KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
79 - Tujuh Tetua Puncak Suci


__ADS_3

Catatan Penulis:


Hai, jadwal Update karya ini adalah pukul 16.00 - 21.00 WITA. Jadi jika lewat dari jadwal tersebut dan ternyata Episode-nya belum Up juga, maka memang tidak Up yah. Teman-teman sebaiknya jangan menunggu,(⌒▽⌒)Terima kasih^^


*


*


*


Bagai suara petir di siang hari, itulah yang dirasakan Mo Huai sekarang. Dia kini sudah mengerti maksud kenapa dirinya dipanggil ke tempat ini dan kenapa Mu Fang juga ada. Semuanya berhubungan dengan dia yang pernah membantu Mu Fang dengan Pil Napas Naga.


!!


Kesalah-pahaman besar!


Ini jelas adalah kesalah-pahaman besar. Baik Mu Fang dan Yun Qiao Yue menganggap dialah yang telah berjasa dengan pil itu. Padahal sebenarnya dia hanya membantu, orang yang membuat pil tersebut tidak lain adalah pemuda yang saat ini berada di luar karena tidak diizinkan masuk ke dalam bangunan ini.


"Bagaimana sekarang...?" wajah Mo Huai berubah pucat, dia sampai sulit menelan ludah.


Jiao Feng dengan ramah bertanya, "Tuan Muda Mo? Apa benar Anda yang sudah menyembuhkan Tuan Muda Mu? Dan kalau boleh aku tahu, apa Anda juga belajar alkemis seorang diri?"


"........ Bagaimana ini," Mo Huai merasa takut dan gelisah. Dia memang yang menyembuhkan Mu Fang dengan Pil Napas Naga. Tetapi pil tersebut adalah buatan Xiao Shuxiang.


Mo Huai, "Apa kukatakan saja bahwa Tuan Muda Xiao-lah yang membuat pil hebat itu? Tapi .... Tuan Muda Xiao punya masalah dengan Tuan Muda Mu. Jika dia tahu aku ternyata menyelamatkan orang yang terlibat masalah dengannya .... Tuan Muda Xiao pasti akan marah."


Sebenarnya Mo Huai tidak pernah melihat bagaimana Xiao Shuxiang marah, namun dia yakin pemuda itu akan mematahkan satu persatu jari tangannya sambil tersenyum manis.


Jiao Feng mengerutkan kening, "Tuan Muda Mo?"


Mo Huai tersentak, "Aku memang yang membantu .... Tuan Muda Mu Fang dengan pil, tapi Pil itu .... Ehm .... Buatan tangan."


Jiao Feng tersenyum, "Tentu. Coba kulihat telapak tanganmu,"


Mo Huai gugup ketika kedua telapak tangannya diperhatikan secara intens. Dia memejamkan mata sambil terus meminta maaf pada Xiao Shuxiang karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada orang-orang ini.


Jiao Feng, "Kau mempunyai tangan yang cukup kasar. Benar-benar pekerja keras dibalik wajahmu yang tampan."


Mo Huai tertegun dan menyentuh pelan pipinya, ini adalah yang pertama kalinya dia disebut tampan. Biasanya Xiao Shuxiang selalu memuji gigi taringnya yang manis. Kegugupannya sedikit menghilang karena pujian ini.

__ADS_1


Jiao Feng, "Sebelumnya aku akan perkenalkan padamu para tetua dari Ketujuh Gunung Suci sekte ini. Aku sendiri adalah Tetua dari Gunung Puncak Bai, Jiao Feng."


Mo Huai menatap kagum ke arah tetua yang begitu ramah padanya. Dia pun mengikuti pandangan Jiao Feng yang memperkenalkan orang-orang yang sejak tadi dirinya lihat.


Ada tujuh kursi yang mana dua di antaranya kosong. Satu kursi kosong itu tentu saja adalah tempat duduk dari Jiao Feng. Ini merupakan keberanian pertama Mo Huai karena mulai bisa menengadah dan menatap ke depan.


Mo Huai melihat seorang pria berpakaian merah yang nampak berusia 50 Tahun, namun dengan tubuh yang berotot. Raut wajah sosok itu tegas dan tatapan mata yang tajam. Jiao Feng memperkenalkan sosok tersebut sebagai Tetua Puncak Sheng, Wang Jing Li.


Di samping Tetua Wang Jing Li, terlihat wanita bercadar merah. Dia merupakan Tetua Puncak Xiyue, Chu Sheng Nan. Di kursi yang lain diduduki oleh pria tua berjanggut putih panjang, Liu Lang.


Tempat lainnya adalah Tetua Puncak Xuyang, pria dingin namun memiliki wajah yang tampan----Jing Shang Yu. Dan yang terakhir adalah seorang anak kecil berusia sekitar 14 Tahun bernama Xie Yanran, dia terlihat paling muda di antara yang lain----dia merupakan Tetua Puncak Zhang.


Jiao Feng, "Kursi kosong yang kau lihat di samping milik Tetua Puncak Zhang adalah tempat duduk dari Tetua Puncak Jin Cheng, Meng Hao Niang. Dia merupakan alkemis paling berbakat di sekte ini dan orang yang sangat ingin kupertemukan denganmu,"


"Aku...?" Mo Huai menatap Jiao Feng, "Tapi... Kenapa aku?"


"Entah kau pernah mendengar ini atau tidak, tetapi di antara para tetua puncak gunung suci yang lain----hanya Tetua Puncak Jin Cheng yang belum pernah mengangkat seorang murid sama sekali. Kupikir mungkin karena Meng Hao Niang terlalu pemilih atau memang karena dia menunggu seseorang sepertimu---"


"Salah!"


