![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"A-apa yang barusan saja terjadi?" Nie Shang bertanya dan masih terlihat kaget.
Gao Shan menjawab, "Itu akibat jika menaiki Tiān lù tanpa undangan. Meski terlihat sebuah jalan dan pengunungan yang indah, tetap saja pertama kali kalian datang----lokasi ini ada di pinggir tebing. Jangan sampai melupakan hal itu. Seseorang yang tidak diundang akan terjatuh tanpa bisa menyentuh Tiān lù. Dia ditarik ke bawah dengan kuat oleh tanah di bawah tebing ini. Tidak bisa memakai Qi sama sekali, riwayatnya... Kalian pasti sudah tahu."
!!
Xiao Shuxiang sampai menahan napas. Untunglah dia tidak melakukan tindakan senekat itu sebelumnya. Dirinya benar-benar tidak tahu dan rasanya ini juga bagai peringatan bahwa jika dia nanti bisa memakai Cermin Pemindah pun----dirinya tetap tidak bisa menyelundupkan Hu Li.
"Sudah... Orang itu serakah dan memiliki tujuan yang buruk. Sekarang pergilah," pria tua itu menepuk keranjang yang digendong Xiao Shuxiang. Dia seperti menyadarkan semuanya.
"Apa aku akan baik-baik saja?" Xiao Shuxiang meminta kepastian pada Kakek Tua di depannya.
"Aku memberimu sebuah token. Itu adalah identitas bahwa kau bawahanku mulai sekarang. Token itu sebagai pengganti undangan. Jangan cemas, cepat pergilah."
"Siapa yang cemas, aku tidak cemas sama sekali..." Xiao Shuxiang mulai berjalan setelah memastikan bahwa memang ada token kayu yang diselipkan di keranjang anyaman miliknya.
Hu Li, "Tuan Muda Xiao. Berhati-hatilah,"
Nie Shang, "Saudara Xiao. Jaga dirimu baik-baik...! Kau tidak sendirian, ada Mo Huai dan Nona Ling di sana. Jaga mereka...!"
Siu Yixin, "♬♪ Bekerjalah yang baik, yo! ♬♪"
"Siu Yixin, kau menyebalkan...!" Xiao Shuxiang tidak mau mendengar ledekan lagi. Dia pun mengembuskan napas dan mulai menapakkan sebelah kakinya pada sebuah anak tangga.
!!
Xiao Shuxiang ternyata bisa menginjaknya. Dirinya pun melangkah dan berhasil. Rasanya agak gugup, mengingat dia bisa saja tertarik ke bawah tanpa bisa melakukan apa pun.
"Tuan Xiao, Anda jangan khawatir. Ayo jalan saja, tidak apa-apa..." Gao Shan menyakinkan Xiao Shuxiang.
Memang, sejak kejadian di mana seorang pria tanpa undangan itu terjatuh----para kultivator yang menaiki Tiān lù terlihat ragu dan agak takut. Mereka cemas sebab bisa saja terjatuh sewaktu-waktu.
Xiao Shuxiang sudah memperoleh kembali ketenangannya. Dia kembali menginjak satu demi satu anak tangga dan mulai terbiasa dengan hal itu. Meski lewat di antara para kultivator, tidak ada yang berusaha mencari gara-gara dengan Xiao Shuxiang----mungkin karena mereka masih cemas jika nantinya terjatuh.
Lain halnya dengan para kultivator yang sudah sangat jauh melangkah. Mereka tidak tahu dengan kejadian di belakang punggung mereka, bahkan para kultivator itu terkejut saat Xiao Shuxiang lewat di samping mereka begitu saja.
!!
"XIAO SHUXIANG?!"
"Ba-bagaimana kau bisa naik kemari?!"
__ADS_1
"Xiao Shuxiang?! Kau?! Tunggu! Apa yang kau bawa itu?!"
Para kultivator tersebut kaget dan terheran-heran kala menyaksikan Xiao Shuxiang lewat dengan menggendong keranjang sayur. Semuanya bahkan terbelalak dengan mulut terbuka lebar.
"Kau sudah lihat ini keranjang berisi sayur, masih saja bertanya. Sudah, lanjutkan saja jalan kalian dan jangan ganggu aku." Xiao Shuxiang berlalu begitu saja dan beberapa melewati kultivator yang sedang beristirahat.
!!
