![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
"Chen Duan Shan!" seruan seorang pria terdengar menggelegar. Dia adalah pemimpin dari Paviliun Teratai Naga yang merupakan sekte besar Aliran Putih.
Sosok itu bernama Bai Zhou Tian. Sektenya sudah lama bermusuhan dengan Sekte Lembah Hantu dan apa pun yang berhubungan dengan lembah itu, dia pasti akan sangat membencinya.
Bai Zhou Tian dan para muridnya merupakan salah satu dari banyaknya sekte yang ikut dalam aliansi para pendekar saat mereka menyerang Sekte Lembah Iblis dahulu.
Sejujurnya, mereka ini sangat anti pada apa pun yang berhubungan dengan Aliran Hitam. Mereka memusuhi mereka dan karenanya ketika tahu bahwa Istana Seribu Pedang melindungi Pemimpin Sekte Lembah Hantu---Bai Zhou Tian langsung membawa kultivator terbaiknya untuk menyerang.
"Kukatakan sekali lagi. Sebaiknya kau serahkan Pemimpin Sekte Lembah Hantu atau aku tidak punya pilihan selain menganggap sektemu berkolusi dengan mereka,"
Chen Duan Shan bernapas pelan. Tatapannya memperhatikan sosok berpakaian hijau dengan corak teratai tersebut dan kemudian berkata, "Temanku Bai Zhou Tian. Aku sendiri terkejut dengan kebenaran tentang seseorang yang kukenal. Aku akan memberikan dia padamu, tapi tidak saat kau dipenuhi amarah seperti ini. Kembalilah dan tenangkan dirimu dulu,"
"Chen Duan Shan!" Bai Zhou Tian mengepalkan erat tangannya dan berkata, "Aku mentolelir kau menerima pemimpin Sekte Lembah Iblis sebagai bagian dari aliran putih, tapi tidak untuk seorang pemimpin Sekte Lembah Hantu."
Bai Zhou Tian berkata, "Anak yang merupakan bagian dari Sekte Lembah Iblis ini hidup dengan ketidakadilan dan aku tahu benar bagaimana perjuangannya, dia bahkan diusir dari sektenya sendiri. Tetapi Pemimpin Sekte Lembah Hantu justru tidak memiliki alasan apa pun untuk pergi, kenapa dia ingin menjadi bagian dari aliran putih?"
"Hanya satu yang aku tahu dengan jelas," Bai Zhou Tian menatap tajam Chen Duan Shan dan kemudian berkata, "Pemimpin Sekte Lembah Hantu memiliki niatan tersembunyi yang akan membahayakan alam ini."
"Temanku Bai Zhou Tian-"
"Chen Duan Shan. Ini terakhir kalinya aku memintamu baik-baik. Serahkan Pemimpin Sekte Lembah Hantu, Liu Wei Lin padaku."
!!!
*
*
Suasana tegang di Istana Seribu Pedang masih sangat terasa. Li Huanshou yang saat ini berada di dalam hutan bersama Jian Yang dan Wang Zhao terlihat khawatir jika pertarungan antara Istana Seribu Pedang dengan Paviliun Teratai Naga benar-benar pecah.
"Sebelumnya serangan kultivator dari Paviliun Teratai Naga sudah merusak gerbang utama sekte, jika pertarungan pecah---bukankah ini sangat buruk?" Li Huanshou menelan ludah, "Aku tahu benar seperti apa kekuatan dari kultivator Paviliun Teratai Naga, apalagi Tetua Besar Bai Zhou Tian."
Jian Yang mengatur napas dan berkata, "Jika sesuai rumor... Kekuatan Paviliun Teratai Naga sebenarnya berada satu tingkat di atas Istana Seribu Pedang kita."
