![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Bocah Pengemis Gila saat ini duduk di sebuah dahan pohon sambil bersandar. Dia memeluk tongkat bambunya dan terlihat berwajah cemberut.
Ini adalah yang kesekian kalinya dia menghela napas, terlihat agak sedih. Baru saja Bocah Pengemis Gila akan menggumam dan merutuk saat sebuah suara nyaring terdengar.
"..............."
Semakin lama mendengarkan, suara itu kian nyaring. Rasanya seperti ada yang sedang memukul besi. Bocah Pengemis Gila mengerutkan kening dan kemudian memutuskan untuk mencari tahu asal suara tersebut.
Kaki Bocah Pengemis Gila menapak di salah satu dahan pohon sebelum dia kembali melesat. Jarak antara dirinya dengan suara nyaring itu cukup jauh dan memang dalam kondisi tertentu---indra pendengarannya sering terlalu kuat meski tanpa harus memfokuskan diri.
Lokasi yang dituju oleh pria itu adalah tempat di mana Jian Yang sedang menempa pedang. Dia dibantu Li Huanshou dan ditonton oleh Liu Wei Lin.
Keringat terlihat mengucur di dahi dan wajah Jian Yang. Dia menempa besi biasa untuk latihan dan hasilnya lebih baik daripada sebelumnya. Di sisi lain, bilah Yīng xióng masih berada dalam bara api dan sesekali dikeluarkan untuk ditempa oleh Li Huanshou.
"Aku tahu niat kalian baik, tapi sudah berhari-hari kalian melakukannya. Apa sungguh tidak mau menyerah?" Liu Wei Lin melambaikan kipasnya dan kembali berkata, "Kalian berdua bukanlah seorang penempa pedang. Kalian tidak akan bisa melakukannya,"
"Bisakah kau berhenti bicara?" Jian Yang menatap Liu Wei Lin, "Kau sama sekali tidak membantu kami sejak ada di sini."
"Hmph, itu karena aku tahu apa yang kalian lakukan ini tidak menghasilkan apa pun." Liu Wei Lin menggeleng pelan. Dia pun menasehati, "Lokasi menempa kalian saja sudah salah, apalagi yang lainnya. Aku bisa menjamin usaha kalian sia-sia saja,"
"Tuan Muda Liu," Li Huanshou berbalik dan kemudian berkata dengan nada meledek, "Apa yang kami lakukan jauh lebih baik daripada mengikutimu yang hanya duduk seperti pemuda cantik yang tidak bisa apa-apa selain menghias kipas lipatnya,"
Jian Yang mendengar ucapan temannya itu dan tersenyum. Sementara Liu Wei Lin yang merasa sedang disindir mulai menutup kipas miliknya dan kemudian mendengus.
Li Wei Lin mengangguk, "Baiklah. Kalian berdua sudah mengatakannya. Aku tentu tidak akan membiarkan penghinaan semacam ini ditujukan padaku,"
"Memang apa yang bisa kau lakukan?" Jian Yang menantang, dia pun meledek dengan berpura-pura kaget. "Ah! Tidak perlu kau katakan. Aku sudah tahu~ Kau hanya bisa berdandan, pffft."
Li Huanshou tertawa. "Ha ha ha, kau benar Saudara Jian. Di antara murid laki-laki Sekte Lautan Awan, hanya dia yang terlihat 'lunak'. Semua murid di sekte ini memegang pedang, tapi coba lihat dia. Apa kau mau mengipasi lawanmu, Tuan Muda Liu?"
Jian Yang juga ikut meledek. Dia dan Li Huanshou memang bukan kultivator yang sopan sejak awal, mereka suka sekali membuat masalah dan meledek orang lain seperti ini. Tentu saja, itu bukanlah kebiasaan yang baru.
Liu Wei Lin bernapas pelan dan kemudian memperhatikan kedua pemuda ini. Dia pun berkata, "Aku menyukai keindahan dan menurutku----pedang tidak terlihat indah. Tapi ...."
Nada suara Liu Wei Lin tiba-tiba berubah saat dia membuka kipasnya dan hanya sekali kibasan-----angin kejut seketika tercipta dan mengenai pepohonan di belakangnya hingga dua di antara pepohonan itu terpotong pada bagian batangnya.
Li Huanshou dan Jian Yang tertegun saat melihat ada dua pohon yang langsung tumbang. Mereka tanpa sadar membuka mulut saking tidak percayanya. Serangan yang barusan itu tidak hanya kuat, tetapi juga penuh dengan Aura Pendekar. Jelas sekali bahwa Liu Wei Lin bukanlah murid biasa dari Sekte Lautan Awan.
"Percaya atau tidak, aku jauh lebih bisa membuat pedang itu daripada kalian." Liu Wei Lin melambaikan pelan kipasnya sebelum menutupnya kembali dan lalu menyimpannya.
Dia pun berjalan mendekat dan menyuruh Jian Yang dan Li Huanshou menyingkir. Kedua pemuda itu berkedip saat tiba-tiba didorong pelan dan dibuat berdiri di samping.
