![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang mengencangkan pita merah yang mengikat rambutnya dan kembali melangkah keluar. Kali ini dia diikuti oleh Mo Huai dan Wang Zhao.
Orang yang berdiri tidak jauh dari gubuk bambu miliknya tidak lain adalah Yan Tianhen, pria itu datang seorang diri.
Wang Zhao tersentak, "Tuan Muda Yan?"
"Kau mau apa kemari?" Xiao Shuxiang berjalan mendekati pria berpakaian merah itu, namun tetap penuh waspada.
Dengan suara yang dingin, Yan Tianhen bertanya. "Kau kan yang ditemui Ye Qin Jiu hari ini?"
Xiao Shuxiang mengerutkan keningnya, "Aku tidak mengerti maksudmu. Siapa Ye Qin Jiu itu?"
"Tidak perlu berpura-pura. Bukankah hari ini kau bertarung dengan tiga murid sekte di dalam hutan. Kau yang membuat mereka terluka parah,"
"Hei, apa kau baru saja menyalahkanku?"
"Buktinya ada," Yan Tianhen menatap Xiao Shuxiang dari atas sampai bawah dan memperhatikan penampilannya.
Yan Tianhen berkata, "Dibandingkan dengan habis mencabut rumput... Kau terlihat seperti baru saja habis bertarung. Apa aku salah?"
Xiao Shuxiang mendengus, "Aku tidak pernah bilang tidak terlibat pertarungan. Aku memang bertemu tiga orang nona yang cantik, mereka tiba-tiba saja datang menyerangku dan kemudian buum----ini dan itu terjadi. Apa salah satu di antara mereka bernama Ye Qing Jiu? Apa mereka mati...?"
"Siapa kau sebenarnya?" Yan Tianhen melangkah mendekat dan terlihat sudah menahan kemarahan sejak tadi.
Xiao Shuxiang justru memperlihatkan ekspresi yang tenang, "Kenapa kau baru sekarang menanyakan itu?"
"Xiao Shuxiang... Kau pasti akan dalam masalah besar."
"Hmph, mustahil. Memang apa yang sudah kulakukan?"
"Kau jelas tahu semuanya,"
"Kau tidak bisa membuktikan aku yang bersalah,"
Wang Zhao dan Mo Huai terlihat sulit menelan ludah ketika merasakan bagaimana sesaknya udara di sekitar Xiao Shuxiang dan Yan Tianhen.
Dua pemuda itu saling melemparkan ucapan dingin dan memberi tatapan menusuk satu sama lain. Rasanya seakan-akan hanya butuh sedikit dorongan dan membuat keduanya berakhir saling bertukar serangan.
"Buktinya akan ada. Kau tunggu saja. Aku pastikan hukum di tempat ini memberimu pelajaran berharga," Yan Tianhen sudah memastikan siapa pelaku yang membuat saudara seperguruannya terluka parah.
Yan Tianhen mengancam, "Sebaiknya kau mulai mempersiapkan diri... Karena jika salah satu di antara ketiga wanita itu bangun----orang pertama yang akan dicari adalah kau."
Xiao Shuxiang menatap kepergian Yan Tianhen dan lalu mendengus pelan, dia melihat punggung pria itu semakin jauh darinya. Dia pun menggeleng pelan, "Kau masih terlalu muda..."
"Tuan Xiao?" Wang Zhao menghampiri Xiao Shuxiang, dia terlihat ketakutan. "Bagaimana ini? Kau dalam masalah jika apa yang dikatakan tuan muda Yan terjadi. Aku... Juga pasti terkena masalah."
Mo Huai mengerutkan keningnya. Dia menggeleng pelan sambil berpikir bahwa dosa apa lagi yang sudah Xiao Shuxiang perbuat? Pemuda itu bahkan membuat tokoh figuran untuk terlibat masalah besar dengannya.
Xiao Shuxiang menepuk pelan pundak Wang Zhao dan menenangkannya. "Tidak perlu takut atau apa pun. Kau ingin tahu kenapa Yan Tianhen kemari?"
"Itu... Tentu saja untuk memberikan peringatan," Wang Zhao gugup saat menjawabnya.
