KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
186 - Kesalahan


__ADS_3

"Te-Tetua..." Bocah Pengemis Gila sampai terbata-bata. Dia syok berat saat ini.


"I-itu..." Yi Wen pun sama kagetnya. Dia merasa yakin bahwa dirinya dan Bocah Pengemis Gila tidak menyebutkan nama, tetapi tua bangka ini justru---


"Jadi ternyata benar." Tetua Besar Shang memperhatikan kedua orang ini dan berkata, "Melihat dari reaksi kalian .... Aku bisa menyimpulkan bahwa memang 'dia' Xiao Shuxiang."


Tetua Besar Shang berkata, "Sebelumnya. Aku sempat bertemu seorang pemuda ketika Konferensi Aliansi Abadi. Seperti kata Nona Wen, dia orang yang sangat menarik dan sulit diabaikan. Dia juga mempunyai kekuatan yang besar dan tersegel. Para tetua sebenarnya sudah penasaran dengan pemuda itu sejak awal, hanya saja mereka tidak berkata apa-apa karena merasa dia adalah pemuda yang baik."


Tetua Besar Shang melanjutkan, "Menurut pandangan para tetua. Tidak ada orang yang mau menerima segel sebanyak itu dalam tubuhnya jika memang dia bukan orang yang baik. Tapi mengingat dia masih bisa membantai habis sebuah kota hanya dalam waktu semalam dan dengan kekuatan yang tersegel----menurut kalian apa itu masih dapat dianggap 'pemuda yang baik'?"


!!


Suara Tetua Besar Shang menjadi dingin dan membuat Bocah Pengemis Gila serta Yi Wen tersentak. Kedua orang itu bisa merasakan firasat yang sangat buruk.


"Entah karena tindakannya atas dasar campur tangan Sekte Lembah Iblis, tetapi dialah yang membantai warga kota. Di kota itu, hanya ada Xiao Shuxiang yang menjadi pelaku utama. Kalian mengerti maksudku, kan?"


!!


Yi Wen terkejut ketika tiba-tiba saja Tetua Besar Shang bangkit dan hendak berjalan pergi. Dia langsung menepuk-nepuk bahu Bocah Pengemis Gila dan berkata, "Kau sudah membuat masalah untuk Saudara Xiao-ku..! Cepat hentikan dia,"


"Te-Tetua Besar Shang..! Tunggu!" Bocah Pengemis Gila menyusul, Yi Wen ikut dengannya.


"A-Ayah, tunggu dulu..! Biar kujelaskan," Bocah Pengemis Gila berusaha membujuk Tetua Besar Shang, "Xiao Shuxiang adalah pemuda yang baik. Dia tidak bermaksud melakukan itu semua, dia sungguh anak yang baik."


"I-itu benar." Yi Wen mengangguk setuju, "Saudara Xiao-ku bukan orang yang akan mengambil nyawa orang lain seperti itu. Dia dijebak, sungguh..!"


"Tidak peduli dia orang yang baik atau bukan-----dia tetap saja bersalah karena sudah mengambil banyak nyawa." Tetua Besar Shang terus berjalan.


"Ayah. Kau percaya padaku, kan? Dia adalah pemuda yang baik. Semua itu tidak akan terjadi jika bukan ulah dari Sekte Lembah Iblis, merekalah yang harusnya dihukum." Bocah Pengemis Gila terus membujuk.


Tetua Besar Shang berkata, "Long'Er. Aku sangat percaya padamu. Tapi... Kau pasti sudah tahu. Di sini, yang menjadi dalang dari pembataian itu adalah Sekte Lembah Iblis, tetapi yang menjadi pelaku dari pembantaian itu adalah Xiao Shuxiang."


Tetua Besar Shang melanjutkan tanpa berhenti berjalan, "Xiao Shuxiang tidak bisa dianggap 'tak bersalah' karena dialah yang memainkan peran sebagai pelaku, entah itu secara sadar atau pun tidak. Sementara otak dari semua ini adalah Sekte Lembah Iblis. Keduanya tidak bisa lepas dari hukuman."


Yi Wen terkejut, "Itu mungkin saja bukan Saudara Xiao-ku. Kurasa ini tebakan yang asal dan harus diselidiki lagi. Te-Tetua Besar Shang tidak bisa menyimpulkan begitu saja bahwa Saudara Xiao-ku terlibat di dalamnya."


Bocah Pengemis Gila mengangguk setuju, "Itu benar. Tidak ada bukti dan tidak ada saksi yang bisa membuktikan Xiao Shuxiang adalah pelakunya. Ayah sendiri tidak melihat dia melakukannya, kan?"


