KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
297 - Pertarungan


__ADS_3

"Lepaskan aku!" Wang Zhao dengan keras menepis tangan Liu Wei Lin yang memegangnya. Dia menatap pemuda itu dan dengan marah berkata, "Untuk apa kau menarikku seperti ini? Apa kau gila?"


Liu Wei Lin berbalik dan berkata, "Kau yang gila? Untuk apa menangisi musuh yang jelas-jelas ingin membunuhmu. Apa kau tidak ingat perbuatannya?"


"Liu Hei Lian adalah adikmu, sialan!" Wang Zhao mencengkeram kerah Liu Wei Lin sebelum melayangkan pukulan yang mengenai pipi pemuda itu.


Liu Wei Lin tidak menahan atau pun menghindari serangan itu. Dia menatap Wang Zhao sebelum meludahkan darah. Dia melihat pemuda di depannya begitu terengah-engah dan menatap tajam ke arahnya.


"Hei Lian adalah adikmu," suara Wang Zhao bergetar saat berkata, "Kebenaran yang baru saja kutemukan ini ... Dan tentang mimpi anak itu yang sebenarnya, tentang dia membohongiku..."


Liu Wei Lin hanya berdiri. Dia menahan tubuh Wang Zhao yang hampir jatuh dan memeluk pemuda itu. Dirinya tahu apa yang terjadi dan kenapa sosok ini sampai menangis. Dia juga merasakan sakit yang sama.


"Aku tahu ..." Liu Wei Lin mengusap-usap punggung Wang Zhao, suaranya pelan.


"Lian'Er bukanlah penjahat, Wei Lin..."


"Aku tahu ..."


"Dia menyembunyikan semuanya dariku. Dia bahkan-"


"Sudah, tidak apa-apa.."


Liu Wei Lin menyadari apa yang sangat sulit untuk dijelaskan oleh Wang Zhao saat ini. Dia bisa melihat semua akar pada Dantian pemuda ini menghilang dan bahkan merasakan energi spiritual Hei Lian memenuhi salah satu Dantian Wang Zhao.


Tentu saja, dia tahu benar bahwa pemuda yang dipeluknya sekarang ini merasa sangat terguncang. Wang Zhao terlihat takut, kebingungan dan tidak menyangka bahwa Hei Lian akan melakukan sesuatu di luar dugaan.


Pertarungan Hei Lian dan luka yang dia berikan kepada Wang Zhao semata-mata adalah untuk membagi kekuatannya pada pemuda itu. Bahkan sebelum bisa menanyakan niat sebenarnya dari anak perempuan tersebut---Hei Lian sudah lebih dulu tiada.


Wang Zhao membenci Liu Wei Lin, dia ingin memukulnya tetapi pria itu tidak melepaskannya dan justru mengeratkan pelukannya.


Suara Liu Wei Lin berat, "Tenanglah, Kawan. Lian'Er menyayangimu. Dia adalah adik yang berjalan di atas kebenarannya sendiri. Dia tidak pernah meminta bantuan dan kasih sayang dari siapa pun. Bahkan tidak ingin terlihat baik di mata orang lain,"


Liu Wei Lin berkata, "Dia hidup dengan kemampuannya sendiri. Dia tidak pernah bergantung pada orang lain. Tapi kaulah orang pertama yang begitu disukainya. Karena itulah dia memintaku untuk membunuhnya saat kekuatannya sendiri tidak terkendali. Dia ingin membagi hidupnya untukmu, demi impianmu."


"Aku tidak mau-"


"Jangan katakan itu. Kau harus terima ini dan kuatlah. Jangan membuat Lian'Er berkorban sia-sia,"


Wang Zhao merasakan pelukan Liu Wei Lin mulai mengendur. Dia pun menatap pria di hadapannya dan menggeleng. Air masih mengalir di pipinya dan napasnya sesak, dia mengusap-usap wajahnya.


Suara Wang Zhao bergetar, "Kenapa kalian melakukan ini semua untukku? Aku tidak seharusnya ..."


"Tidak seharusnya kalian berbuat seperti ini ..." Wang Zhao menekan dadanya. Di saat yang sama hujan tiba-tiba turun dan menyembunyikan air matanya.


Liu Wei Lin memalingkan wajah, tatapan matanya menunduk. Dia dan Wang Zhao mempunyai cerita yang bahkan tidak pernah diketahui oleh orang lain. Hei Lian sendiri adalah bagian dari cerita itu.


"Pertarungan belum berakhir, Wang Zhao. Kau harus kuat," Liu Wei Lin menepuk bahu Wang Zhao dan berkata, "Ayo pergi. Kita bahas ini nanti,"


Wang Zhao melihat tangan Liu Wei Lin yang memegangnya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan alasan Hei Lian dan ucapan Liu Wei Lin sendiri. Dia benar-benar tidak mengerti.


