum, "Aku juga memiliki istri, orang tua, saudara dan teman-teman yang selama ini kuanggap keluarga. Benar. Aku tidak tahu seperti apa arti hubungan bagimu. Tapi untukku, bukan aku yang harusnya melindungi mereka... Tapi merekalah yang menjadi pelindungku. Apa kau ingin tahu, kenapa mereka menerima identitasku ini? Tentu saja karena mereka menyadari bahwa membuat Xiao Shuxiang menjadi musuh, justru akan membawa dunia ini menuju kehancuran."


!!


Seluruh tenda Nie Shang kini runtuh, termasuk balok-balok kayunya. Hu Li yang berada di luar menyerukan nama Tuan Mudanya, begitu pun dengan Nie Shang yang menyaksikan hal tersebut. Orang-orang yang turut menjadi penonton juga begitu ribut, mereka jelas terkejut namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Sesaat, pertarungan Hu Li dan Siu Yixin terhenti. Para kultivator yang merupakan lawan keduanya juga kaget, tapi bukan mengkhawatirkan kultivator yang saat ini terjebak di dalam tenda.


Lawan mereka lebih peduli pada keadaan Xiao Shuxiang. Dengan terperangkap dalam kobaran api yang besar dan reruntuhan balok-balok kayu, mustahil musuh mereka itu akan selamat. Apalagi praktik Xiao Shuxiang sekarang ada di tingkatan yang rendah.


"Tuan Muda Xiao...!" Hu Li melesatkan api rubahnya yang mana akan memadamkan api lain yang berkobar di hadapannya. Dia memakai terlalu banyak Qi. Dadanya saat ini terasa sakit, tetapi dia tidak peduli. Dia harus menyelamatkan Tuan Mudanya.


"Saudara Xiao...!" Nie Shang baru akan berlari saat api tersebut padam, namun lengannya dipegang oleh Mo Huai.


"Tuan Muda Nie, kau jangan ke sana. Masih terlalu berbahaya,"


"Tapi, Mo Huai. Saudara Xiao..."


"Tuan Muda Xiao pasti akan baik-baik saja. Aku yakin itu,"


Nie Shang menatap Mo Huai. Pemuda ini seperti memiliki kepercayaan yang besar kepada Saudara Xiao-nya. Seakan-akan rasa pesimis dan penakut yang ada pada diri Mo Huai menghilang bila menyangkut Xiao Shuxiang.


"Tuan Muda Xiao...! Tuan Muda...?!" Hu Li memanggil-manggil Tuannya. Asap serta kepanikan yang menggelayuti hatinya membuat Hu Li tidak bisa menggunakan penciumannya untuk mencari Xiao Shuxiang.


"♬♪ Yo, yo! Ini akan sangat tragis dan juga memalukan, jika dia mati karena tertimpa reruntuhan yo! ♬♩"


"Tuan Siu! Anda jangan bicara begitu...!" Hu Li membentak, dia sedang panik dan Siu Yixin justru bicara dengan nada itu. Walau memang gaya bicara Siu Yixin sama sekali tidak berubah.


******

__ADS_1


__ADS_2