![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Di dunia ini, yang kuat adalah pemenang. Semua aturan ditentukan oleh yang kuat, bahkan mereka bisa mengubah sejarah. Satu orang dapat menjadi penjahat dan dimusuhi dunia bila mereka menginginkannya.
Tidak perlu untuk melihat identitas Xiao Shuxiang dari Dunia The Fallen Angel atau hubungannya dengan para Demonic Beast. Di tempat ini dia hanyalah sosok yang hidup sebagai manusia, seseorang yang telah banyak dipermainkan takdir.
"..............."
Bocah Pengemis Gila dan Xiao Shuxiang tentu saja berbeda. Kesamaan mereka mungkin hanyalah kebenaran bahwa kedua orang ini telah hidup lebih lama bila dibandingkan dengan orang lain.
Hanya saja, Bocah Pengemis Gila jauh lebih beruntung karena pria itu masih memiliki seluruh ingatannya dan sama sekali tidak pernah mengalami sakitnya kematian. Tidak seperti seseorang yang dipaksa takdir untuk melupakan semua pengalaman dari 9 kehidupannya.
Kepalan tangan Xiao Shuxiang mulai melonggar. Pemuda itu mengembuskan napas di dalam hati dan berhasil untuk mengontrol emosinya.
Xiao Shuxiang kembali berbalik dan lalu berjalan pergi. Dia berujar, "Aku tidak mau bermain tebak-tebakan denganmu..."
Bocah Pengemis Gila jelas saja kaget karena pemuda ini meninggalkannya begitu saja. Padahal di sudah menunggu reaksi Xiao Shuxiang tentang ucapannya.
Bocah Pengemis Gila tidak menyerah. Dia menyusul teman baik Lan Guan Zhi itu dan kembali bersuara. Nadanya begitu memprovokasi. Dia berkata, "Kau tidak mau bermain tebak-tebakan karena apa yang kuucapkan adalah benar. Iya, kan?"
"..............." Xiao Shuxiang terdiam cukup lama sebelum buka suara. Dia berujar tanpa nada, "Meski dibilang muak. Tapi tidak seharusnya seorang anak menebas kepala kedua orang tuanya sendiri. Aku tidak akan pernah mau mengatakan itu adalah tindakan yang benar,"
"Jadi kau mengakui kesalahanmu?"
Xiao Shuxiang menatap Bocah Pengemis Gila yang kini berjalan di sampingnya. Dia mendengus dan berkata, "Hanya mereka yang menyesal yang akan merasa bersalah. Sementara aku sama sekali tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Itu sebabnya aku berkata, 'kau masih bisa menangis itu masih baik.'"
Bocah Pengemis Gila menatap dalam ke arah pemuda yang berjalan di sisinya. Dia merasa Xiao Shuxiang sekarang terlihat lebih dewasa. Hanya saja .... Ada setitik kecil di hatinya yang merasa agak sedih.
Xiao Shuxiang melihat pria yang berjalan di sampingnya menjadi diam dan sedikit menunduk. Dia mengembuskan napas dan lalu berkata, "Sebaiknya kau jangan menaruh rasa kasihan padaku. Itu sama sekali bukan gayamu,"
Xiao Shuxiang berujar, "Dibandingkan denganku, bukankah lebih kita bahas hal lain? Aku bisa memahami bahwa kau adalah murid yang diabaikan oleh Guru Agung Duan Wenyang, lantas siapa nama murid kesayangan gurumu itu?"
"..............." Bocah Pengemis Gila merasa bahwa Xiao Shuxiang punya bakat untuk mengalihkan pembicaraan. Dia pun lalu bernapas pelan dan kemudian bersuara.
"Aku tidak tahu, tidak ingat. Kupikir namanya Bai..." Bocah Pengemis Gila mengusap-usap dagunya dan berusaha mengingat. Hanya saja dia memang lupa nama murid kesayangan gurunya itu.
