![KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]](https://asset.asean.biz.id/kejahatan-tersembunyi--xiao-shuxiang-the-series-.webp)
Xiao Shuxiang memberikan pandangan yang aneh pada Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen. Dia mengikuti kedua orang ini sambil tetap merangkul lengan Kucing Putihnya.
Ling Qing Zhu sendiri sebenarnya memiliki kelas malam di bawah bimbingan Tetua Jiao Feng. Namun dia justru ditarik oleh Wali Pelindungnya untuk membuntuti Yi Wen dan Bocah Pengemis Gila.
"..............." Ling Qing Zhu berkedip saat melihat bagaimana Yi Wen memeluk erat lengan kanan Bocah Pengemis Gila dan seakan tengah bergelayut manja. Dia merasa bahwa kedua temannya itu bersikap amat memalukan.
"Kucing Putih ... Kurasa mereka terkena roh jahat," Xiao Shuxiang berujar pelan tanpa melepaskan lengan gadis bercadar tipis di sampingnya.
"............. Mn," Ling Qing Zhu menggumam sebagai balasan. Dia memperhatikan tongkat bambu Bocah Pengemis Gila yang saat ini dipegangnya.
Ling Qing Zhu bersuara tenang, "Bahkan senior melupakan senjatanya..."
Xiao Shuxiang mengangguk. "Benar, kan. Bocah Pengemis Gila pasti sedang kerasukan. Dia selalu membawa tongkat bambunya itu ke mana pun, tidak pernah ditinggalkan. Sekarang, bahkan melirik tongkat itu pun tidak dia lakukan."
"............. Mn," Ling Qing Zhu terus berjalan mengikuti Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen. Dia tidak tahu akan ke mana kedua orang di depannya ini, dia hanya mengikuti Wali Pelindungnya karena pemuda ini menariknya kemari.
Cukup lama tidak mempedulikan posisinya sekarang, Ling Qing Zhu pun akhirnya buka suara. Nadanya dingin, "Mau sampai kapan kau merangkul lenganku?"
Xiao Shuxiang tersentak. Dia berkedip dan mulai melepaskan rangkulannya pada gadis berambut putih ini. Dirinya agak cemberut saat berkata, "Aku hanya spontan. Kau tidak perlu semarah ini,"
"Aku tidak marah," Ling Qing Zhu bersuara tenang, "......... Aku juga tidak memintamu melepaskan rangkulanmu,"
!!
Xiao Shuxiang agak syok mendengar ucapan dari Kucing Putihnya. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kembali merangkul lengan gadis di sampingnya itu.
Xiao Shuxiang berkata dengan senang, "Kalau begitu aku tidak akan sungkan~"
Ling Qing Zhu kaget. Dia pun berkedip dan lantas menggeleng pelan, "Tidak tahu malu."
"Kau sendiri yang bilang, kan? Lagipula aku hanya merangkulmu, tidak memeluk apalagi mencium."
"Shuxiang, apa kau anak kecil?"
"Aku bisa jadi anak kecil jika kau mau,"
"..............." Ling Qing Zhu menghela napas saat tangannya secara sadar bergerak sendiri dan menepuk kepala pemuda di sampingnya. Tindakan itu membuat Xiao Shuxiang membeku.
Ling Qing Zhu berujar, "...... Tidak lagi mendebatmu,"
".............. Kucing Putih, aku jadi ingin memelukmu sekarang."
"Menjauhlah-"
"Jadi kita akan ke mana~"
Ling Qing Zhu dan Xiao Shuxiang menoleh saat mendengar suara Yi Wen. Teman mereka itu terlihat berhenti berjalan dan masih setia memeluk lengan Bocah Pengemis Gila.
"Kau sendiri mau ke mana?"
"Ke mana pun asalkan bersamamu~ bahkan jika kau membawaku ke neraka,"
!!
Ling Qing Zhu menatap Yi Wen dan lalu berkata, "Saudara seperguruanmu itu menakutkan."