"Hei...! Xiao Shuxiang, tunggu...!" seorang kultivator berseru. Dia sekarang berada di anak tangga ke-39 dan begitu kelelahan.
Napasnya tidak teratur ketika berujar pada Xiao Shuxiang, "Menapaki Tiān lù sama saja dengan mengingat setiap penyesalan dunia. Kenapa kau bisa berjalan secepat itu, seakan tidak punya beban sama sekali, bahkan kau juga membawa---Keranjang sayur?!"
Kultivator itu sepertinya baru sadar bahwa Xiao Shuxiang memikul keranjang di punggungnya dan juga memeluk keranjang lain di tangannya. Dia sendiri tidak membawa apa-apa selain pedang dan kakinya sudah terasa gempor, tetapi pemuda ini malah...
"Kau benar-benar monster..."
Xiao Shuxiang yang ada di anak tangga ke-42 mendengarnya dan kemudian berjalan turun. Dia menatap kultivator berpakaian kuning-putih tersebut, "Kau bilang apa tadi? Monster? Apa jika kau tidak bisa melakukan yang kuperbuat ini dan kau justru menyebutku 'Monster'?"
"Bukan, tapi kau 'Iblis'. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menganggapmu manusia, hah?"
Xiao Shuxiang mendengus, "Kau sudah mengatakannya tadi, bukan? 'Menapaki Tiān lù sama saja dengan mengingat setiap penyesalan dunia.' Kau berjalan dengan mengingat tiap penyesalanmu, karena itulah kakimu semakin lama kian berat untuk melangkah. Sementara Xiao Shuxiang yang luar biasa ini... Dia tidak pernah menyesali apa pun,"
Kultivator itu pun berseru, "Mustahil...!! Bagaimana bisa kau tidak punya penyesalan?! Kau juga adalah kultivator. Setiap kultivator yang pernah mengambil nyawa orang lain pasti mempunyai penyesalan. Bahkan jika itu tidak berhubungan dengan nyawa orang lain, pasti berhubungan pada hal yang lain. Hidup manusia tidak akan mungkin ada tanpa penyesalan...!"
Xiao Shuxiang berbalik, tapi tidak lagi mendekati kultivator itu. Dia menatap ke bawah saat melihat wajah yang seperti menatapnya bagai orang yang pantas diadili, "Sudah kubilang aku tidak memiliki penyesalan apa pun. Mereka yang mati di tangan Xiao Shuxiang ini memang pantas menerimanya."
Suara Xiao Shuxiang kemudian berubah dingin, "Siapa namamu?"
"Untuk apa aku harus memberi tahumu?!"
"Perlu kau tahu, mereka yang kubunuh memiliki aroma kebohongan paling pekat. Mereka yang kubunuh merupakan garis keturunan orang-orang dengan kebohongan paling pekat. Mereka yang kubunuh adalah orang-orang yang tidak mau menerimaku."
Xiao Shuxiang menyeringai, matanya berubah warna dan berkilat merah. "Kau... Bersyukurlah karena aku masih belum membunuhmu,"
!!
Kultivator itu terkejut, sekujur tubuhnya merinding. Dia tanpa sadar menahan napas.
Xiao Shuxiang menyadari tubuh lawannya agak bergetar dan merasa bahwa tindakannya ini sudah cukup untuk menakut-nakuti. Dia pun mendengus dan kembali melanjutkan jalannya menaiki satu persatu anak tangga menuju Alam Kultivasi Atas. Warna matanya kembali normal.
__ADS_1
Saat Xiao Shuxiang sudah jauh melangkah dan tidak lagi terlihat, barulah kultivator itu memperlihatkan raut wajah yang teramat marah. Dia kesal, kedua tangannya terkepal kuat dan urat menegang di dahinya.
Dia menggeram, "Orang itu harus diberi pelajaran. Apa-apaan dengan ucapannya itu? Dia hanya tirani. Dia menebas leher siapa pun yang diinginkannya, bahkan anak kecil sekali pun tidak luput darinya. Iblis... Dia monster iblis dengan kulit manusia."
Kultivator itu mengumpati Xiao Shuxiang sepanjang jalan. Di sisi lain, Gao Shan terus memperhatikan orang-orang yang menapakkan kakinya pada Tiān lù. Nie Shang, Hu Li dan Siu Yixin sudah lama berpamitan dan telah berjalan menuruni gunung sekarang ini.
