KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
153 - Ling Qing Zhu (5)


__ADS_3

"A-apa yang terjadi pada portalnya?!" Zhi Shu berdiri dengan ekspresi wajah yang terkejut. Dia sudah sangat pucat dengan suara teriakan kesakitan dan permintaan tolong yang terdengar dari layar giok di hadapannya.


Di lantai tertinggi, tetua dari Menara Bintang Suci yakni Shen Shilin juga terlihat begitu cemas. "Ini tidak bisa dibiarkan,"


Tetua Shen Shilin berdiri, "Aku tidak bisa diam saja dan mendengarkan jeritan anak-anak itu. Mereka berada dalam bahaya sekarang ini,"


Ling Qing Zhu yang berada di antara para tetua juga harap-harap cemas. Ekspresi wajahnya memang masih tenang, tetapi tidak demikian pada tatapan matanya.


"Aku juga tidak bisa tenang," Tetua Qin Yun terlihat mengigit jarinya dan berkata, "Muridku kesayanganku ada di dalam sana. Intinya aku harus masuk,"


"Tunggu, Tetua--" Ling Qing Zhu tersentak saat Tetua Qin Yun melesat memasuki portal cahaya. Padahal portal tersebut sejak tadi terlihat semakin redup dan seolah akan menghilang.


!!!


Semua orang terkejut, termasuk Zhi Shu ketika layar giok yang melayang di udara tiba-tiba saja meledak. Kepingan layar giok itu nyaris melukai para penonton dan tetua dari sekte lain andai mereka tidak bergerak cepat mengayunkan senjata.


Suasana menjadi tegang dibandingkan yang tadi. Para tetua dari berbagai sekte menengah dan kecil sebenarnya sudah berusaha membantu menenangkan para murid yang menjadi penonton, tetapi dari kondisi yang sekarang----keributan justru semakin menjadi-jadi.


Satu-satunya di antara para tetua yang mungkin tidak bisa diprediksi adalah Meng Hao Niang. Tetua dari Gunung Puncak Jin Cheng itu seakan lebih peduli pada arak yang tidak habis diminum, daripada memperhatikan para murid.


Barangkali wanita itu sudah terlalu mabuk hingga tidak menyadari bahwa suasana yang menegangkan ini bukan bagian dari konferensi. Apalagi dia sama sekali tidak berekspresi terkejut ketika Portal Cahaya yang merupakan pintu masuk menuju Ngarai Xiling tiba-tiba saja menghilang.


Tetua Meng Hao Niang sama sekali tidak seperti tetua yang lain, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Bahkan Ling Qing Zhu juga merasa bahwa wanita itu tidak mempunyai rasa kepedulian pada siapa pun selain kepada diri sendiri.


"Apa yang terjadi pada portalnya?!" Tetua Qin Yun menatap ke salah satu murid Istana Seribu Pedang. Dia menuntut penjelasan karena murid itu merupakan salah satu orang yang bertanggung-jawab pada Portal Cahaya.


Murid laki-laki itu berwajah pucat dan segera menghampiri Tetua Qin Yun. Tangannya gemetar saat disatukan untuk memberi hormat, kepalanya pun tertunduk. Murid itu seakan tidak berani menatap langsung wajah tetua di hadapannya.


Tetua Qin Yun berjalan mendekat dan baru saja akan bicara saat sesuatu tiba-tiba saja terjadi.


Dengan gerakan yang cepat, Tetua Meng Hao Niang melesatkan cawan yang dipegangnya dan tepat mengenai dada murid Istana Seribu Pedang. Tindakan ini membuat Meng Hao Niang menjadi pusat perhatian.


"Tetua Meng, apa yang kau lakukan?" Tetua Qin Yun jelas saja kaget. Dia menatap tak percaya pada Tetua Meng Hao Niang.


Tetua Zhang Shan dari Istana Seribu Pedang dan Tetua Jiao Feng dari Sekte Lautan Awan bergerak cepat untuk melindungi Tetua Qin Yun dan menyerang murid laki-laki itu. Ling Qing Zhu terkejut karena kejadian tersebut.


!!!


Ekspresi Tetua Zhang Shan dan Tetua Jiao Feng begitu serius, walau ada pucat di wajah mereka. Keduanya menatap waspada ke arah tubuh murid yang jatuh dan menghantam lantai.


"..............." Ling Qing Zhu memperhatikan murid itu dan seketika menahan napas.


Mata Tetua Qin Yun terbelalak saat menyaksikan sesuatu seperti tulang rusuk mencuat pada punggung murid Istana Seribu Pedang itu. Dengan segera, Tetua Qin Yun menarik pedangnya.


Suara aneh terdengar dan kuku murid itu terlihat memanjang. Urat tipis kehitaman menjalar di tangan hingga naik ke wajah murid tersebut. Kejadian itu berlangsung sangat cepat.

