KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]

KEJAHATAN TERSEMBUNYI [XIAO SHUXIANG THE SERIES]
133 - Mo Huai (3)


__ADS_3

Mo Huai nampak bernapas pelan, salah seorang murid Istana Seribu Pedang membawakan segelas air seperti yang dirinya minta. Dia pun mengeruk sedikit Pil Napas Naga yang dia miliki dan bubuk dari pil itu bercampur dengan air di dalam gelas.


Dua tetua Istana Seribu Pedang dan juga Li Huanshou nampak memperhatikan apa yang dilakukan Mo Huai. Lan Guan Zhi sendiri terlihat berdiri tenang sambil melihat Jian Yang yang masih meringis.


"Tolong minumkan ini padanya, " Mo Huai dengan hati-hati memberikan gelas bambu berisi air itu pada Tetua Zhang Shan.


"Ayo, Nak. Minum pelan-pelan," Tetua Zhang Shan membantu Jian Yang untuk minum, semua teman-temannya sampai menahan napas dengan perhatian yang tertuju pada pemuda tersebut.


Air yang masuk melewati tenggorokan Jian Yang sangat segar. Dia bahkan bisa merasakan air itu mengalir hingga ke perutnya. Rasa sejuk ini membuatnya merasa sedikit lebih baik.


Mo Huai sendiri nampak tegang, takut-takut jika Pil Napas Naga tidak bisa menyembuhkan Jian Yang. Dia sampai mengatupkan bibir dan terus berdoa.


"Kau tidak pernah mengecewakanku, jadi tolong bekerjalah." Mo Huai bernapas pelan, dia sangat gugup menunggu hasil dari Pil Napas Naga.


Jian Yang tersentak ketika merasakan sesuatu di dalam dirinya. Dia menatap jari-jari tangan kanannya yang bengkak, lebam dan nampak mengerikan itu berangsur-angsur membaik.


Li Huanshou tanpa sadar membuka mulutnya lebar ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana jari-jari tangan saudara seperguruannya yang mulai pulih.


"Te-Tetua..." salah seorang murid Istana Seribu Pedang juga terlihat kaget bukan main. Dia menyaksikan hal yang ajaib tepat di depan matanya.


Jujur saja, alkemis adalah identitas yang paling jarang ditemui----entah itu di Alam Kultivasi Bawah, maupun Alam Kultivasi Atas. Bahkan, kultivator yang mampu mengobati pun mustahil bisa membuat pil sehebat yang terlihat ini.


Kultivator pada umumnya dapat saja menyembuhkan luka-luka yang mereka alami dengan Qi, namun sebenarnya tindakan seperti itu memiliki risiko yang tidak hanya mampu mengurangi usia, tetapi juga bisa merusak Dantian.


"..............." Jian Yang dengan agak ragu-ragu mulai menggerakkan jari-jari di tangan kanannya. Dia tidak merasakan sakit seperti sebelumnya dan ini sangat mengejutkan.


"Shi-Shizun..!" Jian Yang memang masih muda, praktiknya belum berada di tingkat di mana dirinya bisa mengendalikan Qi untuk penyembuhan diri. Tetapi setelah meminum obat dari Mo Huai, tidak hanya jari-jari tangannya yang pulih----dia juga bisa merasakan titik meridiannya seperti terbuka lebar.


"Shizun!"


Mo Huai menghela napas lega, dia bersyukur karena tangan Jian Yang kini pulih dan tidak cacat lagi. Sekarang pemuda itu bisa kembali memegang pedang. Dia sendiri melihat betapa Jian Yang bahagia karena tangannya yang telah sembuh.


"Saudara Jian...!" Li Huanshou ikut bahagia, teman-temannya pun demikian. Dia lantas mengucapkan terima kasih kepada Mo Huai yang sudah mengobati saudara seperguruannya.


"Tuan Muda Mo..!"


Mo Huai tersentak kaget ketika para murid Istana Seribu Pedang yang ada di ruangan ini memberi hormat dengan serentak kepadanya.


Mo Huai bergegas berdiri. Dia melambai-lambaikan tangannya dan begitu gugup saat berkata, "To-tolong jangan seperti ini. A-aku sama sekali tidak melakukan apa-apa...! Ka-kalian tidak perlu begitu ho-hormat,"


Tetua Jin Yufeng merasa lega karena kini tangan Jian Yang kembali pulih. Dia pun menatap Lan Guan Zhi dan berujar lembut, "A-Yuan. Kau melakukan hal yang baik, terima kasih sudah membawa alkemis muda seperti Tuan Muda Mo kemari."


Lan Guan Zhi mengangguk pelan sebagai respon. Dia pun kembali menatap Jian Yang.