"Mn, dia memang tidak waras. Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya,"
Ling Qing Zhu juga memikirkan hal itu, namun dia cukup tertarik pada hubungan aneh antara Bocah Pengemis Gila dan Yi Wen. Dia jadi penasaran bagaimana kedua orang ini bisa sangat dekat, padahal Bocah Pengemis Gila adalah pria yang tidak suka dengan perempuan.
"Kucing Putih, sebaiknya kau jangan memikirkan banyak hal..." Xiao Shuxiang seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadis berambut putih di sampingnya.
Xiao Shuxiang memang menasehati Ling Qing Zhu, tetapi dia sendiri justru sedang memikirkan hal lain. Xiao Shuxiang sudah cukup melihat efek dari ramuan buatan Zhang Xiao Lian dan memang benda itu perlu lebih disempurnakan.
"Kucing Putih, sepertinya ini saat yang baik untuk memisahkan kedua orang itu. Aku khawatir mereka akan berbuat hal yang tidak semestinya,"
__ADS_1
"..............." Ling Qing Zhu mengangguk pelan. Dia pun mulai berjalan ke arah Yi Wen dan menarik gadis itu. Di sisi lain, Xiao Shuxiang juga menarik Bocah Pengemis Gila.
!!
Tindakan kedua orang itu jelas mengejutkan. Yi Wen sampai memberontak.
"Apa-apaan ini?!" Yi Wen berusaha melepaskan tangannya yang ditarik oleh gadis cantik bercadar tipis tersebut.
"Sudah malam, saatnya kau tidur." Ling Qing Zhu bersuara datar. Sama sekali tidak peduli pada berontakan Yi Wen. Dia bahkan memakai tongkat bambu Bocah Pengemis Gila untuk menahan gadis bertubuh bagus ini.
"Shuxiang, apa yang kau lakukan?" Bocah Pengemis Gila sendiri nampak tersentak. Dia menatap Xiao Shuxiang, tetapi tidak memberontak.
"Kawan, ini sudah cukup. Kau sekarang perlu istirahat,"
Bocah Pengemis Gila mengerutkan kening, dia baru akan bicara saat Yi Wen menyerukan namanya. Dia terlihat bingung dengan situasinya sekarang ini.
"Nona Ling, lepaskan aku.." Yi Wen meminta pertolongan Bocah Pengemis Gila, namun pria itu ditahan oleh Xiao Shuxiang.
"Kucing Putih, kau sebaiknya membawa Yi Wen ke kamarmu. Aku akan urus yang satu ini,"
"Mn,"
!!
"Tunggu," Bocah Pengemis Gila tersentak saat dia ditarik oleh Xiao Shuxiang. Dia pun terpaksa mengikuti pemuda ini meski dirinya masih agak bingung.
"Ada apa denganmu?" Bocah Pengemis Gila bertanya. Entah Xiao Shuxiang akan membawanya ke mana saat ini.
"Apa kau tidak sadar dengan yang kau lakukan tadi? Kau dan Yi Wen terlalu intim. Aku bahkan merasa buruk jika harus menjelaskan detailnya,"
"Benarkah? Tapi anak itu hanya memeluk lenganku. Aku bahkan tidak melakukan apa pun padanya,"
Xiao Shuxiang menatap pria di dekatnya dan bertanya, "Apa sekarang kau sudah tidak masalah jika dekat dengan seorang gadis?"
Bocah Pengemis Gila tertegun, dia baru ingat sesuatu. "Kau benar, Tapi .... Entah kenapa aku justru merasa baik saat bersama saudara seperguruanmu itu. Biasanya, aku selalu menjaga jarak dengannya."
Pandangan Xiao Shuxiang mengarah ke depan saat dia berujar pelan, "Ini semua juga salahku. Kau meminum teh yang sudah dicampur ramuan buatan Zhang Xiao Lian,"
"Apa?" Bocah Pengemis Gila tersentak, "Ramuan? Ramuan apa?"
"Nona Zhang Xiao Lian bilang itu ramuan cinta. Aku sebenarnya tidak yakin," Xiao Shuxiang berterus terang, "Awalnya aku ingin mengujinya pada Kucing Putih. Aku ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu, tapi kau justru datang dan mengacaukan semuanya."
