KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
237 - Istana Seribu Pedang


__ADS_3

Semenjak kepergian Xiao Shuxiang dan rombongannya----Tetua Dao Fang An dan beberapa tetua yang lain berusaha untuk membuat agar kabar penyerangan Sekte Lautan Awan tidak sampai menyebar luas.


Meski berita sebesar ini tidak akan bisa disembunyikan selamanya, tetapi paling tidak penyebaran berita ini bisa dicegah selama beberapa hari----setidaknya sampai Xiao Shuxiang dan teman-teman pemuda itu tiba di Istana Seribu Pedang.


Meng Hao Niang menghampiri Dao Fang An yang terlihat berdiri tenang sambil memegang sapu miliknya. Tua Bangka itu memang mempunyai kebiasaan untuk selalu membersihkan halaman Sekte Lautan Awan, meskipun statusnya yang merupakan seorang Tetua Besar.


"..............." Dao Fang An menyadari kehadiran Meng Hao Niang di dekatnya dan kemudian bertanya tanpa menoleh. "Apa pekerjaanmu sudah selesai?"


"Yah ... Aku sampai tidak meminum arakku karenanya," Meng Hao Niang berujar malas sambil memain-mainkan kendi labunya.


Meng Hao Niang bertanya tanpa nada, "Apa aku harus menyusul anak-anak itu?"


Dao Fang An mengangguk pelan, "Aku memang menginginkan kau pergi dan mengawasi mereka. Meski di Istana Seribu Pedang ada tetua Chen Duan Shan dan aku percaya padanya, namun ada baiknya kau pun ikut pergi."


Dao Fang An bernapas pelan dan lantas berkata, "Ada orang yang nampak asing bersama Wang Zhao dan kuyakin sosok itu berasal dari Sekte Lembah Iblis, aku ingin kau mengawasi gerak-geriknya."


"..............." Meng Hao Niang memandang lurus ke depan dan kemudian berkata, "Kupikir aku tahu siapa sosok asing yang kau maksud. Dia tidak lain adalah pelaku yang sudah menyerang sekte ini,"


"Aku pun merasakan hal yang sama ...."


"Jika tebakanku benar, maka namanya adalah Hei Lian. Dia merupakan kultivator yang ahli dalam Perubahan Jenis Energi Spiritual meski usianya masih terlalu muda,"


"Aku memang melihatnya. Dia memiliki tubuh seperti anak kecil, kupikir dia sama dengan tetua Xie Yanran."


Meng Hao Niang menggeleng pelan, dia pun berujar. "Keduanya berbeda. Hei Lian memang masih muda, usianya masih belasan tahun namun nyawa yang sudah diambilnya tidak lagi dapat terhitung."


"..............." Dao Fang An mengingat bahwa Meng Hao Niang tidak bertemu dengan gadis kecil yang dibawa Wang Zhao. Andai wanita ini dan gadis kecil itu bertemu, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan dilakukan oleh Meng Hao Niang.


Dao Fang An berujar, "Saat aku bertemu gadis kecil itu .... Dia terlihat sangat bergantung kepada Wang Zhao. Xiao Shuxiang mengatakan bahwa sikap Hei Lian itu karena ramuan cinta buatan Zhang Xiao Lian, namun seperti yang diketahui .... Ramuan ini mempunyai batasan dalam efeknya,"


"............. Kau ingin berkata bahwa Hei Lian bisa kembali berbahaya jika efek dari ramuan yang diberikan padanya menghilang?"


"Itulah yang aku khawatirkan,"


Meng Hao Niang mengembuskan napas dan memandang lurus ke depan. Dia pun berkata, "Xiao Shuxiang adalah Alkemis dan kupikir dia pasti sudah melakukan sesuatu untuk mengatasi ini,"


Meng Hao Niang berkata, "Berandalan itu tidak akan mungkin membiarkan musuh bebas berkeliaran jika tahu efek ramuan yang dia berikan memiliki batasan."


"............. Kuharap kau benar,"


*


*


"Lian'Er, ada apa?" Wang Zhao tiba-tiba saja bertanya.


Dia tersentak karena melihat gadis kecil di sampingnya yang nampak berkeringat dingin. Apalagi, wajah Hei Lian nampak begitu pucat.


"Lian'Er, apa kau sakit?" Wang Zhao bertanya kembali yang digelengkan oleh gadis kecil di sampingnya.

__ADS_1


Hei Lian mencoba mengatur napas. Sakit di perutnya yang datang begitu tiba-tiba membuatnya tidak bisa melancarkan aksi untuk menghabisi nyawa siapa pun di dalam kereta ini.


