![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Feng Hao mengeluarkan sebuah guci air berukuran sedang dari Cincin Spasialnya dan memberikannya kepada Mo Huai. Dia melihat pemuda itu minum agak terburu-buru, bahkan sampai tersedak.
"Kau baik-baik saja? Tenanglah, minum perlahan." Wang Zhao mengusap pelan punggung Mo Huai dan mencemaskan temannya ini.
"Bagaimana kau bisa sampai kemari? Apa yang sebenarnya terjadi?!" Wang Zhao bertanya dan ini juga merupakan pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Xiao Shuxiang.
Mo Huai mencoba mengatur napas dan memperhatikan orang-orang yang sudah menolongnya. Pandangannya kemudian mengarah pada Xiao Shuxiang dan Mo Huai langsung ingat sesuatu.
"Tuan Muda Xiao?!" Mo Huai berseru dan langsung menarik tangan pemuda itu hingga membuat yang lainnya tersentak, termasuk Xiao Shuxiang sendiri.
"Tuan Muda Xiao, kau harus selamatkan nona Ling. Saat ini ... Dia dalam bahaya!" Mo Huai berkata, "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kita harus segera ke sana dan menyelamatkannya..!"
Xiao Shuxiang sebenarnya ingin bertanya kenapa Mo Huai bisa ada di tempat ini, namun dia tersentak ketika nama Kucing Putihnya pun ikut disebut. Apalagi, suara ledakan kembali terdengar dan semakin bertambah keras.
"Kalian tetap di sini," Xiao Shuxiang pergi tanpa menunggu balasan dari teman-temannya. Dia melesat ke arah di mana Mo Huai datang.
"Tetap di sini dan lindungi mereka," Lan Guan Zhi menepuk bahu Hei Lian dan juga ikut menyusul teman baiknya. Dia membuat gadis itu tersentak.
"Ap-Hei..?!" Hei Lian terkejut dan menatap punggung Lan Guan Zhi yang semakin menjauh dan hilang dalam kegelapan.
Karena ketiadaan pemuda berpakaian putih dan berpita dahi itu, maka tidak ada lagi pelindung dari energi spiritual yang menghalangi air hujan mengenai tubuh Hei Lian dan yang lainnya. Alhasil, baik Wang Zhao, Feng Hao maupun Mo Huai pun langsung basah kuyup.
Kedua tangan Hei Lian terkepal kuat, dia menggigit bibir bawahnya karena merasa kesal. Bagaimana bisa dia diperlakukan seperti ini?!
"Sebaiknya kita mencari tempat untuk berteduh," Feng Hao buka suara dan ucapannya dianggukkan oleh Wang Zhao.
Dahi Hei Lian berkedut dan dia pun menggeram, "Sialan. Mereka sudah pergi ke sana dan kalian justru ingin berteduh? Apa kalian pikir kita datang kemari untuk bersenang-senang?!"
Mo Huai berkedip, dia tersentak dengan betapa kasarnya nada suara dari gadis kecil yang terlihat manis ini. Dia baru memperhatikan dengan baik dan mulai tersadar bahwa sosok ini adalah orang yang pernah menjadi pelaku dari penyerangan Sekte Lautan Awan.
*
*
Di tempat lain, kaki Xiao Shuxiang menapak di sebuah batang pohon. Dia tersentak saat pepohonan ini bergerak dan agak menyulitkan langkahnya.
Saat melesat kembali, tiba-tiba saja akar aneh muncul dari tanah dan langsung menerjangnya. Xiao Shuxiang menyadari hal itu dan melesatkan energi spiritual yang besar. Ledakan tercipta hanya dengan satu serangannya.
__ADS_1
"Hmph, berani menghalangiku .... Sangat pantas mati."
Gemuruh petir terdengar bersamaan dengan lesatan cepat dari Xiao Shuxiang. Garis putih keperakan menjadi penanda dari gerakannya. Dia menerjang setiap akar yang melesat ke arahnya hanya dengan beberapa serangan.
Pepohonan yang diterjang oleh Xiao Shuxiang meledak dan terbakar. Di sisi lain, Lan Guan Zhi juga menyerang akar merambat yang melesat ke arahnya dan terus mengikuti teman baiknya.
Suara ledakan kembali terdengar dan membuat Xiao Shuxiang mengerutkan kening. Dia mempercepat langkahnya dan berdecak kesal sebab pepohonan di sekitarnya terus saja bergerak.
Tiga buah cermin pemindah yang cukup besar terbentuk di udara dan kemudian mengeluarkan serangan yang dahsyat. Xiao Shuxiang membuka jalan menuju ke kuil Xiang Yu, tepat di saat Liu Wei Lin mengibaskan kipas merahnya untuk melindungi Ling Qing Zhu.
!!
Benar apa yang dikatakan Mo Huai, Ling Qing Zhu dan Liu Wei Lin memang ada bersamanya di tempat ini. Mereka sebenarnya juga menjalankan sebuah misi bersama dengan salah seorang murid Istana Seribu Pedang.
Misi itu tidak terlalu berbahaya dan sebenarnya hanya dikhususkan untuk Ling Qing Zhu, Liu Wei Lin dan murid Istana Seribu Pedang itu. Mo Huai sendiri justru mengajukan diri agar diikutkan dalam misi ini sebab dia tidak memiliki teman akrab untuk berlatih.
Mo Huai awalnya terus bersama dengan Wang Zhao di bawah bimbingan Tetua Jing Yufeng, tetapi karena pemuda ini mulai dilatih Tetua Murong Xun---mereka pun jarang bertemu. Dan tidak butuh waktu lama sampai Mo Huai mendengar kabar bahwa Wang Zhao pergi bersama Lan Guan Zhi untuk menjalankan misi.