Bocah Pengemis Gila tersenyum, "Itu hanya sari dari buah persik dan akar ginseng merah. Dicampur dengan teh buatanmu, rasanya benar-benar enak."
Xiao Shuxiang menoleh, "Kau tahu bahwa aku .... Bahwa ada campuran pada teh yang kau minum?!"
"Tentu saja. Kau pikir indra penciumanku ini hanya pajangan? Aku bisa mencium aroma dari teh buatanmu. Tidak hanya akar ginseng merah dan sari persik, tapi juga ada aroma rempah-rempah meski ini tidak akan bisa dicium oleh hidung orang awam."
Xiao Shuxiang tersenyum pahit, "Jika kau sudah tahu tentang teh itu, lalu kenapa kau tetap meminumnya?"
"Karena nona Ling menyuguhkannya padaku. Tentu saja aku tidak enak hati bila menolaknya,"
Xiao Shuxiang tercengang dan seketika menggeleng pelan. Dia menyilangkan tangan dan lalu berkata, "Jika Kucing Putihku menyodorkan racun padamu. Apa kau juga akan meminumnya?"
"Nona Ling bukan orang sepertimu. Dia tidak mungkin melakukannya. Kau sendiri begitu kelewatan, tidak seharusnya kau berbuat semacam itu pada gadis yang jelas-jelas adalah istrimu sendiri."
"Tapi kan tidak terjadi apa-apa," Xiao Shuxiang membela diri.
"Benar. Jika aku tidak datang secara kebetulan, entah apa yang akan kau lakukan pada gadis polos itu." Bocah Pengemis Gila meledek dan membuat Xiao Shuxiang memperhatikannya.
Xiao Shuxiang berkata, "Bocah Pengemis Gila. Apa kau serius terpengaruh efek dari teh yang kau minum? Rasa-rasanya kau terlihat baik-baik saja,"
"Mm ..... Entahlah. Aku merasa baik, sama sekali tidak ada yang aneh. Tapi .... Sepertinya juga tidak demikian,"
"Apa maksudmu?" Xiao Shuxiang mengerutkan kening.
__ADS_1
"Aku biasanya merinding geli saat melihat Yi Wen. Tidak ingin gadis itu dekat-dekat denganku. Tapi .... Aku mulai sedikit merindukannya. Aku juga merasa berdebar saat bersamanya, apa ini hal yang mungkin terjadi?"
Xiao Shuxiang tertegun sebelum pada akhirnya bertanya, "..... Kau suka Yi Wen?"
"Kurasa begitu," Bocah Pengemis Gila mengusap-usap dagunya sebelum kembali bersuara. "Tapi bagiku dia hanya gadis kecil, sama sekali tidak mungkin jika menjalani hubungan yang lebih serius dengannya."
"..............." Xiao Shuxiang sebenarnya tidak menyangka bahwa pria yang dilihatnya ini akan menjadi sangat jujur.
Xiao Shuxiang pun menarik napas dan berkata, "Jika kau mencari gadis yang seumuran denganmu---kurasa itu tidak akan pernah ada. Lagipula sepertinya Yi Wen benar-benar menyukaimu. Efek dari ramuan itu lebih kuat padanya,"
"Yaah .... Dahulu aku juga cukup populer di antara para gadis. Aku tidak bisa menyangkal hal ini," Bocah Pengemis Gila tersenyum dan kemudian menatap Xiao Shuxiang. Dia bertanya, "Bagaimana denganmu sendiri? Kau menyukai nona Qing Zhu itu?"
"Kenapa jadi membahas tentangku?"
"Kenapa? Kau tidak mau menjawab?"
"Bocah Pengemis Gila. Mari bicarakan hal yang lain,"
"Hmph, kau mencoba mengubah topik pembicaraan--"
"Aku sedang tidak bercanda. Apa kau mengenal Guru Agung Duan Wenyang?"
?!