Wang Zhao ingin bertanya, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan. Tapi ucapan Liu Wei Ling memang ada benarnya. Ini bukan waktu yang tepat karena masih banyak orang yang butuh bantuan.


*


*


"Bunuh semuanya..! Habisi mereka semua!" Wu Tong Fu tertawa keras dan menendang dada seorang murid Istana Seribu Pedang. Dia bahkan menginjak dada murid lainnya dan kembali tertawa.


Sudah banyak murid senior yang tiada di tangan Wu Tong Fu, mereka tidak bisa melawan kekuatan dari pria berotot ini. Bahkan, Tetua Zhang Zan dan Tetua Jing Yufeng sudah tidak sadarkan diri.


"Tetua..!" salah seorang murid berseru ketika Wu Tong Fu mencengkeram kuat leher Tetua Chen Duan Shan. Beberapa temannya juga berteriak histeris.


Awalnya Wu Tong Fu terlihat berjalan dan akan menargetkan Tetua Zhang Shan. Namun Tetua Chen Duan Shan berusaha melindungi pemuda itu walau kondisi fisiknya sendiri tengah terluka parah.

__ADS_1


Alhasil, leher Tetua Chen Duan Shan-lah yang menggantikan posisi Tetua Zhang Shan. Wu Tong Fu menyeringai dan lalu berkata, "Tetua Besar Chen? Kau yang sudah Tua Bangka ini harusnya diam saja dan menunggu kematianmu. Kenapa kau justru menyerahkan dirimu sendiri? Apa kau sangat ingin mati, huh?"


"Apa pun yang kau inginkan," Tetua Chen Duan Shan berusaha bicara, "Ambil dan segera pergi dari sini. Jangan melukai murid-muridku..!"


"Ha ha ha," Wu Tong Fu tertawa keras. Dia berkata, "Aku sama sekali tidak melukai murid-muridmu, tapi aku membunuh mereka. Ha ha ha, bukankah aku ini sangat sopan?"


Tangan Wu Tong Fu yang besar semakin mengerat. Dia menatap tajam Tetua Chen Duan Shan dan lantas berkata, "Lalu bagaimana jika apa yang kumau justru kehancuran sektemu? Apa kau akan memberikannya, hm?"


Wu Tong Fu tersenyum, dia mengangkat tubuh Tetua Chen Duan Shan dengan satu tangan dan kemudian melempar tubuh pria itu sambil tertawa.


Kekuatan Wu Tong Fu besar. Tetua Chen Duan Shan hampir saja menghantam batang pohon dengan kuat andai tubuhnya tidak ditangkap oleh seorang pria yang berpakaian serba putih dan tidak lain adalah Xiao Shuxiang.


Para murid yang awalnya menyerukan nama Tetua Chen Duan Shan mendadak terkejut. Untung saja tetua besar mereka selamat dari bahaya.


"Tsk, aku baru meninggalkanmu sebentar dan kau sudah hampir mati?" suara Xiao Shuxiang tenang dan sejujurnya sangat menyebalkan di telinga.


Tetua Chen Duan Shan memuntahkan darah dan bahkan kesulitan merutuki pemuda ini. Leher dan dadanya sangat sakit, tapi dia sekuat tenaga buka suara. "Kenapa kau lama sekali? Aku kira kau sudah menetap di alam baka,"


Xiao Shuxiang tertawa, "Selama Tua Bangka Bau Tanah sepertimu masih hidup, bagaimana mungkin pemuda tampan yang penuh pesona sepertiku ini mati?"


Bocah Pengemis Gila yang baru saja tiba mendengar ucapan Xiao Shuxiang dan mendengus. Dia meledek, "Usiamu bahkan lebih tua dari Tetua Chen. Apanya yang 'pemuda tampan'?"


Xiao Shuxiang menoleh dan tidak kalah dalam meledek. Dia mendengus, "Hah. Coba lihat siapa yang bicara? Sadarlah. Kau bahkan sudah hidup di zaman purba kala."


"Shuxiang..!"


"Apa? Hidupmu itu sia-sia saja, kau tahu. Kenapa tidak mati saja sana. Kau hidup hanya menghabiskan udara. Kau bahkan tidak menikah, tak tahu malu."


"Ya ampun, mulutnya.." Bocah Pengemis Gila menggeleng pelan, "Kau memang sudah menikah. Tapi kau dan Ling Qing Zhu bahkan belum melakukan 'itu', iya kan? Mengaku saja."


"Aku sudah," Xiao Shuxiang tidak terima.


"Kapan?" Bocah Pengemis Gila menantang.


Tetua Chen Duan Shan, "Kalian-"


"Bilang saja kau tidak pernah. Dengan tampangmu ini, aku tidak yakin kau dan Ling Qing Zhu sudah melakukannya."


