KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
176 - Penjatuhan Hukuman


__ADS_3

"Kurasa ini sudah semuanya," Tetua Xie Yanran melihat Lan Guan Zhi yang begitu hati-hati membaringkan murid Sekte Lautan Awan yang terluka. Tetua Meng Hao Niang segera mengobati muridnya tersebut.


Lan Guan Zhi berdiri sambil memegang pedangnya dan tanpa berbicara----dia pun kembali terbang.


Teman baiknya sudah berusaha keras dan kini adalah giliran mereka untuk bergerak.


Tetua Wang Jing Li dan Tetua Jing Shang Yu sudah pergi sejak tadi. Mereka pasti sudah tiba di pulau terapung tempat di mana anggota Sekte Lembah Iblis berada. Para murid yang terluka pun kini dirawat oleh Tetua Chu Sheng Nan dan Tetua Meng Hao Niang.


"Tetua Xie, apa Anda akan pergi?" Jian Yang bertanya sambil mengikuti Tetua Xie Yanran yang nampak bergegas.


"Aku akan membantu tetua Wang,"


"Aku ikut,"


"Tidak." Tetua Xie Yanran dengan tegas menolak keinginan Jian Yang. Ucapannya membuat pemuda itu tersentak.


"Tapi Tetua, Saudara Xiaoku---"


"Kau tidak boleh pergi. Tempat itu terlalu berbahaya. Jika sesuatu terjadi padamu, Shizun-mu akan marah besar pada kami."


"Tapi..."


Tetua Jiao Feng menepuk bahu Jian Yang dan berkata, "Serahkan ini pada para tetua. Kau tetap di sini dan bantu Yan Tianhen mengobati mereka,"


Tetua Jiao Feng memberi isyarat dan Tetua Xie Yanran pun mengangguk. Mereka pun melesat pergi dan disusul oleh Zhang Xiao Lian serta Liu Wei Lin. Ling Qing Zhu pun ikut bersama mereka.


Di sisi lain, Wang Zhao, Yan Tianhen, Li Hianshou dan Mo Huai membantu Tetua Chu Sheng Nan serta Tetua Meng Hao Niang untuk mengobati murid-murid Sekte Lautan Awan yang terluka.


Sementara itu, Yun Qiao Yue, Yu Zhuan Shi dan Wen Gao Chong berperan sebagai pelindung tempat ini. Ketiganya membantu para tetua untuk menjaga keamanan saudara-saudara seperguruan mereka.


*


*


"..............." Xiao Shuxiang masih bisa mendengar suara lawannya dan suara langkah kaki berat yang kian mendekat.


"......... Baguslah. Kau sepertinya belum mati," Fu Tou melihat lawannya masih bernapas. Dia pun mendengus, "Aku sebenarnya ingin segera membunuhmu. Tapi kematian terlalu mudah untuk kau yang sudah berani menantangku,"


Fu Tou mengembuskan napas dan saat ini dia berdiri, tepat di samping tubuh Xiao Shuxiang. "Haaah... Benar. Kau perlu diberi hadiah untuk keberanianmu. Akan kubuat kau merasakan betapa sakitnya menjelang kematian itu,"


Mata Xiao Shuxiang yang sebelumnya terpejam kini perlahan terbuka. Dia terbatuk dan menatap wajah lawannya yang terlihat sangat menyebalkan.


Suara Xiao Shuxiang pelan, namun masih mengandung ledekan. "Terima kasih, tapi apa kau tahu rasanya 'mati' itu?"


Xiao Shuxiang, "Hanya mereka yang mati yang tahu bagaimana rasanya. Kau tidak seharusnya banyak bicara,"


"Hmph, sepertinya kau masih punya tenaga untuk berdebat denganku." Fu Tou mengangkat kaki kanannya dan perlahan meletakkannya di dada Xiao Shuxiang.


Dia menekan kakinya sedikit dan melihat ekspresi pemuda di hadapannya yang menahan sakit. Fu Tou bersuara dingin, "Jika aku menginjaknya dengan keras .... Tulangmu ini akan patah seperti ranting kecil,"


"Kalau begitu lakukan. Karena jika aku tidak mati .... Maka nyawamulah yang akan berakhir,"

__ADS_1


"Ha ha ha," Fu Tou tertawa. "Dalam kondisi yang tidak bisa berbuat apa-apa, kau masih ingin mengancamku? Apa otakmu sudah bergeser, Nak? Ha ha ha."


Fu Tou menekan kakinya dan menunduk sedikit, dia baru saja akan bicara saat merasakan sesuatu melesat ke arahnya.