Tetua Zhang Shan mengembuskan napas, dia mengusap pelan kepala Jian Yang dan bertanya. "Bagaimana kau bisa seperti ini, Nak? Aku tidak sempat menanyakannya tadi karena melihat kondisimu,"


Jian Yang tersentak dan mulai mengingat kejadian yang sudah dia alami. Teman-temannya juga ikut mengingat dan mendadak berekspresi pucat. Bayangan pemuda yang tersenyum mengerikan itu membuat tubuh mereka gemetar.

__ADS_1


"Ka-kami diserang..." Li Huanshou menjawab, dia berkata. "Kami diserang oleh salah satu tamu. Dia perwakilan Tetua Besar dari Sekte Lautan Awan----Shuxiang!"


Tetua Zhang Shan dan Tetua Jin Yufeng tersentak mendengar nama 'Sekte Lautan Awan' disebut. Namun di satu sisi mereka juga mengerutkan kening karena tidak tahu orang bernama 'Shuxiang'.


Mo Huai kesulitan menelan ludah. Saat ini jantungnya berdebar tidak karuan karena khawatir akan terjadi keributan, dia pun memandang ke arah Lan Guan Zhi.


Jian Yang ingat dan segera menatap ke arah Lan Guan Zhi. Dia berkata, "Terakhir kali. Kau datang dan menarik orang itu pergi. Apa kau mengenalnya?"


Pertanyaan dari Jian Yang membuat Mo Huai terkejut. Tetua Zhang Shan dan Tetua Jin Yufeng pun langsung menoleh ke arah Lan Guan Zhi. Beberapa murid Istana Seribu Pedang juga ingat.


"Itu benar. Tuan Muda Lan waktu itu datang dan langsung membawa orang jahat itu pergi,"


"Tuan Muda Lan bahkan memanggilnya, 'Shuxiang'. Aku mendengarnya,"


"Lan Guan Zhi," Jian Yang berujar saat mendengar ucapan dari teman-temannya. Tatapan matanya seakan menyelidik, "Apa kau yang membawa orang itu untuk mengacau di hutan bagian timur perguruan ini?"


".......... Mn," Lan Guan Zhi tanpa ekspresi menjawab. Dia membuat semua orang kecuali Mo Huai tersentak kaget.


"Lan Guan Zhi...!" Jian Yang meradang dan bangkit dari tempat tidurnya. Dia berdiri dan menatap tajam ke arah pemuda berpita dahi itu, "Apa yang ingin kau buktikan dengan membawa monster sepertinya di hadapanku, pengecut!"


"Tuan Muda Lan..! Kenapa kau sangat jahat dan kejam begini?!" seorang murid perempuan Istana Seribu Pedang ikut berseru.


Lan Guan Zhi dengan tenang berkata, "Kalian tidak disiplin. Para tetua sudah menyerah menghadapi tingkah kalian. Hanya ini cara yang kuanggap bisa menyadarkan kalian."


"KAU--"


"Saudara Jian," Lan Guan Zhi menyela. Suaranya dingin, "Perbaikilah sikapmu."


"Shizun, tapi aku tidak melakukan kesalahan apa pun! Justru Lan Guan Zhi dan keangkuhannya itu yang membuat ini semua terjadi--"


"Kau ini bicara apa?" Mo Huai menyela, "Bersikap angkuh adalah salah satu aturan yang dilarang di Sekte Pedang Langit. Jangan kira bahwa sifatnya yang tenang dan hemat bicara justru kau anggap itu keangkuhan. Sama sekali tidak seperti itu, Tuan Muda Lan orang yang baik---"


Mo Huai terkejut dengan ucapannya sendiri. Dia pun langsung tertunduk saat menyadari apa yang baru saja dia katakan barusan, "Ma-maafkan aku."


Lan Guan Zhi sebenarnya agak terkesan dengan sikap Mo Huai yang tiba-tiba saja menyela ucapan Jian Yang. Dia pun lalu bernapas pelan dan menatap Jian Yang yang seakan berusaha menahan amarah dalam dadanya itu.


Tetua Zhang Shan berdiri dan lantas mengusap-usap punggung Jian Yang, "Nak. Pikirkanlah, meski bukan A-Yuan yang bertindak. Dengan sikapmu ini .... Kau bisa menarik perhatian orang lain dan dapat membuat mereka menjadi musuhmu. A-Yuan hanya mengingatkan agar kau tidak sampai membawa masalah untuk diri sendiri."


"Shizun, tapi tidak seharusnya dia mengirim orang lain pada masalah kami..!" Jian Yang tidak terima.


"Lalu kau ingin bagaimana?" Tetua Jin Yufeng berkata, "A-Yuan sudah berusaha mengingatkan kalian dengan cara yang baik-baik. Kalian dihukum bagaimanapun juga masih saja mengulang tindakan yang sama. Meski A-Yuan terlihat tenang, tapi bukan berarti dia tidak bisa kesal. Para Tetua saja menyerah menghadapi kalian, apalagi A-Yuan. Jadi tolong untuk kali ini saja, renungkan kesalahan kalian dan perbaiki."