"Aku tidak berbohong, aku memang pernah melakukannya dan itu di danau."


"Jadi kau juga meniduri Lan'Er Gege?"


"Tidak sesering itu,"


"Apa?" Bocah Pengemis Gila terkejut dan bahkan Xiao Shuxiang pun berkedip saat sadar dengan apa yang baru saja dia katakan.


Bocah Pengemis Gila menggaruk pelan pipinya dan berkata, "Aku ... Hanya memancingmu tadi dan ternyata ... Kau.."


Xiao Shuxiang berkedip beberapa kali, dia menghindari pandangan pria dengan tongkat bambu ini.


"Shuxiang, jadi kau pernah melakukan itu?" Bocah Pengemis Gila menggeleng pelan dan berkata, "Dengan Ling Qing Zhu dan Lan'Er Gege?!"


"Tidak seperti itu..!" Xiao Shuxiang kaget dengan pertanyaan jebakan dari pria tidak waras ini. Dia syok berat, "Aku dan Lan Zhi tidak pernah melakukan hal yang kau maksudkan, sialan."


"Ucapan keduamu tidak bisa dipercaya," Bocah Pengemis Gila menatap horor Xiao Shuxiang dan berkata, "Sekarang aku mulai mengerti kenapa Lan'Er Gege memberikan pita dahinya padamu. Kau ternyata sudah-"


"Tolong berhentilah kalian berdua," Tetua Chen Duan Shan menyela dan menekan dadanya. Dia berkata, "Apa kalian tidak lihat ada orang tua yang sedang sekarat saat ini? Lihat situasi di sekitarmu..!"


Tetua Chen Duan Shan meringis, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang ini. Keadaannya sekarang bahkan nyaris tidak kuat bertahan.


Xiao Shuxiang sama sekali tidak kehilangan kewaspadaan. Hanya saja dirinya baru ingat tidak membawa satu butir pil pun. Gelang semestanya masih ada pada Hu Li dan pemuda itu belum juga sampai di tempat ini.


Bocah Pengemis Gila juga sama sekali tidak mengendurkan kewaspadaan. Dia memang bicara dengan Xiao Shuxiang, tapi tongkat bambunya mengarah pada lawan dan ini juga membuat Wu Tong Fu berpikir untuk mengambil tindakan.

__ADS_1


Xiao Shuxiang berujar tenang dan berkata, "Kau jaga Tetua Chen Duan Shan. Biar aku yang menghadapi orang itu,"


Bocah Pengemis Gila tersentak. Dia pun berkata, "Kurasa kau tidak akan bisa melakukan itu. Energi spiritual tidak akan-"


Ucapan Bocah Pengemis Gila tertahan saat melihat Xiao Shuxiang dengan mudahnya mengeluarkan pedang pusaka pemuda tersebut. Padahal harusnya mengeluarkan pedang dengan memakai energi spiritual tidak akan berguna.


"Kau ingin mengatakan apa?" Xiao Shuxiang menoleh ke arah pria di belakangnya.


Bocah Pengemis Gila menggeleng, "Tidak ada ... Aku tidak mengatakan apa pun,"


Xiao Shuxiang mengerutkan kening dan kemudian menoleh ke arah Wu Tong Fu. Dia dan lawannya saling memandang satu sama lain, seakan-akan mereka sedang mengukur kemampuan.


Wu Tong Fu terlihat sudah sangat ingin menerjang lawannya. Awalnya dia tersentak saat ada dua orang asing di tempat ini dan bahkan salah satunya bisa menggunakan energi spiritual tanpa hambatan.


Menurutnya, hanya ada dua hal yang bisa membuat senjata suci tidak berpengaruh pada seseorang. Pertama adalah orang tersebut merupakan Demonic Beast dan kedua ialah bahwa orang itu mempunyai hubungan dengan klan Darah Iblis.


Wu Tong Fu keheranan sebab pemuda di hadapannya terlihat seperti kultivator biasa. Namun ada satu titik di hatinya yang mengatakan bahwa orang ini menyembunyikan bahaya.


Xiao Shuxiang merasakan pedang di tangannya berdenyut. Dia tahu bahwa Yīng xióng sudah tidak sabar. Senjata miliknya menginginkan daging musuh sekarang dan dia pun juga menginginkan hal yang serupa.


Bersamaan ketika Hu Li tiba di tempat Bocah Pengemis Gila---Xiao Shuxiang dan Wu Tong Fu pun melesat. Mereka langsung bertukar belasan jurus dalam beberapa hitungan.


!!


Pertarungan besar itu pecah. Wu Tong Fu tidak menahan tenaganya, begitu pula dengan Xiao Shuxiang. Mereka berusaha melukai lawan sambil menghindar dari serangan satu sama lain.