__ADS_1
"Sama sekali bukan. Dia datang memberi informasi bahwa ketiga gadis itu dalam kondisi yang tidak-sadarkan diri. Besar kemungkinan mereka dalam kondisi kritis. Intinya, satu-satunya bukti yang bisa menyeret namaku adalah kesaksian para korban. Jika ketiga gadis itu mati, aku tidak akan dianggap bersalah."
Wang Zhao terkejut, "Itu artinya kau..."
"Yan Tianhen datang memberi ancaman. Tapi sebenarnya dia ingin agar aku pergi dan mengakhiri nyawa ketiga wanita itu. Dia pikir aku akan merasa ketakutan dan bergegas membunuh mereka. Di sana mungkin sudah disediakan perangkap untukku. Jelas, dia berniat membuktikan identitasku yang sebenarnya."
Wang Zhao, "Memang apa identitasmu?"
"Kau sendiri menganggap aku tidak cocok menjadi pelayan, kan? Mungkin saja dia sama curiganya dan mengira aku adalah mata-mata, kultivator yang tidak lain adalah musuh kalian atau--"
"Monster," Mo Huai menyela tanpa sengaja dan membuat Xiao Shuxiang langsung menatapnya.
Xiao Shuxiang kembali menoleh ke arah Wang Zhao dan lanjut berkata, "Atau bisa saja aku adalah malaikat pembawa kematian yang luar biasa mempesona dan amat sangat mengagumkan,"
Mo Huai menggeleng pelan. Satu hal yang pasti, Xiao Shuxiang merupakan kultivator paling narsis, tidak tahu malu dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang sudah melampaui batas kemanusiaan.
"Intinya aku bangga menjadi diriku," Xiao Shuxiang berdecak kagum sambil mengusap-usap dadanya. "Yah, ayo cari makan. Aku sekarang merasa lapar setelah memuji diriku sendiri,"
Xiao Shuxiang mengajak Wang Zhao dan Mo Huai untuk mencari makanan di dapur Sekte Lautan Awan.
Dia memang sosok yang menarik. Ketakutan yang Wang Zhao rasakan dengan cepat menghilang dan dia merasa tenang sekarang.
*
*
Dao Fang An saat itu sedang beristirahat di pintu belakang dapur Sekte Lautan Awan. Dia melihat tiga pemuda yang salah satu di antara mereka adalah orang yang disebutnya sebagai Bocah Menyebalkan.
Xiao Shuxiang berhenti melangkah dan langsung menoleh pada Wang Zhao, "Kau memang diminta Tua Bangka itu mencari kayu bakar?"
Wang Zhao mengangguk pelan, "Benar."
"Hah, pantas saat kau mengajakku tadi aku tidak mencium bau apa pun. Kau ternyata tidak berbohong," gumaman pelan Xiao Shuxiang membuat Wang Zhao heran.
Mo Huai sendiri melihat Xiao Shuxiang mengusap-usap hidungnya. Dia pun melakukan hal yang sama seakan-akan pemuda itu berpikir bahwa seperti inilah cara Xiao Shuxiang agar bisa membedakan aroma kebohongan dengan yang bukan.
Xiao Shuxiang berjalan menghampiri Dao Fang An dan duduk di dekat pria tua itu. Bisa dikatakan dia mengambil tempat sedekat mungkin dengan semangkuk besar sup ayam utuh yang memiliki kaldu bagai emas berkilauan.
Dao Fang An melihat ke arah mana mata Xiao Shuxiang memandang dan langsung menepis tangan pemuda itu saat merasakan ancaman pada makanannya.
Tingkah Dao Fang An dan Xiao Shuxiang membuat Mo Huai dan Wang Zhao yang berjalan mendekat nampak tersentak.
"Tua Bangka! Kau ini pelit sekali," Xiao Shuxiang ikut menepis tangan Dao Fang An, "Jangan sentuh daging ayam yang mulus dan seksi ini dengan tangan tua dan keriputmu."
"Ini makananku, Bocah. Kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku tadi," Dao Fang An menyentil dahi Xiao Shuxiang hingga membuat pemuda itu merintih.
"Aduuh... Di gubuk bambu itu kan ada banyak kayu. Untuk apa tumpukan kayu bakar di sana jika tidak kau gunakan?"