"Shizun," Li Huanshou bersuara. "Tapi kami hanya melakukan apa yang kami anggap benar,"


"Apa yang kalian anggap benar, justru merugikan bagi orang lain." Lan Guan Zhi membalas. Ucapannya membuat Li Huanshou memberinya tatapan tidak suka.


"Lan Guan Zhi," Jian Yang berujar ketus. "Apa sudah jadi kebiasaan bagimu untuk mencampuri urusan orang lain? Karena inilah aku tidak suka padamu,"

__ADS_1


Mo Huai mengembuskan napas. Melihat dari karakter Jian Yang dan Li Huanshou, tidak mungkin kedua orang ini langsung dapat memperbaiki sikapnya. Dia yakin, tidak lama lagi----mereka pasti akan membuat masalah lagi.


Tetua Jin Yufeng juga mengembuskan napas, dia bisa melihat dari tatapan mata Lan Guan Zhi bahwa pemuda itu sedang menahan diri. Rasa-rasanya akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika Lan Guan Zhi dan Jian Yang tetap berada dalam satu ruangan yang sama.


Tetua Zhang Shan ikut merasakannya, dia sudah cukup bersabar dengan perilaku muridnya yang tidak pernah menaruh hormat pada Lan Guan Zhi dan bahkan tidak pernah mengikuti setiap nasehatnya.


Tetua Zhang Shan mengembuskan napas, dia menatap Lan Guan Zhi. "A-Yuan, antar Tuan Muda Mo ke kamarnya. Kau juga harus beristirahat, biarkan aku dan Tetua Jin yang berada di sini."


"Tapi, Paman---"


"Tidak apa-apa," Tetua Jin Yufeng mengusap pelan lengan Lan Guan Zhi, "Saudara Jian-mu juga perlu istirahat."


"..............." Lan Guan Zhi sebenarnya ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin. Konferensi Aliansi Abadi tidak boleh sampai mengalami masalah hanya karena para murid yang sangat sulit diatur ini.


Mo Huai berkedip dan mengikuti Lan Guan Zhi yang memberi hormat pada Tetua Jin Yufeng, Tetua Zhang Shan dan tabib di dalam ruangan ini. Dia pun lalu berjalan di belakang Lan Guan Zhi dan agak gugup ketika melihat pandangan para murid Istana Seribu Pedang kepada mereka.


Mo Huai baru bisa bernapas dengan baik saat berada di luar Paviliun Pengobatan. Sungguh, rasanya menyesakkan harus terperangkap dalam ruangan itu.


"Mereka terlihat tidak baik," Mo Huai bersuara pelan. Namun Lan Guan Zhi masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Mn,"


"Tuan Muda Lan, apa .... Boleh kutanya sesuatu?" Mo Huai sebenarnya gugup berjalan berdua dengan sosok seperti Lan Guan Zhi. Dia benar-benar hanya manusia biasa yang tidak bisa bila dibandingkan dengan pemuda ini.


"Katakanlah,"


"Ke-kenapa orang itu terlihat .... Ti-tidak suka pada Anda?"


Lan Guan Zhi menatap Mo Huai sejenak sebelum kembali memandang ke depan. Dia pun menjawab dengan suara yang tenang, "Hanya masalah sepele. Bahkan terlalu kekanakan,"


Mo Huai tersentak, "Be-benarkah? Ma-masalah .... Apa?"


"Para gadis. Rasa hormat. Keterampilan. Mereka tidak suka,"


Mo Huai kini mengerti, dia pun berdecak pelan dan menggeleng. "Ya ampun... Ini jelas sekali bahwa mereka iri."


"......... Mn,"


"Anda memang sangat mengagumkan, tapi mereka benar-benar kekanakan." Mo Huai menyampaikan pendapatnya, "Harusnya jika iri pada kemampuan Tuan Muda Lan----mereka tidak membuat masalah, tetapi membuktikan diri bahwa mereka juga bisa lebih baik."


"Tidak semua orang bisa berpikir begitu." Lan Guan Zhi berujar tenang, "Ada orang yang lebih suka menjatuhkan orang lain untuk membuat dirinya menjadi tinggi."


Mo Huai mengangguk setuju, "Kupikir hal seperti ini tidak ada di antara para kultivator. Tapi sepertinya, justru dalam dunia kultivasi-lah keburukan semacam ini lebih sering terjadi."


"Mn, biar bagaimanapun mereka masih manusia."


Mo Huai mengembuskan napas, dia mengusap-usap dadanya. "Ini pertama kalinya aku merasa bersyukur karena tidak memiliki terlalu banyak bakat. Aku bersyukur karena menjadi manusia biasa di antara yang biasa. Haaah... Aku sangat bersyukur karena menjadi tokoh figuran,"

__ADS_1


Lan Guan Zhi mendengus pelan, dia tersenyum samar. Dirinya tidak mengerti maksud ucapan terakhir Mo Huai, tapi tingkah pemuda ini menarik untuk dilihat.


******


__ADS_2