Tidak ada teman yang biasa dia lihat tentu membuat Mo Huai takut. Dia tidak mau ditinggal sendirian dan karena itulah dia membujuk Ling Qing Zhu agar mau menerima dirinya sebagai teman perjalanan.
Liu Wei Lin dan murid senior Istana Seribu Pedang juga tidak masalah dengan keiikut-sertaan Mo Huai, setidaknya bila mereka butuh pancingan untuk menangkap musuh----pemuda dengan gigi taring yang manis ini bisa dimanfaatkan.
Buktinya, misi mereka berhubungan dengan pengantin wanita yang diculik dan Mo Huai cukup bagus dengan penyamarannya sebagai perempuan. Dia dan Ling Qing Zhu berhasil mengelabui musuh hingga mereka dibawa oleh hantu ke Kuil Xiang Yu ini.
Masalah terjadi ketika Ling Qing Zhu membongkar penyamaran mereka untuk menyelamatkan para gadis di dalam kuil dan membuat Liu Wei Lin serta murid Istana Seribu Pedang yang mengikuti mereka juga ikut bertarung.
Kekuatan musuh yang mereka hadapi sangatlah besar dan berbahaya. Bahkan murid senior Istana Seribu Pedang yang bersama mereka harus kehilangan nyawa karena melindungi Mo Huai saat hendak mencari bantuan.
Kematian murid Istana Seribu Pedang itu tidak sia-sia, sebab Mo Huai benar-benar berhasil menemukan bantuan meski orang yang dia temui adalah sosok tidak terduga.
"Nona Ling ...!" Liu Wei Lin berhasil menangkap Ling Qing Zhu yang lengan kanannya sempat terkena serangan musuh. Gadis berambut putih dan bercadar tipis itu nampak berwajah hampir mencapai batasnya.
Liu Wei Lin berekspresi pucat dan dia pun berkata. "Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus pergi. Aku tidak mau melihatmu terluka seperti-"
"Lepaskan," Ling Qing Zhu menepis pelan tangan Liu Wei Lin dan membuat teman seperjalanannya itu tersentak.
Ling Qing Zhu tanpa nada berkata, "Pergi dan susul Mo Huai."
__ADS_1
"Nona Ling..!" Liu Wei Lin kaget, "Kau jangan bercanda. Kita harus pergi. Ini satu-satunya cara menyelamatkan diri. Ayo,"
"Tidak sebelum aku mengalahkannya."
"Dia terlalu kuat untukmu--!!" Liu Wei Lin kembali terkejut saat menyaksikan Ling Qing Zhu kembali melesat. Dia pun tidak bisa tinggal diam dan membantu gadis berpakaian pengantin tersebut.
Hujan semakin deras dan sosok yang Ling Qing Zhu lawan merupakan pria dengan wajah sepucat mayat. Sosok itu berpakaian putih dan memegang sebuah lonceng di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang lentera.
Liu Wei Lin memegang kuat kipas merah miliknya dan nampak menahan amarah. Dia tidak marah pada Ling Qing Zhu, tapi marah kepada musuh karena merasa telah dipermainkan.
"Tsk, sialan." Liu Wei Lin tidak tahan lagi dan langsung memberi teguran, "Berhenti tertawa! Tidak ada hal lucu di tempat ini yang bisa kau tertawai, menyebalkan!"
Liu Wei Lin melesatkan serangan jarak jauh yang diterima dengan mudah oleh musuhnya. Dia melihat pemuda yang sejak tadi terus tertawa itu mengibaskan tangan yang membawa lentera.
Suara tawa semakin terdengar dan kian keras hingga sulit bagi Liu Wei Lin untuk menjalin komunikasi dengan pria yang berwajah pucat tanpa darah ini.
Liu Wei Lin menapak tepat di samping Ling Qing Zhu. Pandangan matanya senantiasa mengawasi segala bentuk dari ucapan gadis cantik ini.
Liu Wei Lin berkata, "Kita tidak bisa menghadapinya terus seperti ini. Anggota dari Sekte Lembah Hantu bisa datang kemari. Kita tidak akan punya peluang..!"
Liu Wei Lin membujuk, "Kau sudah banyak mengalami luka, Nona Ling. Jangan keras kepala dan pergi saja denganku,"
"Tidak masalah. Dia sudah datang,"
?!
Liu Wei Lin tersentak, tidak mengetahui maksud ucapan Ling Qing Zhu. Baru saja dirinya akan bersuara saat sebuah kilat melintas dari arah samping tubuhnya dan langsung menerjang musuh mereka.
Suara ledakan terdengar bersamaan dengan sesosok manusia berpakaian serba putih yang menapak lembut di tanah. Mata Liu Wei Lin membulat saat mengetahui siapa yang baru saja datang.
"Itu ..." Liu Wei Lin kesulitan melanjutkan ucapannya. Sosok yang dia lihat ini tidak lain adalah Xiao Shuxiang. Bahkan belum sempat dirinya menelan ludah, lesatan lain kembali datang dan seorang pemuda juga menapak lembut di tanah.
Ling Qing Zhu berkedip, kali ini dirinya yang tersentak. Dia sebelumnya bisa merasakan kehadiran Wali Pelindungnya, namun tidak disangka walinya itu tidak sendirian. Ada orang lain yang juga ikut datang dan itu adalah Tuan Muda Lan Guan Zhi.
!!!
******
__ADS_1