Ketika dia ingin melakukannya, di saat itu pula gelombang rasa sakit datang dan menusuk ringan perutnya. Mulai dari sini, rasa sakit itu berganti menjadi sensasi terbakar yang luar biasa. Hei Lian bahkan nyaris menjerit karena tidak bisa menahan lebih lama.


"Sialan, aku bahkan tidak makan sesuatu yang salah--!!" Hei Lian membelalakkan mata saat mulai mengingat sesuatu. Dia spontan menengadah.


Lan Guan Zhi memperhatikan Hei Lian yang tiba-tiba saja mendongak dengan ekspresi wajah yang seperti terkejut karena baru saja ingat sesuatu.


Bila diperhatikan baik-baik, Hei Lian mungkin saja hanya menatap langit-langit kereta ..... Namun sebenarnya adalah gadis kecil itu ingin menatap sosok yang duduk di atas kereta.


Hei Lian terlihat menahan amarahnya, hanya saja itu meski ditahan sebaik apa pun----amarah itu akan nampak jelas dalam tatapan matanya.


"Xiao Shuxiang .... Apa yang sebenarnya telah kau lakukan padaku?!" Hei Lian menggeram di dalam hati.


Gadis kecil itu mengingatnya dengan baik dan yakin bahwa kondisinya saat ini adalah karena perbuatan Xiao Shuxiang.


Hei Lian diam-diam mengepalkan kedua tangannya, dia pun menarik napas meski rasa kesalnya tidak berkurang sama sekali. Dia yakin ini adalah ulah Xiao Shuxiang, dia tidak memiliki orang lain lagi sebagai pelaku selain pemuda itu.


Di tempat lain, Xiao Shuxiang sepertinya menyadari sedang disinggung dan juga tahu bahwa dirinya akan menjadi target seseorang. Namun bukannya merasa waspada, Xiao Shuxiang justru terlihat tersenyum dan seakan menikmati waktu yang berharga dengan Kucing Putihnya.


Perjalanan yang lancar dan tanpa satu pun kendala membuat perjalanan itu terasa singkat, apalagi kehadiran Xiao Shuxiang yang tidak pernah kehabisan topik bahasan membuat suasana makin meriah.


Tidak hanya Xiao Shuxiang yang begitu memberi pengaruh, tetapi juga Liu Wei Lin, Jian Yang dan Li Huanshou. Teman-teman baru Xiao Shuxiang ini memiliki beberapa tingkah yang mirip dengan para murid Sekte Kupu-Kupu.


Untuk Ling Qing Zhu, dia hanya sesekali menanggapi ucapan dari Xiao Shuxiang. Itu pun kebanyakan dipancing oleh Wali Pelindungnya sendiri untuk bicara.


"..............."


Kepulangan Lan Guan Zhi, Jian Yang dan Li Huanshou dari Sekte Lautan Awan membuat para murid Istana Seribu Pedang menjadi riuh. Mereka sangat menyambut kedatangan ketiga orang ini.


Lan Guan Zhi berjalan di depan bersama Jian Yang dan Li Huanshou, sementara Mo Huai terlihat bersama dengan Liu Wei Lin, Wang Zhao dan Hei Lian.


Untuk Xiao Shuxiang sendiri, entah dia sengaja atau tidak----tetapi jarak pemuda itu dengan teman-temannya lumayan jauh. Dan lagi, pemuda mempesona itu tidak pernah melepaskan pegangan tangannya dari Ling Qing Zhu.


Ini benar. Xiao Shuxiang terus memegang tangan Kucing Putihnya dan gadis cantik bercadar tipis itu pun terlihat sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Saudara Yang...!"


"Senior Yang...!"


"Huanshou Gege...! Kau akhirnya pulang..!"


Beberapa seruan murid Istana Seribu Pedang membuat Jian Yang dan Li Huanshou menjadi semangat lagi. Hanya saja seorang dari para murid yang menjadi penggemar sosok Lan Guan Zhi jauh lebih banyak.


Nama Jian Yang dan Li Huanshou kini bahkan teredam oleh nama Lan Guan Zhi yang terus-menerus diserukan. Liu Wei Lin yang mendengar dan melihat sendiri kejadian ini nampak terpukau.


"..............."


Dalam keramaian itu, Tetua Chen Duan Shan yang baru saja selesai mengadakan rapat dengan para tetua lainnya nampak keheranan melihat kerumunan para murid.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama sampai Tetua Chen Duan Shan sadar bahwa yang datang adalah Lan Guan Zhi dan dua orang murid yang sebelumnya dia izinkan untuk belajar di Sekte Lautan Awan.


Tetua Chen Duan Shan tentu saja langsung menyambut ketiga muridnya itu. Dia pun tidak menyangka bahwa selain Lan Guan Zhi, Jian Yang dan Li Huanshou----dirinya pun kedatangan murid dari Sekte Lautan Awan.