Ada seorang gadis yang menapak di tanah. Kaki panjang dan paha putih dengan lukisan ular kalajengking terlihat saat gadis cantik itu melangkah. Fu Tou mengenali sosok tersebut yang tak lain adalah Chu Gu Xiang.


"Lepaskan kakimu darinya," Chu Gu Xiang memberi perintah sambil berjalan mendekat.


Dalam hati, Xiao Shuxiang menggeleng pelan. Tidak disangka yang datang bukan bantuan, tetapi musuhnya yang lain. Dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang buruk hari ini.


"..............." Xiao Shuxiang memejamkan mata ketika menyadari Chu Gu Xiang kini dekat dengannya. Dia tidak mau melihat paha putih musuhnya dalam kondisi yang berbaring. Harga dirinya bisa terluka.


"Apa .... Dia mati?" Chu Gu Xiang berjongkok dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi pemuda yang terbaring lemah di hadapannya.


"Tidak, dia baru saja bicara padaku. Kurasa .... Dia pingsan,"


"Siapa yang pingsan? Tunggu sebentar lagi dan akan kutebas 'Adik Kecilmu,'"


"Dia sangat tampan~" Chu Gu Xiang mengusap darah di sudut bibir pemuda yang terbaring lemah di hadapannya. "Dia semakin tampan saat sedang terluka..."


"Kau punya selera yang buruk,"


"Penglihatanmu yang buruk," Chu Gu Xiang menatap tajam ke arah Fu Tou dan kembali memandang lembut ke arah Xiao Shuxiang, "Aku suka pemuda ini~ Dia punya wajah dan tubuh yang bagus. Suaranya pun sangat indah~ aku benar-benar menyukainya. Kita akan membawa dia pulang,"


"Hei, hei. Kau bercanda, kan?" Fu Tou jelas saja tersentak, "Dia hanya Bocah lemah dan tidak berguna. Untuk apa membawanya pulang?!"


"Tentu saja sebagai hiburan untukku,"


Xiao Shuxiang bisa merasakan Yīng xióng berdenyut di tangannya. Dia pun sedang berusaha untuk memulihkan diri agar dapat bergerak. Dia butuh waktu sebentar lagi dan membalas semua perbuatan kedua makhluk ini dengan tangannya sendiri.


"Aku akan membawa pedangnya," Chu Gu Xiang berujar dan lalu menatap Fu Tou, "Kau potong saja tangannya, tapi aku tidak ingin wajah tampannya terluka."


!!


Xiao Shuxiang jelas saja tersentak. Tidak disangka gadis cantik ini sangat hati-hati. Buruknya, dia tidak bisa memegang kuat pedangnya karena bahkan jari-jarinya pun sulit untuk digerakkan.


"Gawat ....!"


Chu Gu Xiang sudah berhasil mengambil Yīng xióng dari tangan Xiao Shuxiang. Gadis cantik itu tersentak, "Ini pedang yang sangat berat. Hebat sekali dia bisa mengayunkannya."


"Pemuda ini benar-benar tipe idealku~" Chu Gu Xiang tersenyum dan berjalan pergi. Dia tidak ingin melihat Fu Tou menebas kedua tangan pemuda yang disukainya. Jika itu sampai terjadi, dia bisa saja menghentikan rekannya.


Fu Tou sendiri nampak mengangkat pedang besarnya dan tanpa ekspresi----dia mulai mengayunkannya ke arah lengan kanan Xiao Shuxiang.


Nyaris saja pedang Fu Tou menebas lengan lawannya andai sebuah pedang lain tidak melesat dan menahan serangan itu. Sosok pria tampan berpakaian merah menapak di tanah dan lantas menggerakkan dua jarinya.


Pedang yang menahan serangan Fu Tou bergerak dan mengeluarkan tenaga yang besar. Fu Tou terkejut dan mengambil jarak. Di saat yang sama, sosok itu melesat dan meraih pedang pusakanya.


Chu Gu Xiang pun tersentak dan langsung berbalik. Belum sempat di bersuara, sebuah lesatan lain datang dan menyerang ke arahnya. Beruntung dia dengan cepat menghindar.


Pedang besar membelah tanah tempat Chu Gu Xiang berada sebelumnya. Gadis itu menahan napas dan dengan tajam menatap sosok pria besar yang tak lain adalah Tetua Wang Jing Li.

__ADS_1


"Gadis sialan! Berani sekali kau mengacau di sekteku..!" Tetua Wang Jing Li melesat dengan amarah yang sedang memuncak. Dia menghadapi Chu Gu Xiang tanpa rasa gentar dan bahkan mampu membuat gadis itu terpental jauh hingga menabrak sebuah bangunan.