"Itu namanya persediaan. Tumpukan kayu itu tidak boleh sampai berkurang. Apa kau pikir kayu bakar itu akan jalan sendiri dan menumpuk begitu saja, hah?"
"Baiklah, baiklah. Akan kukerjakan nanti," Xiao Shuxiang akhirnya berhasil dengan satu paha ayam. Dia memakannya dan berdecak kagum karena rasanya sangat gurih, sedikit manis dan memiliki cita rasa pedas yang pas.
__ADS_1
Xiao Shuxiang menggeleng dan penuh rasa kekaguman, "Ini... Bukan lagi makanan! Tapi seni. Waah... Luar biasa,"
Xiao Shuxiang tanpa tahu malu mengambil mangkuk nasi yang harusnya adalah milik Dao Fang An.
"........."
Wang Zhao terlihat berekspresi pucat, sementara Mo Huai nampak memijat pelan keningnya. Dao Fang An sendiri memperhatikan bagaimana Bocah Nakal ini mendominasi makanannya.
"Apa seenak itu..?" Dao Fang An bertanya.
"Benar-benar enak, cobalah. Kau jangan malu-malu," Xiao Shuxiang mengambil satu potongan paha ayam dan tanpa ragu memberikannya pada Dao Fang An.
"Ini makanan siapa?" Dao Fang An bertanya lagi.
"Tentu saja milikmu,"
"Kau memang Bocah Berandalan."
"........."
Wang Zhao dan Mo Huai menggeleng pelan. Keduanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa melihat tingkah Xiao Shuxiang. Apalagi sekarang Dao Fang An nampak menoleh ke arah pintu yang tertutup dan berseru meminta tiga mangkuk nasi serta makanan tambahan.
Xiao Shuxiang malah tersenyum senang, dia menoleh ke arah Mo Huai dan Wang Zhao yang masih berdiri seperti patung kayu. "Apa yang kalian lakukan di sana? Ayo kemari, Tua Bangka baik hati ini sedang memberi kita masalah yang enak,"
"Ho? Sekarang aku baik hati?" Dao Fang An menuangkan air di gelas bambu miliknya dan memperhatikan bagaimana pemuda di depannya ini makan.
Dao Fang An. "Bocah, kau sebenarnya dari mana saja?"
"Aku habis melakukan ini dan itu."
"Apanya ini dan itu. Kau bicaralah yang benar,"
"Mencabuti rumput liar dan menebang pohon. Apalagi yang bisa kulakukan?" Xiao Shuxiang kembali makan, dia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
Nenek tua yang pernah mengomelinya waktu itu datang dengan nampan berisi makanan yang diminta oleh Dao Fang An. Dia terlihat memberi ekspresi yang ketus pada Xiao Shuxiang.
"Nyonya Wen," Wang Zhao membungkuk memberi hormat, Mo Huai pun bertindak melakukan hal yang sama.
Wanita tua itu bernama Wen Rouhan. Dia memandang ke arah dua pemuda yang memberinya hormat sebelum kembali menatap ke arah Xiao Shuxiang.
Suara Wen Rouhan ketus, "Kau lihat itu. Mereka tahu caranya berperilaku sopan pada orang tua. Sementara kau ini, tidak hanya tidak memberi hormat----kau justru malah merebut makanan orang lain. Anak tidak tahu diri,"
Xiao Shuxiang meletakkan sejenak sumpit dan mangkuk nasinya. Dia memandang ke arah Wen Rouhan dan berkata, "Nenek. Sekali melihat saja aku sudah tahu bahwa ini masakan buatanmu. Kau memberikan bumbu terbaik di dalamnya----ini sangat penuh dengan cinta. Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara memberimu hormat. Kau luar biasa,"
Xiao Shuxiang kembali menikmati makanannya. Ucapannya barusan membuat Wen Rouhan, Wang Zhao dan Mo Huai tercengang. Sementara Dao Fang An memperhatikan Xiao Shuxiang dengan saksama.
Wen Rouhan terbatuk pelan, "Setidaknya kali ini kau tahu caranya memuji orang dengan tulus. Ini, makanlah."
"Terima kasih, aku pasti akan makan dengan baik."
Dao Fang An mengulum senyum. Dia memang melihat bahwa Xiao Shuxiang merupakan pemuda yang menarik.
__ADS_1
******