Xiao Shuxiang buka suara, "Sebenarnya saat aku bertemu dengan potongan jiwa gurumu, dia mengatakan hal aneh seperti muridnya telah ada di hadapannya. Saat itu kami hanya berdua dan kurasa dia salah mengenaliku sebagai muridnya,"
Bocah Pengemis Gila memperhatikan pemuda di sampingnya dan kemudian berkata, "Itu tidak mungkin. Meski hanya berupa potongan jiwa, aku yakin guruku tidak akan salah mengenali muridnya sendiri. Mungkin saja kau memang pernah menjadi murid guruku entah di kehidupanmu yang keberapa,"
Xiao Shuxiang menggeleng pelan, "Aku rasa tidak. Kupikir dia mengenaliku sebagai muridnya karena aku telah membawa bagian dari Kitab Pembunuh Matahari,"
"Ah .... Itu juga bisa terjadi," Bocah Pengemis Gila bernapas pelan, "Tapi aku benar-benar iri padamu karena kau sudah bertemu dengan guruku. Aku berharap juga bisa bertemu dengannya,"
"Aku lebih berharap kau tidak bertemu dengan Guru Agung Duan Wenyang. Mengingat sifatmu .... Kurasa kau akan langsung melemparkan tubuhmu padanya dan menggerayanginya seperti yang sering kau lakukan pada Lan Zhi,"
__ADS_1
"Itu tidak mungkin kulakukan..!" Bocah Pengemis Gila tersentak, "Kapan aku menggerayangi Lan'Er Gege? Kau selalu menjadi penghalang saat aku ingin dekat dengannya,"
"Itu karena kau tidak tahu malu..!" Xiao Shuxiang menggeleng, "Lan Guan Zhi adalah anak yang baik. Jangan karena dia mentolerir segala bentuk tindakanmu dan kau merasa bahwa dia sama sekali tidak keberatan. Kasihan Lan Zhi-ku,"
Bocah Pengemis Gila mengerucutkan bibirnya, "Dia Lan Zhi-mu. Hanya milikmu. Kau sudah menikah dengannya, jadi aku tidak akan menjadi perusak hubungan rumah tangga kalian."
Xiao Shuxiang tertawa masam sebelum berekspresi serius, "Apa kau mau mati?"
!!
Bocah Pengemis Gila langsung menjaga jarak dan tiba-tiba berlari meninggalkan Xiao Shuxiang. Dia sudah memperkirakan hal ini dan berhasil melarikan diri tepat waktu.
Xiao Shuxiang menggeleng pelan, "Orang tidak waras itu ... Mulutnya benar-benar perlu diajari. Jika orang lain mendengar ucapannya tadi, reputasi Lan Zhi akan kembali ternoda dan ini juga berdampak pada namaku sendiri."
Xiao Shuxiang tidak lagi mengejar Bocah Pengemis Gila. Dia memilih untuk pergi ke gubuk bambu miliknya dan akan mulai berurusan dengan penyempurnaan ramuan buatan Zhang Xiao Lian.
Kebanyakan murid yang menghadiri kelas malam saat itu adalah para senior dari Sekte Lautan Awan. Mereka berada dalam bimbingan Tetua Jiao Feng.
Ada juga beberapa murid lain yang saat ini berada di hutan untuk latihan. Mereka di bawah naungan Tetua Xie Yanran dan salah satu di antara murid yang berlatih malam itu adalah Wang Zhao.
"..............."
Sebenarnya sudah menjadi hal biasa jika serangan selalu datang ketika malam semakin larut. Ini karena hanya di waktu malam hari-lah, kewaspadaan akan menjadi berkurang. Dan tentu karena malam hari adalah waktunya beristirahat hingga merupakan saat yang tepat jika melakukan penyerangan.
Target Hei Lian adalah Wang Zhao, tapi dia diminta untuk menghabisi siapa pun yang menghalanginya. Dia tentu tidak akan berbelas kasih pada orang lain.
"..............."
Tidak jauh dari targetnya berada, Hei Lian mulai membuat sebuah segel tangan dan perlahan asap tipis terbentuk di kakinya.
Tubuh kecil Hei Lian berangsur-angsur diselimuti oleh asap tipis yang tidak butuh waktu lama sampai lebur dan menjadi kabut.
Itu memang terlihat bagai kabut. Hanya saja kabut tersebut mengandung asam dan membuat rerumputan serta pepohonan di sekitarnya layu dan mati.