Di sisi lain, sosok pria yang bertarung melawan Fu Tou adalah Tetua Puncak Xuyang, Jing Shang Yu. Pria tampan itu mempunyai ekspresi wajah dan tatapan mata yang dingin.


Tetua Jing Shang Yu sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya saja dalam tatapan matanya yang beku, dia pun sama marahnya dengan Tetua Wang Jing Li sekarang.


Kedua tetua dari Sekte Lautan Awan itu bertarung sengit dengan lawan masing-masing. Suara pertarungan mereka sangat keras dan dahsyat, bahkan pohon yang ada meledak dan terbakar karena terkena serangan tersebut.


Tetua Xie Yanran baru tiba setelah beberapa saat, dia bersama dengan Ling Qing Zhu dan Lan Guan Zhi.


"Shuxiang?" Ling Qing Zhu terkejut. Dia yang pertama kali melihat Xiao Shuxiang dan segera menghampiri pemuda itu. Syukurlah ketika diperiksa, Xiao Shuxiang masih bernapas.


Tetua Xie Yanran sendiri langsung membantu Tetua Jing Shang Yu dalam bertarung menghadapi lawan.


"Shuxiang?" Ling Qing Zhu mengguncang pelan tubuh Wali Pelindungnya. Dia tidak menyangka kondisi pemuda ini akan sangat parah.


"Nona, jangan mengguncangnya. Biar kulihat," Lan Guan Zhi menghampiri Ling Qing Zhu dan kemudian menepuk pelan pipi teman baiknya yang masih terbaring.


"Xiang'Er?" Lan Guan Zhi memanggil nama teman baiknya. Dia mulai merasa tidak enak karena Xiao Shuxiang tidak menjawab.


"Shuxiang,"


"Nona Ling, jangan mengguncangnya."


"Tapi dia tidak bangun,"


Lan Guan Zhi memperhatikan gadis bercadar tipis ini dan yakin Ling Qing Zhu tidak tahu cara merawat orang yang sakit. Xiao Shuxiang bisa terbunuh jika dia menyerahkan perawatan teman baiknya itu kepada Ling Qing Zhu.


"Nona Ling, biar kubawa Shuxiang." Lan Guan Zhi sudah membuat keputusan. Dia harus menyelamatkan teman baiknya. Ling Qing Zhu saja tidak bisa membalut perban dengan baik, jadi mana mungkin mampu merawat temannya ini.


Ling Qing Zhu mengangguk pelan, "Mn. Biar kugendong--"


"Tidak. Aku yang lakukan,"


"Tapi aku juga kuat. Aku bisa,"


"Nona, Shuxiang laki-laki. Dia berat," Lan Guan Zhi sebenarnya tidak habis pikir dengan ucapan Ling Qing Zhu. Gadis cantik ini dengan tenangnya malah ingin menggendong teman baiknya. Apa hal itu bagus dilihat?


".......... Shuxiang," Ling Qing Zhu menggumam pelan. Meski ekspresi wajahnya tenang, namun dia sangat khawatir dengan keadaan Xiao Shuxiang sekarang.


Dia ingin membantu Wali Pelindungnya. Dia yakin bisa menggendong Xiao Shuxiang di punggungnya dan membawa pemuda itu pergi dari tempat ini. Tapi dia juga tidak ingin menentang Lan Guan Zhi.


Ling Qing Zhu bernapas pelan, "Aku mengerti. Tolong jaga dia,"


"Mn," Lan Guan Zhi mengangguk dan mulai mengangkat teman baiknya. Dia menggendong Xiao Shuxiang dari depan karena tahu beberapa tulang rusuk temannya patah saat dia memeriksanya tadi.


"..............." Ling Qing Zhu menyaksikan Lan Guan Zhi yang berjalan pergi sambil menggendong Wali Pelindungnya. Dia pun memfokuskan pendengaran dan langsung melesat ke tempat di mana anggota Sekte Lembah Iblis berada.


Tatapan mata Ling Qing Zhu teramat dingin dan seperti menumpuk amarah yang samar-samar terlihat. Dia tidak akan memaafkan orang yang sudah melukai Wali Pelindungnya dan juga murid-murid Sekte Lautan Awan.


Dia pasti akan memberikan hukuman yang layak pada orang-orang itu. Ini bukanlah Pembalasan Dendam, tetapi Penjatuhan Hukuman..!

__ADS_1


******


__ADS_2