"Perhatikan baik-baik, kalian bocah yang masih belajar..." Liu Wei Lin menatap Jian Yang dan Li Huanshou secara bergantian, lalu berkata. "Kalian menempa pedang memakai cara penempa pedang biasa. Kalian itu harusnya memakai cara para pembudidaya,"
!!
Jian Yang dan Li Huanshou kaget saat Liu Wei Lin tiba-tiba melempar Yīng xióng ke udara dan langsung menyerangnya dengan lesatan energi spiritual. Mereka melihat pedang yang melayang di udara itu mengeluarkan percikan api.
"A-apa yang kau lakukan?!" Jian Yang kesulitan menelan ludah. Dia menatap Liu Wei Lin dan merasa tidak nyaman saat mendengar suara ledakan-ledakan kecil yang keluar dari bilah Yīng xióng.
"He-Hei..! Kau jangan mengada-ada. Kau melakukan apa pada pedang saudara Xiao?!" Li Huanshou panik. Dia melihat bagaimana bilah pedang yang melayang di atasnya mulai mengeluarkan suara retakan.
__ADS_1
!!
"Tuan Muda Liu..!" Jian Yang berseru. Matanya terbelalak saat melihat bilah Yīng xióng kembali hancur.
"Diam dan lihat bagaimana aku bekerja," Liu Wei Lin mengumpulkan energi spiritual dan kembali melesatkannya.
Yīng xióng mengeluatkan percikan api yang lebih banyak dan suara ledakan-ledakan itu kian membesar. Jian Yang dan Li Huanshou merasakan debaran pada jantung mereka. Keduanya cemas dengan tindakan yang dilakukan oleh Liu Wei Lin.
"Tuan Muda Liu, kuharap kau tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang. Jika pedang saudara Xiao-ku justru semakin buruk karena ulahmu, maka kau benar-benar tidak akan selamat." Jian Yang mengusap keringat di pipinya.
"Jika kalian berdua sungguh khawatir, maka sebaiknya bantu aku." Liu Wei Lin awalnya mengira memperbaiki pedang Xiao Shuxiang hanya butuh tenaga yang kecil, tapi siapa yang sangka tenaganya justru terkuras sangat banyak.
"Alirkan energi spiritual kalian ke arah pedang itu dan biarkan aku yang mengatasi sisanya," Liu Wei Lin berujar. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya kewalahan saat ini. Jian Yang dan Li Huanshou bisa saja akan meledeknya lagi.
"Energi spiritual...?" Jian Yang meski merasa keheranan, namun dia dengan segera fokus dan mulai melesatkan energi spiritualnya seperti yang diminta oleh Liu Wei Lin.
Li Huanshou yang merasa tegang pun ikut melakukannya. Dia dan Jian Yang sepertinya lupa memberikan sindiran pada sosok Liu Wei Lin.
Yīng xióng yang melayang di udara mulai diselimuti oleh tiga jenis energi spiritual dengan warna berbeda. Satu berwarna putih-keperakan yang mana merupakan akar spiritual angin milik Liu Wei Lin.
Ada satu yang berwarna merah dan itu adalah milik Jian Yang karena pemuda tersebut mempunyai akar spiritual api. Kemudian Li Huanshou yang juga mempunyai akar spiritual api, namun dengan warna hijau giok.
"Apa benar yang sedang kita lakukan ini?!" Jian Yang harap-harap cemas. Dia belum pernah membuat pedang, apalagi memperbaikinya.
!!!
Yīng xióng mengeluarkan suara bising yang sangat memekakkan telinga sampai Li Huanshou, Jian Yang dan Liu Wei Lin merasakan sakit pada gendang telinga mereka.
"Jangan tarik energi spiritualmu..!" Liu Wei Lin memperingatkan, "Fokus saja!"
Li Huanshou menambahkan energi spiritual, keringat mengucur di dahi dan pipinya. Napasnya perlahan-lahan kian memberat dan bahkan penglihatannya mulai agak memburam.
"Sa-sampai berapa lama kita akan melakukan ini?" napas Jian Yang mulai tidak beraturan. Dia berkata, "Rasanya seakan tenagaku dikuras habis."
"Aku juga..." Li Huanshou pun tersengal-sengal, dia hampir mencapai batasnya.
Liu Wei Lin sendiri fokus membentuk ulang kepingan dari Yīng xióng. Suara yang terdengar kian nyaring sebelum asap putih disertai angin kejut langsung menyembur dan membuat Jian Yang serta Li Huanshou terdorong mundur.
!!
Jian Yang kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dia merasakan sakit di dadanya, tapi daripada itu----tenaganya sungguh sudah habis. Dia berusaha mengatur napas.
Li Huanshou beda lagi, dia terbatuk sambil menyentuh dadanya. Tenaganya juga telah mencapai batas dan benar-benar lelah sekarang. Namun meski demikian, dia masih berusaha untuk melihat benda yang menyerangnya.