Mo Huai dan Jiao Feng tersentak saat mendengar suara wanita asing. Yun Qiao Yue, Mu Fang dan yang lainnya juga ikut tersentak. Mereka segera mengarahkan pandangan ke atas dan melihat ada orang yang duduk bersandar pada balok kayu penyangga atap ruangan besar ini.


Wang Jing Li mendengus, raut wajahnya memburuk saat melihat Meng Hao Niang. Wanita berpakaian putih itu memang adalah sosok yang paling seenaknya di Sekte Lautan Awan.


Meng Hao Niang memang terkenal sebagai Tetua Puncak Jin Cheng yang suka mabuk-mabukan. Dia sebenarnya cantik andai mau merapikan diri atau paling tidak menyisir rambutnya.


Tidak ada dari Tetua Puncak Suci yang berani mengkritik penampilan Meng Hao Niang. Meski mereka tidak suka dengan sikap dan penampilan wanita tersebut, tetapi kemampuan alkemis Meng Hao Niang memang tidak lagi diragukan kehebatannya.


Liu Lang, yang merupakan Tetua Puncak Jiang nampak mengembuskan napas dan mulai mengusap-usap janggut putih panjangnya. Dia bersuara, "Tetua Puncak Jin Cheng, kau dari mana saja?"


Meng Hao Niang meminum arak yang ada di kendi labunya sebelum mulai melayang turun. Dia menapak dengan anggun tepat di hadapan Mo Huai dan membuat pemuda itu kembali tegang.


Mu Fang mencium bau arak yang sangat pekat, apalagi ketika wanita di depannya ini mulai buka suara. Dia sebenarnya agak terganggu, namun mencoba untuk bersikap sopan.


Meng Hao Niang memperhatikan Mo Huai dari atas ke bawah, "Perlihatkan pil yang kau buat."


?!


Mo Huai tersentak dan menatap keheranan pada wanita berpakaian putih di hadapannya. Meng Hao Niang sedikit cegukan dan kembali meminum arak dari labunya.

__ADS_1


Mu Fang, "Tuan Muda Mo?"


"Ah, tentu." Mo Huai tersadar, entah kenapa dia tadi sempat tertegun saat memperhatikan wajah Meng Hao Niang.


Dengan tangan yang sedikit gemetar, Mo Huai mengambil pot kecil seukuran dua jari di dalam lengan pakaiannya. Dia mengeluarkan satu butir pil berwarna putih susu dan memperlihatkannya pada Meng Hao Niang.


Mu Fang dan Yun Qiao Yue kagum saat melihat pil itu, sementara Jiao Feng sendiri nampak tersentak. Tetua Puncak Bai tersebut bisa merasakan betapa murni pil yang dirinya lihat ini.


Ekspresi Meng Hao Niang tetap tidak berubah, raut wajahnya masih seperti orang yang sedang mabuk berat. Wanita itu mengulurkan tangan dan mengambil pil di tangan Mo Huai untuk diperhatikan dengan saksama.


Semua orang penasaran, bahkan para Tetua Puncak Suci yang duduk di kursi masing-masing juga ikut berdiri. Tetua Puncak Zhang yang merupakan anak kecil bahkan berdiri di atas kursinya agar bisa melihat lebih baik pil di tangan Meng Hao Niang.


Liu Wei Lin yang berada di balik tabir terlihat melambaikan kipasnya dengan agak cepat, "Aku sangat penasaran. Apa tabir ini tidak bisa dibuka? Kita tidak sedang acara perjodohan, kan?"


Wang Gao Chong berdecak, "Kau ini. Siapa yang mau menjodohkanmu?"


Yan Tianhen, "Diamlah."


Meng Hao Niang kembali cegukan. Dia pun menyerahkan pil di tangannya pada Mo Huai dan bertanya, "Apa kau orang yang penurut?"


Mo Huai tersentak, dia keheranan. Begitu pun dengan Mu Fang. Mereka sedikit mengerutkan kening dan seakan tidak percaya dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir wanita pemabuk ini.


"Apa kau anak yang penurut?" Meng Hao Niang kembali mengulang pertanyaannya dan membuat Mo Huai cepat-cepat mengangguk.


Meng Hao Niang pun berjalan keluar, langkah kakinya oleng dan membuat heboh orang-orang dalam ruangan itu. Tetapi dengan segera Meng Hao Niang melambaikan tangan seolah memberi tanda bahwa dia baik-baik saja.


Tanpa berbalik, Meng Hao Niang berkata. "Kau membuat pil yang hebat, tapi aku hik .... Tetap tidak tertarik mengangkat murid."


Meng Hao Niang kembali meminum arak di kendi labunya sebelum lanjut bicara, "Aku serahkan didikan anak yang penurut itu pada Tetua Puncak yang lain,"


Pintu terbuka dan Mo Huai yang berbalik melihat wanita berpakaian putih itu keluar. Dia berkedip saat pintu tersebut tertutup, sorot matanya menjadi sedikit sendu.


Tanpa sadar, Mo Huai berujar pelan. "Apa tidak ada yang memberi tahu Tetua Meng bahwa meminum terlalu banyak arak akan merusak kesehatan?"


Jiao Feng menyentuh pundak Mo Huai dan berkata, "Dia tidak mau mendengar siapa pun."


Mo Huai kaget dengan apa yang barusan dia katakan. Dirinya langsung kembali gugup dan meminta maaf berkali-kali.


******

__ADS_1


__ADS_2