__ADS_1


!!!


Tetua Zhang Shang dan yang lainnya terkejut saat murid Istana Seribu Pedang yang mereka lihat mendongak dan lalu megeluarkan suara geraman keras.


Wajah murid itu teramat menakutkan, apalagi warna matanya yang entah bagaimana berubah menjadi sepenuhnya hitam. Dia mempunyai kecepatan yang tidak main-main dan bahkan berhasil menyerang Tetua Zhang Shan hingga membuatnya terpental.


Beruntung, Tetua Zhang Shan masih bisa memposisikan diri sehingga mampu menapak dengan baik di tanah. Namun jujur saja, dia belum sempat berpikir apa yang sebenarnya terjadi.


Aaakh..!!


Tetua Zhang Shan tersentak. Dia segera mengedarkan pandangan untuk mencari sumber teriakan tersebut dan terkejut menyaksikan ada beberapa murid dari kalangan penonton yang mengalami kondisi serupa dengan murid Istana Seribu Pedang yang tadi.


Di lantai tertinggi, Tetua Jiao Feng terlihat bertukar serangan dengan murid yang mempunyai perubahan aneh, benar-benar mengejutkan dan sebenarnya agak mirip monster. Meski demikian, Tetua Jiao Feng berusaha menyadarkan murid tersebut dengan memanggil-manggilnya.


"Nak?! Apa yang terjadi padamu?!" Tetua Jiao Feng menahan serangannya untuk tidak sampai membunuh murid laki-laki di hadapannya. Karena hal itu juga, dirinya mengalami sedikit kesulitan.


Tetua yang lain juga terlihat bergerak dan membantu para penonton yang diserang oleh penonton lain. Mereka bertarung sambil memberi arahan agar para murid pergi ke tempat yang lebih aman. Terlalu banyak orang justru membuat gerakan para tetua menjadi terhambat.


"Ke bagian sini..!" Zhi Shu ikut membantu. Dia sebenarnya tidak tahu apa yang saat ini terjadi, namun bukan waktunya untuk mengajukan pertanyaan itu. Baginya jauh lebih penting menyelamatkan nyawa banyak orang.


"Aku juga bisa bertarung! Tidak selemah itu sampai harus melarikan diri," salah satu murid terlihat tidak terima ketika diminta untuk ke tempat yang aman. Dia justru menarik pedang dan mulai ikut menyerang murid yang terlihat seperti monster.


Tetua Qin Yun menghadang murid itu dan dengan tegas berkata, "Tidak ada yang mengataimu lemah, Bocah. Tapi kau lihat kondisinya!"


"Biarkan kami saja yang mengatasi hal ini." Tetua Qin Yun menyela, "Semakin banyak orang yang ikut pertarungan, justru semakin sempit pergerakan para tetua dan akan ada lebih banyak orang yang terluka. Kau bantu saja aku untuk membawa para murid ke tempat yang lebih aman,"


Apa yang dikatakan oleh Tetua Qin Yun benar. Ini adalah keputusan yang bijak dengan memberikan semuanya pada para tetua yang lebih ahli. Murid itu pun mengangguk pelan dan mulai melesat untuk mengarahkan rekan-rekannya agar pergi ke tempat yang aman.


Tetua dari Sekte Bunga Surga, yakni Zhao Linying terlihat menahan serangan salah seorang murid yang wajahnya begitu menakutkan. Tidak jauh darinya, Tetua Qing Luo dari Menara Bintang Suci juga nampak bertukar serangan sambil mengarahkan para murid.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa dengan para murid ini?!" Tetua Zhao Linying menggertakkan gigi. Kakinya bertumpu kuat di tanah saat pedangnya berbenturan keras dengan senjata murid di hadapannya.


Tetua Qing Luo yang mendengar itu hanya bisa menggeleng pelan, "Aku juga sama sekali tidak mengerti. Para murid ini seakan dipengaruhi oleh sesuatu,"


"Tapi apa itu?!" Tetua Qin Yun menyahut. "Ini adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Perubahan pada para murid ini terlalu menakutkan, bahkan jika mereka dalam pengaruh sesuatu."


"Cobalah untuk terus bertahan," Tetua Zhao Linying melompat menghindar dan kemudian berkata, "Sebisa mungkin tahan serangan dan jangan sampai membunuh mereka."


Menahan serangan sebenarnya adalah tindakan yang sulit, tetapi memang para tetua harus melakukannya. Ini karena meski para murid yang sedang mereka lawan mempunyai penampilan layaknya monster----itu tidak mengubah kenyataan bahwa para murid tersebut merupakan manusia.


Ling Qing Zhu yang saat ini sedang bertarung pun ikut berpikir demikian. Baginya, jika ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada murid ini hingga bisa berubah-----maka mereka memang tidak boleh sampai membunuh. Para murid ini harus ditangkap hidup-hidup.