Tetua Besar Sekte Lembah Cahaya Surgawi itu berhenti berjalan dan ini membuat Bocah Pengemis Gila serta Yi Wen mengembuskan napas lega dan merasa sudah berhasil. Hanya saja, mereka terlalu cepat puas.


Dengan suara yang dingin, Tetua Besar Shang berkata. "Pertama, pelaku dari pembantaian kota itu hanya satu orang dan kalian berdua sudah memastikan siapa pelakunya. Aku hanya menebak itu Xiao Shuxiang dan reaksi kalian benar-benar sangat jelas. Kedua, aku tidak asal menebak karena Xiao Shuxiang yang kutahu mempunyai Segel 12 Bintang dan Segel Teratai Pengunci Qi yang berfungsi mengunci kekuatannya. Apa perlu kujelaskan tentang kedua segel ini?"


"Ti-tidak, tunggu Ayah..!" Bocah Pengemis Gila hampir menangis saat Tetua Besar Shang kembali berjalan dan bahkan meninggalkannya.


Yi Wen menepuk keras punggung Bocah Pengemis Gila, "Ini salahmu..! Aah ya ampun, kenapa tua bangka itu pintar sekali..! Kau harus bertanggung jawab..!"


"Kau juga bersalah tahu..! Sudah. Ayo bantu aku mencegahnya pergi. Ayah..! Tunggu..!"


"Tetua Besar Shang..!"


Yi Wen berusaha mengejar Tetua Besar Sekte Lembah Cahaya Surgawi. Dirinya sampai terisak, "Tetua Besar. Tolong jangan seperti ini. Ayo kita bicarakan baik-baik... Hiks. Tolong jangan hukum saudara Xiao-ku. Dia benar-benar tidak bersalah,"


"Nona Wen, yang memberi hukuman bukanlah aku. Kota yang dibantai oleh saudaramu adalah bagian dari Istana Seribu Pedang. Pendapat merekalah yang akan menentukan hukumannya,"


Yi Wen tersentak, masalah ini benar-benar akan berbuntut panjang. "Tetua Besar Shang..! Tapi kan harus diselidiki lagi, mungkin saja itu Xiao Shuxiang yang lain. Iya, kan?"


"Mm, aku memang tidak pernah melihat wajah saudara Xiao-mu. Mungkin saja Xiao Shuxiang yang kau maksud dengan Xiao Shuxiang yang pernah kutemui adalah dua orang yang berbeda. Tetapi untukku, aku mencurigai Xiao Shuxiang yang pernah kutemui."


"Aduuh..!" Yi Wen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Bagaimana ini..!?"


Bocah Pengemis Gila sendiri menepuk dahinya beberapa kali. Dia sangat yakin bahwa mereka membahas Xiao Shuxiang yang sama dan ini benar-benar buruk.


"A-Ayah..!" Bocah Pengemis Gila kembali membujuk. "Ayah harus mencari bukti yang kuat terlebih dahulu. Tidak bisa langsung menyatakan Xiao Shuxiang sebagai pelakunya. Bagaimana jika ternyata bukan dia yang melakukannya?"


"Long'Er-ku jangan khawatir. Pemuda yang pernah kutemui adalah anak baik dan terlihat sangat jujur. Aku hanya akan menanyakan padanya tentang ini. Jika ternyata dia tidak tahu apa-apa, maka mana mungkin hukuman akan dijatuhkan padanya."

__ADS_1


Yi Wen seakan mendengar petir menyambar di kepalanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang benar-benar telah dingin.


Saudara Xiao-nya adalah pemuda yang tidak akan pernah berbohong. Jadi jelas saja menanyainya secara langsung akan menjadi bukti terkuat tanpa perlu penyelidikan dan persidangan lagi.


Masalahnya, sama seperti Bocah Pengemis Gila. Yi Wen juga merasa bahwa mereka dan Tetua Besar Shang sedang membahas Xiao Shuxiang yang sama. Itu artinya, saudara Xiao-nya dalam masalah besar sekarang ini.


"Ayah...!"


"Long'Er, kau dan temanmu di sini saja." Tetua Besar Shang mengusap pelan punggung pria di sampingnya dan berujar, "Istirahatlah... Ayah akan segera kembali."


!!!


Bocah Pengemis Gila kaget karena Tetua Besar Shang langsung melesat pergi dan meninggalkannya. Dia baru akan bicara ketika lengannya ditarik oleh Yi Wen.


"Bocah Pengemis Gila, bagaimana ini?! Tua bangka itu tidak bisa dibujuk. Aku khawatir pada keselamatan saudara Xiao-ku. Bagaimana jika saudaraku dihukum mati sampai tidak bisa bereinkarnasi?! Atau yang lebih buruk lagi?!"