Liu Wei Lin juga ada bersama Li Huanshou dan yang lainnya. Dia mengembuskan napas dan lantas berkata, "Lebih baik kalian serahkan aku saja. Keselamatan sekte kalian jelas sedang dipertaruhkan,"
"Mana bisa begitu?" Wang Zhao mengusap keringat yang mengucur di pipinya dan berkata, "Kita sudah berhasil melarikan diri dari sana dengan susah payah dan kau justru ingin kembali menyerahkan diri? Apa kau mau kupukul?"
"Kau berani melakukannya?" Liu Wei Lin spontan menjitak kepala Wang Zhao dan berkata, "Sejak kapan kau jadi seberani ini, huh?"
"Shh..." Wang Zhao mengusap-usap kepalanya dan dengan cemberut berkata. "Setidaknya kau harus hargai usaha kami--maksudku usahaku. Jika kau menyerahkan diri begitu saja, Istana Seribu Pedang tidak akan diserang dan itu hal yang tidak kuinginkan."
"Saudara Liu," Jian Yang buka suara dan lantas bertanya, "Apa boleh aku mengetahui alasan kau pergi meninggalkan Sekte Lembah Hantu?"
__ADS_1
Li Huanshou tersentak dan menatap ke arah Jian Yang sebelum mengarahkan perhatiannya pada Liu Wei Lin. Pemuda berpakaian merah itu terlihat berkedip dan kemudian membuka kipas miliknya.
Liu Wei Lin melambaikan pelan kipasnya dan kemudian mengembuskan napas, "Bagaimana aku harus mengatakannya? Alasanku sulit untuk kalian percaya,"
"Tuan Muda Liu," Li Huanshou berkata. "Kita sudah mengalami banyak hal bersama. Aku tahu kau bukan orang yang jahat, jadi tidak perlu merasa bahwa kami tidak akan percaya padamu."
Liu Wei Lin menatap kedua murid Istana Seribu Pedang di hadapannya ini dan lantas berujar, "Bagaimana jika apa yang kau lihat justru hanya sandiwara? Aku bisa saja berpura-pura baik pada kalian untuk sesuatu, kan?"
Wang Zhao tersentak dan menatap ke arah Liu Wei Lin. Ekspresinya sedikit berubah, tetapi tidak ada yang menyadari hal tersebut. Di sisi lain, Jian Yang sendiri terkejut dan menatap tak percaya pada Liu Wei Lin.
Jian Yang berkata, "Saudara Liu. Apa kau serius dengan ucapanmu?"
Liu Wei Lin menghela napas dan menggeleng pelan. Dia pun berkata, "Aku hanya keluar dari lembah untuk mencari belahan jiwaku. Tanpa kusadari, aku ternyata pergi terlalu lama dan bahkan tidak disangka menjadi murid di Sekte Lautan Awan. Bertahun-tahun sudah berlalu dan hubunganku yang semakin erat membuat aku malas untuk pulang."
Liu Wei Lin menutup kipasnya dan berkata, "Sudah lama aku tidak berhubungan dengan orang-orangku di Sekte Lembah Hantu. Kalian bisa lihat sendiri ada di antara mereka yang memanfaatkan situasi ketidakhadiranku dan berkolusi dengan Sekte Lembah Iblis. Aku sungguh tidak ikut andil dalam perencanaan apa pun,"
"Lihat. Kalian tidak percaya, kan?" Liu Wei Lin kembali melambaikan kipasnya.
Wang Zhao berkedip dan tanpa nada berkata, "Jadi maksudmu ... Kau hanya keluar untuk bermain-main, tapi malah kebablasan dan akhirnya tidak berniat pulang ke sektemu?"
"Yah, intinya memang seperti itu.."
"Ya ampun," Jian Yang mengembuskan napas, "Saudara Liu. Kau membuang posisimu sebagai pemimpin sekte dan justru memilih untuk menjadi murid dari sekte lain?"