Kabut itu menyebar dengan cepat ke segala arah dan karena suasana adalah malam hari----kondisi ini akan sulit untuk disadari.
*
*
Tetua Xie Yanran memperhatikan dengan saksama bagaimana gerakan berpedang Wang Zhao yang semakin membaik. Dia cukup lembut pada murid yang lain, tapi memang lebih keras memberi pengajaran pada pemuda ini.
Wang Zhao sendiri nampak sudah sangat kelelahan, tetapi masih berusaha untuk memperlihatkan gerakan berpedang yang baik. Sungguh, pelatihan yang diberikan oleh Tetua Xie Yanran membuat indranya menjadi lebih tajam.
__ADS_1
Dia diminta untuk melakukan gerakan berpedang sambil menghindari lesatan dari daun yang dikendalikan oleh Tetua Xie Yanran. Dan karena kondisi yang hanya diterangi cahaya bulan----keadaan menjadi lebih sulit. Hanya saja pelatihan ini memang sangat berguna untuk lebih menajamkan indra penglihatan serta pendengarannya.
"..............."
Beberapa murid yang berasal dari sekte di Alam Kultivasi Bawah dan kultivator yang mendapat undangan untuk belajar di alam ini terlihat menatap Wang Zhao. Mereka menjadi penonton dan sesekali memberikan pendapat akan gerakan berpedang pemuda itu.
Di antara para kultivator itu, juga terlihat sosok Mo Huai. Pemuda dengan gigi taring manis tersebut menunggu Wang Zhao selesai berlatih pedang. Dia sendiri telah menyelesaikan tugasnya sebagai pelayan, termasuk belajar secara pribadi di bawah bimbingan Tetua Jiao Feng.
Mo Huai duduk di sebuah akar pohon besar dan memperhatikan Wang Zhao dengan tatapan penuh kekaguman. Dia juga ingin bisa seperti pemuda itu, hanya saja bila diingat lagi----fisiknya tidaklah sekuat Wang Zhao.
"Kudengar dia adalah seorang pelayan?"
Mo Huai mengerutkan kening. Dia lantas menoleh dan melihat dua orang kultivator yang sedang berbicara. Tatapan mata mereka tertuju pada Wang Zhao.
"Apa yang menyebabkan Tetua Xie Yanran mengajari pelayan itu berlatih pedang? Bukankah Wang Zhao adalah penjaga kuda tempat ini?"
"Entahlah, kudengar dia tidak disukai oleh para murid sekte ini. Bahkan kau bisa melihat tatapan tidak suka tuan muda Liu Wei Lin pada pelayan itu. Dia benar-benar sosok yang dibenci,"
"Tapi apa alasannya..? Apa dia pernah melakukan kesalahan yang paling berat hingga sulit terampuni?"
"Ini hanya rumor, tapi kudengar Wang Zhao itu adalah .... Kultivator dari Aliran Hitam dan orang-orang dari Sekte Lautan Awan sangat tidak menyukai siapa pun yang berasal dari aliran ini."
"..............." Mo Huai memperhatikan kedua pemuda yang berdiri tidak jauh darinya. Dia bernapas pelan dan kembali memperhatikan Wang Zhao.
Mo Huai membatin, "Tidak mungkin dia dibenci hanya karena berasal dari Aliran Hitam. Pasti ada alasan yang lebih kuat lagi..."
"Aliran Hitam ...." Mo Huai bergumam pelan, ".... Sekte? Sekte dari Aliran Hitam yang paling dibenci saat ini---"
AAAAKH..!
Mo Huai baru saja memikirkan satu nama saat sebuah teriakan kesakitan langsung mengejutkannya. Dia pun spontan menoleh dan melihat ada salah seorang kultivator yang entah kenapa tiba-tiba saja mengerang kesakitan.
!!!
Kultivator itu menarik perhatian yang lain. Belum sempat orang-orang bereaksi, kini ada lagi kultivator yang berteriak.
Mo Huai terbelalak saat kultivator itu berguling-gulingan di tanah dan hanya butuh waktu sekejap sampai kulit wajah dan tubuhnya meleleh. Mereka tewas hanya dalam hitungan detik.
"Ini--"
!!!
******
__ADS_1