Gerobak sayur beserta sebagian isinya masih ada di samping Gao Shan. Pria tua yang menerima Xiao Shuxiang sebagai pelayan di Alam Kultivasi Atas juga tetap berdiri di sisinya.
Cukup lama terdiam, akhirnya Gao Shan mulai buka suara. "Kenapa Anda yang harus turun untuk membeli bahan makanan seperti itu? Bukankah di Alam Kultivasi Atas juga ada pasar? Kita tidak kekurangan apa pun,"
Pria tua itu dengan tenang menjawab, "Para tuan muda dan nona-nona muda ini belum terbiasa dengan makanan di tempat tinggalmu, Tuan Muda Gao. Lagipula aku hanya membeli persediaan selama dua hari. Ini hanya agar mereka tidak terlalu rindu pada tempat tinggal masing-masing,"
Gao Shan justru mengerutkan keningnya, "Makanan yang ada di Alam Kultivasi Atas dan di sini memang apa bedanya? Anda juga... Harusnya tidak menerima sembarangan orang sebagai pelayan tambahan. Bagaimana jika Tetua sampai marah?"
"Tanah di tempat tinggal kita dengan tanah tempat tinggal para pendekar ini berbeda, Tuan Muda Gao. Dan untuk pelayan tambahan itu... Aku tidak perlu izin Tetua-mu. Masalah dapur adalah tugas dan kewajibanku, Tetua-mu tidak akan marah karena keputusanku ini."
Gao Shan menoleh, dia menatap pria tua di sampingnya yang nampak tersenyum. Dia pun mengembuskan napas dan memperhatikan kembali para kultivator yang menapakkan kaki di Tiān lù.
Gao Shan, "Haah... Apa sebelumnya Anda juga melakukan hal yang sama?"
"Tentu saja. Aku selalu membeli bahan makanan setiap kali ada penghuni baru."
"Bukan seperti itu, tapi yang kutanyakan tentang Anda yang memilih orang asing sebagai pelayan? Aku sudah memastikan jumlah manusia biasa yang membantu di dapur sekte sudah cukup, tapi Anda tetap merekrut orang lain."
"Ah... Aku memang sering melakukannya. Tidak apa-apa, lagipula aku suka dengan anak yang tidak sopan. Itu seperti sebuah tantangan untuk membuatnya jinak,"
Gao Shan menggeleng pelan, dia memang banyak bicara dengan Xiao Shuxiang, tapi bukan berarti dia akan menerima pemuda lemah itu menjadi bagian Alam Kultivasi Atas, apalagi dengan cara yang tidak sesuai prosedur.
"Tuan Dao, meski bagian dapur adalah tanggung-jawabmu. Tapi aku harus tetap melaporkan ini kepada Shizun,"
Pria tua itu tersenyum, "Lakukan saja. Aku tidak keberatan sama sekali,"
Pria tua itu akrab dipanggil 'Tuan Dao'. Dia adalah salah satu dari kepala pelayan Sekte Lautan Awan yang ada di Alam Kultivasi Atas. Dia sebenarnya pria tua yang baik, namun kadang tindakannya sulit ditebak siapa pun. Dan jujur saja, ini pertama kalinya Gao Shan dapat bicara selama ini dengan pria tua tersebut.
Gao Shan sendiri merupakan kultivator yang suka berlatih. Berkumpul pun hanya sesama murid seusianya. Perlakuannya pada Tuan Dao pun sebatas dirinya sendiri adalah 'Tuan Muda' dan pria tua ini merupakan 'Pelayan'.
Itu berarti, meski berbincang seperti ini---tetap ada batasan di mana pria tua di samping Gao Shan menaruh hormat padanya. Walaupun usia Gao Shan terbilang lebih muda, namun statusnya jauh lebih tinggi. Hanya saja entah bagaimana Kakek Tua ini sering kali bicara dengan nada yang tidak formal padanya.
Gao Shan sebenarnya agak terganggu. Apalagi seorang pelayan harusnya berdiri di belakang, bukan berdiri di sisinya. Ini tindakan yang kurang sopan. Tetapi menegur 'Tuan Dao' juga akan membuat dirinya nampak angkuh, jadi dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap menjaga jarak dan bersikap bahwa dialah yang lebih pantas dihormati.
******
__ADS_1