"Haah..." Liu Wei Lin menghela napas dan dengan nada pelan berujar, "Saat ini aku sedang patah hati. Saudara Xiao yang kuanggap sebagai belahan jiwa sudah pergi. Dia bahkan pergi begitu saja tanpa berpamitan dan itu membuatku terluka. Padahal aku ingin dia mendengarkan puisi buatanku,"
Li Huanshou baru akan bicara saat tiba-tiba terdengar suara keras. Dia, Wang Zhao dan yang lainnya terkejut bukan main. Mereka spontan mengarahkan pandangan dan melihat asap mengepul di udara.
"Sepertinya sudah terjadi pertarungan di sana," Jian Yang merasa sangat khawatir. Ekspresi wajahnya berubah pucat.
"Tidak bisa begini," Liu Wei Lin berkata. "Aku akan ke sana dan menyerahkan diri. Istana Seribu Pedang tidak bersalah, kalian tidak seharusnya mengalami kerugian hanya karena melindungi orang asing sepertiku."
"Wei Lin," Wang Zhao meraih tangan Liu Wei Lin yang hendak pergi. Suaranya serius saat berkata, "Aku tahu bagaimana rasanya karena pernah mengalami hal semacam ini. Tapi kau harus percaya Tetua Chen Duan Shan pasti akan mengatasinya,"
"Wang Zhao-"
"Lagipula," Wang Zhao menyela. "Tetua Chen Duan Shan sendiri yang menyuruh kita agar bersembunyi dan pergi ke tempat yang aman. Usaha beliau akan sia-sia jika kau justru menyerahkan dirimu,"
Liu Wei Lin menatap pemuda di depannya dan menjadi kesal. Dia pun berkata, "Wang Zhao. Dengarkan baik-baik, keselamatan sekte ini dipertaruhkan. Hanya karena melindungi aku seorang, para murid Istana Seribu Pedang dan bahkan Tetua Chen Duan Shan sendiri bisa terluka. Aku akan mengatasinya dengan caraku, jadi jangan mencegahku."
"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian,"
!?
__ADS_1
Liu Wei Lin tersentak mendengar ucapan pemuda yang memegang tangannya ini dan lantas berkedip. Wang Zhao sendiri berkata, "Hubungan kita memang tidak baik, tapi sama seperti yang dikatakan Saudara Li Huanshou bahwa kita sudah mengalami banyak hal bersama. Aku ... Akan membantumu,"
Wang Zhao menatap Jian Yang dan Li Huanshou secara bergantian. Dia pun kembali bersuara, "Apa aku bisa ... Meminta tolong?"
"Apa yang kau inginkan?" Jian Yang bertanya.
"Katakan saja, kami pasti akan membantu." Li Huanshou bukan suara dan di anggukan oleh Jian Yang.
Wang Zhao memejamkan mata sejenak dan kemudian menarik napas pelan. Dia pun berujar, "Kalian kembalilah pada Tetua Chen Duan Shan dan hentikan pertarungan ini. Kalian hanya perlu mengatakan bahwa Istana Seribu Pedang tidak tahu-menahu tentang identitas Liu Wei Lin, dan sekte kalian bahkan baru mengetahuinya baru-baru ini. Cara yang kuberikan bisa membuat anggota sekte kalian selamat,"
Wang Zhao menatap Liu Wei Lin dan kembali berkata, "Aku sendiri akan bersamanya dan pergi. Kami akan kembali ke Sekte Lautan Awan,"
"Wang Zhao..." Jian Yang sebenarnya tidak menyangka Wang Zhao akan memiliki rencana seperti ini. Dia pun lantas menatap Liu Wei Lin seolah menunggu pendapat pemuda tersebut.
Liu Wei Lin memikirkannya dan tahu maksud Wang Zhao. Hanya cara ini yang bisa dilakukan agar Istana Seribu Pedang tidak sampai terlibat pertarungan dengan Paviliun Teratai Naga karena dirinya.
Liu Wei Lin berkata, "Apa yang dikatakan Wang Zhao benar. Kalian kembalilah. Dan juga ... Katakan pada mereka bahwa aku melarikan diri, tepat saat sekte ini tahu identitasku. Buat seakan-akan Istana Seribu Pedang ... Benci padaku,"
Wang Zhao mengangguk dan kemudian berkata pada Jian Yang, "Tuan Muda Jian. Tuan Muda Li Huanshou. Kalian adalah teman yang baik dan sudah banyak membantu kami selama ini. Jangan khawatir, percayalah pada kami."