Bocah Pengemis Gila tersentak saat Xiao Shuxiang tiba-tiba bicara dengan nada yang serius. Dia berkedip dan menatap pemuda di sampingnya ini.
"Kau mengenalnya atau tidak?" Xiao Shuxiang bertanya kembali. Dia begitu memperhatikan ekspresi wajah pria di sampingnya.
"Guru Agung Duan .... Wenyang?" Bocah Pengemis Gila menengadah dan berusaha mengingat-ingat. Dia mengusap pelan dagunya, "Entahlah .... Namanya agak akrab. Tapi aku tidak tahu. Dia guru siapa?"
Xiao Shuxiang tersentak, dirinya pun lantas mendengus dan kemudian menggeleng pelan. "Bukan main, kau benar-benar kelewatan. Guru Agung Duan Wenyang bukankah dia adalah gurumu?"
"Apa?" Bocah Pengemis Gila mengerutkan keningnya. Dia menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal.
"Bocah Pengemis Gila, coba kau ingat-ingat lagi. Kau belum pikun, kan? Gurumu itu bukan berasal dari Benua Tengah, kan?"
Bocah Pengemis Gila mengembuskan napas. Dia mengingat-ingat sebelum akhirnya mulai mendapat sedikit ingatan. Dia pun bergumam, "Kurasa .... Guruku memang bukan dari Benua Tengah, tapi aku tidak yakin. Guru Agung .... Duan Wenyang. Duan .... Duan Wenyang--!!"
Xiao Shuxiang melihat Bocah Pengemis Gila berhenti melangkah dan ekspresi pria di sampingnya teramat terkejut. Rasanya seakan-akan Bocah Pengemis Gila baru saja mendengar suara petir yang menyambar.
"Kau mulai ingat?" Xiao Shuxiang bertanya dan mendapat anggukan pelan dari pria di sampingnya.
"Duan Wenyang .... Dia adalah cinta pertamaku,"
!!
Xiao Shuxiang nyaris tersandung kakinya sendiri. Dia menatap horor ke arah Bocah Pengemis Gila dan lantas membentak. "Dasar tidak waras! Apa yang baru saja kau katakan itu, hah?!"
"Tidak, tidak, tidak. Bukan cinta yang seperti itu." Bocah Pengemis Gila melambai-lambaikan tangannya. "Dia merupakan orang yang kukagumi, sosok yang sudah menyelamatkan hidupku."
Bocah Pengemis Gila tersenyum, hanya saja itu adalah senyuman yang belum pernah dilihat Xiao Shuxiang. Suara pria ini bahkan terdengar agak sedih saat mengucapkan nama dari Guru Agung Duan Wenyang.
"Bocah Pengemis Gila, jadi dia benar adalah gurumu?"
"Mn, tapi dari mana kau tahu nama ini?" Bocah Pengemis Gila bertanya.
Xiao Shuxiang mengembuskan napas dan kemudian menceritakan apa yang sudah dia alami di tempat Tetua Meng Hao Niang. Tidak ada yang Xiao Shuxiang sembunyikan karena Bocah Pengemis Gila termasuk orang yang bisa dikatakan sedikit mirip dengannya.
"Aku ditarik ke sebuah alam yang aneh saat membersihkan periuk milik tetua Meng. Siapa yang mengira aku justru bertemu gurumu. Dia memberiku teknik untuk menghancurkan kitab kuno yang ditulisnya. Periuk tetua Meng ternyata menyimpan satu bab penuh dari bagian Kitab Pembunuh Matahari. Dan karena pernah mendengarnya sendiri, jadi aku pikir dia memang gurumu."
"............. Kau bertemu potongan jiwanya?"
"Mn," Xiao Shuxiang menggumam sebagai balasan. Dia agak tertegun mendengar suara bernada sedih milik Bocah Pengemis Gila.
"............. Aku benar-benar tidak ingat bagaimana wajahnya." Bocah Pengemis Gila seakan menahan sesuatu. "Aku bahkan hampir melupakan namanya,"
__ADS_1
******