"Ka-kau jangan menakut-nakutiku." Bocah Pengemis Gila memeluk tongkat bambu miliknya dan berusaha mengatur napas, "Oke, pertama-tama... Kita harus tenang dulu. Kau tenanglah dan biar kupikirkan sesuatu..."


Yi Wen menarik napas dan berusaha untuk menenangkan diri sesuai ucapan Bocah Pengemis Gila. Mereka memang harus tenang untuk memikirkan masalah yang secara tidak sengaja telah mereka timbulkan.


Bocah Pengemis Gila memejamkan mata dan mencoba tenang. Detik berikutnya dia langsung membuka mata dan lalu memegang kuat punda Yi Wen hingga membuat gadis itu terkejut.


Yi Wen berkedip, "A-apa?!"


"Kita ke Sekte Lautan Awan sekarang dan memberitahukan semuanya pada Xiao Shuxiang. Hanya dia yang saat ini bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Ayo,"


"Bo-Bocah Pengemis Gila..!" Yi Wen segera menyusul ketika pria dengan riasan mirip hantu gantung itu melesat dengan tiba-tiba.


Yi Wen berwajah pucat, "Kau membuat masalah untuk saudaraku..!"


"Tidak sadar diri. Kau juga melakukan hal yang sama," Bocah Pengemis Gila tidak mau disalahkan sendiri.


Yi Wen menapakkan kakinya di sebuah dahan pohon sebelum kembali melesat, "Semua ini karena 'Ayahmu'. Aku bahkan tidak tahu bagaimana kau bisa memiliki 'Ayah' di Alam Kultivasi Atas. Apa Tetua Besar Shang tahu identitasmu yang sebenarnya?"


"Ja-jadi dia tidak tahu?!" Yi Wen tersentak, "Lantas bagaimana dengan nama 'Shén Lóng' itu?"


"Itu namaku di tempat ini. Percepat langkahku,"


"Bocah Pengemis Gila..?! Tunggu," Yi Wen kembali menyusul, "Jadi bahkan gelarmu yang besar itu tidak diketahui oleh tua bangka tadi?"


"Yi Wen, jika dia tahu----apa kau pikir aku akan diperlakukan seperti pemuda biasa? Tetua besar Shang mungkin akan terus membungkuk saat bicara padaku,"


"Kau benar-benar tidak waras. Apa baik menyembunyikan identitasmu sampai seperti itu? Berapa lama kalian saling mengenal, huh?"


"Untuk apa aku memberitahukan semua tentangku padamu? Kau bukan istriku,"


"Bocah Pengemis Gila..! Tunggu..!"


*


*


Perjalanan dari Sekte Lembah Cahaya Surgawi menuju Sekte Lautan Awan adalah 10 hari. Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen harus memasuki Dà Mèilì di hari ketiga jika perjalanan mereka berjalan lancar tanpa hambatan.


Sebenarnya, memang tidak ada masalah yang berarti. Mereka bertemu Demonic Beast yang cukup kuat, tetapi Bocah Pengemis Gila bisa dengan mudah mengalahkannya. Yi Wen bahkan tidak perlu ikut bertarung.


Di saat mereka mulai memasuki wilayah Sekte Lautan Awan di hari ke-tujuh, di waktu yang bersamaan-----Chu Gu Xiang dilempar oleh pria yang membawanya, tepat di hadapan sosok yang saat ini duduk di sebuah singgasana dengan cahaya merah redup.


Lokasi tersebut adalah sebuah istana yang merupakan markas Sekte Lembah Iblis. Wilayah mereka mencapai tiga pulau terapung yang tanahnya dipenuhi tumbuhan beracun.


Chu Gu Xiang terbatuk darah dan sangat marah karena diperlakukan begitu kasar. Namun untuk membentak sosok yang memperlakukannya dengan begitu kasar pun, dia tidak bisa.


".......... Wang Hu Zhuan. Kenapa hanya dia yang kau bawa kemari?"


Suara seorang gadis terdengar dan membuat Chu Gu Xiang tersentak. Ada seseorang yang bangkit dari singgasana di hadapannya dan berjalan mendekat.

__ADS_1


Chu Gu Xiang kesulitan menelan ludah, dia baru akan berdiri ketika sebuah tangan langsung menangkap lehernya dan memaksanya untuk berdiri.


Apa yang terlihat dibalik cahaya redup itu adalah sosok gadis muda berambut panjang yang memiliki lukisan ular kalajengking di paha sebelah kanannya. Dia mempunyai mata dengan warna berbeda serta sebuah bekas luka parah di pipi sebelah kirinya.


"......... Kau terlihat sangat menyedihkan,"


Uukh!


Kaki Chu Gu Xiang sampai tidak menapak di tanah. Dia berusaha melepaskan cengkeraman pada lehernya. Dia mencoba bersuara, "Ka-kakak..."


"Wang Hu Zhuan, di mana Fu Tou?"