Jian Yang menatap Liu Wei Lin sebelum mulai mengarahkan pandangan pada Li Huanshou. Dia menggigit bibirnya sebelum berkata, "Berat untuk melakukan hal itu..."
"Pikirkan tentang saudara seperguruan kalian," Liu Wei Lin berkata, "Ada banyak murid yang masih muda di sekte ini. Aku tidak yakin apa mereka tidak akan terluka jika pertarungan antara Istana Seribu Pedang dengan Paviliun Teratai Naga benar-benar pecah. Jangan mengorbankan murid sektemu demi aku,"
"Liu Wei Lin adalah pemimpin Sekte Lembah Hantu," Wang Zhao berkata. "Bahkan jika dia tidak diterima di sini, dia masih memiliki tempat untuk pulang. Kekuatannya pun besar hingga kalian tidak perlu melindunginya. Selain itu... Sekarang aku bersamanya, jadi jangan mencemaskan apa pun."
"Kalian harus berhati-hati," Jian Yang memeluk Liu Wei Lin dan kemudian memeluk Wang Zhao. "Kita akan bertemu lagi,"
"Mn, pasti." Liu Wei Lin menyakinkan sebelum menatap Wang Zhao dan mendapat anggukan pelan dari pemuda itu.
Mereka berpisah di mana Jian Yang dan Li Huanshou kembali ke Istana Seribu Pedang, sementara Liu Wei Lin dan Wang Zhao pergi ke arah lain. Suara ledakan keras terjadi dan itu merupakan pertanda bahwa sedang ada pertarungan saat ini.
Liu Wei Lin tidak tahu bahwa kekacauan tidak hanya mengancam Istana Seribu Pedang, tetapi Sekte Lautan Awan. Di sisi lain, Wang Zhao yang terlihat begitu peduli justru menyimpan niatan tersembunyi jauh di dalam hatinya.
Tidak hanya ketegangan di Alam Kultivasi Atas, bahkan di Alam Kultivasi Bawah pun mengalami hal yang serupa. Istana Seribu Pedang dan Sekte Lautan Awan yang terancam karena kultivator menginginkan Liu Wej Lin---Kota Awan Dingin dan Sekte Kupu-Kupu pun terancam karena musuh mengincar Xiao Shuxiang.
Yang menjadi pembeda adalah bahwa keadaan di tempat Xiao Shuxiang sudah semakin kacau dan bahkan sebagian Kota Awan Dingin pun telah rusak begitu parah. Kondisi itu bahkan tidak bisa dicegah dengan cara yang dilakukan oleh Wang Zhao. Ini karena yang diincar dari Xiao Shuxiang bukanlah nyawa pemuda itu, melainkan pusaka yang ada padanya.
Liu Wei Lin bisa saja memiliki pemikiran untuk mengorbankan diri sendiri agar tidak sampai terjadi pertumpahan darah, tetapi Xiao Shuxiang tidak mungkin mengorbankan pusaka yang ada padanya dan diserahkan ke tangan musuh.
Xiao Shuxiang jelas tidak mungkin melepaskan Kitab Pembunuh Matahari karena ini berhubungan dengan keselamatan dunia. Dan untuk dirinya sendiri... Dia pasti akan membuat siapa pun yang mengincar nyawanya ataupun pusaka itu---akan mengalami hal yang tidak akan bisa dilupakan.
Para kultivator Alam Kultivasi Atas yang tidak melukai warga Kota Awan Dingin masih dapat memperoleh pengampunan dari Xiao Shuxiang, tetapi untuk para kultivator seperti Sekte Kabut Berdarah ini---tidak ada yang bisa dia berikan selain nikmatnya rasa sakit menjelang kematian.
__ADS_1
******