Di sisi lain, Bocah Pengemis Gila nampak menyerahkan pengobatan Tetua Chen Duan Shan dan para murid Istana Seribu Pedang kepada Hu Li. Dia sendiri dengan segera melesat dan menyerang para anggota Sekte Lembah Iblis.


Hu Li mengeluarkan beberapa pil milik Xiao Shuxiang dan memberikannya pada Tetua Chen Duan Shan. Tetua Besar dari Istana Seribu Pedang itu terkejut dengan kemurnian pil di tangannya. Dia bahkan sampai terpukau dan sedikit sayang untuk memakannya.


Sesuatu yang mengejutkan kembali menghampiri Tetua Chen Duan Shan ketika pil di tangannya menyentuh lidah. Pil tersebut langsung lebur dan rasa manis memenuhi indra pengecapnya.


Dalam hitungan detik, baik luka dalam dan juga luka luarnya sembuh seketika. Pil dengan penyembuhan sedahsyat ini bahkan tidak pernah dia lihat di Alam Kultivasi Atas. Tetua Chen Duan Shan sampai menatap tidak percaya ke arah Hu Li.


"Tetua Besar Chen, anda tetap di sini. Saya akan menyelamatkan para murid yang lainnya," Hu Li memberi hormat dan segera pergi. Dia tidak hanya mengobati para murid Istana Seribu Pedang, tetapi melindungi mereka dari serangan nyasar akibat pertarungan Xiao Shuxiang.


Sebelumnya, Hu Li memang bersama Zhi Shu. Namun ketika keluar dari kediaman rahasia Tetua Chen Duan Shan, tiba-tiba saja Zhi Shu tidak bisa merasakan energj spiritual.


Menyadari ini bukan hal biasa membuat Hu Li langsung bergegas dan menyusul Xiao Shuxiang. Sementara itu, Zhi Shu dan Ling Qing Zhu menyelamatkan murid yang terluka meski tanpa energi spiritual.


Hu Li tidak ragu meninggalkan Zhi Shu dan Ling Qing Zhu. Ini karena dia tanpa ragu memberikan dua kantong penuh pil berkualitas milik Xiao Shuxiang kepada kedua gadis itu untuk berjaga-jaga.


Di tempat lain, Xiao Shuxiang tidak tahu tentang kebaikan Hu Li yang sangat mengancam hartanya ini. Dia terlalu fokus menghadapi Wu Tong Fu yang lumayan dalam berbagai teknik pertarungan.


"Sebutkan namamu?" suara Wu Tong Fu lantang. Dia tidak pernah sampai berada dalam kondisi terpojok seperti ini.


"Xiao Shuxiang,"


"Hmph, aku Wu Tong Fu akan mengingat namamu."


"Aku sendiri tidak butuh mengingat namamu," Xiao Shuxiang mempercepat gerakan berpedangnya. Dia berusaha mencari celah lawan, hanya saja ini memang cukup menyulitkan.


Wu Tong Fu sendiri terlihat diselimuti oleh gumpalan hitam energi iblis. Para murid Istana Seribu Pedang yang ada di lokasi itu mengira bahkan Xiao Shuxiang tidak mungkin akan menang. Apalagi tubuh Wu Tong Fu dua kali lipat lebih besar dari tubuh Xiao Shuxiang.


Mereka ragu dan takut melihat Xiao Shuxiang akan menjadi cincangan daging di tangan sosok yang bertubuh besar ini. Namun tidak butuh waktu lama sampai pemikiran itu menghilang.


Bukan Xiao Shuxiang yang menjadi cincangan daging, tapi Wu Tong Fu-lah yang kini menjadi tulang belulang. Pria besar itu tertusuk oleh pedang Xiao Shuxiang dan teriakan kesakitannya langsung menggema.


Tidak hanya darahnya yang dihisap habis oleh Yīng xióng, tetapi juga dagingnya. Orang-orang yang melihat kejadian itu nampak menahan napas, mereka makin kaget saat menyaksikan tulang-belulang Wu Tong Fu berubah warna menjadi ungu-kehitaman seperti terkena racun.


Belum sempat mengambil napas, semua orang kembali dikejutkan dengan sikap Xiao Shuxiang yang menginjak tulang rusuk Wu Tong Fu dan mengambil tengkorak pria itu. Xiao Shuxiang lalu melempar kuat tengkorak tersebut hingga menghantam sebuah batu besar.


Bocah Pengemis Gila dan Hu Li yang melihat kejadian ini bahkan sampai merinding. Ekspresi wajah Xiao Shuxiang yang begitu dingin dan penuh kekesalan itu jujur saja menakutkan. Apalagi sosok ini seakan tidak ingin membiarkan Wu Tong Fu meski pria itu sudah menjadi tulang-belulang.

__ADS_1


******


__ADS_2