"Mati."


!!


Chu Gu Xiang merintih. Dia kesulitan bernapas karena lehernya dicengkeram sangat kuat oleh gadis yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, Qiao Nuan.


"Uukh..! Ka-Kakak..."


".......... Fu Tou mati dan ini karenamu." Qiao Nuan mengeratkan cengkeraman tangannya. Dia berkata, "Kuampuni kau sekali karena kau adalah adikku. Tapi kau justru membawa kegagalan lagi,"


Qiao Nuan berujar dingin, "Tidak bisa .... Sekte Lembah Iblis-ku tidak menerima kekalahan. Tidak boleh ada orang yang lemah di sekteku. Tidak boleh..!"


Aaakh..!


Chu Gu Xiang dilempar hingga menghantam lantai dengan keras. Dia kembali memuntahkan darah dan terbatuk sambil memegang lehernya. Dia berusaha untuk bernapas.


"A-aku .... Pasti bisa be-berhasil jika ... Hei Lian i-ikut bergerak..." Chu Gu Xiang mencoba menjelaskannya, hanya saja dengan nada yang terputus.


Qiao Nuan berjalan mendekat, "Hei Lian? Kau bicara tentang bocah itu?"


Qiao Nuan mengulurkan tangan dan meraih dagu Chu Gu Xiang. Dia membuat gadis itu mendongak dan dirinya pun berkata, "Kau ingin mengatakan .... Kau sedang bergantung pada anak perempuan itu?"


"Ka-Kakak..."


"Mengecewakan." Qiao Nuan memakai jari telunjuknya dan mengusap lembut pipi Chu Gu Xiang. Dia berujar pelan, "Kau memiliki wajah cantik yang tidak kumiliki, tapi kenapa kau sangat bodoh?"


Chu Gu Xiang meringis sebab kuku pada jari telunjuk Qiao Nuan dengan cepat memanjang dan mulai menggores pipinya. Darah segar bahkan mulai mengucur.


Qiao Nuan, "Ini pertama kalinya .... Selama hidupku .... Aku menyesal memiliki saudara sepertimu. Kau sama sekali tidak berguna."


"Ka-Kakak ...."


"Kupikir kita akan menjadi 'Dua Keputus-asaan', tapi kenapa kau bisa sampai seburuk ini...? Kau membuatku sangat kecewa,"


"Kakak. I-ini semua karena pemuda itu. Di-dia..."


"Sekarang kau menyalahkan orang lain?" Qiao Nuan menyela, "Kau yang tidak becus tetapi justru menyalahkan orang lain? Berapa banyak anggota sekte ini yang kau bawa ke sana? Apa kau lihat! Tidak ada seorang pun yang kembali selain dirimu..! Bahkan Fu Tou pun mati karenamu dan kau malah menyalahkan orang lain?!"


Qiao Nuan menggeram dan menampar wajah Chu Gu Xiang dengan keras hingga gadis itu kembali tersungkur di lantai. Dia menarik napas dan menyentuh luka parut di wajahnya. Qiao Nuan berujar, "Adikku yang cantik .... Kesalahanmu benar-benar besar. Tidak .... Tidak bisa. Tidak bisa kumaafkan. Tidak lagi .... Tidak akan pernah lagi..!!"


Qiao Nuan mengibaskan pakaiannya dan berjalan menjauh. Dia berujar tegas, "Wang Hu Zhuan! Bawa adikku yang tidak berguna itu ke ruang hukuman. Kematian terlalu indah untuknya,"


"Kakak..! Kakak jangan...! Kakak--" Chu Gu Xiang terbatuk darah. Dia berusaha untuk memberontak, bahkan ketika Wang Hu Zhuan mulai menarik tangan dan lalu mengangkatnya.


"Kakak..! Aku akan lakukan apa pun..! Jangan bawa aku ke sana, Kakak..! Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi..! A-aku berjanji..! Kakak..!"


"..............." Wang Hu Zhuan tidak bereaksi dan hanya membawa Chu Gu Xiang sesuai perintah. Ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah.


Qiao Nuan sendiri kembali duduk di singgasananya dan mulai menggaruk-garuk wajahnya hingga berdarah. Dia mempunyai tatapan mata seperti ikan mati.


Qiao Nuan menggumam, "Adik tidak berguna .... Adik cantik yang sama sekali tidak berguna. Adik yang hanya menjadi beban. Adik cantik yang mengecewakan. Adik yang membuat sekteku kalah. Dia adik yang tidak berguna. Sekteku kalah... Sekte Lembah Iblis-ku kalah. Tidak bisa .... Tidak boleh .... Ini tidak bisa kubiarkan. Tidak akan kubiarkan. Tidak akan pernah!"


******

__ADS_1


__ADS_2