Liu Wei Lin sendiri nampak mengatur napas. Dadanya kembang kempis. Dia masih belum melihat bagaimana hasil dari usahanya memperbaiki Yīng xióng karena senjata itu dipenuhi oleh asap putih tebal.
"..............."
"..............."
"..............."
__ADS_1
Perasaan ketiga pemuda itu sangat tidak karuan. Mereka memperhatikan kepulan asap putih yang kian menipis dengan jantung berdebar. Jian Yang bisa melihat bahwa Liu Wei Lin pun merasa gugup.
Jian Yang menahan napas, "Tunggu. Jangan bilang .... Dia juga tidak yakin akan apa yang sudah dilakukannya?"
!!
Jian Yang tersentak. Akan sangat gawat jika ternyata apa yang mereka lakukan justru gagal dan membuat pedang milik Xiao Shuxiang hancur sepenuhnya. Tidak bisa dibayangkan akan jadi seperti apa ekspresi saudara Xiao-nya nanti.
"..............."
Kepulan asap putih yang menyelimuti senjata Xiao Shuxiang memudar dan kini memperlihatkan sebuah besi panjang berwarna hitam-kemerahan. Benar-benar sebuah besi, bukan pedang seperti yang sebelumnya.
Liu Wei Lin perlahan mengembuskan napas. Dia merasa lega. Sementara Jian Yang dan Li Huanshou nampak terkejut.
"Tu-Tuan Muda Liu...?" Jian Yang tidak menyangka dengan apa yang dirinya lihat. Dia menatap Liu Wei Lin dengan mata yang terbelalak.
Li Huanshou perlahan berdiri. Dia pun menelan ludah dan dengan gugup bertanya pada Liu Wei Lin, "Apa yang kau lakukan? Itu .... Tidak terlihat seperti pedang milik saudara Xiao,"
Liu Wei Lin menoleh sejenak dan lantas berujar, "Aku sudah memperbaikinya dan ini terjadi pun karena bantuan kalian. Tapi pedang itu memang harus dibuat oleh seorang Penempa Pedang. Setidaknya sekarang .... Pusaka itu akan mudah dibentuk, tidak seperti sebelumnya."
Jian Yang tersentak, "Kau sangat angkuh sebelumnya. Kau mengatakan caraku menempa pedang tidak benar, tapi harus melakukannya dengan cara kultivator. Namun apa yang kulihat ini? Kau justru membuat pedang saudara Xiao-ku menjadi besi panjang berujung runcing itu?!"
"Begitulah cara seorang kultivator melakukannya," Liu Wei Lin membela diri. "Jika aku adalah kultivator yang punya keahlian menempa, maka aku pasti membentuk senjata itu menjadi pedang. Kau pikir keahlian menempa itu mudah didapatkan, huh?"
"Tapi kau--"
"Awas!!"
Jian Yang tersentak mendengar seruan dari Li Huanshou. Dia belum sempat bereaksi saat Li Huanshou melompat ke arahnya.
Jian Yang dan Li Huanshou bergulingan di tanah. Beruntung mereka menghindar dengan cepat hingga tidak terkena lesatan dari besi berujung runcing itu.
?!
Liu Wei Lin tentu saja kaget. Besi yang sebelumnya melayang tenang di udara tiba-tiba melesat dan menyerang Jian Yang dan Li Huanshou. Dia kembali kaget karena besi itu pun kembali melesat dan kini menyerangnya.
!!
"Apa yang terjadi?! Kenapa benda itu bisa tiba-tiba menyerang?!" Li Huanshou jelas saja kaget. Dia sampai tidak sadar masih memeluk Jian Yang saat ini.
Liu Wei Lin melompat mundur. Dengan gerakan memutar jari-jari tangannya----kipas yang sebelumnya disimpan mulai melesat dan menyerang besi berujung runcing tersebut.
Kedua senjata yang berbenturan itu menghasilkan suara nyaring dan percikan api. Liu Wei Lin menghentakkan kakinya dan lalu meraih kipasnya. Dia pun bertarung melawan besi tersebut.
"Ada yang aneh. Rasanya .... Benda itu seakan mempunyai pikiran sendiri," Jian Yang perlahan bangun. Pendapatnya dianggukkan oleh Li Huanshou.
"Apa kita sudah melakukan kesalahan?!" Jian Yang merasa pucat jika apa yang terjadi pada pusaka tersebut adalah karena ulahnya, ulah Li Huanshou dan Liu Wei Lin.
Sebenarnya itu bukanlah kesalahan. Liu Wei Lin sudah berhasil memperbaiki Yīng xióng. Tindakan pusaka tersebut yang menyerang seakan ingin membunuh itu adalah bukti bahwa Yīng xióng sudah kembali.
Hanya saja, akan buruk jika Liu Wei Lin sampai tidak sadar dengan pusaka yang sedang dia lawan saat ini. Karena biar bagaimanapun, Yīng xióng merupakan senjata yang mengandung racun. Jika terkena satu goresan saja----maka akan sangat berakibat fatal.
__ADS_1
******