"Shizun, kami sudah pulang..." Jian Yang menyatukan kedua tangannya dan memberi hormat kepada Tetua Chen Duan Shan ketika tetua tersebut berdiri tepat di hadapannya.


"Tetua Besar Chen..." Liu Wei Lin ikut menyatukan tangan dan disusul oleh Mo Huai. Ling Qing Zhu sendiri hanya sedikit mengangguk sambil membungkukkan badan karena satu tangannya dipegang oleh Xiao Shuxiang.


"Bagaimana kabar kalian?" Tetua Chen Duan Shan bertanya dengan ramah. Dia tersenyum saat membalas salam hormat dari Liu Wei Lin, Mo Huai dan Ling Qing Zhu.


"Kami baik Shizun," Li Huanshou berujar. Dia menjawab pertanyaan dari Tetua Chen Duan Shan dan ikut menanyakan kabar Tetua-nya tersebut.


Tetua Chen Duan Shan menjawabnya dengan ramah. Dia senang melihat Lan Guan Zhi, Jian Yang, dan Li Huanshou yang kini nampak semakin akrab.


"Tetua Besar Chen, salam..." Wang Zhao kini itu menyatukan tangan dan memberi hormag kepada Tetua Chen Duan Shan. Dia sebenarnya sangat gugup saat ini.


"..............." Tetua Chen Duan Shan mengangguk sebagai balasan. Karena kehadiran Wang Zhao, apalagi dia juga melihat Xiao Shuxiang-----maka ini pasti berhubungan dengan sesuatu yang penting.


Tetua Chen Duan Shan menarik napas dan kemudian berkata, "Kalian pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Aku akan meminta murid-muridku untuk mengantar kalian ke kamar masing-masing,"


"Tetua Chen," Xiao Shuxiang buka suara sambil mengangkat tangannya. Dia pun berkata, "Kau tidak perlu repot denganku dan Kucing Putih. Kami bisa berbagi kamar bersama,"


Liu Wei Lin dan Jian Yang tersentak, begitu pun dengan kultivator yang mendengar ucapan Xiao Shuxiang barusan. Mereka bahkan langsung menoleh dan menatap pemuda itu.


Ling Qing Zhu berkedip, dia menatap Xiao Shuxiang dan berkata tanpa nada. "Tetua Besar Chen bahkan tidak bertanya apa pun padamu, kau tahu itu?"


"Yah, kan bagus memberi tahu Tetua Chen lebih dahulu. Aku tidak mau jika kita pisah kamar lagi, itu menyebalkan."


"Saudara Xiao," Liu Wei Lin bersuara, "Kau ini sangat tidak tahu malu."


"Apa? Aku hanya ingin sekamar dengan istriku, apa itu salah?" Xiao Shuxiang meledek dan lantas berkata, "Kau yang masih tidak punya pasangan sebaiknya diam saja. Berdoa banyak-banyak agar langit cepat memberikanmu jodoh."


Liu Wei Lin terperangah dengan ucapan Xiao Shuxiang barusan. Dia pun mulai melambaikan kipasnya dan nampak menahan rasa kesal.


Di sisi lain, Tetua Chen Duan Shan terlihat tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Dia pun memberi isyarat agar beberapa muridnya mengantarkan Xiao Shuxiang dan teman-temannya ke kamar mereka masing-masing, tentu saja----seperti yang diinginkan, Xiao Shuxiang ditempatkan di kamar yang sama dengan Ling Qing Zhu.


Xiao Shuxiang-lah yang diantar lebih dahulu. Setelah tahu kamarnya, dia pun mengikuti murid Istana Seribu Pedang yang mengantar teman-temannya ke kamar mereka masing-masing dengan alasan bahwa dirinya merupakan penanggung jawab atas keselamatan para murid Sekte Lautan Awan.


Tentu saja tidak ada yang keberatan, apalagi Xiao Shuxiang sebelumnya sudah cukup dikenal sebagai perwakilan Tetua Besar Sekte Lautan Awan. Jadi meski tingkat praktiknya rendah, Xiao Shuxiang cukup dihormati di tempat ini.


Hei Lian adalah orang terakhir yang dibawa ke kamarnya dan di sini-lah Xiao Shuxiang sekarang. Murid Istana Seribu Pedang meminta izin pamit dan kini hanya tinggal mereka berdua.


"..............."


"..............."


Antara Xiao Shuxiang dan Hei Lian tidak ada yang berbicara, namun dari yang bisa dilihat-----suasana nampak tegang dan aneh di antara keduanya.


******

__ADS_1


__ADS_2