"Nona Ling, awas..!!" seorang murid dari sekte lain berseru dan bergegas cepat untuk menolong Ling Qing Zhu yang dikepung.


Hanya saja langkah murid itu tiba-tiba terhenti saat melihat gerakan berpedang Ling Qing Zhu yang memukau, namun tajam. Dia sampai tertegun dan bahkan tidak sadar sedang menahan napas.

__ADS_1


"..............." Ling Qing Zhu menoleh ketika berhasil melakukan serangan yang membuat lawannya terpental cukup jauh. Dia tanpa ekspresi menatap murid yang berseru padanya tadi.


Murid laki-laki itu tersadar dan sambil tersenyum pahit dia berujar, "Nona Ling sepertinya .... Tidak butuh bantuan,"


"Mn," Ling Qing Zhu mengangguk pelan. Dia pun melenggang pergi dan membuat murid laki-laki itu mengembuskan napas kecewa.


Bisa dilihat bahwa sebenarnya murid itu ingin menjadi sosok penolong di mata seorang Ling Qing Zhu. Namun sangat tidak disangka bahwa gadis berambut putih dan bercadar tipis itu bisa begitu kuat hingga tidak butuh perlindungan.


Untuk Ling Qing Zhu sendiri. Dia sama sekali tidak tahu bahwa beberapa murid laki-laki berusaha menarik perhatiannya. Baginya, para murid itu mungkin merasa bersemangat untuk membantu para tetua menghadapi lawan yang tidak boleh sampai dibunuh.


Ling Qing Zhu mengayunkan kembali pedangnya. Dia baru saja akan melawan seorang murid yang nampak seperti monster saat tiba-tiba ada kultivator dari sekte lain yang merebut posisinya.


"..............." Ling Qing Zhu menapakkan kaki di tanah. Ekspresi wajah dan tatapan matanya tidak berubah. Dia menatap sosok yang berdiri memunggunginya.


Kultivator laki-laki itu bersuara jantan, "Nona Ling. Anda pergilah ke tempat yang aman. Biarkan aku dan para saudara yang lain mengurus tempat ini."


"..............." Ling Qing Zhu berkedip. Entah kenapa banyak sekali murid yang begitu baik padanya. Mereka tidak membiarkan dirinya menghadapi para murid yang terlihat seperti monster itu.


"Nona Ling," murid lainnya ikut berujar dan setelah menendang lawannya dia pun melanjutkan, "Tempat ini tidak aman untuk Anda. Nona Ling pergi saja, jangan mengkhawatirkan kondisi di tempat ini."


"Itu benar, pergilah Nona."


Kedua murid laki-laki tersebut dengan cepat melesat untuk bertukar serangan lagi. Mereka terlihat sangat serius dan mengeluarkan kemampuan berpedang yang terbaik. Bahkan beberapa murid perempuan yang melihat penampilan mereka begitu terkesan.


Ling Qing Zhu sendiri hanya berekspresi datar. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan memang tidak satu lawan pun yang mendekat ke arahnya. Dia seakan-akan di kelilingi oleh para murid yang entah sejak kapan bertindak sebagai dinding hingga lawan tidak bisa mendekat.


"..............." Ling Qing Zhu bernapas pelan dan menyimpan pedangnya. Baiyi yang merupakan pedang lentur kini kembali menjadi seperti sabuk di pinggangnya.


Ling Qing Zhu sebenarnya tidak menyukai hal ini. Dia terlalu dilindungi oleh banyak orang, apalagi tidak satu pun dari mereka yang dia kenal baik.


Ling Qing Zhu tahu bahwa para murid ini mempunyai niat yang tulus, tetapi jujur dia sangat tidak nyaman. Rasanya entah mengapa seakan sedang diremehkan, padahal dia bisa untuk melindungi dirinya sendiri. Wali Pelindungnya saja tidak sampai bertingkah seperti ini.


"..............."


Benar. Wali Pelindungnya, sosok Xiao Shuxiang yang harusnya lebih memiliki kewajiban menjaganya seperti ini justru membiarkannya melakukan apa pun yang dia inginkan.


Wali Pelindungnya tidak pernah melarang melakukan hal yang dia sukai. Berburu malam misalnya, sesuatu yang membuat ayahnya melarang----justru dibiarkan oleh Wali Pelindungnya.


Tidak hanya itu yang dilakukan oleh Xiao Shuxiang sebagai Wali Pelindung. Ling Qing Zhu juga ingat bahwa pemuda itu membantunya mendapatkan izin dari apa yang sebenarnya tidak bisa dia peroleh seorang diri.


"..............."


Memikirkan hal itu membuat Ling Qing Zhu mengingat Wali Pelindungnya. Dia jadi menkhawatirkan kondisi dari Xiao Shuxiang sekarang. Entah bagaimana keadaannya di dalam Ngarai Xiling.


******

__ADS_1


__ADS_2